
Hari-hari terus berlalu, tanpa terasa sudah satu Minggu Abrar berada di rumah sang kakek,esok adalah hari ia akan kembali ke Jakarta dan kembali ke pondok pesantren untuk memulai aktivitas nya, sebagaimana biasanya,dan hanya tinggal beberapa bulan lagi ia akan mengikuti ujian akhir Nasional, rencananya ia akan melanjutkan pendidikan nya ke negara xxxxx, karena ia memang telah mendapatkan beasiswa di universitas ternama di negara tersebut, terlebih ia adalah seorang Tahfiz
Seminggu berada di ponpes sang kakek, membuat ia semakin kagum pada Salsabila, terlebih ia juga sering mendengar cerita positif tentang remaja cantik tersebut yang memang sangat populer di ponpes dan di desa tersebut,ia semakin yakin dengan hatinya bahwa ia benar-benar menginginkan wanita cantik tersebut untuk menjadi miliknya
Sehingga saat sebelum keberangkatan nya yang diantar langsung oleh sang kakek dan nenek ke bandara, dengan satu orang supir.
Abrar memberanikan dirinya menitipkan sebuah surat untuk Billa pada sang nenek dan ia juga dengan terang- terangan mengakui bahwa ia tertarik pada wanita cantik tersebut
" Umi... Abang boleh minta tolong...?" tanya Abrar sedikit gugup di hadapan sang nenek
" Boleh dong.. emang Abang mau minta tolong apa sama Umi,...? kalau memang bisa pasti akan umi tolong" jawab Umi Salamah pada cucu kesayangannya,ya Abrar memang cucu laki-laki satu-satunya di keluarga Abah guru, karena putra mereka yaitu kakak laki-laki dari ibunya Abrar tidak memiliki anak laki-laki, ketiga anaknya perempuan
" Abang titip ini... tolong umi kasih ke Salsabila" jawab Abrar lirih sambil menyerahkan sepucuk surat tersebut pada sang nenek dengan wajah memohonnya
" Oh ia... tapi apa kamu serius bang...? jangan pernah mengecewakan anak gadis orang..umi ga mau kalau nanti nya Abang malah membuat Billa kecewa" tanya sang nenek dengan wajah serius
" Insyaallah Abang yakin umi...? Abang minta doanya dari umi" jawab Abrar serius
" Insyaallah umi akan mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk kamu dan yang lainnya" jawab umi Salamah lembut sambil mengelus rambut sang cucu
Bak gayung bersambut,ternyata sang nenek dan kakek juga mendukung, bahkan mereka juga menceritakan langsung pada kedua orang tuanya Abrar,sang ibu yang memang sudah beberapa kali bertemu dengan Billa juga langsung mendukung, mereka berharap semua akan berjalan dengan lancar dan Billa juga akan memberikan kesempatan untuk putra mereka
Sedangkan Billa merasa sangat terkejut saat mendapat surat dari Abrar untuk nya,ia juga merasa malu dan sangat enggan karena yang memberikan surat tersebut adalah umi Salamah langsung secara pribadi, tapi ia juga sangat bahagia, terharu dan bingung saat membaca isi surat tersebut
" *Assalamualaikum ukhti... Afwan... kalau saya sudah lancang menuliskan surat ini dan juga meminta pada umi untuk memberikan nya pada ukhti...
Dan maafkan saya kalau menurut ukhti saya terlalu lancang menaruh hati pada ukhti..tapi itulah kenyataannya.... bukan kah setiap orang boleh berharap dan menginginkan sesuatu yang menurutnya baik untuk nya dan yang pastinya tidak merugikan atau menyinggung orang lain,dan saya berharap perasaan saya ini tidak akan merugikan atau menyakiti perasaan siapa pun
Apakah boleh jika saya meminta dan berharap ukhti bersedia menunggu saya sampai saat kita sama-sama sudah selesai dengan pendidikan kita?... insyaallah rencana nya setelah kelulusan ini saya akan melanjutkan pendidikan saya ke negara xxxxx dan saya sangat berharap saat saya kembali ukhti akan menerima saya menjadi kekasih halal...
ini no ponsel saya..08xx-xxxx-7676
__ADS_1
mohon ukhti mau memberikan jawaban dan saya tunggu jawaban nya..maaf kalau saya terlalu berterus-terang dan atau menurut ukhti saya terlalu cepat mengambil keputusan, mengingat kita hanya sekali bertemu, tapi terus terang saya sudah banyak bertanya tentang ukhti pada Abah dan umi...sekali lagi saya minta maaf kalau saya terlalu lancang
Wassalamu'alaikum...
Muhammad Abrar Habib Al- fahrizi*
Salsabila bingung,ia merasa sangat galau setelah selesai membaca isi surat tersebut,ia sampai terbengong dan melamun sesaat didalam kamar sederhana milik nya, sehingga suara panggilan dari sang nenek yang membuyarkan lamunannya
Salsabila dengan cepat melipat kembali surat tersebut dan langsung menyimpan nya didalam salah satu sisi buku Dyare miliknya,tak lupa ia juga sudah memasukkan no handphone Abrar ke handphone miliknya, walaupun ia sendiri belum tau kapan ia akan menghubungi pemuda tampan tersebut, dan ia juga belum tau jawaban seperti apa yang bisa ia berikan pada Abrar
Salsabila benar-benar bingung harus menjawab apa dan bagaimana,ia ingin bercerita pada neneknya atau pada Widia sahabat terdekatnya, tapi ia masih merasa sangat malu dan sahabat nya juga pasti akan menggodanya, walaupun ia tau kalau cara berfikir Widia terbilang cukup dewasa dan juga bijak, tapi tetap saja Billa merasa malu
Terlebih lagi ini berhubungan dengan Abrar cucu dari Abah guru dan sedang sangat hangat di bicarakan oleh para santri, apakah Billa harus merasa bangga menjadi wanita yang dikagumi oleh cucu dari Abah guru...? tapi pada kenyataannya ia malah merasa sangat minder pada pemuda tampan tersebut, mengingat Abrar adalah pemuda kota, dari keluarga yang sangat jauh berbeda dengan Billa yang hanya dari keluarga biasa saja, ditambah lagi dengan pengakuan Abrar yang akan melanjutkan pendidikan nya ke luar negeri..itu semua semakin membuat Billa merasa kecil dan tidak berani mengambil keputusan
Sudah satu Minggu setelah Billa menerima dan membaca surat dari Abrar, tapi remaja cantik tersebut masih belum memiliki jawaban apa yang akan ia berikan kepada Abrar,ia masih terlalu malu untuk bercerita pada Widia dan bertanya pendapat dari sahabatnya itu, tapi ia berjanji pada dirinya ia pasti akan bercerita pada Widia
Sementara di salah satu ponpes bergengsi, seorang pemuda tampan sedang sangat gelisah selama seminggu tersebut,ia terus menunggu kabar dari wanita cantik yang berhasil menggoyahkan hatinya, yang ia tau sang nenek sudah memberikan surat nya dari satu Minggu yang lalu,tapi ia belum juga mendapatkan kabar apapun dari wanita pujaannya tersebut
Abrar sampai beberapa kali menghubungi sang nenek untuk menanyakan apakah suratnya tersebut benar-benar sudah di terima oleh Salsabila,dan jawaban sang nenek selalu mengatakan bahwa surat tersebut sudah di serahkan langsung pada remaja cantik tersebut
📱-" Nenek yakin surat itu udah di baca?" tanya Abrar suatu hari dalam panggilan telepon nya dengan sang nenek
📱-" Insyaallah nenek yakin bang... karena nenek juga minta ke Billa untuk membaca surat tersebut dan nenek yakin dia pasti mematuhi nya,hanya saja mungkin dia masih malu atau bingung harus jawab apa ke kamu, karena nenek yakin ini keputusan berat untuk nya" jawab sang nenek menenangkan Abrar
📱-" jangan - jangan dia udah punya pacar nek" jawab Abrar serius dan terdengar lirih
📱-" Hus... sembarangan kamu.. nenek kenal dia dari kecil, dan nenek sering ngobrol dengan dia tentang keseharian nya,dia tau pacaran itu bukan hal yang positif,kamu itu yang sabar dong...belajar nya yang serius,ingat ujian Nasional di depan mata dan kamu akan berangkat ke negara xxxxx" nasehat sang nenek
📱-" Ia nek.. Abang tau...makanya Abang maunya dia udah ada jawaban sebelum keberangkatan Abang kesana" jawab Abrar terdengar sangat gelisah
📱-" Yasudah biar ntar malam nenek akan panggil Billa ya.. tapi ingat.. apapun nanti jawaban yang akan ia berikan kamu harus bisa terima dan ingat satu hal.. jodoh, rezeki, pertemuan dan maut itu semuanya sudah Tuhan yang atur,kita hanya bisa berencana tapi Tuhan yang tentukan " nasehat sang nenek untuk cucu kesayangannya
__ADS_1
📱-" Insyaallah Abang akan ingat ucapan nenek" jawab Abrar serius
Abrar melanjutkan ngobrol nya dengan sang nenek yang membahas tentang berbagai hal dan tak lupa pula sang nenek selalu memberikan beberapa nasehat yang baik untuk kehidupan sehari-hari cucu laki-lakinya tersebut
Di tempat yang lain,di desa yang sama dengan umi Salamah,dua remaja cantik tengah terlihat duduk di sebuah pondok di pinggir sawah, keduanya tampak terlihat sedang berbicara sesuatu yang serius dan pribadi
Ya... kedua remaja cantik tersebut adalah Salsabila dan Widia.. keduanya baru kembali dari berjualan di dekat salah satu tempat wisata yang terdapat di desa tersebut, karena di hari Minggu Salsabila sering menjajakan jajanan pasar di tempat wisata tersebut dan akan kembali ke rumah saat menjelang siang
" Menurut kamu jawaban apa Wid yang harus aku kasih ke cucu Abah guru?" tanya Salsabila setelah selesai menceritakan tentang surat yang ia terima dari umi Salamah
" Ya terima aja lah Bill...ingat ya bill kesempatan itu datangnya cuma satu kali dan ga ada yang kedua kalinya, kalau pun ada itu bonus...apa coba kurangnya cucu Abah..? Sholeh,pinter, dari keluarga yang jelas dan terpandang dan yang paling penting Tampan.. pokoknya paket komplit deh kalau menurut aku dan kalian itu emang couple tau" jawab Widia antusias
" Karena terlalu komplit itulah yang bikin aku semakin ga percaya diri untuk jawab ia, rasanya aku terlalu kecil untuk nya..." jawab Salsabila lembut
" Perasaan kamu ke dia gimana...? kalian pernah ga sengaja ketemu kan sekali?" tanya Widia menggoda sang sahabat
" Ya belum ada perasaan apapun..ia pernah ketemu,ya biasa aja,bagi aku perasaan itu bukan yang utama, kalau dia baik aku akan coba untuk terima, tapi ini dia lebih dari itu.. bahkan lebih dari ekspektasi cowok idaman aku Wid.. jadi minder akunya " jujur Salsabila pada Widia
" Ya ampun bill..bill... yang namanya jodoh itu ga bisa kita yang atur dan jatuh cinta itu juga ga bisa kita yang atur pada siapa kita akan jatuh cinta beneran..udah deh terima aja, lagian dia bukan ngajakin pacaran kok,dia cuma ngungkapin isi hatinya, ga rugi juga buat kamu " jawab Widia bijak
" Ia sih... tapi gimana kalau sampai akhirnya dalam hati aku ga bisa Nerima dia?.. atau suatu saat nanti aku akan ketemu dengan seseorang yang malah bisa buat aku ngerasa nyaman atau percaya untuk menjadi serius?" tanya Salsabila sedikit cemas
" Ia juga ya...secara kita ini masih muda banget, masih beberapa tahun lagi kita sekolah bahkan mungkin kuliah dan pastinya kita akan ketemu dengan lebih banyak lagi orang nantinya... tapi aku yakin kalau kalian jodoh pasti tetap bisa bareng dan hati aku bilang kalian itu cocok" jawab Widia
" jadinya aku harus jawab apa?" tanya Salsabila galau
" Jawab aja.. insyaallah kalau memang kita berjodoh pasti akan ada jalan dan kamu jiga akan coba berusaha untuk terima dan menunggu dia,gitu aja " saran Widia
" Gitu..ok.. thanks banget ya..kamu yang terbaik, nanti malam aku coba chat dia" jawab Salsabila patuh, karena menurut nya jawaban dari Widia juga ada benarnya dan juga cukup baik, hanya saja ia akan mengatakan pada Abrar bahwa ia juga tidak akan keberatan jika memang suatu saat nanti Abrar berubah pikiran atau mungkin ia bertemu seseorang yang menurutnya lebih pantas untuk nya maka Salsabila juga akan mendukung, yang terpenting jujur
Selesai dengan obrolan yang lumayan panjang, kedua remaja cantik tersebut memutuskan untuk langsung pulang ke rumah mereka masing-masing, karena hari sudah menjelang siang dan mereka harus melakukan Shalat Zuhur serta waktunya untuk makan siang
__ADS_1