
Setelah Tiga Bulan -
Markisa kini sudah mengandung dengan usia kandungan tiga bulan, melihat kondisi kandungannya yang masih muda dan rawan, Zac sudah melarangnya untuk bekerja lagi sebagai Dokter atau setidaknya mengambil break, namun Markisa selalu menolak permintaan suaminya yang kian hari kian posesif.
"Aku memintamu berhe-"
Markisa menaruh jarinya dibibir Zac, menyuruh suaminya itu berhenti berbicara karena dia sudah tahu apa yang akan suaminya ucapkan kepadanya.
"Setelah menjadi Pria Diktator, kau menjadi Prio posesif, bisakah kau menjadi Suami yang normal, satu hari saja?" keluh Markisa mengambil tasnya dan hendak membuka pintu mobil.
Zac yang melihat itu langsung menarik tangan Markisa dan menahannya dengan kedua lengan kokoh-nya.
"Kau melupakan sesuatu sayang," ujar Zac mengangkat kedua alisnya.
Kini posisi Markisa bersandar di bahu Zac dengan wajah menghadap langsung ke wajah Zac, Markisa memutar bola mata malas kemudian menarik kepala Zac agar dia bisa memberikan kecupan untuk suaminya itu.
"Kau sudah puas?" tanya Markisa mengambil posisi duduk.
__ADS_1
Zac mengangguk kemudian beralih mencium perut istrinya dan puncak kepala Markisa. "Jangan lama-lama yah, nanti aku rindu,"
Markisa terkekeh. "Rindu itu gak berat, Mas-nya aja yang malas gerak, udah aku telat,"
Markisa turun dari mobil dan menutup pintu mobil tersebut, setelahnya ia berjalan masuk kedalam rumah sakit, Zac sendiri memperhatikan istrinya dulu menunggunya aman sampai kedalam sebelum meninggalkan rumah sakit tersebut.
Markisa berjalan memasuki rumah sakit tersebut, ia berpapasan dengan beberapa suster dan dokter, Markisa hanya mengangguk kemudian kembali berjalan, Markisa kini berada disalah satu koridor dimana ada ruangan yang akan didatangi Markisa.
Markisa masuk kedalam ruangan tersebut, dilihatnya Milo terbaring dengan alat bantu bertahan, sudah tiga bulan dia koma akibat kejadian itu, saraf-nya terjepit dan pembuluh darahnya nyaris pecah akibat pukulannya.
Kini Mourt Corp kembali ditangani oleh Tuan Mourt sendiri disaat Milo harus berada diantara hidup dan mati, Markisa berjalan ke arah ranjang Milo.
"Aku kangen sama Kakak, aku rindu sama Kakak, disaat orang lain dulu memandangku jelek, hanya kakak yang bisa mengerti diriku, cepatlah sadar, aku rindu cubitanmu pada pipiku," ujar Markisa mengusap air mata disudut pipi-nya.
Markisa mengambil dan menggenggam tangan kakaknya erat, dia merindukan sosok Milo, namun kini Milo hanya bisa terbaring, padahal dia adalah sosok yang sangat cerdas.
Setelah selesai, Markisa mengecup pipi kakaknya, sebenarnya Markisa akan menunggu sampai kakaknya sadar, namun kalimat dokter yang menangani Milo bahwa jika dalam beberapa minggu kedepan tidak ada perkembangan maka alat bantu kehidupan Milo akan dicabut dan mereka semua harus merelakan Milo.
__ADS_1
Markisa benar-benar tidak rela jika itu terjadi, Markisa kembali menangis, entah sudah berapa air mata yang jatuh diruangan ini, ikatan persaudaraan mereka berdua sangat kuat.
Markisa menaruh kepalanya di dada Milo, dan menangis tersenggut disana, Untuk kesekian kali nya Markisa hancur.
"Kau benar-benar akan membuatku hancur jika kau meninggalkanku, kau rela membiarkan adik mu ini sendirian?" bisik Markisa. "Bangun Bodoh! Aku berbicara denganmu!"
Markisa tidak kuat lagi, ia berdiri dan mengusap air matanya dengan tisu yang dia ambil dari dalam tasnya. "Kak, aku pamit, jika kau perlu apa-apa kunjungi aku sekali saja dalam mimpiku,"
Markisa kemudian berjalan keluar dari ruangan rawat tersebut menuju ruangannya sendiri, sementara itu dibalik jendela ada sosok wanita yang ikut menangis melihat hal itu.
"Milo? Aku merindukanmu," monolog wanita tersebut menundukkan kepalanya.
Ia juga pergi dari tempatnya seiring perginya Markisa dari ruangan itu, menghitung waktu dan keadaan, berusaha mengikhlaskan namun itu tidak bisa.
"Tuan Milo sudah mengalami luka yang parah, sulit baginya untuk sembuh, kalau dalam dua minggu tidak ada perkembangan, jalan satu-satunya adalah mengikhlaskannya, karena ini sama saja menyiksanya, dia berada dalam keadaan hidup dan mati,"
Setidaknya begitulah kalimat yang Markisa dengar tempo hari dan kalau itu terjadi, Markisa benae-benar akan menjadi adik yang paling hancur didunia ini.
__ADS_1
•
TBC