
Setelah pembicaraan serius mereka dan menghasilkan keputusan yang sama, akhirnya tuan Lincoln dan sang istri memutuskan untuk pulang ke rumah mereka sebentar dan akan membicarakan hal tersebut pada sang putra, karena mereka tau bahwa sang putra sudah tiba di Indonesia sejak beberapa jam yang lalu
Sebelum pulang nyonya Tamara menemui Billa terlebih dahulu agar gadis cantik tersebut tidak kebingungan mencarinya, walaupun nyonya Tamara tidak terlalu yakin kalau Billa akan mencarinya,melihat dari kenyataannya bahwa Billa adalah gadis yang sangat mandiri, tidak seperti gadis seusianya yang lain yang kebanyakan masih sangat manja dan bergantung pada orang lain
Sedangkan tuan Lincoln sedang berada dalam ruangan pribadi dokter yang menangani tuan Ahmad,beliau menanyakan tentang kebenaran keadaan tuan Ahmad dan juga tentang kesehatan supirnya yang masih terlihat sangat shock
" Bagaimana dok keadaan yang sebenarnya tentang tuan Ahmad?" tanya tuan Lincoln dengan wajah khawatir
" Keadaannya semakin memprihatinkan, harapan nya sangat tipis, hanya keajaiban yang bisa membuat beliau selamat, walaupun kita semua tau hanya Tuhanlah yang berhak atas nyawa seseorang dan saya hanya mengatakan sesuai dengan ilmu medis " jawab dokter Irfan bijak
" lalu bagaimana dengan supir saya?" tanya tuan Lincoln lagi
" Supir anda hanya shock , dokter sikologis sudah menanganinya, sekarang sudah lumayan lebih baik dan kemungkinan beberapa hari lagi sudah boleh dibawa pulang
Tuan Lincoln mengangguk paham,beliau kembali keruangan yang selalu beliau gunakan saat melakukan pemeriksaan berkas atau audit ,beliau melanjutkan memeriksa beberapa berkas tentang rumah sakit
Didepan ruang ICU nyonya Tamara sedang menunggu Billa,kata max gadis cantik itu tadi izin ke Mushalla untuk melaksanakan Shalat,benar saja tak berselang lama yang di tunggu akhirnya datang dengan sebuah senyuman tipis menghiasi wajah cantiknya
" Mami sudah lama disini? tadi Billa Shalat sebentar" ucap Billa merasa tak enak hati karena melihat nyonya Tamara seperti sedang menunggunya
" Belum sayang..kamu sudah selesai Shalat nya?.mami mau izin pulang sebentar,nanti malam mami kembali lagi " ucap nyonya Tamara sedikit berat
" Oh iya mi.. kalau mami capek mami istirahat aja di rumah,besok aja kesini nya, paman max juga ...Billa ga apa kok sendirian,lagian disini kan ada dokter dan para perawat yang stanbay 24 jam jadi mami ga perlu khawatir " ucap Billa lembut dengan menunjukkan senyum nya,untuk membuat orang lain tenang
" Kamu yakin ga pa pa kalau di tinggal sendiri di sini?" tanya nyonya Tamara meyakinkan
" Insyaallah mi..yakin pake bandet malah,mami tenang aja Ok.." jawab Billa meyakinkan
" Ok mami percaya..kamu mau mami bawakan apa ? atau mungkin kamu butuh sesuatu? katakan sama mami, jangan sungkan,mami ini orang tua kamu sekarang dan selamanya akan terus seperti itu " ucap nyonya Tamara
" Ia mi Billa tau.. terimakasih banyak sudah menjadikan Billa anak mami, Billa sangat bahagia sekarang sudah punya ibu..sama seperti orang-orang " ucap Billa lirih namun masih sangat jelas terdengar oleh nyonya Tamara
" Mulai hari ini dan seterusnya kamu adalah putri kami, apapun yang terjadi kedepannya nanti ingatlah bahwa wanita tua ini adalah mami kamu,jadi mami harap jangan pernah berfikir untuk meninggalkan mami " ucap nyonya Tamara penuh dengan teka-teki
" Ia mi.. insyaallah Billa akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk mami, apapun kesalahan Billa esok tolong mami jangan sungkan untuk mengatakannya atau memarahi Billa" ucap Billa lembut seraya memeluk tubuh nyonya Tamara, merasakan hangatnya dekapan seorang ibu,membuat jiwanya terasa lebih tenang
" Ya sudah mami pulang sebentar ya, anak mami yang di negara xxxxx baru saja tiba di rumah,mami ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan nya dan baru di wisuda kemarin " ucap nyonya Tamara
" Ia mi.. hati-hati dan titip salam kenal untuk anak mami,semoga semakin sukses " ucap Billa tulus
" Terimakasih sayang...mami pasti akan mengenalkan kalian nanti " ucap nyonya Tamara seraya mengecup singkat kepala Billa dan meninggalkan nya yang masih sangat bahagia mendapatkan perlakuan lembut dari seorang ibu, Billa berharap ini bukan mimpi
Billa menatap punggung wanita paruh baya itu dengan perasaan campur aduk, antara sendu dan bahagia,terselip rasa penasaran
akan kehadiran nyonya Tamara dan tuan Lincoln yang terlihat begitu baik padanya dan menganggap nya sebagai putri mereka,siapa sesungguhnya mereka? mengapa dari dulu ayah nya tidak pernah mengenalkan mereka pada dirinya?mengapa baru sekarang di saat sang ayah dalam keadaan sakit?" berbagai pertanyaan timbul di benak Billa
Sedangkan tuan Lincoln dan sang istri serta supir mereka merasakan kekhawatiran yang luar biasa, memikirkan bagaimana reaksi gadis cantik itu saat mengetahui ayah nya kritis gara-gara tertabrak oleh mobil mereka , walaupun pada kenyataannya itu semua tanpa disengaja dan murni sebuah kecelakaan
Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dikarenakan keadaan jalanan yang macet, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh tuan Lincoln dan sang istri memasuki sebuah gerbang mewah yang menjulang tinggi
__ADS_1
Sang supir menghentikan mobil yang membawa tuan besarnya tersebut tepat di depan téras rumah mewah tersebut,ia menunduk hormat setelah membukakan pintu untuk sang tuan dan nyonya besar istana megah tersebut
Tuan Lincoln langsung melangkah menuju kedalam rumah,terlihat beberapa art yang menunduk hormat saat melihat sang majikan tiba di rumah, seorang pria tua yang diberikan kepercayaan sebagai kepala pelayan,beliau langsung menghampiri sang majikan dengan penuh rasa hormat
"Apakah Aby sudah sampai" tanya tuan Lincoln pada Harun sang kepala pelayan, bukan tanpa alasan tuan Lincoln menanyakan hal itu, karena putra semata wayangnya sama sekali tidak memberikan kabar pada kedua orang tuanya akan kedatangannya, mungkin karena ia kesal atas perintah orang tuanya untuk segera kembali ke Indonesia dan meninggalkan sang pujaan hatinya, itulah yang saat ini ada dalam benak kedua orang tuanya
" Tuan muda tiba di sini pukul xx tuan" ucap kepala pelayan tersebut dengan wajah tertunduk,ia berharap agar tidak ada keributan lagi antara ayah dan anak itu
Tuan Lincoln mengangguk tanda mengerti,sang istri mengusap lembut lengannya dan mengangguk mengisyaratkan sesuatu yang langsung di pahami oleh sang suami dan membalas dengan mengusap dan menggenggam lembut tangan istrinya
" Katakan padanya 30 menit lagi kami tunggu di ruang keluarga" ucap tuan Lincoln terdengar serius dan tegas,lalu setelah nya beliua dan sang istri langsung melangkah menuju kamar nya
" Baik tuan" jawab Harun patuh dan juga melangkah menaiki tangga menuju kamar sang tuan muda yang terletak di lantai dua rumah mewah nan megah milik keluarga Alexander tersebut
Harun mengetuk pintu berwarna abu-abu dihadapan nya, sedangkan di dalam kamar tersebut seorang pemuda tampan tengah asyik mengobrol dengan seseorang di balik telfon nya,ia sedikit tak perduli dengan ketukan di pintu kamarnya, tapi lagi-lagi ia mendengar ketukan yang ber- ulang membuat ia mendengus kesal dan beranjak dari balkon menuju pintu kamarnya
Tak berselang lama pintu terbuka menampilkan tuan muda dari keluarga Alexander dengan wajah sedikit tak bersahabat,ia masih memegang handphone nya dan mendengarkan ocehan seseorang di balik benda pipih tersebut
" Ada apa mang?" tanya Aby sedikit mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit santai saat melihat mang harun yang mengetuk pintu, orang yang selalu setia dan sabar mengasuhnya sejak ia balita hingga berusia 18 tahun, orang yang selalu memberinya pengertian atas kesibukan kedua orang tuanya dan mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya adalah segalanya bagi mereka
" Tuan dan nyonya menunggu Aden di ruang keluarga 30 menit lagi" jawab mang harun sopan
" Hemm" jawab nya singkat dan kembali menutup pintu kamar nya,Aby adalah sosok anak yang lumayan patuh pada perintah kedua orang tuanya, walaupun ia bersikap dingin dan arogan tapi ia berusaha patuh pada kedua orang tuanya, karena selama ini kedua orang tuanya tersebut belum pernah bersikap yang mengekang nya atau terlalu protektif
Walaupun ia sesekali berdebat dengan sang ayah tapi dibelakang pria paruh baya itu dia tetap akan mencoba menuruti apa yang sang ayah perintah kan, selama itu tidak terlalu bertentangan dengan hati nya
Sementara di salah satu kamar di lantai dasar seorang wanita paruh baya terlihat sangat gelisah,ia bingung harus bagaimana cara menyampaikan keinginannya pada sang putra dan harus memulai dari mana, berfikir keras merangkai kata yang tepat untuk bisa meyakinkan sang putra dengan keputusan dan permintaan mereka
" Mami itu ga capek apa mondar-mandir dari tadi? mandi sana..papi udah selesai ni, atau mau papi yang mandiin? tapi ingat ga ada yang gratis" ucap tuan Lincoln dengan wajah mesum, membuat sang istri langsung melotot melihat tingkah sang suami
" papi ya dalam keadaan tegang begini masih sempat mesum " omel sang istri yang masih terlihat sangat cantik walaupun sudah tak muda lagi
Nyonya Tamara dan sang suami sudah selesai dengan kegiatan bersih-bersih diri mereka dan sudah berpakaian rapi, keduanya langsung keluar dari kamar menuju ruang keluarga sesuai seperti apa yang mereka rencanakan
Tiba di ruangan tersebut tampak sang putra sudah menunggu di salah satu sofa seraya memainkan ponselnya,Aby terlihat tampan dengan pakaian rumah nya,sebuah kaos putih lengan pendek dan celana selutut,ia terlihat layaknya remaja 17 tahun, membuat nyonya Tamara tersenyum bahagia saat melihat putra semata wayangnya
" Boy.." panggil sang mami
" Mi..pi." ucap Aby saat melihat kedua orang tuanya sudah berada di dekat nya,ia memeluk mami nya melepaskan rasa rindu karena sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu,ya nyonya Tamara dan suami terbilang cukup sering dan rutin mengunjungi negara kelahiran tuan Lincoln,selain karena keluarga sang suami yang menetap di negara tersebut,putra mereka juga tinggal di negara tersebut,serta beberapa bisnis yang harus di pantau oleh tuan Lincoln sebagai putra tunggal keluarga paling berkuasa di negara tersebut
" Jam berapa kamu sampai indo?" tanya mami pada sang putra
" Sekitar tiga jam yang lalu mi, rencana malam nanti aku ke rumah sakit buat jenguk mang Asep" jelas nya pads kedua orang tuanya
" Mang Asep sudah di tangani oleh psikolog terbaik dan keadaan nya sudah lebih baik,besok sudah diperbolehkan pulang, tapi keadaan korban nya yang semakin kritis dan sangat kecil harapan nya" cerita nyonya Tamara dengan wajah sendu
" Kenapa gak kita bawa ke luar negeri aja ?, fasilitas disana lebih lengkap dan kita bisa minta dokter terbaik" saran Aby
" Papi kamu sudah mendatangkan dokter terbaik dari Singapura, tapi karena pendarahan di otak membuat korban memiliki harapan hidup hanya 20 persen" jawab nyonya Tamara
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan proses hukumnya?" tanya Aby khawatir kedua orang tuanya terseret ke jalur hukum, walaupun mereka bisa saja membayar pihak berwajib dengan uang mereka
" korban tidak mau menempuh jalur hukum,tapi kami belum tau apa keputusan dari anak korban " jawab nyonya Tamara lagi
" Kita tawarkan kompensasi seberapa pun yang ia minta " saran Aby
" Mami yakin mereka ga mau nak, beliau hanya menitipkan putrinya pada kita jika terjadi sesuatu pada beliau " jawap sang mami sendu
" Ya sudah mami angkat jadi anak mami aja, aku ga keberatan kok, apalagi kalau anaknya anak baik" jawab Aby santai
" Masalahnya anak nya itu perempuan boy dan korban itu menyerahkan hak walinya pada papi kamu, sedangkan putrinya belum tau kejadian yang sebenarnya tentang kecelakaan tersebut " jawab nyonya Tamara menceritakan
" Lalu kita harus bagaimana? aku yakin putrinya akan setuju dengan penawaran dari kita" jawab Aby yakin
" Menikahlah dengan putrinya....jika kamu tidak ingin salah satu dari kami mendekam di penjara, karena putrinya juga bukan sembarangan wanita,ia gadis yang cukup cerdas" jawab sang mami
" Apa.....? menikah....? Haha..mami jangan bercanda deh,kota itu lagi cari solusi mi.. bukan cari jodoh" jawab Aby dengan wajah terkejutnya
" Mami sama papi ga bercanda boy.. hanya itu jalan satu-satunya untuk sedikit mengurangi rasa bersalah kami ...kamu bisa bayangkan bagaimana rasanya hidup sebatang kara.. lagian mami lihat Billa itu anak yang baik,patuh, walaupun mami baru bertemu beberapa jam yang lalu dengan nya,paras nya juga cantik " jelas Tamara
" Bukankah kejadian itu terjadi sudah tiga hari yang lalu? kenapa mami baru bertemu dengan anaknya?" tanya Aby
" Anaknya sedang tidak berada di Indonesia,ia sedang mengikuti perlombaan Tahfiz Qur'an di Turki,beru beberapa jam yang lalu tiba di Indonesia karena kami yang meminta kepada pihak sekolah untuk segera memulangkan nya ke indo, kamu mau ya nikah sama dia " pinta sang mami
" mi ..pi...aku itu masih muda,usia ku aja baru mau 21 tahun dan juga aku belum siap untuk menikah .. terlebih dengan orang yang tidak aku kenal bahkan ketemu aja belum pernah, bagaimana kami bisa menjalin hubungan yang sakral gitu mi.. kita bisa adopsi dia aja mi,aku akan anggap dia sebagai saudara kandung ku,asal jangan menikahinya,aku ingin menikah sekali seumur hidup dan dengan wanita pilihan ku sendiri " jawab Aby
" Dengan wanita pilihan mu yang seperti sekarang? wanita materialistis yang hanya pandai menghambur-hamburkan uang mu?, wanita yang selalu berpakaian minim itu?" jawab sang papi
" Tapi selin itu baik Pi..dia juga dari keluarga terpandang, bukan anak tukang kebun di Rumah sakit keluarga kita" jawab Aby mulai tidak terima
" pokoknya keputusan kami sudah bulat, kalau tidak papi akan cabut semua fasilitas kamu dan akan menghapus nama kamu dari ahli waris kami" jawab sang papi tegas, sedangkan Aby hanya terdiam dengan wajah memerah menahan kesal
Saat mereka sedang asyik berdebat tiba-tiba saja handphone nyonya Tamara berdering dan menampilkan nomor Billa yang menghubungi nya
Derttt dertttt dertttt
" Halo Billa..ada ap..?" tanya nyonya Tamara yang terpotong dengan suara Billa
" Assalamualaikum mi ...maa-maaf mengganggu...A-ayah mi..ayah tiba-tiba kritis dan drop" ucap Billa dengan suara lirih karena menahan tangisnya
" Waalaikum salam... sayang..kami akan segera kesitu..kamu sabar ya" jawab nyonya Tamara dengan wajah paniknya
" Ia mi...maaf merepotkan, Assalamualaikum " jawab Billa lembut dan memutuskan panggilan nya
" Kamu bersiap dan langsung ke rumah sakit,kami tunggu di sana,kamu dengar sendiri kan ...kits tidak punya banyak waktu" ucap tuan Lincoln tegas dan langsung melangkah keluar menuju mobil mereka, meninggalkan rumah menuju rumah sakit
"Shiiit" umpat Aby geram dengan keputusan kedua orang tuanya,dia membayangkan harus menikah dengan anak seorang tukang kebun yang sangat berbeda dengan mereka dan pastinya kampungan, membuat kepala nya pusing ingin pecah dan dengan terpaksa ia tetap harus menyusul kedua orang tuanya
Aby segera mengganti pakaiannya dengan menggunakan kemeja dan celana bahan,agar terlihat lebih sopan jika nanti pernikahan yang menurutnya konyol itu benar akan terjadi, dengan sedikit tergesa ia langsung menuju ke rumah sakit keluarganya tersebut
__ADS_1
Sedangkan tuan Lincoln langsung menghubungi max sang asisten serba bisa agar segera mencari penghulu dan membawanya ke rumah sakit,serta langsung mengurus berkas pernikahan untuk sang tuan muda
Walaupun dengan perasaan bingung max tetap melaksanakan tugas nya dengan cepat dan selalu bisa di andalkan dalam setiap keadaan, sedangkan di rumah sakit Billa sedang menangis seorang diri di kursi tunggu di depan ruangan sang ayah, karena dokter sedang melakukan tindakan