Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 23 | Bertahanlah, Tuan Diktator


__ADS_3

Milo, Soklin dan Vanish yang mengejar Dairy akhirnya berhenti di sebuah jurang, Dairy merentangkan tangannya dan menatap sinis ketiga orang itu.


"Apa kalian ingin menangkapku? Ayo susul aku ke Tuhan, aku rasa Zac dan Markisa juga akan menyusulku karena mereka berdua terjebak dalam ruangan pendingin yang sudah kuubah pinnya, jika aku mati tidak akan yang bisa membuka ruangan itu, lebih baik kalian selamatkan mereka berdua daripada melihatku meregang nyawa," ujar Dairy berjalan mundur.


"Jangan lakukan itu! Kau gila! Semuanya bisa doubah Dairy!" teriak Milo.


Mau bagaimanapun Dairy adalah adik tirinya walaupun dia sudah berlaku jahat tetapi tidak sepantasnya dia untuk mati.


"Lebih baik kau selamatkan Zac dan Markisa!" teriak Dairy yang mengambil ancang-ancang dan menjatuhkan dirinya dijurang.


"DAIRY!" teriak Milo saat Dairy menghempas tubuhnya jatuh.


Suara tubrukan benda jatuh terdengar yang membuat siapapun meringis mendengarkan suara itu.


Soklin dan Vanish membulatkan mata sempurna dan bergegas menuju posisi Dairy, jurang yang cukup dalam membuat Soklin dan Vanish tidak bisa memperkirakan dalamnya.


"Jurang ini memiliki tekstur bebatuan tajam, jika tubuh Dairy menghempas itu, maka tidak akan ada kemungkinan untuk dia selamat," jelas Vanish yang membuat Milo mengusap kepalanya.


Entah apa niat Dairy melakukan bunuh diri, mungkin dia merasa bahwa Markisa dan Zac juga akan mati bersama karena hanya dia yang mengetahui pin ruangan tersebut. namun Dairy lupa bahwa Milo adalah seorsng pakar ITE terbaik.


Milo kemudian teringat akan Markisa dan Zac, ia segera berlari menuju tempat semula, dimana Zac dan Markisa berada.

__ADS_1


"Kak Milo tenang saja, biar kami yang akan menelepon polisi atas kasus ini, kakak segera selamatkan mereka berdua, suhu ruangan didalam tempat penyekapan itu bahkan bisa membunuh partikel kuman terkuat sekalipun," ujar Soklin yang disambut anggukan dari Milo.


Milo berlari ke tempat semula, ia membuka pintu ruangan tersebut dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Markisa dan Zac.


"Markisa! Zac! Kalian dimana!" teriak Milo tidak karuan.


Pikirannya kini sudah kacau balau akibat kejadian hari ini, Milo melaniutkan pencariannya ke ruangan lain dan tetap berteriak memanggil nama Markisa dan Zac.


Milo menyusuri seisi tempat yang lebih mirip tidak terpakai itu mencari keberadaan Zac dan Markisa.


Sementara itu Markisa kini mencoba menghangatkan Zac dengan memeluknya erat, tubuh Zac ibarat membeku, denyut jantung nya melemah tapi pelukannya pada Markisa semakin kuat, Markisa yang panik mendengar teriakan Milo segera menaruh Zac ditembok dan berjalan menuju pintu.


"Kak! Kak Milo! Aku ada disini!" teriak Markisa pada Milo.


Milo berusaha menbukanya namun hasilnya nihil tidak bisa didobrak, Milo berpikir keras untuk saat ini dan menemukan sebuah ide, Milo ingat bahwa disebuah meja diruang tamu terdapat sebuah bubuk yang Milo sendiri tidak tahu apa itu.


Milo berlari kembali ke ruang tamu dan mengambil bubuk tersebut kemudian segera kembali ke ruangan dimana Zac dan Markisa terkurung.


Milo menaburkan bubuk tersebut di tombol pin demi menemukan kombinasi dari sidik jari yang tepat, tidak butuh waktu lama Milo berhasil membuka pintu itu dan mendapati Markisa tengah menangis memeluk Zac.


"Apa yang terjadi?" tanya Milo pada Markisa.

__ADS_1


"Akan ku jelas kan nanti, cepat bawa suamiku ke rumah sakit," jawab Markisa.


Milo segera memapah tubuh Zac bersama Markisa, mereka berdua segera membawa tubuh Zac keluar tempat tersebut dan masuk ke mobil.


Markisa duduk dengan memangku kepala Zac, tangannya tidak henti memberikan kehangatan bagi Zac, Markisa tampak frustrasi, kenapa dia bisa sesedih ini, bukankah melihat Zac menderita adalah impiannya.


"Bertahanlah, Tuan Diktator! Setidaknya demi aku!" bisik Markisa yang masih terdengar oleh Milo.


Milo melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit, sedangkan Markisa masih terus memberikan kehangatan bagi Zac, Zac membuka sedikit matanya dan menatap Markisa pelan.


"Kau sudah sadar?" tanya Markisa pada Zac.


Zac mengusap air mata Markisa dan mengelus pelan pipi istrinya itu. "Jangan menangis kumohon, air mata terakhirmu adalah saat aku merenggut kehormatanmu, jangan ada tangisan lagi,"


"Kenapa kau membuatku menangis untuk kedua kalinya disaat aku sudah berjanji akan menjadi wanita yang kuat! Kau! Jadilah suami diktator yang baik!"


Zac tersenyum dan mengelus wajah Markisa sembari terus menghapus air mata istrinya dan kembali tidak sadarkan diri.


Markisa memeluk erat Zac sedangkan Milo yang melihat itu hanya diam dan berkutat dengan pemikiran hatinya sendiri.


"Apakah Markisa mencintai Zac?" tanya Milo dalam hati.

__ADS_1



TBC


__ADS_2