Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 72 | Dia Lupa Dengan Siapa Dia Berurusan


__ADS_3

"Markisa?" panggil Dove.


Dove berjalan masuk ke ruangan Markisa dan berjalan ke arah meja Markisa, dimana ada Markisa yang sudah menunggunya disana, hari ini dia akan check-up dan konsultasi sedikit mengenai kehamilannya, namun bukannya langsung To the Point, Markisa malah menatap Dove dengan netra menyelidik dan senyum yang dimasam-masamkan.


"Ada apa?" tanya Dove melihat Markisa menatapnya dengan tatapan seperti.


"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta," ujar Markisa berdiri dan berjalan kebelakang Dove memegang pundak kakaknya itu. "Aku ikut bahagia dengan kabar ini, apakah Tango sudah mulai mencintaimu?"


"Kau bercanda?" tanya Dove membalikkan badannya menatap Markisa.


Sontak Markisa tertawa melihat Dove, sedangkan Dove hanya berdiri dengan pipi memerah karena dijadikan bahan bercandaan dari adiknya itu.


"Sudah, cepat mulai saja," ujar Dove berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Iya, kenapa tidak kau ajak suamimu kemari, biar dia bisa melihat anaknya diperiksa," jawab Markisa terkekeh yang membuat Dove kembali dibuat malu oleh adiknya itu.


"Sudahlah, lebih baik kita mulai periksa sekarang," jawab Dove berjalan ke arah ranjang pasien.


Markisa mengangguk, ia paham betul akan perasaan Dove, dia kemudian mempersiapkan alat-alat miliknya untuk mulai memeriksa kandungan Dove.


Markisa kemudian berjalan pelan menuju ranjang pasien, membawa alat-alat miliknya, sedangkan Dove sudah berbaring diranjang pasien.


"Aku mulai yah?" ujar Markisa menyingkap baju Dove dan mulai memeriksa menggunakan alat yang sudah dia sediakan.


Tapi sebelum itu dia mengoleskan gel ke area perut Dove agar lebih mudah melakukan pengecekan lebih lanjut, setelah selesai mengoleskan gel tersebut, Markisa mulai menggeser alat berbentuk persegi yang termechanize dengan monitor diatas nakas samping ranjang.


"Semacam USG?" tanya Dove pada Markisa.


Markisa mengangguk kemudian mulai menjelaskan. "Bisa dibilang seperti itu, nanti USG-nya kalau kandungan kakak udh masuk akhir Trimester pertama,"


Setelah selesai Markisa membereskan alat-alat miliknya dan memastikan hasil lewat analisa, hipotesis dari pemeriksaan yang baru saja dia lakukan pada Dove.


Dove bangkit dari posisinya dan berjalan menuju meja Markisa, dia menarik kursi dan duduk dihadapan Markisa.


"Bagaimana?" tanya Dove pada Markisa.


Markisa mengambil selembar kertas dan pulpen miliknya kemudian mulai mencatat beberapa obat yang harus Dove tebus di apotik.

__ADS_1


"Semuanya sehat, Trimester pertama ini agak rawan jadi harap hati-hati, untuk obatnya bisa ditebus yah kak," jawab Markisa yang membuat Dove mengangguk. "Selain itu tidak ada lagi, kakak boleh pergi sekarang,"


Dove memberikan tatapan tajam kepada Markisa. "Kau mengusirku?"


"Tepat sekali," jawab Markisa menggerakkan manik matanya melirik pintu keluar dimana ada Tango yang sedari tadi menunggu. "Sepertinya suamimu sudah tidak sabar menunggu,"


"Apa yang kau intip, Dokter Tan?" teriak Markisa yang membuat Tango gelagapan seketika.


Melihat itu Markisa dan Dove terkekeh geli, Markisa mengangkat alisnya, serasa dejavu Tango sendiri harus menahan malu karena ketahuan mengintip proses pemeriksaan istrinya sedang dia tadi menolak untuk masuk.


"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai ketemu nanti malam," ujar Dove berdiri yang disambut anggukan Markisa. "Eh tunggu, apakah Dairy akan hadir malam ini?"


Markisa terdiam. "Perasaanku tidak enak, sepertinya akan ada sesuatu yang dia rencanakan,"


"Kita sepemikiran, bagaimana kalau kita datang lebih awal?" jawab Dove yang membuat Markisa mengangguk.


"Baiklah,"


Dove kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Markisa dimana Tango sudah menunggunya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sesaat setelah kepergian Tango dan Dove. Zac masuk kedalam ruangan Markisa yang membuat Markisa bangkit dan mengambil tas-nya.


Markisa mengangguk, sesaat sebelum Zac memperhatikannya dari ujung rambut sampai ke kaki. "Kenapa kamu pake sepatu hak tinggi lagi?"


Markisa mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Kamu dokter kandungan atau bukan sih?" jawab Zac berjalan menggendong Markisa dengan gaya head to head. "Sepatu hak tinggi untuk ibu hamil itu bisa bikin kram di perut, apalagi menyentuh tumit,"


"Fakta darimana itu?" tanya Markisa.


"Dari google," jawab Zac cengengesan kemudian melangkahkan kakinya membawa Markisa keluar dari ruangan itu.


Mereka berdua melewati koridor rumah sakit dengan tatapan orang-orang yang lalu lalang disana, sedangkan Markisa hanya menutup mata saat Zac dengan tampang tidak peduli berlalu tanpa dosa melewati orang-orang tersebut.


"Aku tidak peduli, bagaimana anggapan mereka, apakah salah kalau aku romantis," batin Zac yang sudah keluar dari area rumah sakit.


Zac kemudian melangkahkan kakinya kembali melewati halaman rumah sakit menuju mobilnya yang terparkir disana, setelah sampai di mobilnya, ia kemudian menurunkan Markisa dan duduk dibagian depan mobilnya.

__ADS_1


Markisa yang melihat itu hanya menatap bingung saat Zac yang kini tengah memakai kemeja putih dan blens hitam menyuruh dia berdiri dihadapannya, dan bodohnya Markisa mengikuti keinginan suaminya.


"Ngapain sih?" tanya Marksia pada Zac.


Zac tidak menjawab dan masih sibuk menatap Markisa dari ujung kepala sampai kaki, sebelum menarik tangan Markisa sehingga Markisa jatuh ke pelukan nya.


"Gapapa, aku cuma mau liat kamu," jawab Zac yang membuat Markisa menatapnya malas.


"Segabut itukah suaminya?" ujar Markisa dalam hati.


Zac tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke bibir Markisa bermaksud menciumnya sebelum Markisa mendorong wajah Zac menjauh darinya.


"Ini tempat umum," tegur Markisa.


Mendengar itu, Zac hanya menatap memelas dan masih mendapat penolakan dari Markisa yang membuat Zac hanya mengangguk frustrasi.


"Baiklah kau menang," jawab Zac yang membuat Markisa menarik kepala Zac dan mencium bibir suaminya itu.


Zac membulatkan mata sempurna sebelum membalas ciuman Zac, membiarkan lidah mereka saling bersentuhan didalam sana.


"Kau bilang ini tempat umum," ujar Zac saat Markisa melepas ciumannya.


"Aku hanya bilang ini tempat umum, bukan berarti kita tidak bisa melakukan itu," jawab Markisa yang membuat Zac menggelengkan kepalanya maklum.


"Ckckck, kau menang dan selalu menang sayang, sulit menang darimu," titah Zac menatap Markisa lembut.


"Karena rumusnya, Wanita selalu benar," jawab Markisa yang membuat Zac mengangguk-anggukan kepalanya.



Dairy tengah berada didalam kamarnya, tangannya tampak mempersiapkan benda berbentuk persegi yang siap menghancurkan malam pernikahan dan hari bahagia semua orang, karena dalam prinsipnya, tidak ada yang boleh bahagia disaat dirinya terluka.


Benda persegi panjang dengan diameter persegi serupa itu tampak berdetak menghitung waktu, Dairy kemudian menempelkan benda itu ke badan nya dan siap mengeksekusi malam ini, setelahnya dia menatap wajahnya dicermin, wajah yang berantakan dan penuh dosa.


"Aku sudah cacat, tidak ada gunanya aku hidup, biarkan saja kuakhiri hidupku dan membawa mereka semua bersamaku," ujar Diary menatap cermin kemudian tersenyum sinis tanpa dosa.


Ia sudah merencanakan ini dengan baik, namun dia lupa dengan siapa dia berurusan.

__ADS_1



TBC


__ADS_2