Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 64 | Keputusan Terburuk


__ADS_3

Seminggu Kemudian-


"Aku tidak setuju!" teriak Markisa yang membuat Zac menarik Markisa kepelukannya.


Ruang tamu itu sudah berkumpul, Dove, Markisa, Zac, Tuan Mourt dan Nyonya Cimory, sedangkan Dairy dan Tango memilih tidak hadir dalam acara kumpul yang ingin mencari solusi malah berujung selisih pendapat.


"Aku juga tidak setuju!" teriak Dove berdiri dan melipat tangannya.


Tuan Mourt dan Nyonya Cimory menatap kedua putri mereka yang sama sekali berbeda pendapat dengan mereka tentang keputusan yang akan mereka ambil.


"Kalian tidak kasihan kepada Milo!?" tanya Tuan Mourt ikut berdiri yang membuat Nyonya Cimory berdiri untuk menenangkan suaminya.


Brak!


Markisa memukul meja diruang tamu tersebut dan ikut berdiri dengan kekesalan yang sangat mendalam terhadap kedua orang tuanya itu, sebuah keputusan yang sangat tidak masuk akal yang tidak pernah Markisa sangka-sangka akan tercetus dari bibir mereka.


"Apa Ayah tega kehilangan Kak Milo? Cobalah bertahan sedikit lagi! Kak Milo pasti sembuh! Dia pria yang kuat," ujar Markisa menjelaskan.


"Aku setuju, jika Ayah dan Ibu melepas alat bantu bertahan dari Kak Milo, aku Dove Mourt tidak akan mau lagi disebut anak oleh kalian!" kesal Dove mendukung pendapat Markisa.


"Kenapa kalian begitu keras kepala!" teriak Tuan Mourt.


Suasana diruang tamu kediaman Mourt benar-benar panas dan penuh selisih pendapat antara keputusan Tuan Mourt dan kedua putrinya.


Tadi pagi Tuan Mourt mendapatkan kabar bahwa tidak ada perkembangan apapun dari Milo yang membuat ia dihadapkan dua pilihan antara bertahan atau melepas alat bantu Milo, karena ini sama saja dengan menyiksa Milo jika terus begini.


Dan akhirnya atas selisih pendapat antar batin dan kesepakatan dengan istrinya, Tuan Mourt menguatkan tekad mengikhlaskan kepergian putra satu-satunya itu.


Suara detak jam dinding diruangan itu menjadi backsound suasana yang menegang antara anak dan ayah itu, Zac berusaha menenangkan isgrinya mengingatkan bahwa kini dirinya tengah mengandung, sementara Nyonya Cimory bahwa dia harus lebih tenang dari kedua putrinya.

__ADS_1


"Kenapa sih Ayah menyerah secepat itu? Kak Milo itu kakak aku, disaat aku terpuruk dimana kalian? Hanya ada kak Milo, dan sekarang disaat dia berada dalam situasi mengharap mujizat kalian secepat itu menyerah? Wah ini gila sih! Aku gak pernah nyangka kalau Ayah bakal ngucapin hal segila ini," protes Markisa menatap nanar Ayahnya.


"Selama ini aku selalu menjadi anak penurut dan tidak pernah membangkang, tapi jika Ayah melakukan hal itu, untuk pertama kalinya putrimu ini akan berkata tidak padamu," lanjut Markisa yang membuat Tuan Mourt.


"Aku tidak dekat dengan Kak Milo, tapi aku tahu seberapa baik dan berjasanya dia bagi keluarga kita dan kehidupan Markisa, dan dengan mudahnya kita ingin menyerah? Waktu bukanlah tolak ukur dari menunggu, tapi kalau keputusannya seperti ini, sama saja dengan bunuh diri," timpal Dove yang membuat Tuan Mourt semakin tersentak.


Kedua putrinya benar-benar tidak setuju dengan keinginannya, Tuan Mourt terdiam, setetes air mata keluar dari matanya, Markisa dan Dove saling menatap, pertama kali nya dalam hidup mereka melihat ayah mereka menangis, karena sebuah hal yang tidak mereka ketahui secara tiba-tiba.


"Kalian pikir? Ayah tega melakukan ini? Kalian salah! Ayah yang membesarkan Milo, dia adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga ini dan kehilangannya itu tidak mudah bagi Ayah, tidak hanya kalian yang terluka tapi Ayah juga! Aku Ayahnya! Kalian pikir aku tidak terpukul dengan keputusan ini?" jelas Tuan Mourt menangis.


"Terkadang kita harus melepaskan jika kita benar-benar menyayanginya!" lanjut Tuan Mourt.


Markisa perlahan menangis, dia mendatangi ayahnya dan berdiri tepat dihadapan Ayahnya, dia menatap nanar wajah Tuan Mourt, sosok pria yang membuatnya terlahir didunia ini.


Sakit! Sangat sakit! Sebuah kalimat berujung keputusan yang membuat Markisa benar-benar tidak setuju. "Jika kita menyayanginya, bukan melepasnya keputusannya, tapi bertahan dan berjuang untuknya sampai dia kembali lagi."


Markisa mengusap air mata nya dan berjalan keluar dari kediaman Tuan Mourt, Zac yang melihat itu lantas ingin mengejar Markisa.


"Ayah! Ibu, Maafkan Markisa dia hanya tertekan dengan keadaan dan keputusan ini," ujar Zac berjalan keluar menyusul Markisa yang tidak berhenti menangis.


Tiga bulan dia menanti dan bertahan demi melihat seulas senyum untai yang menggambang dari ujung bibir kakaknya, namun malam ini semua pertahanan dan penantian nya dibuat hancur lebur karena sebuah keputusan yang dia sendiri tidak setuju.


"Apapun yang terjadi, Milo harus dilepas alat bantu nya besok!" ujar Tuan Mourt yang membuat Dove yang tersisa disana tersenyum miris.


"Oke! Kalau begitu lupakan kalau aku anakmu, Tuan Mourt!" ujar Dove yang membuat Tuan Mourt dan Nyonya Cimory terdiam.


Ini bukanlah keputusan yang salah namun hanya keadaan yang menentukan bagaimana mereka bisa menempatkan diri dalam hal ini.


Dove berjalan keluar dari rumah tersebut membuat langkah kakinya yang menghentak lantai terdengar dikeheningan malam itu, Tuan Mourt dan Nyonya Cimory duduk disofa memikirkan bagaimana kedepannya yang akan terjadi.

__ADS_1



Diruangan rumah sakit tempat Milo dirawat, suasana sepi tanpa suara, ruangan yang bernuansa putih tersebut hanya dihuni oleh Milo yang koma dengan alat bantu bertahan hidup.


Seorang Jenius sepertinya terbaring tak berdaya akibat kejadian tiga bulan lalu, suara decitan pintu yang terbuka membuat seorang wanita masuk kedalam sana dengan langkah gontai.


Krtt!


Dia mengambil kursi dan duduk tepat disamping ranjang Milo, wajahnya yang sendu dengan masker hitam serta rambut tergerai panjang, tengah menatap sedih tubuh pria dihadapannya yang terbaring tak bersuara.


"Hai sayang? Aku datang lagi, bagaimana kau merindukanku? Kau kapan bangun? Aku merindukanmu, bertahun kita tidak bertemu, dan setelah aku ingin bertemu kau dalam keadaan seperti ini, seandainya kamu bisa nendengarkaku, percayalah ada aku yang menanti mu," ujar wanita tersebut mengambil tangan Milo dan menaruhnya di pipi nya.


Air mata mengalir dari sudut matanya yang membuat air tersebut menembus tangan Milo uang sedang ia tempelkan di pipi nya.


"Kau sedang apasih? Kau pernah membuatku jatuh cinta dan kau ingin membuatku berakhir kecewa? Bangun sayang, aku merindukanmu,"


Suasana hening menjadi backsound menyayat hati dalam momen ini, betapa sakitnya ketika kau melihat orang yang kau cintai tidak dapay membalas segala ucapanmu.


"Aku tahu kau bisa mendengarkan ku, percayalah aku, mencintaimu, dan itu masih sama," ujar wanita tersebut mencium pipi Milo.


Kritt!


Suara pintu terbuka membuat wanita tersebut terkejut dan bingung harus melakukan apa.


"Siapa kau!?" tanya Markisa yang hendak masuk menemui Milo.



TBC

__ADS_1


__ADS_2