
Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang Mertua, Markisa kembali melanjutkan jalannya masuk kedalam ruangan kerjanya, dimana sudah ada suster yang sudah menunggunya.
"Pagi suster," sapa Markisa ramah menaruh tasnya di meja kerjanya.
Suster yang menjadi asisten Markisa segera berjalan ke arah Markisa yang tengah duduk dan memberikan daftar ibu hamil yang akan melakukan konsultasi.
"Ini mulainya jam delapan pagi yah?" tanya Markisa menengok arloji ditangannya yang masih menunjukkan angka tujuh lewat lima belas menit. "Masih ada empat puluh lima menit, Suster Rinso udah sarapan?"
Suster yang bernama Rinso Arviantibakteri itu menggeleng pelan, karena memang dia tidak sempat sarapan sebelum datang kesini, melihat itu Markisa hanya tersenyum dan merogoh tasnya.
"Ini ada kue, nanti pas makan siang, saya traktir, atau kamu mau saya pesankan sarapan?" tawar Markisa memberikan dessert box kepada Suster Rinso.
"Terimakasih Dokter Kisa, ini aja udah lebih dari cukup," jawab Suster Rinso menerima dessert tersebut.
"Yaudah ambil kursi aja Sus. Nanti makannya disini," ujar Markisa pada Suster Rinso.
"Gapapa Dok?" tanya Suster Rinso segan.
Markisa mengangguk yang membuat Suster Rinso mengambil kursi dan mendekat ke meja kerja Markisa, ia mulai memakan dessert tersebut, Markisa yang melihatnya hanya tersenyum sembari memainkan ponselnya membalas chat dari Zac, karena dia sudah sarapan tadi pagi.
Tuan Suami:
Pagi sayang
^^^Markisa:^^^
^^^Pagi Mas^^^
Tuan Suami:
Udah Kerja?
^^^Markisa:^^^
^^^Jam delapan, Tuan^^^
Tuan Suami:
__ADS_1
Tuan Lagi, Aku suamimu loh dek
^^^Markisa:^^^
^^^Hahahaha, Dek? Seriuosly?^^^
Tuan Suami:
Yasudah, Hati-Hati yah, Jadi kan siang ini makan siang?
^^^Markisa:^^^
^^^Jadi^^^
Tuan Suami:
Yaudah sana kerja lagi, I Love u, sayang
^^^Markisa:^^^
^^^Too Tuan^^^
"Dokter Markisa? Saya boleh nanya tidak?" tanya Suster Rinso pada Markisa.
Markisa membalikkan kepalanya menatap Suster Rinso dan memangku dagu-nya dengan kedua tangan miliknya. "Mau nanya apa?"
"Kenapa Dokter Markisa milih jadi Dokter Kandungan?" tanya Suster Rinso yang membuat Markisa berpikir sejenak.
"Mau tahu? Simplenya gini, karena saya ingin membantu para wanita yang menjadi tonggak lahirnya peradaban, Sebagai Dokter Kandungan saya selalu berpikir bahwa saya terlahir dari rahim seorang ibu, jadi saat saya bisa membantu para calon ibu, itu rasanya bangga banget buat saya," jawab Markisa.
"Orang gak akan tahu tentang diri kita, mungkin bagi orang lain ini hanya tittle yang ada didepan nama saya, namun bagi saya ini adalah sebuah anugerah dimana saya bisa membantu para wanita yang sudah melahirkan peradaban, para istri yang sedang berjuang dalam kehamilannya dan banyak lagi," lanjut Markisa yang membuat Suster Rinso mengangguk.
"Lagipula yah, ibu hamil itu hebat, seorang istri aja hebat, bayangin yah kalau ada suami yang bilang capek kerja dan istri cuma santai, itu sama sekali gak benar, orang yang paling sibuk dalam hubungan rumah tangga adalah istri, apalagi kalau udah punya anak, seorang istri bertittle ibu itu hebat, ayah atau suami cuma kerja dari pagi sampai malam, tapi kalau seorang ibu atau istri, dia dari buka mata sampai nutup mata, sibuk nya luar biasa, makanya jangan sepelehin tittle seorang istri," Markisa tersenyum manis dihadapan Suster Rinso yang membuat Suster Rinso semakin mengagumi Markisa.
Selanjutnya Markisa menengok jam tangannya dan sudah menunjukkan jam delapan, Markisa dan Suster Rinso kemudian kembali sibuk dan mengurusi para ibu hamil yang akan konsultasi.
•
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan jam dua belas siang yang berarti jam makan siang, Markisa merapikan tasnya dan bergegas pergi ke kantor Zac, sebelumnya dia sudah pamit kepada Suster Rinso.
Markisa berjalan melewati koridor rumah sakit, menuju lapangan parkir dimana sudah ada taksi online yang dia pesan, Markisa naik ke atas taksi tersebut, taksi itu kemudian segera berjalan menuju kantor Zac.
Tak butuh waktu lama bagi Markisa sendiri sampai kesana, karena jarak antara rumah sakit dan kantor Zac yang terbilang dekat, setelah membayar taksi, Markisa kemudian berjalan masuk kedalam kantor Zac dan menuju ke ruangan Zac.
Namun baru Markisa hendak masuk ia sudah mendengar suara mertuanya dan Zac yang sedang berdebat.
"Maksud Mama, apa sih? Markisa mana mungkin ngelawan Mama kalau Mama ga mulai duluan, aku tahu watak Markisa, dia itu tegas tapi dia sopan," ujar Zac pada Nyonya Bay.
Nyonya Bay terduduk disofa dengan memijit keningnya pusing. "Kamu benar-benar sudah di cuci otaknya sama Markisa, padahal Dove adalah jodoh yang tepat untuk kamu,"
"Setelah Mama tahu bahwa Dove ternyata berselingkuh dengan Kekasih Markisa sehari sebelum pernikahan kami? Itu yang Mama anggap terbaik? Mama salah besar,"
"Kamu udah ngelawan Mama yah Zac! Dosa kamu ngebantah permintaan orang tua! Ceraikan saja Markisa," final Nyonya Bay pada Zac.
Markisa membuka pintu dengan ekspresi datar dan membuat Zac serta Mertuanya menatap ke arahnya, seolah tanpa beban Markisa berjalan masuk kedalam ruangan itu.
"Seorang anak tidak akan berdosa jika membantah keinginan orang tuanya yang salah, apakah nyonya masih pantas disebut orang tua?" ujar Markisa melipat kedua tangannya dengan wajah tanpa dosa.
"Lihat Zac, Markisa sudah melawan Mama! Kamu harus menceraikan dia," ujar Nyonya Bay menodong Markisa.
Zac menghembuskan napas panjang dan mencoba menjelaskan hal ini kepada Mamanya. "Ma, apa yang dibilang Markisa itu benar, Permintaan Mama salah, mana ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya, Mama masih bisa disebut orang tua kalau gini?"
"Kau benar-benar sudah dicuci otak Zac!" teriak Nyonya Bay.
Nyonya Bay membulatkan mata sempurna dan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, dia berjalan ke arah Markisa dan hendak menamparnya.
"Mertua juga punya adab ke Menantu, jangan menyentuhku, Nyonya," Markisa menahan tangan Nyonya Bay.
"Aku tidak pernah mencuci otak Tuan Zac, aku tidak pernah memintanya untuk tidak menuruti segala keinginanmu, jika Tuan menolak berarti itu dari dalam hatinya, bukan karena paksaan, seorang Anak bisa melawan jika yang dia lawan itu salah, bagainana bisa seorang Anak terjerumus karena Orang Tua," lanjut Markisa menggandeng tangan Zac. "Mama harus memikirkan hal ini dengan baik, Mama sudah tua dan jauh berpengalaman."
Markisa kemudian menggandeng tangan Zac meninggalkan Nyonya Bay diruangan itu, karena Markisa dan Zac akan makan siang, sementara itu Nyonya Bay hanya terdiam menatap kepergian Markisa dan Zac.
•
TBC
__ADS_1