
Milo merogoh saku kemejanya dan mengambil kunci mobil dari dalam sana kemudian hendak menyerahkannya kepada Zac, namun baru Zac akan mengambilnya Milo sudah melempar kunci tersebut keluar jendela yang membuat Zac membulatkan matanya sempurna.
"Kau tidak perlu itu untuk mengejar Markisa, dia ada dibandara, lagipula ini Odense, kau bisa menggunakan itu untuk menyusul Markisamu itu," ujar Milo membawa Zac ke jendela yang ada diruangan tersebut dan menunjuk sebuah helikopter yang terparkir di halaman rumah sakit.
"T-Tapi?" Zac menatap Milo ragu.
"Maafkan aku karena ingin membalaskan dendam ku padamu, sekarang kau berhak mengejarnya, ajari dia cinta, karena aku yakin kau sudah berubah," jawab Milo membaca pikiran Zac.
"Bukan itu,"
"Terus? Kau masih kurang enak badan untuk mengendarai helikopter itu? Jika kau menggunakan mobil kau akan terlambat, pesawatnya berangkat lima menit lagi, Markisa sengaja memesan ticket pay ekslusif hari ini juga, atau kau takut mengendarai Helikopter itu? Oh ayolah, Zac Ryzam, seorang Diktator dan Richman terkenal di Negara Denmark ini, takut pada Helikopter?"
"Aku akan mengejarnya sekarang!" Zac berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Milo yang memberinya semangat dari sana.
Milo kemudian menghembuskan napasnya pelan, ia berjalan ke jendela, menatap Zac yang sudah bersedia menaiki helikopter tersebut, bayangan Milo teringat akan segala dendamnya pada Zac.
Entah kenapa semua dendam itu lenyap, ia baru mengerti kalimat Markisa, dan dia akan jujur pada Markisa nanti apapun hasilnya,
"Maafkan aku Sya, aku tidak bisa membalaskan rasa sakitmu, faktanya Zac sekarang adalah adik iparku, semoga kau bisa tenang disana," lirih Milo seolah berbicara dengan Tapasya kekasihnya dulu..
__ADS_1
Milo kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, berjalan melewati koridor rumah sakit sebelum sekelompok tim medis membawa sesosok tubuh wanita yang sangat Milo kenali.
"Dairy?" lirih Milo memastikan bahwa yang dia lihat adalah Dairy.
Belum habis rasa penasaran Milo, Soklin dan Vanish tampak berlari menuju dirinya dengan rsut wajah kelelahan.
"Kalian kenapa?" tanya Milo pada Vanish dan Soklin.
"Cukup melelahkan mengeluarkan keahlian panjat tebing untuk mengambil tubuh Dairy, dia belum meninggal rupanya, dia hanya kritis," jawab Vanish setelah selesai mengatur napasnya.
"Aku kasian padanya, dia tidak berhasil mencelakai Markisa dan Zac, tapi nampaknya dia akan menerima cacat dalam tubuhnya," timpal Soklin disambut anggukan dari Vanish.
Sedangkan Vanish dan Soklin hanya berdiam disana menunggu kabar terbaru dari Dairy karena mereka menjadi saksi insiden bunuh diri Dairy sendiri.
•
Markisa berjalan dengan menyeret kopernya dibandara, tujuannya adalah ke luar kota, dia tidak pamit pada siapapun, awalnya dia hanya ingin ke kota sebelah, namun dia memilih mendiamkan diri di Melbourne, Australia, melupakan sejenak kota kelahirannya Odense, Denmark.
Ayah, Ibu, Milo, Zac dan kerabat serta sahabatnya tidak ada yang mengetahui kepergian tiba-tibanya, dia sudah bertekad menata hatinya, atas pengorbanan Zac padanya dia tidak mau selalu bertemu dengan Zac lagi, ia tidak ingin Zac jatuh cinta terlalu dalam dan saat dia harus menepati janjinya pada Milo, dia membuat Zac sakit hati karena ditinggalkan.
__ADS_1
Pernikahan lima hari yang ia jalani memang begitu singkat, membalaskan dendam, mengungkap kejahatan, dan pernyataan cinta, tidak ada yang pernah menyangka semua skenario ini.
Tiga menit lagi pesawat Markisa akan berangkat meninggalkan Odense menuju Melbourne, setidaknya beberapa bulan sampai dia akan mendengar kabar Zac mendapatkan pengganti.
Markisa duduk dikursi tunggu menanti dua menit yang seolah dua jam lamanya, sampai suara bising dari baling-baling helikopter membuat Markisa menatap keatas, Markisa membulatkan mata sempurna saat melihat Zac yang datang mengendarai helikopter tersebut.
Belum sempat Helikopter itu menyentuh tanah, Zac sudah mengambil ancang-ancang melompat dari sana dan mendarat mulus ditanah.
Markisa menautkan kedua alisnya saat Zac berjalan kearahnya dan jarak mereka berdua hanya beberapa senti, Markisa segera membalikkan badannya dan Zac dengan sigap menarik kepala Markisa dan mencium istrinya itu.
Kini mereka berdua menjadi tontonan dari para penumpang pesawat yang ada disana, Zac menekan kepala Markisa sehingga ciuman mereka semakin dalam, Markisa membulatkan mata sempurna dan mendorong Zac melepaskan ciumannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu! Istriku!" bisik Zac menarik tangan Markisa dan menguncinya dibelakang tubuh Markisa sendiri kemudian menarik tubuh Markisa sehingga kedua dada mereka saling bersentuhan.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Markisa yang mendapatkan ciuman sebagai pengbungkam dari kalimat bernada pertanyaan itu.
•
TBC
__ADS_1