Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 73 | Memelukmu Untuk Menikammu Lebih Dalam


__ADS_3

Hari sudah sore, Markisa dan Dove memilih mengunjungi kediaman Mourt tempat acara berlangsung karena mereka memiliki perasaan tidak apa yang akan terjadi malam ini, bukannya apa-apa, Markisa dan Dove selalu memiliki feeling yang baik dalam menebak karena mereka berdua adalah komposisi yang pas dalam mengungkap masalah.


Markisa dan Dove datang ke kediaman Dove menggunakan mobil milik Dove yang dikendarai Markisa, sebelumnya Zac dan Tango melarang mereka pergi berdua, mengingat kondisi mereka yang sama-sama hamil, namun bukan Markisa dan Dove namanya kalau mereka tidak bebal apalagi menyangkut sebuah firasat.


Kediaman Mourt tampak rame akan persiapan pernikahan Milo dan Tapasya nanti malam, bahkan altar pernikahan tersebut sudah tersusun rapi dengan hiasan bernuansa putih.


Dug!


Suara pintu mobil yang ditutup berbarengan menjadi penanda bahwa Markisa dan Dove sudah turun dari mobil, mereka berdua memakai kacamata anti radiasi mereka, yang bila terkena cahaya matahari akan tampak hitam.


"Apa tujuan kita?" tanya Markisa pada Dove.


Dove merogoh tas-nya mengambil ponsel miliknya yang terhubung dengan cctv kediaman Mourt, sebenarnya hanya Milo dan Markisa yang memiliki akses itu tapi karena Dove sudah berubah, Milo memberikan akses serupa kepada Dove.


"Kondisi aman, tujuan kita kamar Dairy," jawab Dove memberikan tanda jempol kepada Markisa.


Markisa mengangguk kemudian melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah kediaman Mourt, disusul oleh Dove yang memasukkan ponselnya kedalam tas.


"Markisa, Dove?"


Deg! Markisa dan Dove membalikkan badannya dan melihat Tuan Mourt yang memanggil namanya, Markisa dan Dove saling melempar pandangan sejenak.


"Ayah?"


"Hm? Sedang apa kalian?" tanya Tuan Mourt mengelap tangannya dengan sapu tangan.


"Ingin memantau, ini atas permintaan kak Milo," jawab Markisa berbohong.


Tuan Mourt memberikan tatapan penuh selidik ke kedua putrinya, membiarkan netra Markisa dan Dove tidak berkedip sedikitpun saat tusukan netra Tuan Mourt menyambar manik matanya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Tuan Mourt berjalan meninggalkan Dove dan Markisa.


Dove dan Markisa saling mengelus dada, merasakan kelegaan saat Tuan Mourt tidak menaruh curiga kepada mereka.


"Kau bilang aman," protes Markisa pada Dove.


"Diluar kendaliku," jawab Dove berjalan masuk kedalam rumah disusul oleh Markisa.


Mereka berdua berjalan melewati beberapa orang yang sibuk menyiapkan pernikahan Milo dan Tapasya, mereka berdua memilih langsung naik ke lantai kedua, dimana kamar Dairy berada. Mereka tidak tahu dimana Dairy namun mereka dengan mudahnya berhasil masuk ke kamar Dairy dengan aman karena berhasil mengendalikan kondisi.


"Sekarang apa?" tanya Dove pada Markisa.


Markisa berpikir sejenak, pasti ada sesuatu yang bisa menjawab firasat mereka berdua, Dove sendiri berjalan ke ranjang milik Dairy dan memeriksanya namun tidak menemukan apa-apa.


"Apa ini?" lirih Markisa memungut suatu benda dari kolom ranjang Dairy.


Markisa berdiri dan menatap Dove dalam saat Dove tengah mencari informasi mengenai benda tersebut.


"Astaga!" pekik Dove mengetahui apa nama benda itu.


"Kenapa?" tanya Markisa yang membuat Dove melempar tatapan kepada Markisa.


"Ini adalah label dari produk Bom AOXTY, ini adalah salah satu bom yang biasa dipakai dalam insiden bunuh diri, diameter ledakannya bisa menggapai satu ruangan full," jawab Dove.


"Jadi?"


Markisa dan Dove berpikir sejenak sebelum kembali saling melempar tatapan.


"Dia ingin melakukan bunuh diri dengan membawa orang lain," ujar Dove dan Markisa berbarengan.

__ADS_1


Kritt! Suara pintu terbuka dibarengin tepukan tangan saat sebuah kursi roda yang diduduki oleh Dairy masuk ke dalam kamar membuat Markisa dan Dove langsung memusatkan atensinya kepada Dairy.


"Rupanya kalian tidak terlalu bodoh yah," ujar Dairy yang membuat Markisa dan Dove melemparkan tatapan tajam ke arahnya.


"Kenapa sih kau tidak pernah berubah, bahkan kau sudah cacat seperti ini," ujar Markisa yang membuat Dairy menatap sinis kepadanya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan berubah selama kalian bahagia, kalian pikir aku bisa bertahan hidup dengan keadaan begini?" jawab Dove memberikan tatapan tajam kepada Markisa.


"Sudahlah Kisa, orang seperti dia bisa apa? Mari kita selesaikan sekarang, memang dia bisa melawan dengan kondisinya seperti ini?" Dove berjalan ke arah Dairy dan mendorong kursi rodanya hingga tersudut ditembok. "Kau bisa apa cacat?"


"Jangan munafik, ini semua berawal darimu, kau yang membuatku jadi begini, dan seenaknya saja kau bahagia setelah aku terperangkap dalam derita!" teriak Dairy pada Dove.


"Lalu kau mau apa!" tanya Dove menepuk pipi adiknya itu.


Dove berdiri dan melipat kedua tangannya, sementara Markisa mengambil seutas tali dan berjalan kesamping Dove.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi ini demi kebaikanmu juga," jawab Markisa memberikan tatapan penuh intimidasinya. "Bom dalam tubuhmu perlu waktu untuk meledak, tapi aku bisa membuatmu menyerah dalam satu detik, tertarik bermain?"


"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Dairy yang membuat Dove dan Markisa saling melempar tatapan.


"Hanya memelukmu," jawab Markisa.


"Tapi untuk menikammu lebih dalam," lanjut Dove.


Dairy yang mendengar itu gugup seketika saat kedua kakaknya memberinya tatapan yang sulit dijelaskan dan di deskripsi kan.



TBC

__ADS_1


__ADS_2