
Zac membuka matanya perlahan, sudah hampir tiga jam dia tidak sadarkan diri akibat kejadian itu, Milo masih ada diruangan Zac, entah apa niatnya Milo sengaja menunggui Zac sadar.
Zac menatap sekelilingnya, matanya berusaha beradaptasi, ia kini berada diruangan serba putih, Zac bangkit perlahan dari posisi tidurnya menjadi posisi duduk, Milo yang melihat itu segera berdiri dari duduknya di sofa yang ada diruangan tersebut dan mendatangi Zac.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Milo.
Zac mengusap keningnya perlahan, ia sulit mendeskripsikan apa yang terjadi dengannya, sampai ia teringat sesuatu yaitu Markisa, Zac segera mengumpulkan kesadarannya.
"Markisa dimana?" tanya Zac yang membuat Milo membuang napas panjang.
"Kenapa menanyakan dia? Bukankah kalian tidak saling mencintai?" jawab Milo dengan nada bertanya.
Milo duduk ditepi ranjang Zac, menatap Zac dengan tatapan penuh interogasi, Zac berpikir sejenak.
"Pada awalnya, tapi sekarang semua berbeda," jawab Zac.
Bugh!
Satu bogeman mentah jatuh dari tangan Milo yang membuat Zac terjungkal kebelakang dari posisinya, Zac kemudian bangkit dan memegang wajahnya, ia menatap Milo yang sedang menatap tajam kearahnya.
"Pada awalnya, kau menikah karena terpaksa, disaat kau merenggut kehormatannya kau malah ingin menikahi wanita lain, dan dalam pernikahan kalian, kau selalu berlaku buruk pada Markisa, kenapa baru sekarang setelah kau tahu faktanya kau menjadi cinta kepadanya?" ujar Milo menarik kemeja Zac.
Zac terdiam yang membuat Milo melepaskan Zac. Milo bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dihadapan Zac, ia sangat kesal sekarang karena Zac. Markisa menyerah atas semua rencananya.
__ADS_1
"Aku berjanji, aku akan mencintainya setulus hatiku, aku siap mengorbankan apapun untuknya," ujar Zac pada Milo.
Milo berhenti mondar-mandor dan menatap Zac dalam, dia berusaha mengontrol emosinya, perkataan Markisa ada benarnya juga bahwa tidak semua harus berasaskan dendam tapi Milo punya dendam tersendiri kepada Zac.
"Zac? Kau ingat dengan Tapasya?" tanya Milo pada Zac.
Zac memutar ingatannya mengingat nama yang merupakan nama istri pertama Zac yang sudah meninggal, Milo menatap nanar Zac yang tengah berpikir.
"D-Dia, istri pertamaku, kenapa dengannya?" tanya Zac yang membuat Milo naik pitam.
Milo menerjang Zac dan menarik kembali kemeja adik iparnya itu dan menatapnya tajam. "Kau tahu aku dan Markisa memiliki perjanjian untuk membuatmu jatuh cinta pada Markisa kemudian meninggalkanmu, agar kau tahu rasanya ditinggalkan dan terluka, sama yang kau lakukan pada Markisa dan padaku!"
"Padamu?" tanya Zac menautkan kedua alisnya.
"Cih! Sebuah mindset yang munafik jika kau tanya aku!" lanjut Milo enggan menatap Zac.
Zac membulatkan mata sempurna atas penjelasan Milo, dia tidak menyangka bahwa dahulu telah merebut kebahagiaan kakak iparnya itu.
"Kau tahu apa yang aku lakukan dihari pernikahan kalian? Aku bersumpah tidak akan menikah lagi dan mengikhlaskan Tapasya untukmu! Namun apa yang kau lakukan padanya sialan!? Kau memperlakukannya layaknya budak sampai dia depresi dan meninggal, dan kau bahkan tidak hadir dalam acara pemakaman nya." Milo mengeraskan rahangnya kesal menatap wajah shock Zac.
"Aku kira, aku melepaskan Tapasya bisa membuat Tapasya bahagia. Namun semuanya salah, aku menyesal membiarkannya menikah denganmu," lanjut Milo.
Zac terdiam, dia tidak tahu harus berkata lebih bagaimana lagi, dia mendapatkan sebuah fakta yang meruntut guncang sanubarinya, dia sendiri sedikit bingung kenapa dia baru mengetahui fakta ini sekarang.
__ADS_1
"Dan kau lihat? Sampai sekarang aku belum menikah, karena aku masih mencintai TAPASYA!" teriak Milo dihadapan Zac.
"Maafkan aku," jawab Zac menunduk.
Milo melepaskan kerah kemeja Zac dan berjalan duduk di sofa sementara Zac terduduk diranjang dengan pikiran yang menggejolak.
"Aku sebenarnya ada disaat kau merenggut kehormatan Markisa, aku bisa saja menghentikan kalian, namun aku rasa aku bisa menggunakan Markisa sebagai perantara balas dendam kepadamu, aku melatihnya menjadi wanita yang kuat agar bisa melawan kediktatoranmu, dan bodohnya aku, Markisa malah jatuh cinta padamu, dan sekarang dia akan pergi ke luar kota karena tidak ingin membuat rasa sakit jika kau terlalu mencintainya nanti," jelas Milo.
Mendengar itu membuat Zac mengangkat kepalanya dan membulatkan mata sempurna, ia harus segera menyusul Markisa namun tidak bisa karena dihadang oleh Milo.
"Apakah kau mencintainya?" tanya Milo mencengkram kedua bahu Zac.
"KAU MENCINTAINYA!" teriak Milo yang kali ini membuat kesabaran Zac habis.
"Aku mencintainya! Dan tidak ada siapapun yang bisa menghentikan ku karena aku seorang Diktator!" teriak Zac menatap tajam Milo.
Milo tersenyum sinis. "Aku menunggumu mengatakan itu, Pria Diktator!"
•
TBC.
__ADS_1