Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 94 | Dua Bedebah


__ADS_3

Hari ini Aran bekerja sampai lembur demi menyelesaikan laporan tugas yang diberikan Milo, padanya.


Sebenarnya Aran bisa saja pulang sedari tadi, namun permainan baru saja dimulai, Aran merenggangkan badannya sebelum suara telepon dari meja didepannya berbunyi.


Aran segera mengangkat telepon tersebut kemudian bangkit dan berdiri meninggalkan laptop berisi hasil kerja kerasnya yang belum dia save.


"Apakah dia sudah pergi?" tanya Tapasya pada Vixal.


Tapasya dan Vixal masih berada dikantor tersebut mereka tersembunyi diruangan lain dan memantau Aran menggunakan kamera tersembunyi yang mereka pakai.


Vixal mengangguk atas pertanyaan Tapasya, dengan senyum liciknya, mereka berdua segera keluar dari ruangan persembunyian mereka dan berjalan menuju ruangan divisi.


Target mereka adalah meja kerja Aran. Sebagai debutnya Aran mengerjakan sebuah laporan yang harus dipresentasikan Milo besok pagi, jika laporan ini tidak selesai tentunya ini adalah sebuah tanda tanya besar.


"Bagaimana? Kau bisa menghapus apa yang sudah dikerjakan Aran?" tanya Tapasya yang membuat Vixal mengangguk.


Dia sangat bersemangat mengikuti rencana Tapasya karena pada dasarnya dia kesal kepada Aran, dan dengan melakukan hal ini akan membuat Aran dalam masalah besar.


"Sepertinya dia mengunci laptopnya dengan kunci Biometrik," jawab Vixal yang tidak berhasil mengakses laptop Aran.


Mereka berdua tidak putus asa, Vixal kemudian segera memikirkan bagaimana cara mencari alternatif lain guna menghilangkan folder yang dikerjakan Aran.


"Aku tahu, kita cabut saja flashdisk nya," ujar Vixal mencabut flashdisk tersebut dan mencabut kabel usb laptop Aran.

__ADS_1


Akibat hal tersebut membuat laptop Aran seketika mati, Tapasya dan Vixal menghela napas puas karena berhasil menghancurkan pekerjaan Aran.


"Lebih baik sekarang kita kabur, kau sudah mematikan cctv area ruangan ini kan?" tanya Tapasya yang membuat Vixal mengangguk.


"Sudah, ayo pergi," jawab Vixal berdiri.


Disaat Tapasya dan Vixal hendak pergi karena merasa bahwa rencana mereka telah berhasil, tiba-tiba suara tepukan tangan dari arah pintu ruangan membuat mereka tersentak dan saling melempar pandangan.


"Rencana yang bagus. Tapi kalian lupa, aku satu langkah dihadapan kalian," ujar Aran masuk ke ruangan tersebut dengan tangan dilipat.


Aran menatap remeh Tapasya dan Vixal yang membuat keduanya gugup, ditengah rasa gugup tersebut, Tapasya sedang berusaha tenang.


"Apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak mempunyai bukti," jawab Tapasya menantang Aran.


Suara langkah kaki berat masuk kedalam ruangan tersebut, Milo dengan tatapan tajamnya kini berdiri dihadapan Tapasya dan Vixal sedangkan Aran hanya tersenyum licik melipat tangannya.


"Kalian tikus kecil, mau melawan seorang singa betina, aduh? Apakah kalian tidak hadir disaat pembagian akal sehat?" ujar Aran menaik turunkan alisnya.


Kini Tapasya dan Vixal hanya bisa diam tak berkutip mendapati fakta bahwa Aran memang selangkah lebih depan dari mereka, Aran berjalan ke arah Tapasya dan Vixal kemudian mencolek pipi mereka satu persatu.


"Kalian cantik, tapi bodoh!" bisik Aran menohok sebelum ia kembali kepada Milo.


Milo menghela napas panjang, dia bingung harus apalagi, tindakan Tapasya dan Vixal benar-benar kelewatan.

__ADS_1


"Vixal! Kamu saya pecat, keluar," ujar Milo dengan nada rendah menusuk.


"Tapi, Tuan,"


"KELUAR!" teriak Milo mengelegar yang membuat Vixal tersentak dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk.


Kini hanya ada Tapasya diruangan itu, Milo berjalan ke arah Tapasya dan menatapnya dalam.


"Tapasya yang ku kenal adalah orang baik, kau sudah salah langkah, lebih baik kau pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku dan menginjakkan kaki dikantor ini lagi," ujar Milo pelan.


Tapasya mengangkat kepalanya kemudian berjalan menuju pintu sebelum Aran memanggilnya dan membuat Tapasya melihat sesuatu yang membuatnya sakit hati.


"Tante? Tante harus liat ini," ujar Aran mencium pipi Milo yang membuat hati Tapasya panas seketika. "Hati-hati nyungsep!"


Aran hanya tersenyum puas karena berhasil menghempaskan dua bedebah sampah didalam kantor ini, Aran tidak mau melakukan ini, namun mereka yang macam-macam kenapa tidak sekalian saja.





TBC

__ADS_1


__ADS_2