Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 62 | Bukan Salahku Merebut Istrimu


__ADS_3

Dove yang ditarik oleh Tango hanya bisa diam sembari meringis sedikit menahan perih akibat cengkraman Tango yang begitu kuat pada lengannya.


"Lepaskan, Aku!" teriak Dove melepas tangannya dari Tango.


Tango melepaskan tangan Dove dan menataonya tajam di koridor rumah sakit tersebut, matanya menatap nanar Tango, sedang Tango masih menatap tajam yang membuat Dove benar-benar muak pada pria ini.


"Kau mau apa? Hah?" tanya Dove pada Tango yang membuat Tango menahan kedua bahu Dove.


"Kenapa kau memeluk Pria lain, apa dia adalah ayah dari anak yang engkau kandung?" Sebuah pertanyaan bernada menyayat hati dilontarkan dari bibir Tango yang membuat Dove benar-benar diambang kehancuran dalam ketegasannya.


"Kau tahu? Aku sudah ada dititik dimana aku tidak peduli lagi dengan apapun itu yang kau katakan, aku muak dengan segala tingkah laku dan ucapanmu, kita selesai, ingat? Kita selesai, biar aku yang melepasmu, aku tidak butuh pria sepertimu untuk bertahan hidup!" jelas Dove yang sudah sangat kesal dengan semua ucapan Tango.


Tango tersenyum sinis, dia menyeringai sedikit didepan Dove, Dove ingin sekali menampar dan melempar pria satu ini pergi dari hadapannya karena saking kesalnya dengan apa yang dia lakukan kepadanya.


"Kau pikir? Kau sehebat apa? Kau hanya wanita jaalang, yang menjajakan tubuhmu diluaran sana, harusnya kau bersyukur aku mau menikahimu, bahkan ludahku lebih mahal dari harga dirimu,"


Jleb!


Ibarat ditekan duri seribu, benar-benar sangat menyakitkan perlakuan yang diberikan Tango kepadanya, antara sakit dan patah berbalut dalam ketegasan batin, Dove mencoba berdiri dari kerapuhan yang tengah melandanya.


Ingin mengadu pada siapa didetik-detik seperti ini, bahkan tuhan sendiri sedang bermain perasaan kepada-nya, sangat pahit untuk sebuah kalimat yang di toreh kan kepada istri yang sedang mengandung anaknya.


"Aku benar-benar muak dengamu, Oh harus kau lebih bersyukur lagi, karena aku mau menjadi istrimu, disaat aku tahu kalau kau orang yang gampang tergoda, bagaimana rasanya memasukkan rudalmu kebanyak lobang buaya, teruslah bersenang-senang sampai kau tak sadar Tuhan sudah menyiapkan satu tempat di neraka untukmu," jelas Dove melipat kedua tangannya.


Tidak ada air mata, dia harus tegas, Tuhan sudah menolongnya dengan perantara batin yang mempertegas keadaan untuk membalas semua ucapan menyakitkan dari mulut pria perkasa yang berstatus suaminya itu.


"Oh setelah mendapat pria lain, sepertinya lidahmu semakin licin, apa kau ingin menjilat rudalku?" seringai Tango berjalan mendekatkan dirinya kepada Dove yang membuat Dove mendorong bahu Tango menjauh dari nya.


"Oh yang tampaknya disini adalah Kabel merahmu sudah putus, sepertinya kau perlu memeriksakan dirimu kepada dokter ahli jiwa. See u Hubby!" jawab Dove melangkahkan kakinya meninggalkan Tango disana dengan langkah penuh pasti.

__ADS_1


Dia tidak butuh pria seperti Tango untuk menyandang status sebagai ibu, mungkin ini karma dari masa lalu nya, siapa peduli, Dove sudah bertekad merubah struktur hidupnya menjadi lebih baik.


Tango yang berdiri ditempat sama dengan mengantongi tangannya di saku jas putihnya membalikkan badannya seketika saat sebuah tangan menyentuh pundaknnya.


"Kau?" ujar Tango menatap sosok yang ternyata adalah Toppoki.


Toppoki melipat tangannya dan melepas kacamatanya dari tempatnya sembari memberikan tatapan menyeringai kepada Tango.


"Aku sudah mendengar obrolan kalian berdua, sepertinya ada biduk rumah tangga yang sedang diujung tanduk," ujar Toppoki yang membuat Tango menatapnya serius.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Tango menatap tajam kedua menik mata Toppoki.


Toppoki tersenyum, dia tidak langsung menjawab melainkan meniup kedua kaca pada lensa kacamatanya dan menggunakan jas putih Tango untuk mengelapnya. Sontak Tango membulatkan mata sempurna kepada Toppoki.


"Jangan seperti warna Putih yang selalu merasa bersih dan suci padahal dirinyalah yang paling gampang ternoda," ujar Toppoki yang sama sekali tidak dipahami oleh Tango. "Kau tidak paham?"


Toppoki tersenyum sinis kemudian menarik kerah kemeja Tango agar mendekat kearahnya, Tango yang mendapat tarikan secara tiba-tiba hanya diam dan kaget saat suara sekelas bariton berat mengintimidasi itu berbisik ditelinganya.


Ia kemudian memakai kacamatanya dan meninggalkan Tango yang menatapnya bingung disana, seperti dua genderang perang akan berhembus diarena permainan, dan siapapun pemenangnya dia lah yang terbaik dari segala pilihan Tuhan.


"Tuhan tidak pernah salah menempatkan takdir untukmu, jangan perdulikan kalimat orang lain, karena jika kau sedang tidak baik-baik saja orang lain tidak akan peduli, tapi Tuhan? Dia tahu kapan kau akan baik-baik saja," monolog Toppoki dengan langkah tegas.



Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, Markisa baru saja selesai dan istirahat dengan kutat-kutat bertugas dengan kedokterannya, ia mengelus perutnya sampai dia terbersit untuk makan sesuatu, entah keinginan jabang bayi atau dirinya, Markisa tidak peduli.


Dia mengingat kalimat sahabat lamanya yang kini sudah bahagia bersama suaminya di Melbourne, Australia, yaitu Nanas dan Anthony.


"Fitnah bayi sendiri itu gak dosa kok," Setidaknya begitulah ucapan Nanas yang mendorong Markisa mengambil ponsel dari meja didepannya dan menekan nomor telepon suaminya.

__ADS_1


Mas suami, begitulah nama yang terpampang jelas didaftar kontak dari Ardan Alzacrich Ryzam itu, sambungan telepon tersambung yang membuat suara memabukkan suaminya terdengar dari benda persegi berbahan aktra elektronik alias telepon milik Markisa.


[Halo Sayang? Kau perlu sesuatu?]


Zac sendiri tengah sibuk merapikan berkas-berkas dihadapannya menggunakan kedua tangannya sehingga dia mengapit telepon diantara telinga dan bahu serta posisi kepala yang di miring kan.


[Hmm, Mas sibuk?]


[Tidak perlu basa-basi, kalaupun aku menjadi sibuk, kau tetap akan memaksa, okey ada agenda permintaan apa kau hari ini?]


Markisa terkekeh dibalik telepon karena suaminya sudah bisa menebak segala tingkah dan pemikirannya sungguh pola pikir yang hebat untuk suami sekelas Zac.


[Aku ingin jeruk mandarin]


[Hanya itu? Kau tidak ingin yang lainnya? Biasanya permintaanmu aneh-aneh, entah aku harus membeli jeruk itu di Tukang Buah yang merupakan seorang Duda dan menjual dengan gerobak kuning]


Markisa tertawa, memang beberapa akhir belakangan ini dia selalu meminta hal yang aneh-aneh dan Zac selalu menuruti keinginannya itu, Zac sendiri tidak mempermasalahkan keinginan istrinya, justru dia senang dengan apa yang ia lakukan, bentuk kesungguhan cintanya kepada sang Istri.


[Tidak ada, aku hanya ingin itu]


[Mencurigakan]


[Mas selalu menuduhku yang macam-macam, tidak bisakah aku mengidam hal yang normal sedikit?]


Zac tersenyum disana kemudian mengangguk pelan walaupun itu tidak bisa didengar Markisa, Zac pun mematikan telepon tersebut dan menghubungi sekretarisnya.


[Halo Dan? Saya ingin Toko Buah terbesar dikota ini dibeli beserta toko-nya dan kirim semua buah-nya ke Rumah Sakit tempat Istri saya bekerja]


__ADS_1


TBC


Tim Tango atau Toppoki


__ADS_2