
"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Bay menatap tajam Markisa.
"Kau masih mempertanyakan maksudku?" tanya Markisa tersenyum sinis kepada Nyonya Bay. "Aku hanya ingin membantumu memasak, aku lupa kalau Mama alergi buah jeruk sama seperti sosok yang pernah menghilang dulu, Tuan Zac yang memberitahu ku tentang alergi Mama."
Nyonya Bay meminum air putih sembari menatap tajam Markisa dan berusaha memutar perhatian ke arah lain.
"Lebih baik kau pergi!" teriak Nyonya Bay mengusir Markisa.
Markisa melipat kedua tangannya dan menatap Nyonya Bay dalam. "Ini rumah Tuan Ryzam, mertuaku, ada hak apa anda?"
Markisa berjalan ke arah Nyonya Baygon dan menarik tangan kiri Nyonya Bay dan melihat sebuah bekas luka disana, sama persis seperti bekas luka istri diktator terkenal itu, sudah kuat dugaan Markisa yang membuat Markisa hanya perlu mencari bukti bahwa Zac bukanlah anak mereka.
Markisa memeluk Nyonya Bay dan dengan sekali cabut dia berhasil mendapat sehelai rambut Nyonya Bay. "Maafkan aku Mama, tidak ada yang bisa mengaturku, suamiku diktator dan istrinya juga harus diktator,"
"Kau tahu? Dulu sekali ada sepasang suami istri dengan kelainan jiwa dan memiliki sifat diktator, entah kenapa sepasang suami istri itu menghilang tanpa jejak bersama bilangnya anak pertama dari keluarga Hervas dulu, kau tau tentang ini?" lanjut Markisa pada Nyonya Bay.
Nyonya Bay semakin membuang mukanya, dia tidak menyangka bahwa Markisa menyimpan makna tersendiri dari kalimatnya yang hanya Markisa sendiri yang tahu artinya.
Markisa mengambil sebuah jeruk dari dalam tasnya dan mengupasnya dihadapan Nyonya Bay, setelahnya Markisa memakannya tepat dihadapan Nyonya Bay dengan senyum sinisnya.
"Selamat membuat makan siang Mama Mertua, masak yang enak, atau kau makan jeruk ini dulu?" Markisa tersenyum dan berjalan meninggalkan Markisa. "Oh iya satu lagi, aku dengan Papa Mertuaku alergi Manggis, Maafkan kalau aku salah,"
Markisa berjalan keluar dari dapur dengan memasukkan sample rambut Nyonya Bay kedalam sebuah plastik, selanjutnya adalah tinggal menemui Bodrex, kepala pembantu di kediaman Ryzam.
__ADS_1
"Nona memanggil saya?" tanya Bodrex pada Markisa.
Markisa melipat sekelilingnya dan memastikan bahwa tidak ada siapapun yang melihatnya, Markisa mengeluarkan tiga plastik berisi sample rambut Zac yang bisa dia dapatkan dengan mudah, Rambut Tuan Ryzam yang dia dapatkan sewaktu dipeluk dan tanpa membuatnya lelah sample rambut Nyonya Bay.
"Bawa ini, kepada Kak Milo, semua ini sample rambut dengan kepentingan tes DNA, untuk memeriksa kamar mereka aku bisa sendiri, apakah kau punya kuncinya?" ujar Markisa menyerahkan sample tersebut kepada Bodrex.
Bodrex mengangguk kemudian mengambil sample tersebut kemudian memberikan kunci kamar majikannya kepada Markisa yang ia dapatkan sewaktu berbersih tadi.
"Terima kasih," ujar Markisa berjalan meninggalkan Bodrex menuju kamar Mertua nya.
Markisa tidak perlu repot-repot mengendap masuk kedalam kamar tersebut karena hampir semua pembantu disini merupakan orang-orang yang sudah mengkhianat karena dibayar oleh Milo.
Drttt!
Sampai akhirnya mata Markisa tertuju pada berangkas yang membuat Markisa segera mendatangi berangkas tersebut yang dikunci akses oleh pin.
Markisa segera menghubungi Milo untuk membantunya membuka pin berangkas tersebut.
[Halo Kak? Aku butuh bantuanmu membuka Berangkas ini]
Milo yang sedang berada dikantornya segera merapihkan meja kerjanya dan menjawab pertanyaan Markisa.
[Ada bubuk bedak? Atau apapun berbentuk bubuk disana?]
__ADS_1
Markisa mengedarkan pandangannya dan tertuju pada meja rias Nyonya Bay dimana terdapat bedak bubuk disana.
[Ada kak]
[Ambil itu dan taburkan ke tombol pin berangkasnya]
Markisa mengambil bedak tersebut dan menaburkannya disana sesuai dengan perintah Milo kepadanya.
[Selanjutnya tiup sampai Bubuknya hilang, area tombol pin yang memiliki bayangan lebih dalam itulah pinnya, biasanya pin diurut dari atas Kebawah, jadi kalau kau menemukan pinnya berada di tiga tempat baris berbeda, maka itu sangatlah mudah]
[Baik kak]
Markisa mematikan telepon tersebut dan mulai melancarkan aksinya, benar saja, Markisa bisa membuka pin berangkas tersebut dengan cepat walaupun beberapa mengalami kegagalan.
Markisa kemudian mulai memeriksa isinya yang terdapat beberapa dokumen penting sampai dia menemukan sebuah akta lahir dan kartu tanda pengenal lama, Atas nama Tuan Durex dan Nyonya Fiesta.
"Ini adalah Nama dari kedua pasangan diktator yang menghilang itu, berarti Tuan Ryzam dan Nyonya Baygon, hanyalah nama samaran?" batin Markisa mencari bukti lain.
Markisa juga menemukan sebuah foto masa kecil yaitu seorang bocah laki-laki dalam gendongan Tuan Hervas, belum sempat Markisa memeriksa lagi suara langkah kaki memaksanya untuk segera bersembunyi.
"Siapa yang membuka kamar ini?" monolog Tuan Ryzam yang mendapati kamarnya tidak terkunci.
•
__ADS_1
TBC