
"Jam lima-"
"Jam lima sore, aku jemput," potong Markisa menghentikan ucapan Zac. "Pasti Tuan mau ngomong itu kan,"
"Tuan lagi, Mas, Mas Zac," ralat Zac pada Markiss.
Markisa membuang wajahnya, dia lupa bahwa dia harus membiasakan dirinya memanggil nama Zac dengan sebutan Mas bukan Tuan.
"Iya Mas," jawab Markisa tersenyum manis dihadapan Zac.
Zac tersenyum dan mengusap kepala Markisa, kini mereka berdua sudah ada didepan rumah sakit tempat Markisa bekerja, Zac mulai hari ini dan seterusnya akan menjadi sopir pribadi bagi istrinya itu sebelum pergi bekerja.
"Kamu hati-hati yah kerjanya," ujar Zac saat Markisa merapikan tasnya dan hendak turun.
"Aku tahu itu, harusnya Mas yang hati-hati, jangan tergoda dengan wanita lain, karena aku masih serius dengan kalimatku dulu," jawab Markisa yang membuat Zac menautkan kedua alisnya.
"Apa?" tanya Zac pada Markisa.
"Aku akan memotong benda berhargamu," jawab Markisa meremas area sensitif Zac dan membuka pintu mobil dan hendak keluar.
Zac menarik tangan Markisa sehingga Markisa kembali terduduk, Zac kemudian menutup pintu mobil tersebut dan menatap Markisa dalam. "Kau sudah membangunkannya,"
"Jadi batangan Mas mau apa kalau sudah bangun?" tanya Markisa menatap balik Zac.
"Kau harus menidurkannya," jawab Zac mencium Markisa dengan cepat sehingga Markisa tidak ada kesempatan untuk menolak. "Bagaimana kalau kita bermain sebentar,"
__ADS_1
"Mas gila! Kita ada dimobil," tolak Markisa menjauhkan badannya dari Zac.
Zac tersenyum sinis kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Markisa dan menjilatnya pelan. "Bagaimana kalau menggunakan bibirmu?"
Markisa membulatkan mata sempurna, sementara Zac masih tersenyum sinis disana dengan wajah penuh rasa cinta kepada istrinya itu.
"*******?" tanya Markisa bingung.
"Benar sekali," jawab Zac menarik kepala istrinya dan mendaratkan satu ciuman lagi disana.
Zac kemudian membuka resleting celananya dan mengeluarkan rudalnya yang sudah menegang, Markisa menatap rudal itu, Markisa tidak menyangka ukurannya sebesar itu, padahal semalam Markisa rasa ukurannya tak sebesar ini.
"Okeylah, kau yang memulai, lihatlah bagaimana istri agresif ini memperlakukanmu, dan kalau sampai waktunya nanti, aku akan benar-benar memotong rudalmu, Tuan Suami," jawab Markisa mengocok pelan rudal Zac.
Zac melenguh perlahan dan meraih wajah Markisa menciumnya dengan beringas sembari rudalnya diperlukan dengan indah oleh Markisa.
"Hentikan!" teriak Zac menarik kepala Markisa sehingga rudal tersebut terlepas dari Markisa.
Zac kembali menciumi Markisa dengan brutal, Markisa yang sudah ikut terangsan membalas ciuman Zac dengan sama brutalnya.
Setelahnya Zac melepas ciumannya dan menatap Markisa. "Kita lanjutkan nanti malam. Lebih baik kau pergi bekerja, akan banyak ibu hamil yang akan kau periksa,"
"Bagaimana dengan rudalmu?" tanya Markisa merapikan pakaiannya.
"Akan aku tahan sampai nanti malam, lagipula kau benar ini di mobil," jawab Zac yang membuat Markisa tersenyum.
__ADS_1
Markisa kemudian mengecup pipi Zac dan turun dari mobil berjalan masuk ke rumah sakit tersebut, sementara itu Zac hanya tersenyum dan menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah sakit itu.
"Markisa!" teriak seseorang yang membuat Markisa membalikkan badannya.
Dia adalah Nyonya Baygoninda Rich, mertua dari Markisa dan ibu dari Zac, Nyonya Bay dari awal memang tidak menyukai Markisa karena menginginkan Dove yang menjadi menantunya.
Markisa hendak menyalami Nyonya Bay namun segera ditepis oleh Nyonya Bay. "Kau tidak perlu sok baik kepadaku, apa yang kau lakukan pada Zac?"
"Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Markisa balik.
"Kau menjadikannya supir pribadi! Kau benar-benar istri yang tidak tahu malu," jawab Nyonya Bay yang membuat Markisa tersenyum sinis.
"Aku bahkan bisa menjadikannya pembantuku jika aku mau, suami hanyalah statusnya, tapi karena dia suamiku, aku mencintainya maka apapun yang terjadi itu urusan kami, ada kredibilitas apa nyonya mengurusi rumah tanggaku?" Markisa melipat kedua tangannya.
"Sopan kamu!" teriak Nyonya Bay dengan nada tinggi.
"Sampai detik ini aku masih sopan. Apakah ada dari kalimatku menyebut Nyonya binatang, atau Nyonya mau dipanggil Mama? Bukankah aku menantu yang tidak kau inginkan? Kenapa meminta pengakuan padaku?" jawab Markisa.
"Aku tidak ingin berdebat, aku ingin bekerja, kenapa harus memprotes ketika suami memanjakan istrinya? Apakah Tuan Ryzam tidak pernah memanjakan Nyonya? Sungguh menyedihkan pernikahan Nyonya, maka dari itu aku akan membuat pernikahan anakmu jauh lebih indah," lanjut Markisa.
Nyonya Bay memgemggam tas jinjingnya erat dan mengatup kedua bibirnya keras, Markisa mengambil tangan Nyonya Bay dan menggenggamnya keras.
"Kau mertuaku, tapi aku menantumu? Hargai aku, jika kau ingin kuhargai, aku bukan menantu yang bisa kau tindas," Markisa kemudian menyalami Nyonya Bay dan berjalan pergi masuk kedalam rumah sakit.
•
__ADS_1
TBC