Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
13. Tak ada mantan menantu


__ADS_3

Suasana cukup tegang. Raut wajah Daren nampak tak bersahabat. Ia menatap kedua besannya yang kini duduk di hadapannya. Merasa kecewa karena keduanya tak memberitahunya. Padahal sudah jelas Arum adalah putri kesayangannya, tak ada yang boleh menyakiti Arum apalagi sampai membuatnya terluka seperti ini.


"kalian menutupi semuanya demi melindungi putra kalian?" Tuduh Daren.


Romzi menghela nafas.


"maafkan kami, Daren. Tapi..."


"Ayah, aku yang meminta ayah dan mamah untuk tidak memberitahu kalian. aku..." Arum segera menyela, meski tahu menyela obrolan orangtua itu tak baik.


Daren langsung melihat Arum meminta penjelasan.


"Aku hanya tak ingin kalian kecewa atas kegagalan ku dalam membina hubungan ini. Ayah selalu bilang, sepahit apapun keadaan rumah tangga kita, jangan sampai terdengar oleh orang luar apalagi orangtua. kita harus bisa menyelesaikan segalanya dengan dewasa, tanpa campur tangan siapapun." Ucapan Arum membuat Daren langsung bungkam.


Memang benar, ia selalu mengatakan itu sebelum Arum menikah. Daren hanya ingin putrinya menjadi wanita yang kuat, tak banyak mengeluh dan mendengar pendapat orang lain perihal rumah tangganya.


Semuanya terdiam tak ada lagi yang membuka suara. Mereka hanya bingung harus bicara dari arah mana lagi.


Romzi pun berdeham pelan. Ia kembali meminta maaf kepada Daren dan Hasna. Bagaimana juga Arga adalah putranya yang telah menyakiti putri mereka.


"Daren, aku sebagai ayah Arga meminta maaf pada mu. Terserah padamu mau memaafkan kami atau tidak. Tapi..." Romzi melirik Raya, meminta wanita itu untuk ikut bicara.


Raya pun menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Arum. Ia genggam jemari tangan menantunya itu, bagaimana pun Arum akan tetap menjadi menantunya meski pun hubungannya dengan Arga telah putus.


"Kami menyayangi Arum. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Lagipula tak ada mantan menantu dalam kamus ku. Ku mohon, izinkan Arum tetap tinggal di sini. Rumah ini kami berikan padanya bahkan semua surat tanah dan bangunan yang ada di sini atas nama Arum." Jelas Raya dengan mata berkaca-kaca.


Rasanya berat jika dia harus kehilangan Arum. Arga sudah pergi jauh sekarang yang tentu saja tak tahu akan kembali, ia tak mau jika harus di tinggalkan oleh Arum.


Daren dan Hasna saling bertatapan, mereka tahu jika Raya begitu menyayangi putrinya. Itulah sebabnya mereka merasa tenang waktu Arum mengatakan ingin tinggal terpisah dengan mereka. Dengan alasan tak ingin menumpang di rumah orangtuanya.


Karena Daren tahu, Raya dan Romzi pasti akan sangat memperhatikan Arum tanpa mereka pinta.


Arum pun memeluk Raya yang kini menangis. Hasna sebagai seorang ibu pun jadi ikut terharu. Sulit sekali menemukan mertua yang begitu baik dan tulus mencintai menantunya. Arum sungguh beruntung hanya saja di balik keberuntungan itu ada kesialan. Kenapa Arga tega mengkhianati Arum.


"Semua terserah pada Arum." Ucap Daren.


"Raya, jangan menangis. aku berterimakasih padamu karena menyayangi anakku." Hasna mengelus pundak Raya sambil tersenyum tipis.


Suasana yang tadinya tegang kini mulai terasa lebih baik. Mereka tak lagi saling pandang dengan tatapan tajam. Daren bahkan sudah menunjukkan raut ramahnya kepada Romzi dan Raya.


Mereka putuskan untuk tetap menjalin kekeluargaan meskipun Arum dan Arga bukan lagi sepasang suami-istri.

__ADS_1


...***************...


Arga menatap Jessie tak suka. Wanita itu terus saja mengoceh sepanjang hari. Dari pagi hingga siang kerjaannya hanya bicara. Sedikit bekerja dan banyak bicara, tipe wanita yang sangat di benci Arga.


"lalu apa kaki mu sekarang mulai jarang terasa kebas lagi? jika di cubit begini terasa sakit bukan?" Jessie mencubit paha Arga,hanya pelan tapi cukup membuat pria itu meringis.


"Kau pikir seluruh tubuh ku lumpuh?" Ketus Arga sedikit membentak.


Jessie tertawa kecil. Entahlah baginya sikap Arga yang galak dan susah di ajak bicara itu membuatnya semakin tertarik untuk menggoda pria itu.


"Aku tahu, hanya sebatas lutut kebawah." Kekehnya. "aku kan hanya bercanda."


Arga memutar kursi rodanya, malas sekali harus berduaan dengan wanita yang banyak bicara.


Jessie buru-buru meletakkan piring berisi buah pir itu keatas meja lalu segera menyusul Arga yang masuk kekamar.


"Abang..." Panggilnya dengan rengekan yang biasanya selalu berhasil membuat siapa saja langsung luluh.


Tapi, beda hal nya dengan Arga. Pria itu menulikan pendengarannya.


Brak...


Menutup pintu depan keras lalu menguncinya.


"kenapa mas Arga begitu? apa mas masih mengingat mantan istri mu? dia tak peduli padamu untuk apa..."


"Jessie, cukup." Yohan langsung menarik tangan Jessie menjauh dari kamar Arga.


Pria itu hampir saja membentak putri angkatnya itu.


"Daddy?"


"Jess, Daddy memintamu untuk mengurus keperluan Arga. kenapa kamu bertingkah seperti itu?"


Jessie menepis tangan Yohan. Wanita berusia 19 tahun itu langsung membuang pandangannya kearah bawah, matanya menatap lantai marmer dengan gelisah.


"Dad, aku menyukai mas Arga. setiap mendengar Daddy menceritakan tentangnya aku selalu merasa berdebar dan..." Jessie menengadah, menatap Yohan dengan mata berair. "sekarang aku bertemu langsung, aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini."


Yohan menarik nafas dalam-dalam. Pengakuan Jessie membuatnya merasa jika apa yang telah ia lakukan adalah kesalahan besar. Kenapa dulu ia sering bercerita tentang Arga pada wanita ini. Betapa hebatnya Arga, masih muda tapi sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan. Pintar juga berbakti pada orangtua nya.


Andai saja ia tak bercerita itu semua, maka Jessie tak akan merasakan perasaan seperti ini.

__ADS_1


Yohan mengelus kepala Jessie.


"Dengar Jess, Arga itu putra kakakku. Jadi..."


"Jadi apa?" Sela Jessie. "Aku bukan anak kandung Daddy, tak masalah jika aku menikah dengan mas Arga." Teriaknya lalu berlari meninggalkan Yohan.


Arga yang mendengar itu semua dari dalam kamarnya hanya bisa memejamkan matanya. Kenapa harus seperti ini.


"Arum..." Lirih nya.


Arga begitu merindukan sosok Arum. Ia jadi pria yang tak berdaya saat ini. Semangatnya untuk sembuh mendadak sirna begitu mendapatkan pesan dari seseorang.


[Arum bahagia tanpa mu. jadi menjauhlah sebisa mu. jangan usik lagi kebahagiaan temanku.]


Pesan itu Arga dapat beberapa menit yang lalu. Sebuah kalimat yang cukup membuat Arga lemas di tambah beberapa foto Arum bersama seorang pria, mereka tengah makan bersama. Memang jelas, Arum nampak bahagia. Senyumnya begitu lebar dan matanya berbinar.


Hatinya bergemuruh hebat kala melihat wajah si pria. Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


"Jadi...kamu kembali." Desisnya.


...**************...


Gio dan Rindu bertos ria. Mereka terlihat senang karena telah berhasil membuat Arga kacau.


"Pria itu pasti sedang galau sekarang." Rindu tertawa terpingkal membayangkan betapa marahnya Arga saat ini.


"Aku ingin membalas semua rasa sakitku dulu. Sekarang aku akan merebutnya."


Rindu merangkul pundak Gio.


"Bagus dan bagaimana keadaan Tante?"


"Cukup baik, tadi malam aku mengajak Arum."


"oh...ya, lalu bagaimana?" Rindu nampak penasaran.


Gio menghela nafas berat.


"Arum marah."


Kening Rindu mengernyit. Gio pun mengatakan semuanya. Wanita itu hanya bisa menepuk bahu Gio sebagai tanda penyemangat. Ia hanya berharap Arum akan bahagia dan Gio adalah pria yang tepat.

__ADS_1


Mungkin Rindu terlalu banyak ikut campur, ia pun sadar akan itu. Tapi tujuannya baik, ia hanya ingin sahabatnya bahagia tak lebih.


...*************...


__ADS_2