
"aku bisa pulang sendiri." Ketus Arum sembari menepis tangan Gio.
Rasa kesal karena ulah pria itu yang seenaknya mengakui dirinya sebagai pacar tentu saja belum hilang. Mungkin selama di ruangan tadi ia bisa bersikap seolah semuanya benar demi menjaga perasaan ibu Gio.
Setelah berada di luar seperti ini, Arum tak bisa lagi berpura-pura.
"aku minta maaf Arum. Lagipula status mu janda, jadi..."
"Cukup Gi. jangan membawa status dalam perdebatan ini. aku muak dengan mu, dengan Arga dan dengan semuanya." Pekik Arum, tak tahan lagi.
Gio mengatupkan bibirnya, ia tak bermaksud menyinggung perasaan Arum.
"aku tekankan sekali lagi padamu, kita itu cuma teman tak lebih. Jangan seenaknya lagi, aku pulang." Arum langsung meninggalkan Gio.
Pria itu mengacak rambutnya. Sebenarnya dia hanya ingin lebih dekat dengan Arum. Apalagi setelah tahu keretakan rumah tangga wanita itu, Gio hanya ingin menggantikan posisi Arga di hati Arum.
Dia pikir Arum akan luluh jika melihat kondisi ibunya yang sedang sakit parah. Tapi perkiraannya salah, wanita itu marah besar dan memintanya untuk tidak menggangu dirinya lagi.
Arum menyetop angkutan umum dengan cepat, ingin segera kembali kerumah dan menenangkan pikirannya.
Gio terlalu lancang. Pria itu sudah keterlaluan.
Untung saja jalanan sepi, jadi Arum bisa sampai kerumah dengan lebih cepat. Mobil berwarna putih hijau itu berhenti tepat di depan rumah cat biru dengan pagar besi yang cukup tinggi. Perlahan Arum keluar lalu mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan memberinya pada sang sopir.
"Arum..." Panggilan dari suara yang amat ia kenal dan rindukan menusuk gendang telinganya.
Arum segera berbalik. Tubuhnya seketika menegang begitu mendapati ibu dan ayahnya berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kenapa mereka datang begitu tiba-tiba. Padahal selama ini Arum berharap jika kedua orangtuanya tak akan datang kemari, takut perihal permasalahan dirinya dan Arga terbongkar. Arum belum siap untuk menceritakan segalanya.
"kamu ini, bukannya menyambut kedatangan kami malah bengong saja." Gerutu Hasna, ibunya dengan raut di buat marah.
Sementara Daren, ayahnya hanya tersenyum kecil. Keduanya berjalan mendekati Arum.
"I...ibu... ayah!" Seru Arum sedikit gugup.
Kening Hasna berkerut melihat wajah gelisah Arum. Ia tahu seperti apa putrinya, meski sudah lama tak bertemu tapi ia hafal dengan jelas, gelagat seperti itu menunjukkan jika Arum sedang tak baik-baik saja.
"ada apa? kamu dari mana?" Tanya Hasna.
__ADS_1
"biarkan dulu kami masuk Rum. Ayah dan ibu lelah." Daren berucap sembari mengambil tas yang cukup besar dari Hasna.
"ah...i...ya. ayo...Ayah." Arum sebisa mungkin menenangkan hatinya. "ayo Bu."
Mereka pun masuk kedalam. Tapi Hasna merasa ada yang aneh ketika menginjakkan kakinya kedalam. Waktu pertama mereka berkunjung kemari, di dinding bercat putih itu terpajang foto pernikahan Arum dan Arga. Tapi dinding itu kini bersih tak ada foto satu pun.
Lalu ia pun melihat kearah Arum yang sedang menundukkan kepalanya.
"Arum, kemana foto pernikahan kalian?" Tanya Hasna penuh selidik.
Daren pun ikut menatap Arum. Keduanya mulai mencurigai sesuatu.
"apa yang terjadi?" Tanya Daren. "dan di mana suamimu? ini hari libur, tak mungkin dia bekerja bukan?"
Arum semakin tersudut. Rasanya tak mungkin terus berbohong. Hasna dan Daren harus tahu apa yang terjadi. Maka dengan cepat ia pun meminta keduanya untuk duduk.
"Arum akan menceritakan semuanya, ayah dan ibu duduk dulu."
Arum pun menceritakan bagaimana dirinya dan Arga berpisah. Bahkan ia memberitahu Hasna dan Daren jika Arga kini berada di luar negeri, keadaan pria itu tak baik.
Hasna menangis mendengarnya, hatinya ikut terluka dengan apa yang di alami Arum. Selama ini ia pikir putrinya hidup bahagia dengan suaminya, nyatanya semua tak benar. Arum terluka bahkan kini telah berstatus janda.
"Kenapa kamu tak pulang Arum? kami selalu ada untuk mu." Isaknya.
"bagaimana dengan mertuamu?" Daren membuka suaranya setelah diam beberapa saat.
Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya erat. Menahan rasa kesalnya. Seandainya Arga ada di sini, sudah dia pukul pria itu. Beraninya menyakiti putri kesayangannya.
"mereka baik ayah. bahkan Ayah mertua ku lebih mendukungku ketimbang mas Arga." Arum meraih tangan Daren.
"kami ingin bertemu dengan mereka." Tukas Daren.
"ayah..."
"Tenang saja, ayah tak akan memarahi mereka."
Arum mengangguk lalu segera menghubungi Raya, memintanya untuk datang. Meski hatinya ragu. Daren tipe pria yang cepat marah apalagi jika menyangkut orang tersayangnya. Pria itu bisa berbuat apa saja.
...************...
__ADS_1
Arga mengerjapkan matanya berulang kali. Cahaya yang begitu terang membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas. Ia menyipitkan matanya untuk melihat siapa pria yang sedang duduk di samping ranjangnya.
"kamu sudah bangun? bagaimana perasaan mu?" Tanya pria itu.
Suaranya yang manly dan terdengar tegas itu membuat Arga langsung membuka matanya lebar. Ia tahu siapa pria itu.
"Paman Yohan?"
"ya. kamu tak sadarkan diri selama perjalanan. ada apa? kurang sehat?" Meski begitu pria bernama Yohan itu amat perhatian padanya.
Arga menarik nafas dalam-dalam. Berusaha untuk duduk, kepalanya sedikit sakit.
"berbaringlah. paman akan panggilkan Jessie untuk menemanimu."
Arga menurut, kembali berbaring. Rupanya dia sudah sampai di rumah Yohan, Adik sepupu Romzi yang telah menetap cukup lama di Singapura.
Tak lama, Yohan kembali dengan seorang wanita berambut ikal sebahu. Senyumnya merekah begitu melihat Arga.
"hai, kamu sudah bangun?" Sapanya, lembut dan nampak anggun.
Bajunya yang tertutup dan wajahnya yang ayu membuat Arga untuk sekejap terasa terhipnotis. Wanita itu cantik sekali.
"iya."
"Jess, temani Arga. Daddy akan kembali ke kantor." Ucap Yohan.
Arga pun tahu, rupanya Jessie merupakan putri dari Paman nya. Tapi ada yang aneh, bukankah selama ini Yohan tak pernah menikah lalu bagaimana dia bisa memiliki anak.
Jessie tersenyum melihat raut bingung Arga. Setelah kepergian Yohan, wanita itupun mendekati Arga. Duduk di samping ranjang.
"aku putri angkatnya." Jelas Jessie, tahu jika Arga pasti tengah bingung sekarang.
"aku yang akan membantumu selama di sini. Daddy sudah menceritakan semuanya dan..." Jessie nampak ragu mengatakannya. "istri mu...dia..."
"jangan bertanya tentang nya, ku mohon." Pinta Arga. Hatinya masih sakit, ia tak bisa mendengar atau menyebutkan nama itu untuk sekarang.
Arga memalingkan wajahnya kearah kiri mencoba menghindari tatapan Jessie. Wanita itu meremas rok remple yang di pakainya, sikap dingin Arga membuatnya sedikit kecewa.
Padahal dia sangat senang waktu tahu jika Arga akan tinggal di sini. Sudah sangat lama ia ingin bertemu Arga, hanya mendengar ceritanya dari Yohan membuat Jessie penasaran akan dirinya.
__ADS_1
Dalam bayangannya Arga merupakan pria sempurna. Maka sebab itu ia bersedia mengurus pria ini sekarang, tak peduli dengan keadaannya. Tak bisa berjalan bukanlah masalah baginya.
...************ ...