
"Aku tidak menyerah Milo!" teriak Tapasya yang membuat Milo membalikkan badannya dan menatap Tapasya tajam.
"Lantas apa? Berpangku tangan? Pasrah? Mengikuti nasib takdir? Apalagi yang coba kau katakan?" jawab Milo dengan suara bergetar. "Ini bukan pertama kalinya kau mengkhianatiku, bukan pertama kalinya kau membuatku jatuh. Bukan pertama kalinya kau menghancurkan memtalku,"
"B-Bukan begitu," ujar Tapasya berjalan ke arah Milo.
Milo menggeleng dia meraih tangan Tapasya kemudian mengarahkan Tapasya untuk menampar wajahnya. "Bunuh saja aku! Bunuh! Itu maumu kan? Kenapa kau tidak bunuh saja aku!"
Milo terjatuh lemas dilantai dalam.keadaan menangis, dia bersimpuh dihadapan Tapasya yang menatap ke arah Milo, Tapasya hendak meraih bahu Milo namun berusaha menepisnya.
"Aku pikir sabar, bisa membuatku lebih kuat. Namun kesabaranku ternyata diuji dari batas kemampuan ku, siapa aku?" tanya Milo dengan wajah tertunduk dan suara bergetar.
"Aku hanya seorang pria yang memiliki prinsip bahwa wanita yang kita cintai harus diperjuangkan, tapi jika kau yang ku perjuangkan masih sibuk berpangku tangan, apakah masih pantas aku berharap?" tanya Milo kembali berdiri dan menekan sedikit kepalanya yang ngilu. "Tuhan mungkin menatap iba kepadaku sekarang, karena satu hambanya kini SUDAH MENYERAH."
"Aku tidak bisa berjuang sendiri, andaikan dari awal kau jujur mungkin aku bisa menerima semuanya dan berjuang mendapatkan restu orang tuamu," lanjut Milo.
"Orang tuaku sangat keras! Dia tidak mungkin merestui kita, makanya aku melakukan ini," jelas Tapasys menatap Milo dan air mata di pipinya.
Milo tersenyum kecut kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. "Bagus! Belum menikah saja kau sudah meragukan kemampuan suamimu? Aku rasa benar, kita tidak berjodoh."
Deg!
Tapasya terkejut atas keputusan Milo, apakah kini kapal cinta yang mereka yang telah berlayar harus karang disaat Tapasya sendiri yang lempar jangkar, kedua pasang mata itu kemudian saling bertatapan, berat untuk saling mengikhlaskan namun keadaan dan takdir tidak merestui mereka bersama, mereka hanya manusia biasa dan menyerah itu hal yang wajar.
__ADS_1
Milo mengeluarkan cincin pertunangan mereka, kemudian menjejalkannya ditangan Tapasya sebagai tanda bahwa kini mereka sudah tidak terikat hubungan apapun.
"Terima kasih untuk selama ini, anggap saja aku menjaga jodoh untuk pria lain dan aku senang bisa menjaganya, ada hati lain kedepannya yang harus aku jaga, dan itu bukan dirimu lagi," ujar Milo yang membuat pertahanan tangis Tapasya tumbang seketika.
"Kau menyerah?" tanya Tapasya yang membuat Milo membalikkan badannya.
"Dan kau yang membuatku menyerah, sekarang kita akhirnya sama-sama berpangku tangan, karena berjuang tanpa diperjuangkan itu sama saja mendayung melawan arus, dan tampaknya aku sudah tenggelam karena melawan arus itu." jawab Milo
"Seharusnya tidak begini,"
"Memang, tapi kau yang meminta, saya ada urusan sejenak Nona Tapasya, kalau ada urusan lagi, silakan menemui asisten saya," jawab Milo formal.
Milo berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan Tapasya yang sedang menangis disana, kini Milo sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi, dia sudah memilih menutup lembaran lama dan membuat lembaran baru, terkadang mencintai itu bukan hanya berbicara tentang kau memiliki, tapi bagaimana kau melepasnya dengan sebuah kebahagiaan yang harus kau dapatkan.
Kenapa harus bertahan di saat tumpuan tempat kau bernaung sudah runtuh, memang masih bisa digunakan, namun ibarat kaca yang retak, tetap saja akan meninggalkan bekas, daripada mengulang rasa pahit dilubang yang sama, Milo memilih untuk mencoba jalan yang lain dan menerawang apakah ada lubang didepannya.
Brak!
Milo terjungkal kebelakang, saat tubuhnya menabrak seorang wanita yang membuat map yang tengah dipegang wanita tersebut jatuh berantakan.
"Aran?" lirih Milo saat melihat gadis berusia delapan belas tahun yang ditabraknya.
"Om Milo?" jawab Aran bangkit dan menyalami Milo yang sebenarnya hanya terpaut tujuh tahun darinya.
__ADS_1
"Kamu Aran kan? Anaknya Kak Nanas dan Kak Thony? Kamu ngapain disini?" tanya Milo yang membuat Aran tersenyum lebar.
"Biasa Om, nyari sugar daddy hehehe, aku lagi ada praktek kerja di sini, soalnya gitu siswa Melbourne dipindahkan ke denmark untuk praktek ini, dan kebetulan aku dapat kantor ini," jawab Aran tersenyum manis kepada Milo.
"Kamu ketemu sama Om dong? Kamu sama siapa kesini?" tanya Milo yang membuat Aran berakting menghitung jari.
"Banyak Om,"
"Berapa?"
"Sendirian," jawab Aran cengengesan.
Milo tersenyum, sikap Aran masih cengengesan dan kekanak-kanakan sama seperti saat pertama mereka bertemu sewaktu Anthony menjadi partner kerja Tuan Mourt.
"Om?"
"Kenapa?"
"Laper," jawab Aran yang membuat Milo segera merangkul bahu Aran dan membawanya mencari makanan diluar.
•
•
__ADS_1
•
TBC