
"Walaupun aku sialan, kau tetap mencintaiku kan?" tanya Zac berjalan memeluk Markisa dari belakang. "Maafkan aku sayang,"
Markisa membuang muka karena masih kesal, ia enggan menatap wajah suaminya itu yang membuat dirinya kesal beberapa menit yang lalu.
"Kau memaafkanku kan?" tanya Zac mencium pipi Markisa yang membuatnya tidak mendapat jawaban apapun dari istrinya. "Kau lupa aku Diktator, kau harus memaafkanku,"
Markisa membalikkan badannya dan menatap Zac dengan tangan yang melipat kedada. "Berikan aku alasan,"
"Karena aku mencintaimu," jawab Zac tersenyum lebar dihadapan Markisa.
"Baiklah, itu alasan terbaik darimu Tuan," jawab Markisa berjalan masuk kedalam dapur.
"Ku peringatku kau Bu Dokter! Panggil suamimu ini dengan sebutan Mas! Dan itu harus!" teriak Zac pada Markisa yang sudah menghilang dari hadapannya.
"Kau diktator! Hanya untuk orang yang bisa kau atur dan itu bukan aku Tuan Suami!" teriak Markisa balik.
Zac memutar bola mata malas, lagi-lagi kalimat legend itu terdengar dari bibir Markisa yang membuat Zac benar-benar kesal dibuatnya
Zac kemudian berjalan menuju kursi santai dipinggir kolam renang itu, ia mengangkat kedua tangannya menjadikannya bantal sambil menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Belum sempat Zac menikmati angin yang menghembus wajahnya, ia sudah dikejutkan dengan teriakan Markisa yang membuat ia berlari ke arah dapur, dan mendapati gelas pecah disana.
"Sayang?" panggil Zac khawatir. "Kamu dimana?"
Zac berlari mengecek kamar mandi dan juga ruang tamu, ia tidak menemukan keberadaan istrinya yang membuat ia semakin panik.
"Sayang? Kamu dimana!" teriak Zac memijat pangkal hidungnya.
Disaat Zac sudah lelah mencari istrinya, ia segera berjalan ke kamar untuk mengambil handphonenya, ia menelpon nomor Markisa yang ternyata ada di kamar tersebut.
Panik segera menggerogoti Zac sampai sebuah sentuhan tangan mengagetkannya dari rasa paniknya.
"Kau panik Tuan? Hm maksudku Mas, kita satu sama yah," bisik Markisa yang membuat Zac langsung membalikkan badannya menatap istrinya.
"Kamu darimana saja?" tanya Zac langsung memeluk Markisa. "Kalau aku jantungan gimana? Kamu gak mau kan suami kami mati dalam keadaan panik,"
"Gapapa, Suami sejenis Mas, sangat halal untuk dipukul," jawab Markisa melepas pelukan suaminya. "Aku daritadi disini, Mas nya aja yang gak liat karena panik,"
__ADS_1
"Terus gelas pecah? Teriakan?"
"Sengaja, itu balas dendam dariku," jawab Markisa yang membuat ekspresi Gibran seketika berubah.
"Tidak lucu sama sekali,"
Zac berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya, sedangkan Markisa masih berdiri menatap suaminya yang sedang kesal.
"Jadi Mas marah? Tadi aku juga sport jantung," Markisa menyusul Zac dan langsung naik ke atas ranjang menduduki perut Zax.
"...."
"Jadi ceritanya marah nih?"
Zac tidak menjawab ia hanya memejamkan matanya berusaha untuk tidak peduli dengan Markisa yang sudah duduk di atasnya.
"Yakin?"
Markisa menggerakan jarinya menyentuh dada dan wajah suaminya yang membuat Zac berusaha menahan untuk membalas perlakuan Markisa
Disaat Zac hendak membalas ciuman Markisa, Markisa segera menghentikan ciuman tersebut dan turun dibagian bawah Zac, ia kemudian meremas kecil bagian tersebut dan kembali mencium suaminya.
"Ah,"
Zac hendak memegang kedua pangkal pinggang Markisa, namun tangannya segera ditahan dan di arahkan menjadi bantal untuk Zac sendiri, Markisa menggerakan tubuhnya naik turun yang membuat milik Zac sudah mengeras dibawa sana.
Disaat Zac sudah sampai di puncaknya, Markisa segera menghentikan aksinya dan berdiri dari posisinya.
"Aku mau mandi, dan Mas juga harus mandi, sebentar lagi Mas harus ke kantor dan aku harus ke rumah sakit," Markisa berjalan keluar dari kamar.
Zac menatap tidak percaya pada Markisa yang sudah melenggang keluar dari kamar yang membuat Zax frustrasi dibuatnya.
"Aku masih belum selesai," teriak Zac yang masih bisa di dengar Markisa
Markisa segera menengok kedalam kamar dan memunculkan kepalanya diambang pintu dan tersenyum puas pada suaminya.
"Kita dua satu suamiku, selamat berusaha suamiku," cengir Markisa yang membuat Zac menatap horor ke arahnya.
__ADS_1
•
"Mas, semangat kerjanya yah," ujar Markisa mencium bibir Zac membuat mereka berdua kini saling beradu mulut didalam mobil itu.
Zac melepaskan ciumannya yang membuat Markisa turun dari mobil, karena ia sudah sampai dirumah sakit, sama seperti rutinitas biasanya Zac selalu mengantar Markisa untuk bekerja.
"Jangan terlalu lelah, kau sedang mengandung Zac junior," ujar Zac yang membuat Markisa mengangkat jempolnya.
Markisa berjalan memasuki halaman rumah sakit yang membuat Zac segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu, namun Zac segera menghentikan mobilnya ketika dari kaca spion yang ia melihat sosok yang mendatangi Markisa.
"Kisa! Tunggu!" Tango menahan tangan Markisa.
Markisa membalikkan badannya dan menatap Tango yang membuat Markisa segera melepaskan tangannya dari genggaman Tango. "Kau mau apa?"
Tango yang memakai jas kedokterannya itu menatap Markisa dalam. "Aku masih mencintaimu, berikan aku kesempatan,"
"Kau gila? Aku sudah memiliki suami dan kau sudah memiliki istri, kita sekarang adalah saudara ipar, dan kau mengatakan ini? Dimana akal sehatmu?" tolak Markisa yang membuat Tango menatapnya tajam kali ini.
"Aku mencintaimu Markisa! Harusnya kau bisa paham, aku akan meninggalkan Dove untukmu,"
Markisa tersenyum sini kemudian melipat kedua tangannya menatap Tango. "Aku rasa kau sedang dalam gangguan jiwa! Tidak semua apa yang kau inginkan bisa kau dapatkan,"
"Kenapa baru sekarang berkata cinta disaat dulu kau tertawa melihat aku dihancurkan!? Itu yang kau sebut cinta Dokter Tan?" lanjut Markisa menodong Tango dengan tangannya.
Markisa kemudian berjalan kembali namun Tango segera membalikkan badan Markisa dan mengguncang bahunya.
"Jangan sombong! Kalau aku tidak bisa memilikimu maka yang lain juga tidak!" teriak Tango mencengkram kasar bahu Markisa.
Markisa berusaha memberontak sampai Zac yang melihat itu segera keluar dari mobil, dia mengambil tongkat baseball miliknya yang ada di jok belakang.
"Lepaskan tangan kotormu, bedebah!" teriak Zac yang membuat Tango menatap ke arahnya.
•
TBC
Jangan lupa tinggalkan Likenya yah kak :)
__ADS_1