Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 57 | Godaan Mas Suami


__ADS_3

"Terima kasih, Kak Dove. Kau sudah membantuku," ujar Markisa menggenggam tangan Dove yang membuat Dove melepaskan tangannya dari Markisa.


"Aku tidak butuh ucapan," jawab Dove melipat kedua tangannya.


"Lantas?" Markisa menautkan alisnya menatap Dove yang menatapnya dengan tatapan tajam.


Dove berjalan ke arah Markisa kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga adiknya itu. "Aku ingin suamimu,"


"Apa?" sentak Markisa terkejut.


Sontak Dove langsung tertawa terbahak-bahak yang membuat Markisa bingung, Dove tertawa melihat ekspresi kaget adiknya itu dan berusaha mengontrol tawanya.


"Aku hanya bercanda, aku senang membantumu," ujar Dove mengusap rambut adiknya itu.


Markisa menghembuskan napas lega kemudian mengelus dadanya. "Kukira kau masih belum berubah,"


"Tapi karena kau menawarkan, aku hanya menuntut kau memaafkan kesalahanku dulu, sebagai ucapan terima kasih mu," jawab Dove yang membuat Markisa menatap dalam kakaknya.


Hap!


Markisa memeluk Dove yang membuat Dove terkejut, Dove membalas pelukan adiknya itu dan memejamkan matanya sejenak, kenapa dia terlambat sadar bahwa menjadi orang baik adalah hal yang paling indah.


"Berikan aku satu alasan untuk tidak memaafkanmu," ujar Markisa melepas pelukannya.


"Tidak ada, dek," jawab Dove menggelengkan kepalanya. "Tetaplah menjadi Markisa yang seperti sekarang,"


"Dan kau tetaplah menjadi sosok Kak Dove yang seperti ini," ujar Markisa pada Dove.

__ADS_1


Dove tersenyum begitupun dengan Markisa, hari yang melelahkan bagi mereka terbayar tuntas dengan kelicikan berbalut kecerdikan dari mereka berdua.


"Bagaimana dengan Kak Milo?" tanya Markisa pada Dove.


"Aku akan kerumah sakit, aku yang akan menjelaskan semuanya nanti kalau dia sadar, dan kau pergilah ke Kantor Polisi menjemput suamimu," jawab Dove. "Pakai saja Mobilku. Aku bisa menggunakan Taksi."


Markisa mengangguk kemudian berjalan beriringan bersama Dove keluar dari unit apartemen itu, mereka berdua berjalan turun dengan kepala tegak terhormat, dua wanita kuat yang berhasil menyelesaikan sebuah ketidakadilan.


"Aku duluan," ujar Markisa masuk kedalam mobil.


Dove mengangguk sampai Markisa melambaikan tangannya kepada Dove sebagai tanda perpisahan mereka untuk hari ini, walaupun hanya saudara tiri tapi percayalah sebuah ikatan itu akan membuatnya terlihat lebih indah.


"Aku pernah membuat kesalahan, sampai aku sadar bahwa Tindakan yang paling berani adalah, berpikir sendiri," monolog Dove berjalan mencari taksi. "Sekarang tinggal membuat suamiku jatuh cinta,"



Markisa mengusap rambut suaminya itu, dia tidak akan pernah membayangkan kalau suaminya akan menginap di penjara karena tuduhan tanpa bukti.


"Terima kasih, sayang," ujar Zac mengelus wajah Markisa yang membuat Markisa menatapnya serius.


Mata coklat Zac menatap lembut ke lentik mata hitam pekat milik Markisa, Pria yang memiliki darah spanyol dan denmark ini bangkit dan menarik istrinya kedalam pelukannya.


"Aku tidak akan bisa membayangkan nasibku, kalau aku tidak memiliki istri secerdas dirimu," lanjut Zac yang dengan sengaja memberikan sentuhan sensitif kepada Markisa.


"Kau menggodaku lagi?" protes Markisa menatapnya tajam Zac kali ini.


"Suamimu ini hanya ingin dimanja, tanyakan saja pada Baby Z," jawab Zac mengelak.

__ADS_1


"Godaanmu itu cuma aku yang bisa tahan," jawab Markisa yang membuat Zac meraih kepala istrinya dan mencium pelan bibirnya.


"Aku ingin meminta bagianku," Zac berdiri dan menggendong Markisa. "Tapi sebelum itu kau harus menjawab ini, kenapa kau ingin bertahan dalam pernikahan ini, karena pada awalnya kau tersiksa,"


Markisa tersenyum kemudian mengalungkan tangannya ke leher Zac. "Karena yang pada awalnya tidak akan seperti pada akhirnya,"


"Kalau awal pernikahanku buruk itu bukan salahku tapi kalau sampai akhir tetap buruk itu tentu salahku, jadi aku akan berusaha membuat pernikahan ini menjadi lebih indah," lanjut Markisa.


"Kau selalu membuat aku tercengang dengan kalimatmu sayang," ujar Zac membawa Markisa masuk kedalam kamar.


Markisa tidak menjawab, dia hanya menuruti kemanapun Zac ingin membawanya, Zac kemudian membuka pintu kamar dengan kakinya sehingga membuat bunyi bising sedikit.


Setelahnya dia menidurkan istrinya diatas ranjang dan beralih berdiri dihadapan Markisa yang menatapnya dalam posisi tidur.


Zac tersenyum kemudian melepaskan kaos yang sedang dia kenakan, membuat pahatan tubuh berotot itu terekspos jelas dihadapan Markisa.


"Aku pikir aku akan mati jika melakukan hubungan suami istri dengan suami seatletis dirimu," ujar Markisa yang membuat Zac naik keatas ranjang dan merangkak ke arah Markisa.


"Only you," jawab Zac yang membuat Markisa menarik kepala Zac dan memberikan ciuman disana.



TBC



Sebelum lanjut baca, Author mau bilang Maaf beberapa hari terakhir tidak pernah Double up karena Author sedang sakit dan semoga saja tidak positif wabah yang sedang ramai diperbincangkan.

__ADS_1


Happy Reading dan jangan lupa berikan likenya.


__ADS_2