
Setelah mengunjungi Milo, Markisa melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit itu menuju ruangannya sendiri, suara langkah kaki yang berderap mengisi keheningan diantara suara roda-roda alat yang dibawa suster silih berganti dari ruangan satu ke ruangan lainnya.
Markisa melirik jam ditangannya yang masih menunjukkan jam sembilan pagi, masih ada satu jam sebelum memulai praktek-nya, Markisa menarik napas dalam, ia mengelus perutnya dan membayangkan, bagaimana bisa Ibu Hamil memeriksa Ibu Hamil lainnya.
"Sedang ada scedhule apa hari ini?" tanya Markisa dalam hatinya merogoh tas-nya mencari ponsel didalam sana.
Ia mengambil ponsel tersebut, mengusap layarnya yang gelap kemudian beralih menunjukkan gambar sepasang suami istri bahagia, siapa lagi kalau bukan Markisa dan Zac yang menjadi wallpaper ponsel Markisa.
Tap! Tap!
Suara langkah kaki Markisa diantara desiran angin hening di lantai koridor rumah sakit tersebut semakin terdengar jelas, walaupun sudah sangat pagi, jam kerja rumah sakit ini dimulai pukul sepuluh sehingga wajah jam segini, beberapa pertugas medis belum lalu lalang disana.
Markisa mengecek aplikasi chatting miliknya yang berwarna hijau dan berlogo telpon genggam, ia menatap deretan nama kontak di barisan daftar chat-nya yang terpampang jelas dimonitor ponselnya.
Dan yang paling atas adalah Zac, kontak disematkan yang baru saja mengirimkan dua rafus lima puluh pesan berupa emot love padahal mereka baru saja berpisah beberapa menit yang lalu.
"Beginikah bucinnya Pria Diktator yang jatuh cinta?" kelakar Markisa dalam hati.
Dia tidak pernah menyangka bahwa Zac akan sebucin ini padanya, namun Markisa hanya bisa tertawa geli sebelum kembali menutup ponselnya yang membuat layar ponsel tersebut berubah hitam seketika.
Markisa melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerjanya, dengan langkah tegak, dia mengelus perutnya yang sudah berusia tiga bulan, entah bagaimana Markisa sendiri bingung, bagaimana dengan penyakitnya, dan hanya Authornya yang tahu bagaimana kelanjutannya.
"Dasar bocah, dia baru berusia sembilan belas tahun dan dia sudah menuliskan kisah seperti ini," kekeh Markisa kembali berjalan santai menuju ruangannya.
"Markisa!"
Markisa yang mendengar suara yang memanggil namanya membalikkan badannya dan memicingkan netra seiring dengan bersatunya fokus Markisa bahwa itu adalah Dove kakaknya.
"Kak Dove?" jawab Markisa berdiri ditempatnya saat Dove berjalan menghampirinya.
Dove berjalan dengan sepatu hells miliknya dan tas jinjing, jangan tanya kenapa dia bisa ada disini, dia menemani Tango walaupun Tango masih sangat membencinya, kalau dia menyerah hanya karena sikap dingin, itu tentu bukan Dove.
Markisa masih berdiri menunggu kakaknya menghampirinya sampai akhirnya Dove berdiri dihadapannya yang membuat Markisa mengangkat alisnya berusaha menanyakan maksud dari kakaknya.
__ADS_1
"Kau sudah mulai memeriksa? Aku ingin diperiksa," tanya Dove pada Markisa.
"Periksa?" tanya Markisa menautkan kedua alisnya. "Kandungan?"
"Iya, aku ingin memeriksa kandungan, apa aku hamil atau tidak, beberapa hari ini aku merasakan tanda-tandanya, aku ragu memakai testpack," jawab Dove yang membuat rahang Markisa memaju dengan anggukan kepala.
"Sebenarnya aku mulai sejam lagi, tapi kalau kakak mau, ayo ke ruanganku," ajak Markisa yang membuat Dove mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan kerja Markisa, di koridor tersebut sudah mulai ramai karena beberapa petugas medis sudah stay ditempat masing-masing.
"Tango tahu tentang gejala yang kakak alami?" tanya Markisa pada Dove.
Dove menggelengkan kepalanya. "Bahkan aku masih hidup saja mungkin dia tidak peduli, jangan tanyakan tentang dia, pernikahan kami sudah berjalan tiga bulan tapi malam pertamapun tidak pernah dia berikan, semenjijikkan itukah aku?"
Markisa menatap iba kakaknya itu dan mengusap punggung kakaknya. "Jangan menyerah, setahuku Kakakku ini adalah orang yang tidak gampang menyerah, terkadang seorang suami hanya belum paham seberapa berharga istrinya,"
"Tapi bagaimana kakak bisa hamil, kalau malam pertama saja tidak pernah?" lanjut Markisa penuh pertanyaan.
Markisa tidak ingin bertanya lebih lanjut karena mereka sudah tiba diruangan Markisa. Markisa masuk kedalam ruangannya disusul oleh Dove.
Sepertinya Suster Rinso belum datang karena ruangan Markisa masih kosong melompong, Markisa berjalan ke sebuah gantungan jas, dia memakai jas putihnya.
"Kak Dove, bisa naik keatas ranjang yah," pinta Markisa.
Dove mengangguk kemudian naik keatas ranjang rumah sakit tersebut .... cittt .... Suara decit dari ranjang yang dinaiki Dove terdengar diruangan tersebut, Markisa sendiri tengah sibuk mempersiapkan alat-alat untuk periksa
"Sebenarnya ini sama saja dengan testpack, tapi aku hanya memberikan keterangan lebih lanjut saja," jawab Markisa memakai sarung tangannya dan jalan ke arah Dove.
Markisa menyingkap baju Dove dan meraba perut kakaknya itu, memeriksa tekanan dan rti kemudian mulai memeriksa darah.
"Kakak ada gejala apa?" tanya Markisa menyiapkan sebuah testpack yang akan dipakai Dove.
Dove menjelaskan kalau dirinya merasakan mual dan muntah beberapa hari ini, dari diagnosis ini Markisa menyimpulkan bisa saja Dove hamil, Markisa kemudian menyuruh Dove mengetest urine.
__ADS_1
Dove berjalan ke kamar mandi untuk mengambil sample urine miliknya, sembari menunggu Dove, Markisa hanya berdiri memikirkan bagaimana kalau Dove benar-benar hamil.
Disaat itu juga, Tango yang kebetulan lewat diruangan itu tidak sengaja melihat Markisa dan Dove melalui kaca jendela yang transparan, membuat Tango berhenti sejenak memperhatikan kedua wanita tersebut.
Tidak lama kemudian Dove keluar dari kamar mandi membawa sample urine-nya, Markisa mengambil sample tersebut dan mulai mengetestnya, Dove menunggu dengan gugup akan apa hasilnya.
Sampai Markisa selesai dan kembali menemui Dove.
"Bagaimana?" tanya Dove penasaran.
"Dari semua dugaanku ini benar, dari hasil pemeriksaan urine dan semua test, Kakak hamil dan usia kandungan kakak sudah dua minggu," jelas Markisa yang membuat Dove membulatkan mata sempurna.
Dove terduduk lemas diranjang rumah sakit, ia mengelus perutnya karena kini dia sudah mengandung anak dari Tango.
"Itu pasti bukan anakku!" teriak Tango masuk kedalam ruangan tersebut yang membuat Markisa dan Dove menatapnya terkejut.
"Dia adalah wanita Sialan, Aku tidak pernah menyentuhnya!" lanjut Tango menodong Dove dengan kesal.
"Apa maksud ucapanmu! Aku terakhir melakukan itu denganmu jadi ini anakmu!" teriak Dove berdiri yang membuat Markisa segera menenangkan kakaknya itu.
Tango menatap sinis Dove, dengan wajah penuh marah dia mendatangi Dove dan menarik bahunya. "Dengarkan aku sialan, anak haram dari pria mana yang sedang kau kandung!"
Plak!
Dove memberikan tamparan kepada Tango yang membuat Tango menatap tajam ke arah Dove yang sedang dibalut amarah.
"Dokter Tan, Terhormat! Kalau kau tidak ingin mengakui anak ini, setidaknya jangan menyebut anakku! Anak haram!" geram Dove menarik kerah kemeja Tango.
Tango melepaskan tangan Dove dan menatap tajam Dove saat itu juga.
•
TBC
__ADS_1