Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
2. Ternyata dia janda


__ADS_3

Arga merangkul pinggang wanita cantik itu mesra. Namanya Madu Sistia. Seorang janda muda berusia 23 tahun. Memiliki anak yang usianya baru 2 tahun.


Pertemuan mereka berawal ketika Arga mengantarkan Arum kerumah sakit untuk berobat karena perutnya yang kram semalaman.


Waktu itu, Madu membawa Rehaya putrinya yang sedang demam tinggi. Menangis di depan rumah sakit seorang diri.


Arga yang merasa kasihan menghampiri Madu. Bertanya ada apa. Lalu kemudian membantunya mengurus segalanya, mulai dari biaya pendaftaran hingga melunasi semuanya.


Madu sangat berterimakasih. Ia meminta nomor telepon Arga dengan beralasan agar saat ia memiliki uang akan membayarnya.


Tapi nyatanya, itu semua menjadi awal kedekatan mereka. Entah kenapa Arga begitu terenyuh melihat Rehaya. Gadis kecil itu kurang beruntung, sang ayah tak menerima kehadirannya. Di telantarkan sejak dalam kandungan.


Mendengar kisah itu membuat Arga bersimpati pada Madu. Wanita yang lebih muda dari istrinya itu sangat mandiri, membesarkan seorang anak sendirian. Hingga ide gila itu muncul. Arga meminta Madu untuk menjadi istri kedua.


Dia butuh seorang anak dan Rehaya sudah menarik perhatiannya. Lalu Madu dan Rehaya pun butuh pelindung. Maka hal itu pun terjadi.


Hubungan mereka berlanjut ke hal yang lebih serius, Arga bahkan lama-lama mulai merasakan cinta terhadap Madu. Mengenalnya selama sebulan membuat hatinya berdebar.


Wajah cantiknya, sikapnya yang ke ibuan juga hal kecil lainnya mampu membuat Arga tergila-gila. Hingga ia pun tega mengkhianati Arum. Melupakan jika Arum adalah wanita yang selalu ada di sampingnya selama ini.


Setibanya di rumah Madu, Arga langsung keluar dari mobil. Menggendong Rehaya dengan penuh perhatian.


Madu bahkan memegang satu tangannya yang lain. Mereka nampak mesra juga terlihat seperti keluarga yang bahagia.


Pemandangan menyakitkan itu tak lepas dari perhatian Arum. Wanita itu menahan rasa sakit mati-matian. Dadanya bergemuruh hebat.


"Arum..."


"kita balik." Ujarnya dengan suara tertahan.


Arum tak bisa muncul di hadapan Arga saat ini. Tubuhnya terasa lemas, ia tak kuat melihat semuanya. Pikiran buruk terus memenuhi isi kepalanya.


Rindu yang merasa Arga sudah sangat keterlaluan tak mendengar ucapan Arum. Ia keluar lalu berjalan dengan cepat.


"rindu..."


"aku tak akan biarkan siapapun menyakiti sahabatku." Desis Rindu.


Arga dan Madu bersalaman dengan seorang wanita renta. Sudah di pastikan itu ibunya Madu. Mereka hendak masuk kedalam rumah, hingga sebuah tarikan keras pada baju Arga membuat pria itu hampir saja terjatuh.


"brengs*k..." Maki Rindu seraya melayangkan tamparan di pipi kiri Arga.


Madu berteriak kaget, ia segera mengambil Rehaya lalu menyerahkannya pada Retno, ibunya.


"ibu, bawa Rehaya masuk." Titahnya.


Wanita berkulit keriput itu tak banyak bertanya, langsung saja membawa cucunya masuk kedalam.


Sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama ini Madu sering bercerita padanya bahwa calon suaminya sudah memiliki istri. Retno tak mempersalahkan itu, baginya asalkan anak dan cucunya bisa bahagia jadi istri kedua, ketiga atau keberapa pun tak masalah.


Dari dulu Retno memang menginginkan menantu yang mapan. Jadi begitu mendengar tentang Arga, ia tak pikir panjang lagi. Langsung merestuinya. Karena menurutnya poligami itu hal yang wajar bagi seorang pria kaya macam Arga.


"kau..." Arga hendak membentak pelaku penamparan terhadapnya, tapi suaranya menggantung di udara begitu melihat wajah Rindu.


"mas, tak apa?" Madu mengusap pipi Arga yang memerah.


"cih... Bagus sekali, kau berselingkuh." Desis Rindu. "dia jal*ng mu?" Tunjuknya pada Madu.


Madu menepis tangan Rindu. Tak terima dengan perkataannya.


"siapa kau? aku tahu istri mas Arga bukan kamu?" Ujarnya.


Madu memang sudah di beritahu soal Arum, bahkan melihat fotonya.


"tak perlu kepo. aku hanya mau katakan,jauhi Arga atau..."


"jangan ikut campur dalam urusan pribadi ku. kau hanyalah teman Arum. Tak berhak ikut campur." Sela Arga.


Rindu terkekeh, merasa lucu.


"benarkah? lalu jika Arum sendiri yang turun tangan bagaimana?" Tuturnya sembari melihat kearah mobilnya.


Arga dan Madu pun mengikuti arah pandang Rindu. Mata keduanya membulat sempurna.


"A...Arum..." Arga terkecat, berjalan mendekati mobil Rindu dengan perasaan tak menentu.


Arum memalingkan wajahnya tak ingin melihat Arga. Menutup telinganya dengan kedua tangan begitu pria itu menggedor pintu mobil meminta untuk di buka.


"sana, kau merusak mobil ku." Rindu mendorong tubuh Arga, lalu ia mengetuk pelan kaca mobil.


"Arum, keluarlah. kita selesaikan hari ini juga." Pinta Rindu.


Arum menggelengkan kepalanya. Ia tak sanggup untuk bertatap muka dengan Arga saat ini. Hanya ingin sendiri dan tak ingin bertemu pria itu lagi. Hatinya sakit, kecewa juga marah.

__ADS_1


Arga terus memohon padanya. Madu bahkan hanya diam, tak tahu harus berbuat apa. Wanita itu merasa takut jika Arga akan membatalkan niatnya untuk menikahi dirinya. Bagaimana juga itu tak boleh terjadi.


"mas, sudahlah. biarkanlah mbak Arum sendiri dulu." Ujarnya seraya menarik lengan Arga.


Rindu berdecih.


"dasar wanita gatel."


"apa kamu bilang?" Madu menatap Rindu kesal.


"ngerasa ya? baguslah." Ujarnya lagi lalu masuk kedalam mobil, meninggalkan keduanya.


"Arum.... tunggu..." Arga berlari mengejar mobil.


Tak bisa begini, Arum tak boleh meninggalkannya. Ia tak bisa kehilangan Arum begitu saja.


"Madu, aku akan kembali lagi nanti." Katanya sembari berlari menuju mobilnya lalu pergi.


Madu mematung di tempatnya. Hatinya semakin gelisah. Takut jika Arga akan meninggalkannya. Lalu apa yang terjadi nanti, apa dia dan putri nya harus hidup susah lagi.


Selama ini, Arga telah menanggung segalanya. Semua keinginan Rehaya terpenuhi. Gadis kecil itu bahagia juga sudah memanggil Arga dengan sebutan papah.


Madu tak ingin putri nya bersedih. Apapun caranya harus tetap membujuk Arga agar menikahinya.


...***************...


Arum membanting pintu kamarnya, menguncinya dari dalam. Menangis keras seorang diri. Rindu hanya bisa menghela nafas panjang, duduk di kursi tamu dengan wajah marah.


Ia semakin marah kala melihat Arga masuk kedalam.


"ku pikir kau akan bertahan dengan wanita busuk itu." Decih nya.


"pulanglah, kau hanya akan menambah masalah." Usir Arga.


Rindu beranjak dari duduknya. Menatap Arga tajam.


"awas saja jika kau menyakiti sahabatku. tak hanya wajahmu yang akan hancur tapi seluruh tubuhmu akan aku potong." Ancamnya lalu pergi.


Arga menghembuskan nafas kasar. Seorang wanita bukanlah lawannya. Ia sadar, pria tak sepantasnya bertengkar dengan wanita.


Tok...Tok...


Perlahan Arga mengetuk pintu kamar. Dapat ia dengar suara tangis Arum dari dalam sana.


"Arum, mas mau bicara."


Terdengar bantingan barang di dalam sana bersamaan dengan teriakan Arum.


"pergi. aku tak mau melihat wajah mu lagi."


"Arum, mas mohon. mas akan jelaskan semuanya. setelah itu terserah padamu mau apa." Bujuknya.


Arum menghapus airmatanya.


"jika aku minta tinggalkan wanita itu?"


"apapun Arum, asal kau buka pintu ini. kita bicara."


Tak lama terdengar kunci di buka, pintu bercat coklat itu terbuka. Menampakan Arum yang sangat berantakan. Wajahnya sayu, mata bekak juga rambut yang berantakan. Keadaan kamar pun tak jauh berbeda, semua bantal sudah berserakan di lantai. Selimut hingga seprei pun tak di tempatnya lagi.


Arga merasa bersalah, ia langsung memeluk tubuh kecil itu. Meminta maaf juga mencium puncak kepalanya. Arum diam, tak menolak ataupun membalas pelukan Arga.


Dengan pelan Arga mendudukkan Arum di kursi sementara dirinya bersimpuh di hadapan wanita itu.


"maafkan mas, mas khilaf. Terlalu memikirkan diri sendiri." Ucapnya. "mas hanya ingin seorang anak."


Pengakuan Arga membuat Arum menarik tangannya yang sedang di genggam. Hatinya semakin terasa tercabik. Jadi, semua karena kekurangan yang dimiliki olehnya.


"sejak kapan?"


Arga pun menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir, tak ada yang ia lewatkan juga kurangi atau di tambahkan. Arga mengatakan semuanya secara jujur.


Perihal Madu yang seorang janda pun tak ia lewatkan, memberitahu semua pada Arum.


"jadi..."


"mas putuskan dia." Pinta Arum, tegas dan tak terbantahkan.


Arga bergeming. Hatinya terasa berat menerima permintaan itu. Ia sudah sangat menyayang Rehaya seperti putrinya sendiri juga kebersamaannya dengan Madu terasa nyaman.


"mas, menyayangi Rehaya." Lirihnya pelan namun Arum dapat mendengar semua dengan jelas.


"kita bisa adopsi gadis itu tapi..." Arum menatap wajah Arga. "jauhi ibunya."

__ADS_1


"Arum, kamu mau memisahkan mereka. Rehaya masih kecil dia butuh ibunya. apa kamu tega?"


"jadi mas lebih tega melihatku menderita? mas menginginkan ibunya juga? lalu bagaimana dengan ku?"


Arga tak bisa lagi menahan segalanya. Selama ini bersabar tapi untuk saat ini ia tak bisa mengabulkan permohonan Arum. Ia pun menginginkan keturunan, meski bukan dari darah dagingnya sendiri.


"Arum, mengertilah. mas menginginkan anak. Sementara kamu tak bisa memberi itu."


Hati Arum bagaikan tersayat. Baru kali ini Arga mempersalahkan soal keturunan.


"Kau tak bisa hamil Rum. Tapi Madu bisa bahkan ia sudah punya anak. mas juga ingin merasakan bahagia." Arga seolah lupa dengan janjinya untuk menerima keadaan Arum.


Pria itu semakin mementingkan dirinya. Bahkan terus saja membandingkan Arum dengan Madu tanpa ia sadari.


"beri aku waktu." Arum berdiri dari duduknya. "jangan ikuti aku." Pintanya saat melihat Arga akan menyusulnya.


Wanita itu menangis dalam diam. Kenapa harus sekejam ini nasib nya. Seandainya saja ia sempurna seperti para wanita lain, melahirkan seorang anak maka tak akan merasakan sesakit ini.


Arga mengacak rambutnya frustasi. Apa yang baru saja ia katakan di luar kendali nya. Semua keluar begitu saja tanpa terkendali. Di sisi lain ia tak sanggup melihat Arum begitu terpukul tapi sisi egoisnya lebih memimpin, Arga tetap akan mempertahankan hubungannya dengan Madu.


Berharap Arum akan menerima kenyataan ini suatu saat nanti. Madu adalah wanita baik, pasti mereka akan akur jika tinggal satu atap. Madu juga tak banyak menuntut hanya menginginkan kasih sayang bagi Rehaya.


Tapi, apa itu semua benar. Apa Madu sebaik itu?


Madu memeluk Rehaya yang menangis karena Arga pergi begitu saja. Anak kecil itu ingin bersama Arga.


"jadi tadi itu istrinya?" Tanya Retno.


"diam nak, nanti papah kembali." Madu mencoba menenangkan Rehaya. "bukan Bu, itu teman istrinya."


"loh, ibu kira istrinya. kenapa dia pukul calon suami kalau begitu? apa urusannya." Retno nampak geram mengingat kejadian tadi.


Baginya tindakan wanita yang sempat ia kira istri dari calon suaminya tak masuk akal. Kenapa harus ikut campur urusan orang lain.


"mungkin karena ia kesal melihat suami temannya selingkuh." Tutur Madu dengan wajah sendu. "Bu, apa aku mundur saja ya? lagipula sepertinya mas Arga begitu mencintai istrinya. aku hanya di jadikan tempat menghasilkan anak jikalau jadi istri juga."


Retno menggelengkan kepalanya. Tak boleh mundur, putrinya hanya tinggal selangkah lagi menjadi orang kaya. Tak peduli jadi istri siri atau pun hanya sekedar pelampiasan suami orang. Yang terpenting uang mengalir ke kantongnya, dengan begitu Madu bisa menunjukkan pada mantan suaminya jika Madu bisa hidup bahagia meski tanpa adanya dia di sisinya.


"jangan berpikir begitu, kamu bilang ingin menunjukkan pada Amar, kalau kamu bisa bahagia bahkan lebih bahagia. Amar tak akan mengejek mu lagi Madu. Pria itu akan bungkam saat nanti melihat mu jadi istri orang kaya." Retno terus mengompori, tak ingin apa yang telah di capai pupus begitu saja.


Madu pun terdiam. Termakan kembali oleh omongan ibunya. Memang dulu sempat menolak tawaran Arga, tapi mengingat mantan suaminya yang telah menghinanya mengatakan jika Madu tak akan pernah bisa mendapatkan seorang pria yang mapan membuat wanita itu nekat.


Tak peduli soal Arga yang telah beristri. Madu akan tetap memilih jalannya, menjadi istri kedua. Soal istri pertamanya akan dia pikirkan nanti. Lagipula Arga telah berjanji akan melakukan hal yang adil terhadapnya juga istrinya.


...**************...


Keesokannya, Arum keluar dari kamar dengan penampilan yang begitu berantakan. Lingkaran hitam jelas di matanya menunjukkan jika semalam ia tak bisa tidur nyenyak. Kelopaknya bahkan membengkak.


Sudah ia pikirkan semalaman. Pagi ini akan ia putuskan.


"Arum, kamu sakit?" Arga yang tertidur di sofa ruang tamu terbangun. Betapa terkejutnya ia melihat penampilan istrinya.


Wanita itu hanya melihat Arga sekilas. Tak perduli lagi dengan pria itu. Hatinya sakit, tak ingin sekali melihat ataupun mendengar suaranya.


"Arum..." Arga mencekal lengannya.


Langkahnya menuju dapur tertahan. Arum menepis tangan Arga.


"kamu bertanya aku sakit? tentu saja. jadi jauhi aku." Ketusnya, tak ada lagi suara lembut juga sebutan mas bagi pria itu. Rasa hormatnya menghilang.


Arga tertegun. Baru kali ini Arum berkata sebegitu ketusnya, bahkan menyebut dirinya dengan sebutan kamu.


"kita bicarakan dengan orangtua kita soal keinginan mu." Ujar Arum lagi membuat Arga mematung di tempatnya.


Kenapa ia tak terpikirkan sebelumnya. Bagaimana nanti reaksi orangtua dan mertuanya jika tahu soal perbuatannya. Arga terdiam, sejenak berpikir.


"Arum, kita sembunyikan ini dari mereka." Ujarnya dengan enteng.


Arum menatap Arga tak percaya.


"apa kamu bilang?"


"ibu dan ayah akan sangat marah besar jika tahu mas akan menikah lagi. apalagi orangtuamu Rum. mas bisa di pukul habis-habisan." Arga sadar jika Arum merupakan menantu kesayangan juga putri paling di cintai dalam keluarganya.


Arum putri satu-satunya, jadi ia begitu di sayangi oleh ayah dan ibunya. Begitu juga oleh kedua orangtua Arga. Sebagai menantu wanita satu-satunya membuat Arum jadi nomor satu di keluarganya. Apalagi selama ini sikap Arum sangat baik, membuat ibu Arga menyayanginya.


"pengecut." Desis Arum.


Tak menyangka ia akan melihat sisi lain suaminya sekarang. Baru menikah setengah tahun tapi sudah menunjukan keburukannya. Sungguh Arum tak menyangka, Arga yang ia kenal baik, jujur juga dewasa itu bisa bersikap begitu pengecut hanya karena seorang wanita.


"mas mohon Arum." Arga bersimpuh. "mas hanya ingin seorang anak. kamu mengertilah. dalam hati mas hanya ada kamu, tak akan terganti."


Lagi-lagi perkataan Arga membuat Arum semakin merasa terpuruk. Sebegitu inginnya pria itu mendapatkan keturunan dan dia tak bisa mengabulkannya.

__ADS_1


Setetes bening mengalir begitu saja. Tubuh Arum ambruk seketika, pandangannya menggelap. Terlalu stres membuat wanita itu akhirnya tak bisa lagi menahan segalanya.


...**************...


__ADS_2