
"Katanya tadi kau mau ada urusan, berlama-lama, kau sampai mengindahkan larangan suamimu ini, kenapa pulangnya cepat?" tanya Zac menurunkan kakinya yang tadi dia lipat saat melihat Markisa turun dari mobil Dove.
Sesaat kemudian mobil Dove meninggalkan area kediaman Zac membuat Markisa berjalan masuk dan langsung mendapatkan pertanyaan kilat dari suaminya itu, benar-benar suami yang posesif.
"Jadi ceritanya Mas gak suka kalau aku pulang cepat?" tanya Markisa duduk disamping Zac yang tengah duduk di sofa.
Zac mengambil wajah Markisa kemudian mencubit pipi istrinya itu gemas yang membuat Markisa pasrah dibuatnya. "Bukan begitu,"
"Lah terus?"
"Mas tidak melarang kamu untuk pergi keluar, tapi kamu harus ingat bahwa kamu lagi ngandung Baby Z," jawab Zac mencium perut Markisa. "Kamu harus lebih jaga kesehatan lagi yah sayang, aku gamau kamu dan Baby Z kenapa-napa."
Zac berdiri kemudian merubah posisinya menjadi bersimpuh dihadapan Markisa, dia mulai melepas sepatu yang dikenakan Markisa kemudian mengurut pelan kaki istrinya itu.
"Bagaimana enak?" tanya Zac saat Markisa memejamkan matanya menerima segala pijatan dari Zac untuknya.
Markisa tersenyum kemudian menyuruh suaminya itu berhenti, Zac berhenti memijat kaki Markisa kemudian menuruti perintah Markisa untuk duduk disampingnya.
"Iya aku janji, demi Mas, aku bakal lebih jaga kesehatan lagi," jawab Markisa yang membuat Zac langsung menarik kepala istrinya itu dan ******* bibir ranum berwarna kemerahan itu.
"Bibir kamu manis," jawab Zac yang membuat Markisa tersenyum. "Kamu sudah minum vitamin kamu?"
__ADS_1
Markisa menggeleng yang membuat Zac segera berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar mengambil vitamin milik Markisa, Markisa tersenyum atas sikap siap siaga suaminya itu.
Setelah semua awal kisah pernikahan yang dia kira buruk, kini berjalan dengan sangat manis, ibarat kata pepatah, pria yang kejam akan luluh ketika berada di tangan wanita yang tepat, mungkin pepatah inilah yang pantas mendefinisikan apa yang terjadi pada Zac dan Tango.
"Buka mulutnya," ujar Zac saat membawa segelas air dan pil ditangannya.
Markisa membuka mulut membuat Zac memasukkan pil tersebut dan membantu Markisa meminum air, setelahnya Zac berjalan ke arah dapur untuk membuat susu ibu hamil milik Markisa.
Markisa benar-benar dimanjakan oleh suaminya itu, terbersit lagi kenangan disaat awal pernikahan yang berasaskan kebencian menjadi kebucinan, jika ada orang yang bertanya pada Markisa, apa hal yang bisa membuatnya tetap bertahan, dia akan menjawab adalah kasih sayang, cinta dan perhatian suaminya ditambah akan hadirnya Baby Z nantinya.
"Posesif, Mesum, Diktator, tapi dia suamiku," gumam Markisa berdiri dari duduknya dan berjalan menyusul Zac ke dapur.
Markisa melihat Zac tengah mengaduk gelas berisi susu di dapur. Membuat Markisa mengembangkan senyum dan berjalan cepat memeluk suaminya dari belakang, Zac yang merasakan ada sesuatu yang memeluknya langsung membalikkan badannya dan menatap Markisa penuh pertanyaan.
"Gapapa, aku cuma mau pengen meluk Mas aja," jawab Markisa menatap polos suaminya.
Entah kenapa, Markisa kehilangan semua kemampuan, kesempatan, bahkan atensi dari segala ketegasan bila berada dihadapan suaminya, ia hanya ingin selalu dimanja saja oleh Zac, karena Zac sudah memberikannya sesuatu yang sulit Markisa lupakan.
"Kamu ada-ada aja," ujar Zac mencolek hidung Markisa dan memberikan susunya kepada Markisa. "Nih minum,"
Markisa mengambil gelas susu tersebut dan mulai meminum susu yang diberikan oleh Zac, sementara Markisa meminum susu, Zac sengaja menurunkan badannya dan mencium perut Markisa yang sudah sedikit membesar.
__ADS_1
"Halo anak Daddy? Kamu apa kabar? Hari ini kamu gak ngerepotin Mama kamu kan? Daddy ga sabar banget nunggu kamu lahir sayang," ujar Zac seolah berbicara dengan bayinya.
Markisa yang mendengar itu mengusap kepala suaminya yanh berambut tebal berwarna coklat tersebut, membuat Zac bangkit dan mensejajarkan dirinya dengan Markisa.
"Makasih," bisik Zac mendekatkan wajahnya kepada Markisa membuat hidung mereka saling bersentuhan.
"Untuk apa?" tanya Markisa.
"Untuk segalanya, karena kamu, Mas jadi sadar bahwa semua bisa berubah karena cinta, tidak perlu menunggu terbiasa, tapi hanya perlu saling memahami bahwa lewat tatapan mata," jawab Zac yang membuat Markisa memeluk erat suaminya itu.
•
Dairy masih terduduk frustrasi didalam kamar mandi kamarnya sendiri, ia sudah berpikir bahwa usaha bom bunuh dirinya hanya akan menghabisi hidupnya sendiri didalam kamar mandi tersebut.
Krit!
Suara pintu kamar mandi yang dibuka membuat Dairy menatap kaget ke arah pintu tersebut dan mendapati sosok pria berkemeja putih tengah berdiri diambang pintu dengan wajah manis dan damai.
"Siapa kamu?" tanya Dairy saat pria tersebut melepas kacamatanya dan berjalan ke arah Dairy.
Pria itu menarik kursi roda Dairy dengan senyum yang masih mengembang ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dairy. "Aku, Dewa penolongmu!"
__ADS_1
•
TBC