
Aran yang mendengar semua rencana Tapasya dan Vixal untuknya hanya tersenyum sinis karena dia sudah mengetahui apa yang akan dia lakukan untuk mengatasi hal ini.
Aran kembali ke meja divisinya saat dia melihat Vixal juga kembali masuk ke ruangan itu, kali ini Vixal lebih banyak diam mungkin karena malu setelah ditindas oleh Aran tadi.
Dia pikir Aran gadis seperti apa yang bisa dia permainkan, Vixal kemudian duduk di kursi nya menatap Aran sinis saat Aran melebarkan senyum padanya.
"Aran? Ini ada dokumen pemasaran produk yang baru, Tuan Milo meminta kamu untuk menyusun ulang stratanya, semangat!" ujar Asisten Milo memberikan map kepada Aran.
"Terima kasih Kak," jawab Aran menerima map tersebut kemudian mulai mengerjakan apa yang diperintahkan Milo.
Untuk saat ini Aran tidak perlu bertindak lebih banyak, karena permainan belum dimulai, jangan sebut dia Aran Anthony Chow jika dia tidak memiliki kelicikan serupa dengan Nanas, bundanya.
Aran mulai fokus mengerjakan apa yang dia sedang kerjakan sementara Vixal sendiri juga sedang mengerjakan tugasnya.
Sekarang hanya menunggu pemainan baru tersebut dimulai.
•
•
•
Markisa terduduk di kursi taman, angin sore berhembus diwajahnya berharap angin tersebut membawa pergi resah hatinya.
Zac berjalan dari arah belakang membawa sebuah es krim vanila kesukaan Markisa, mereka tidak langsung pulang setelah dari rumah sakit melainkan memilih menetralkan pikiran mereka sejenak dengan angin sore yang menantang.
"Ini," ujar Zac memberikan es krim yang dia bawa kepada Markisa.
__ADS_1
Markisa menerima es krim tersebut kemudian tersenyum pada Zac, dia mulai membuka tutup es krim itu dan memakannya
"Sejuk yah," ujar Zac memulai percakapan.
Markisa mengangguk sambil terus menikmati es krimnya.
"Gimana Sayang? Udah merasa lebih baik?" tanya Zac pada Markisa.
Markisa menggeleng tanpa sepatah katapun, dia fokus ke es krimnya sehingga membuat Zac memilih mengusap kepalanya.
Zac memilih diam ikut menikmati angin sore sembari menanti senja datang, langit masih cerah dengan mentari yang siap tenggelam beberapa menit kedepan, bahkan beberapa kicauan burung menambah kesan romantis pada scene kedua insan tuhan yang tak lagi muda itu.
"Enak yah Sayang?" tanya Zac mengalihkan pandangannya ke Markisa.
"Mas mau?" tanya Markisa balik sembari menyodorkan es krimnya kepada Danu.
Zac menggelengkan kepalanya tetapi Markisazac.
Aaachiuw!
Markisa bersin persis dihadapan wajah Zac yang membuat Zac membuang mukanya seketika sehingga Markisa segera meminta maaf.
"M-Maaf," ujar Markisa gugup.
Zac hanya tersenyum. "Gapapa sayang."
"Maaf yah eskrim-nya jadi jatuh, apa mau aku beliin lagi?" lanjut Zac pada Markisa
__ADS_1
Markisa menggeleng dan langsung memeluk Zac dari samping. "Makasih yah Mas, Mas selalu ada buat aku, suami yang sangat baik, disaat aku berpikir aku bakal menyerah menerima kenyataan ini, Mas malah hadir dengan memberiku kesan positif sehingga aku yakin, kalau aku baik-baik saja,"
"Karena Mas yakin, Baby Z itu kuat, sama seperti Mamanya," jawab Zac.
Markisa melepas pelukannya dan menatap wajah Zac sekali lagi. "Tapi Mas udah punya kerutan."
"Aku masih tiga dua, dan aku masih muda sayang," ujar Zac yang membuat Markisa kembali memeluk suaminya itu.
"Punya tissue gak?" tanya Markisa pada Zac.
Zac yang tidak membawa tissue kelabakan yang membuat ia menemukan solusi untuk itu. "Pakai kemeja aku aja gapapa,"
"Tapi kemeja Mas putih," tolak Markisa.
"Gapapa," ujar Zac tersenyum manis kepada istrinya.
Markisa menghela napas kemudian mengelap bekas es krim yang belepotan pada wajahnya dan sisa flu yang tiba-tiba terjadi.
"Makasih," ujar Markisa mencium pipi Zac.
Zac hanya mengangguk dengan jari membentuk tanda "OK" dengan kemeja yang sudah belepotan es krim, sisanya mereka menghabiskan sore itu berdua, Markisa .menyandarkan kepalanya dibahu Zac, ibarat menunggu tuhan memberikan keajaiban atas masalah yang mereka hadapi.
•
•
•
__ADS_1
TBC
Author lagi sakit belakangan ini, InshaAllah besok Crazy up.