Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
14. Biasa sendiri


__ADS_3

Empat bulan berlalu. Arum sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Ia bekerja sebagai guru TK di pagi hari dan jika siang Arum akan menemui Raya, menemani wanita tua itu seharian penuh.


Hanya mengobrol atau kadang mereka pergi belanja. Terkadang Rindu juga ikut bergabung dengan mereka, seperti siang ini.


Rindu membawa banyak makanan ringan juga minuman kaleng. Rencananya mereka akan menonton drama Korea terbaru di rumah Raya.


Jangan salah, meski Raya tak muda lagi tapi ia sangat menyukai drama-drama melow. Itulah kenapa ia dan Arum nampak akrab, keduanya memiliki kesamaan.


"Tante, aku bawa keripik singkong dan talas. ini enak loh." Rindu mengeluarkan semua bawaannya keatas meja. "juga ada ini..." Tiga kaleng minuman bersoda ia keluarkan dengan cepat.


Arum mendelik tajam. Tangannya dengan cepat merebut minuman itu.


"kamu ini, mamah tak minum beginian." Cetusnya.


"Sudahlah, mamah minum jus jeruk saja. ada kok di kulkas." Raya beranjak dari duduknya hendak kedapur.


"biar aku saja Tante." Rindu dengan cepat berlari kedapur membuat Arum dan Raya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rindu.


Setelah semuanya siap, Arum pun segera memutar filmnya. Raya duduk di tengah antara Arum dan Rindu. Wanita itu nampak bahagia, semenjak kedua wanita muda ini sering bermain kerumahnya.


Tak ada lagi rasa sepi di hatinya. Untuk sejenak ia bisa melupakan kesedihannya karena Arga yang selalu menolak untuk di hubungi. Putranya itu seolah menghindari dirinya, setiap di hubungi pasti Yohan yang menjawab dan mengatakan jika Arga tak mau bicara dan tak ingin di ganggu oleh siapapun.


Ketika sedang serius menonton tiba-tiba ponsel Arum bergetar, sengaja ia tak menyalakan deringnya karena takut terganggu.


Drrrt...Drrrtt...


"Rum, sepertinya ponselmu?" Raya melirik tas Arum yang tergeletak di atas meja.


Arum dengan malas meraih tas nya lalu mengambil ponselnya. Menghembuskan nafas kasar ketika melihat nama yang tertera di layar.


"mau apalagi sih." Arum merasa risih. Ia pun melemparkan ponsel itu kepada Rindu.


"apa?" Tanya Rindu bingung menatap Arum.


"Gio. aku bosan, pria itu terus saja mengganggu ku."


Rindu langsung berdiri, menjauhi Arum dan Raya. Sementara Arum sendiri menjadi tak mood untuk nonton. Terlanjur kesal.


"Gio siapa?" Tanya Raya.


"Itu mah, temanku sewaktu SMA dulu."

__ADS_1


Raya tersenyum kecil. Mengelus kepala Arum lembut.


"Dia terus menghubungi mu?"


"mmm... aku tak suka."


Raya terdiam. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Tapi mendengar ada pria yang berusaha mendekati Arum membuatnya cemas. Ia takut Arum akan pergi dari sampingnya.


Di luar rumah, tepat di teras. Rindu terlihat mengomel, memarahi Gio. Wanita itu lama-lama jadi kesal juga. Kenapa susah sekali memberi nasihat padanya. Padahal sudah sering dia katakan jika ingin mendekati Arum jangan dengan cara berlebihan. Arum tak suka pria agresif.


"Bodoh, kamu punya otak ga sih? Cape aku kasih tahu nya."


"Iya, aku tahu. tapi Arum sulit di dekati. Ini sudah berbulan-bulan tapi Arum belum juga aku taklukan." Terdengar suara Gio yang nampak putus asa.


Rindu menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu yang ada di sana.


"Lakukan seperti yang aku katakan, hanya perlu memperhatikan dia secara pelan-pelan. Jika dia sakit kamu tengoklah dia. Jika Arum butuh tumpangan waktu mau kesekolah, kamu antar dia. apa susahnya sih, jangan meneror lewat telpon seperti ini." Nasihat Rindu.


Selebihnya tak ada lagi percakapan diantara mereka. Rindu langsung mematikan panggilannya dan kembali masuk kedalam.


"loh...kok TV nya di matiin?" Tanya Rindu heran.


"Aku hanya bilang kamu sedang sibuk."


Raya menyipitkan matanya menatap Rindu. Perasaannya mengatakan jika ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan. Kenapa Arum begitu percaya padanya.


...**************...


Arga terus saja diam. Selama ini ia jarang bicara bahkan hanya duduk saja di atas kursi rodanya. Menyendiri di dalam kamar seharian.


Ia hanya merasa malas dan tak memiliki semangat untuk hidup. Apalagi hampir setiap minggunya akan ada sebuah pesan masuk yang mengatakan jika Arum baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik di banding ketika bersamanya.


Foto kebersamaan Arum dengan pria lain pun membuat Arga jadi tak memiliki keinginan untuk sembuh.


Krieet...


Jessie membuka pintu kamar dengan pelan, matanya menelisik melihat keseluruh ruangan. Lagi-lagi ia harus mendapati Arga yang duduk melamun menghadap jendela.


"Mas, kamu mau makan?" Tawarnya. Kali ini Jessie tak berani masuk kedalam kamar sebelum Arga memintanya.


Wanita itu terlalu takut. Takut jika kejadian bulan lalu terulang. Di mana Arga yang mengamuk dan marah kepadanya, hanya gara-gara Jessie masuk kedalam kamar lalu melihat ponsel Arga. Melihat beberapa foto yang ada di gelari ponsel itu.

__ADS_1


Tindakannya memang lancang, tapi waktu itu Jessie begitu penasaran saat melihat ponsel itu tergeletak di atas kasur begitu saja. Arga pun salahnya tak pernah menggunakan kunci atau sandi apapun, jadi siapa saja bisa dengan mudah mengacak-acak isi gawainya.


Arga membalin kursi rodanya. Sikap Jessie yang sedikit lebih tenang juga jarang bicara itu kini membuat Arga merasa lebih baik.


"Taruh saja di sana lalu pergilah." Ujarnya.


Jessie pun masuk, meletakkan nampan berisi satu piring nasi dan segelas air putih. Ia hendak bertanya kembali tapi Arga dengan cepat mengusirnya.


"pergilah."


Wanita muda itu pun langsung keluar.


"jika butuh sesuatu lagi aku ada di kamar." Ucap Jessie sebelum menutup pintunya.


Arga tak peduli. Ia kembali memandang kearah luar melalui jendela kecil yang ada di kamar itu. Di luar sedikit mendung bahkan rintikan hujan mulai terlihat sedikit demi sedikit.


Ia tak pernah lupa dan tak akan lupa dengan Arum. Ingatannya selalu mengarah pada wanita itu. Berharap Tuhan memberikan kesempatan baginya, mengembalikannya ke masa lalu di mana dirinya dan Arum baru pertama kali bertemu.


Masa-masa yang begitu indah dan penuh cinta. Arga merindukan itu semua. Perhatian Arum, kelembutan juga sosok itu begitu melekat di hatinya.


Jessie sebenarnya tak benar-benar pergi meninggalkan kamar Arga. Ia menyender pada pintu, tubuhnya perlahan merosot.


"mas, apa tak ada kesempatan bagiku." Lirihnya.


Jessie mencintai Arga dengan tulus. Wanita ini tak pernah sekalipun berpacaran tapi ia tahu jika perasaannya pada Arga adalah sebuah rasa cinta. Pria itu adalah pria pertama yang menarik perhatiannya. Setiap hari bahkan Jessie selalu mengkhawatirkannya.


"Jess." Seru Yohan.


"Daddy."


Yohan merasa sedih dengan apa yang di alami Jessie. Kenapa harus Arga yang menjadi cinta pertamanya. Yohan mengulurkan tangannya untuk membantu Jessie berdiri.


Ia ingat tangan itu sangat mungil dulu. Kotor dan banyak luka di tubuhnya. Jessie kecil waktu itu di temukan Yohan di pinggir jalan. Tubuhnya penuh noda darah, tangan dan kaki nya di penuhi luka gores yang cukup banyak.


Bahkan baju yang di gunakannya sobek di mana-mana. Dengan cepat ia melarikan Jessie kerumah sakit, mengobatinya hingga benar-benar sembuh.


Hingga akhirnya Jessie pulih kembali, ia memohon pada Yohan untuk membawanya pulang. Berkata jika ayahnya jahat dan telah membuat ibunya terjatuh dari jembatan yang begitu tinggi.


Yohan iba, maka dengan cepat ia mengadopsi Jessie. Meski dirinya belum menikah tapi tekadnya kuat. Ia akan menjadi ayah baginya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2