
Arum sungguh tak menyangka jika pria yang selama ini menikahinya telah tega berkhianat. Pernikahan mereka baru berjalan 6 bulan. Tapi dengan teganya Arga selingkuh.
Dulu, pria itu berjanji akan mencintainya seumur hidup. Tak akan menyakitinya secara fisik maupun mental tapi nyatanya semua janji itu hanyalah sebuah kata saja.
"jadi...kamu serius Rum?" Rindu tak menyangka begitu mendengar curhatan sahabatnya.
"yang sabar ya." Ujarnya lagi sembari mengelus punggung Arum yang kini bergetar karena tangisnya pecah.
Arum baru mengetahui keburukan suaminya dua hari yang lalu. Waktu itu ia tak sengaja melihat Arga berdiri di sebuah restoran. Hendak menghampiri tapi tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian amat seksi memeluk Arga. Mereka nampak mesra, masuk kedalam restoran.
Arum pura-pura tak mengetahuinya, ia masih diam dan bersikap biasa saja padahal hatinya sakit juga marah. Hanya saja ia tak memiliki bukti perihal perselingkuhan itu.
"begini saja, kamu tetap layani suami mu seperti biasa. sementara aku akan mencari buktinya." Rindu pun ikut kesal, ia ingin membuat pria itu jera.
Enak saja menyakiti Arum, sahabat terbaiknya selama ini. Rindu tak akan tinggal diam.
"tapi rasanya berat. aku jijik bahkan setiap melihatnya dada ini sakit Rin. aku ingin sekali marah dan berteriak."
"yang sabar Arum. kita balas suamimu dengan cara yang mulus. buat dia menyesal telah menyakiti mu."
"aku ingin mas Arga berlutut di kaki ku, Rin."
"ya tentu saja. kamu pokoknya pura-pura bodoh saja. Biar dia tak curiga kalau kamu sudah tahu soal perselingkuhannya."
Arum mengangguk. Dengan adanya bantuan dari Rindu, ia harap rasa sakitnya akan segera terbalas. Arga harus merasakan hal yang sama, sama-sama terluka.
Setelah menyusun rencana dengan Rindu akhirnya Arum pun putuskan untuk pulang. Sebelum suaminya kembali kerumah, Arum sudah harus lebih dulu tiba. Menyiapkan makan malam seperti biasa.
Rencananya tak boleh gagal. Ia akan buat Arga menyesal telah bermain api di belakangnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 8, tapi belum ada tanda-tanda pria itu tiba di rumah. Memang, sudah hampir 1 bulan ini Arga selalu pulang telat dengan alasan lembur.
Arum percaya saja. Tapi kali ini tidak, Arum yakin jika Arga pasti pergi jalan-jalan atau mampir dulu kerumah selingkuhannya. Hatinya panas memikirkan itu semua. Dengan kesal ia mengambil ponselnya.
Mencoba melihat status suaminya di wa. Benar saja, pria itu memposting sebuah foto komputer juga secangkir kopi di mejanya. Tapi kenapa Arum baru sadar sekarang, jika foto itu selalu sama setiap malamnya. Layar di komputer juga posisi si cangkir kopi.
Sungguh bodoh, selama ini ia telah tertipu karena terlalu percaya pada Arga.
Tiiinn...
Arum terlonjak kaget begitu mendengar klakson mobil dari luar, ia meletakkan ponselnya lalu segera berlari untuk membuka pintu pagar. Begitulah setiap malam, akan sigap menjadi seorang security. Membuka tutup pintu pagar jam berapa pun Arga pulang.
"sayang, kenapa malam sekali." Arum mengucapkan kalimat itu dengan suara sedikit bergetar, menahan gemuruh di dadanya.
Sebenarnya ingin sekali memaki pria di hadapannya.
Arga tersenyum, mengusap kepala Arum lalu mencium keningnya. Itulah kenapa Arum tak pernah menaruh curiga terhadap Arga karena perlakuannya tak berubah. Masih romantis seperti waktu pacaran dulu.
"maaf ya, kamu jadi nunggu lama. mas harus lembur karena memang di kantor lagi sibuk."
"iya tak apa. mau mandi atau langsung makan?" Tawar Arum.
"mandi saja dulu."
Arum mengikuti langkah Arga yang masuk kedalam kamar. Membantunya membuka jas kerja lalu segera menyiapkan air hangat.
Tangannya gemetar kala mencium parfum lain di baju suaminya, kenapa ia tak pernah sadar selama ini. Arum merasa sangat bodoh. Matanya nanar memandang pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemericik air terdengar jelas.
Dengan cepat Arum mengambil ponsel Arga. Mengecek apa ada yang aneh di sana. Selama ini tak pernah melihat apapun yang ada di dalam ponsel berwarna putih ini karena rasa percaya nya yang besar terhadap Arga.
Jantungnya bergemuruh kala melihat pesan watshap dari seseorang bernama Madu.
[janji ya hari libur nanti ke rumah orangtua ku.]
Arum lemas ketika melihat hari dan tanggalnya. Pesan itu di kirim malam kemarin. Pantas saja, kemarin malam Arga terus saja memegang ponselnya.
Rupanya tengah berkirim pesan dengan selingkuhannya. Arum langsung mencatat nomor itu, ia akan meminta Rindu untuk menyelidikinya.
Begitu tak terdengar lagi suara gemericik air, Arum langsung menyimpan kembali ponsel Arga. Ia buru-buru mengambil baju tidur dari lemari dan menyimpannya di atas kasur.
Dengan cepat Arum keluar dari kamar. Pikirannya melayang jauh entah kemana, mengingat pesan singkat itu.
"hari libur nanti itu artinya besok." Lirih Arum.
Ia akan menyusun rencana agar Arga tak bisa menemui gadis pengganggu itu.
"sayang..."
"ya ampun mas." Arum terkejut ketika bahunya di tepuk.
Arga mengerutkan keningnya melihat wajah kaget Arum. Ia tak tahu jika istrinya akan se terkejut itu.
"kamu melamun ya?" Tebaknya.
"tidak kok mas. ayo makan mas." Arum buru-buru mengambil piring kosong lalu segera mengisinya dengan nasi juga lauk.
Arga tersenyum kembali, duduk di depan Arum. Pria itu sungguh nampak biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Sikapnya tak berubah, itulah kenapa Arum yakin jika Arga amat mencintainya jadi mustahil pria itu berbuat macam-macam di luar.
Acara makan malam berlangsung dengan cepat. Arga memilih untuk bermain ponsel di ruang tamu setelahnya sementara Arum mencuci piring bekas mereka.
__ADS_1
Dengan gelisah Arum menghampiri Arga. Ia ingin sekali bertanya apa pria itu menyembunyikan sesuatu di belakangnya tapi mengingat perkataan Rindu yang memintanya untuk pura-pura tidak tahu membuat Arum urung bertanya.
Wanita berusia 25 itu memilih untuk diam.
"mas, ini sudah malam." Ingatnya, memang sudah hampir jam 11.
Arga meletakkan ponselnya. "kita tidur ayo." Ajaknya.
Tangan kekarnya merangkul pinggang Arum mesra, mengajak wanita itu masuk kedalam kamar.
Arum mati-matian menahan hatinya yang perih. Ingin sekali ia menepis tangan yang sudah merangkul wanita lain itu. Tak sudi rasanya di sentuh oleh tangan kotor itu.
Sampai di kamar mereka tak langsung tidur, seperti biasa akan bercerita sebentar tentang mereka masing-masing sewaktu di siang tadi.
"uumm...tadi ibu telpon mas, meminta kita kerumahnya." Ujar Arum, mencoba untuk mengetes suaminya.
Apa Arga akan tetap memilih wanita bernama Madu itu atau dirinya.
"loh, kok mendadak sih sayang."
"ya tak tahu mas, katanya ibu kangen."
Arga nampak gusar. Pria itu terdiam sejenak lalu kembali berujar pelan.
"bagaimana ya, besok mas ada rencana mau ketemu klien."
Wajahnya yang di buat melas itu membuat Arum muak. Ia mengepalkan tangannya erat, menahan emosinya.
"oh... begitu, tak bisa di undur mas?"
"tentu saja tidak sayang. mas tak mau buat klien kecewa nanti kerjasama perusahaan bisa gagal dong."
Arum berdecih dalam hati. Pintar sekali Arga berbohong, selama berpacaran Arga tak pernah menolak permintaannya meski pun pria itu harus meninggalkan pekerjaan.
Jelas sekali, sikapnya memang sudah berubah. Arum harus mengikutinya besok, kemana pria itu akan pergi.
"kamu tak marah kan?" Arga mengusap wajah Arum lembut. "kok diem saja?"
Arum memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"tidak kok mas."
Arga pun memeluk tubuh mungil Arum, mengecup dahinya. Tidur dalam keadaan saling memeluk sudah menjadi kebiasaan mereka. Tapi malam ini, Arum membenci kebiasaan ini. Ia ingin sekali menendang Arga agar tak dekat-dekat dengannya.
Mata Arga sudah terpejam rapat, nafasnya pun terdengar beraturan jelas jika pria itu sudah tertidur. Perlahan Arum melepaskan pelukannya, ia beringsut kearah pinggir.
Berdekatan seperti ini membuatnya risih. Semenjak mengetahui keburukan Arga membuat Arum tak sudi lagi di sentuh. Ia merasa jijik.
Arum memang di nyatakan sulit untuk mengandung karena memang wanita ini kurang subur. Arga memang pernah berharap ingin memiliki banyak anak. Sewaktu pacaran dulu, pria itu berangan-angan ingin menjadi suami dan juga ayah yang baik. Memiliki setidaknya 4 orang anak, perempuan atau laki-laki tak masalah.
Hingga akhirnya harapan itu sirna ketika Arum mengalami keram di perutnya. Haidnya tak lancar, sehingga Arga pun khawatir dan membawanya kesebuah rumah sakit. Arum di periksa dan hasilnya sangat mengejutkan.
Rahim Arum bermasalah hingga akan sulit baginya memiliki seorang anak. Harapan Arga pupus, jelas sekali kekecewaan di wajahnya. Tapi pria itu tetap sabar, bersikap seperti biasa bahkan berkata akan menerima apapun kekurangan Arum. Tetap berada di sampingnya apapun yang terjadi.
Arum percaya itu hingga semuanya terpatahkan oleh kenyataan pahit itu. Dimana perselingkuhan Arga terbongkar oleh matanya sendiri.
Semalaman Arum tak bisa tidur. Matanya terus terbuka, menerawang jauh entah kemana. Memandang langit-langit kamar berwarna putih dengan pikiran yang berkecamuk.
Ia takut jika seandainya Arga menceraikan dirinya, bagaimana nanti dengan ibunya. Pasti akan sangat kecewa. Di tambah dirinya yang belum siap menerima itu semua.
Jika memang penyebabnya ada pada dirinya, Arum tak bisa berbuat banyak. Jika Arga menginginkan keturunan bukanlah sebuah dosa besar tapi caranya lah yang mungkin salah. Tak seharusnya pria itu bermain belakang, setidaknya bicaralah baik-baik dengannya.
Mungkin Arum akan sedikit berlapang meski hatinya sakit. Demi kebahagiaan suaminya ia rela berkorban tapi jika caranya seperti ini, Arum tentu tak terima. Kebohongan Arga tak bisa di maafkan begitu saja.
Hingga menjelang subuh, Arum masih terjaga. Wanita itu memilih untuk bangkit dari kasur.
Tring...
Matanya melirik ponsel Arga yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Notifikasi pesan masuk terlihat jelas.
Arum menarik nafas dalam-dalam, melihat nama Madu tertera di sana. Sedikit mengumpat kala menggeser layar itu.
[jangan lupa ya ma.....]
Hanya sedikit saja yang nampak. Arum ingn membukanya tapi takut membuat Arga bangun. Buru-buru ia keluar dari kamar, memilih untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang ada di dapur. Ia tak mau Arga bangun dan meminta jatahnya di pagi hari.
Hatinya terlanjur sakit hingga tak ingin lagi rasanya di sentuh oleh pria itu.
...**************...
Rindu nampak kesal saat mendapat pesan dari Arum. Ia langsung men-save nomor yang di kirimkan Arum padanya.
"Cih... pandai sekali betina gatel nih." Gerutunya kala melihat foto profilnya, hanya sebuah tangan saja yang sedang bertautan. R
Rindu yakin pasti itu tangan si wanita dengan suami temannya.
Tak jelas seperti apa wajah wanita itu.
Ia pun segera meninggalkan toko kue miliknya. Rindu memang memiliki sebuah toko kue, tak terlalu besar tapi lumayan banyak variasi kue yang di jual.
__ADS_1
Hanya ada satu karyawan saja di sana, karena dia sendiri yang membuat kue-kue itu.
"Arum, aku kerumah mu. suami mu sudah pergi?"
"iya Rin."
"oke, kamu tahukan kemana suamimu pergi." Rindu melajukan mobilnya. "bagus, tunggu aku segera tiba."
Telpon pun terputus. Rindu ingin sekali menampar Arga. Pria itu sudah bermain-main dengan sahabatnya, tak bisa di maafkan.
Arum menangis karena Arga lebih memilih untuk menemui Madu, selingkuhannya. Jelas sekali jika saat ini dirinya bukan lagi prioritas utama pria itu. Posisinya terganti oleh wanita lain.
Untung saja tadi sebelum Arga berangkat Arum sempat melihat alamat yang di kirimkan Madu. Sebuah penginapan di dekat tempat kerja Arga. Rupanya wanita gatal itu menunggunya di sana.
Semoga saja Rindu cepat datang. Rasanya Arum tak sabar ingin segera memergoki keduanya yang tengah bermesraan.
"Arum, malah bengong...ayok." Rindu berteriak dari dalam mobilnya.
Arum yang sedang melamun tepat di depan pintu pagar pun langsung tersadar. Ia segera berlari menuju mobil Rindu, masuk kedalam dengan cepat.
"jadi, lampir itu menginap di penginapan dekat kantor suami mu?"
"iya. tadi aku sempat membaca pesannya saat mas Arga bersiap-siap. Dia sudah pindah dari kontrakannya dan sedang menginap di sana." Jelas Arum.
Rindu tersenyum, tak sabar sekali ingin melabrak keduanya. Mobil merah itu pun melaju dengan cepat.
Di sisi lain, Arga nampak senang. Pria itu keluar dari mobil. Di sana sudah ada yang menunggunya, seorang wanita dengan gadis kecil kira-kira berusia 2 tahunan.
"mas."
"maaf ya, semalam mas ketiduran. jadi tak sempat kirim pesan." Arga memeluk wanita bertubuh semampai itu lalu menggendong sang gadis kecil.
"putri kecilnya papah. cantik sekali." Ujarnya gemas.
Ketiganya pun segera masuk kedalam mobil. Mereka memang berencana akan pulang kerumah orangtua si wanita.
Rindu maupun Arum terdiam di tempat, shock melihat adegan di depannya. Bagaimana bisa Arga dengan seorang wanita juga anak kecil. Keduanya saling pandang, mereka jadi bingung sendiri.
Arum yakin itu wanita yang di lihatnya waktu di restoran, tapi anak kecil itu entahlah ia tak tahu.
"apa jangan-jangan Arga sudah menikah lebih dulu dengan wanita itu?" Tebak Rindu.
Arum menggigit bibirnya, tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Apa yang sebenarnya terjadi, ia butuh penjelasan.
"aku harus menemui mas Arga. pokoknya aku..."
"tunggu dulu Arum, sebaiknya kita ikuti saja dulu mereka. Jangan bertindak gegabah dulu. Kita cari tahu siapa sebenarnya wanita itu."
Arum sudah menangis. Tak kuat lagi untuk pura-pura kuat. Pertahanannya telah runtuh. Rindu pun mengelus punggung Arum menguatkan sahabatnya.
Dengan emosi Rindu pun menyalakan mesin mobilnya kembali, mengikuti mobil Arga yang kini sudah berbelok.
"kamu yakin Rum, mau mengikuti suamimu?" Tanyanya memastikan.
Melihat Arum yang begitu terpukul membuat Rindu jadi ragu untuk mengikuti Arga. Ia takut akan terjadi hal yang lebih tak di inginkan lagi.
Bagaimana jika memang benar dugaannya, kalau sebenarnya Arum lah yang merupakan wanita kedua dalam hidup Arga.
Arum pasti akan sangat terpukul. Rindu tak ingin hal itu terjadi.
"ikuti saja, aku ingin tahu apa hubungannya mas Arga dengan wanita itu."
"tapi Rum..."
"ku mohon Rin. ikuti terus, aku ingin memastikannya."
Rindu pun menuruti permintaan Arum meski sedikit berat hati. Berdoa dalam hati semoga Arum bisa kuat juga baik-baik saja apapun yang akan terjadi nanti.
Dan Arga nampaknya belum menyadari jika saat ini tengah di buntuti. Pria itu bersenandung kecil seraya sesekali menggoda wanita di sampingnya.
"aku akan beli rumah baru untuk mu dan Rehaya."
"wahh... serius mas?"
"tentu saja. Rehaya kan calon anak ku. jadi apapun keinginannya nanti akan aku penuhi."
Tentu saja wanita berstatus janda beranak satu itu amat bahagia. Ia akan dengan bangga memperkenalkan Arga pada keluarganya.
Ibu dan ayahnya pasti akan bahagia mendapatkan menantu kaya juga baik seperti Arga.
"eh...tapi mas, bagaimana dengan istri mu?"
"dia tetap akan jadi istriku." Arga tak akan pernah menceraikan Arum karena wanita itu segalanya.
Tak bisa ia bayangkan hidup tanpa Arum. Berpacaran tiga tahun lalu menikah selama setengah tahun dengannya membuat Arga tak bisa jauh darinya.
Meskipun ia tahu apa yang sedang di lakukannya saat ini pasti menyakiti Arum. Makanya ia akan menutupi semuanya, menyembunyikan pernikahannya dengan sang selingkuhan. Maka semua pasti akan baik-baik saja.
Egois memang, begitulah Arga.
__ADS_1
#Mohon komen dan juga like nya ya...
Aku pemula di sini. Coba menulis karena hobi baca novel. Jangan lupa jadikan favorit juga..😁