
"Siapa kau?"
Wanita tersebut membalikkan badannya dan buru-buru memakai maskernya, mengejar waktu dan rasa panik karena aksinya diketahui oleh Markisa.
Sudah tidak ada lagi jalan keluar, dia ingin lari tapi Markis bersama Zac sudah ada diambang pintu ruangan itu, dan jika dia diam saja, ini sama dengan bunuh diri.
Markisa bersama Zac berjalan pelan ke arah wanita tersebut dengan langkah gontai penuh rasa penasaran yang luar biasa, entah siapa wanita yang kini duduk disamping ranjang kakaknya itu, Markisa masih belum bisa menebak pasti.
"Kau siapa?" tanya Markisa sekali lagi menjulurkan tangannya sampai tangan lentik dan mulus putih dokter kandungan itu menyentuh bahu wanita tersebut.
Wanita tersebut menundukkan kepalanya agar Markisa tidak melihat wajahnya yang tertutup masker. Dengan gerakan kilat Markisa berhasil membalikkan badan wanita tersebut sehingga wajah yang tertutup masker itu terlihat jelas dihadapan Markisa dan Zac.
Wanita tersebut hendak berdiri dan pergi, namun Zac menahannya yang membuat Markisa memilih membuka masker wanita tersebut dan membuat Markisa dan Zac membulatkan mata sempurna.
Wanita yang sudah tertangkap basah tersebut hanya bisa menunduk membiarkan rambutnya yang sebahu tergerai ke depan dengan pasrah.
"Anadhi? Mau apa kau disini? Bukankah kau sudah dipenjara?" tanya Markisa yang membuat wanita yang ada didepannya menatapnya jauh.
__ADS_1
"Aku bukan Anandhi, aku Tapasya," jelas wanita tersebut yang membuat Markisa dan Zac mengangkat alis dengan tatapan membingungkan.
"Bagaimana bisa? Bukankah Tapasya sudah meninggal karena bunuh diri?" tanya Markisa yang membuat Zac ikut akan apa yang terjadi sebenarnya.
Perlahan wanita yang mengaku Tapasya tersebut menangis tersedu yang membuat Zac dan Markisa saling melempar pandangan heran, Tapasya berdiri dan menatap Markisa dan Zac.
"Aku adalah Tapasya yang asli, kalian semua sudah dimanipulasi keadaan oleh Anandhi, Anadhi melakukan semua kejahatan ini bukan karena dendam atas kematianku, melainkan dendam kepadaku karena aku yang mendapatkan hati Milo sedang dia juga menyukai Milo, aku tidak pernah mati, aku hanya pergi dari kota ini," jelas Tapasya yang membuat Markisa dan Zac mendapatkan fakta baru.
Semilir angin pelan dari jendela merebah masuk kedalam ruangan rawat tersebut membuat udara yang pada dasarnya dingin semakin dingin.
"Kenapa kau baru muncul sekarang?" tanya Markisa yang membuat Tapasya menatapnya Yaoa
"Jika itu menyangkut kakakku, itu sudah pasti urusanku," jawab Markisa mengenggam erat tangan Tapasya yang membuat Tapasya melepas tangannya dari Markisa.
"Rupanya Tapasya yang asli seketus ini?" sindir Markisa yang membuat Tapasya membalikkan badannya.
"Bukan urusanmu," jawab Tapasya.
__ADS_1
"Kau mencintai Kak Milo? Aku mendengar semua kalimatmu, kenapa dihadapan kami kau seolah tidak peduli?" tanya Markisa yang tidak di pedulikan oleh Tapasya. "Jika aku katakan besok Kak Milo alat bantu bertahan hidupnya akan dicabut, kira-kira kau terluka tidak?"
Tapasya menghentikan langkah serta gerakan tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu ruangan rawat Milo. Markisa dan Zac menatap Tapasya yang hendak keluar sebelum Markisa mengeluarkan kalimat terakhirnya.
"Bukankah itu tidak adil bagimu?" tanya Markisa. "Kenapa kau tidak mempertanyakannya pada Tuhan?"
Tapasya masih berada di posisi nya, rahangnya bergetar serta bibirnya yang kelu seiringan eratnya genggaman tangannya pada gagang pintu tersebut.
"Menurutku Tuhan memang tidak adil, jadi biasakan dirimu," jawab Tapasya yang membuat Markisa tersenyum simpul.
"Bukan Tuhan yang tidak adil, melainkan kamu sendiri yang tidak bisa menempatkan diri menerima keadilan itu," ujar Markisa sesaat sebelum Tapasya benar-benar keluar dari ruangan rawat Milo.
Markisa dan Zac yang melihat kepergian Tapasya mash tidak habis pikir dan berusaha mencerna baik-baik semua drama perfaktaan ini, bagaimana bisa sebuah rahasia terungkap dengan bersebrangan pada fakta yang pernah ada.
Entah apa dan bagaimana Tapasya menanggapi kondisi ini Markisa tidak peduli, ia lebih memilih berjalan dan duduk di kursi yang tadi di duduki Tapasys dan menggenggam tangan kakaknya.
"Aku berjanji, apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankan kakak." bisik Markisa pada Milo.
__ADS_1
•
TBC