
Arum terjatuh ke lantai, pandangannya terasa gelap. Mendengar ucapan yang di lontarkan Arga membuat Arum shock sehingga kehilangan kesadaran.
Raya dan Romzi langsung mendekat, mencoba membangunkan Arum. Sementara Arga sendiri terkejut, hendak mendekat tapi dengan cepat Romzi menahannya. Menyeret Arga keluar dari rumah.
"kamu memang pria pengecut Arga. Papah kecewa padamu, dari kecil kamu adalah putra kebanggaan papah. tapi sekarang kamu sudah menghancurkan itu, Papah tak akan pernah memaafkan mu."
Arga terdiam. Hatinya bergemuruh.
"sekarang kamu pergi. Mulai detik ini Papah dan mamah mu tak akan sudi lagi melihat wajahmu." Usirnya.
Brak...
Pintu di tutup dengan keras. Lalu terdengar suara pintu di kunci. Arga menarik nafas dalam-dalam. Kedua orangtuanya tentu saja akan kecewa terhadapnya, Arum adalah menantu kesayangan mereka. Dari awal pernikahan saja Arum sudah sangat di manja oleh Raya dan Romzi.
Mereka pasti akan sangat marah saat Arum di sakiti seperti ini.
"padahal aku putra kalian. benar kata Madu, Arum itu hanya ingin merebut kebahagiaan ku saja. Menikah hanya untuk menguasai harta juga kasih sayang dari kalian." Katanya dengan cukup keras, supaya kedua orangtuanya mendengar.
Tentu saja Raya mendengar itu. Wanita paruh baya itu pun semakin kecewa terhadap Arga. Kenapa bisa anaknya berpikir begitu sempit. Padahal dulu Arga dan Arum begitu saling mencintai, keduanya amat sangat serasi. Saling berkorban satu sama lain. Tapi kenapa sekarang seperti ini, gara-gara seorang wanita Arga bisa berbuat gila.
Tak lama terdengar deru mobil, sepertinya Arga sudah pergi. Raya bisa menebaknya pasti anaknya kembali pada selingkuhannya.
"Arum, maafkan mamah yang tak bisa mencegah ini terjadi. Arga sudah membuat mu terluka seperti ini." Hati seorang ibu mana yang tak akan kecewa ketika anak yang selalu di anggapnya berhati baik bisa begitu tega melakukan hal yang buruk.
Apalagi sampai harus menyakiti hati seorang wanita. Raya sendiri tak menyangka jika Arga akan berani mengucapkan kata talak begitu saja terhadap menantunya.
Romzi menghela nafas panjang. Entah apa yang akan ia katakan pada kedua orangtua Arum nanti. Hal ini tak akan mungkin ia tutupi selamanya.
"Mah, sebaiknya kita beritahu Pak Danar juga Bu Sarah."
Raya yang sedang mengoleskan minyak angin di telapak tangan Arum langsung menatapnya lalu mengangguk.
Meski begitu hatinya takut, Sarah akan membawa Arum nanti. Besannya itu memang pernah berkata pada Arga ketika acara pernikahan berlangsung, mereka akan membawa Arum jika sampai Arga menyakitinya. Tak akan pernah lagi mempertemukan keduanya meski maut menjemput.
Raya belum siap berpisah dengan Arum. Ia begitu menyayangi wanita ini. Setetes bening pun membasahi pipinya, matanya yang sipit terpejam agar airmatanya tak keluar.
Romzi meremas bahu Raya kuat, mencoba untuk menguatkan istrinya. Semua kesalahan ada apa Arga, sebagai seorang Ayah, ia akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Meski nanti di caci atau pun di benci oleh orangtua Arum.
"Mah..." Arum mencoba membuka matanya, kepalanya terasa sakit sekali.
__ADS_1
"A...Arum..." Raya menghapus airmatanya.
Arum menggenggam tangan mertuanya dengan kuat. Terisak begitu pilu membuat Raya ikut menangis di buatnya.
"Arum mohon jangan beritahu Ibu dan ayah." Pintanya dengan suara parau.
Sebenarnya Arum mendengar semua yang di katakan keduanya. Ia sudah sadar sedari tadi, hanya saja matanya dan tubuhnya sulit untuk di gerakkan.
"tapi Arum..."
"Arum tak ingin mereka bersedih." Sela Arum cepat.
Romzi pun hanya bisa mengangguk pelan. Raya memeluk tubuh Arum, rasa bersalahnya semakin terasa besar. Padahal dia sudah berjanji akan menjaga Arum, menyayanginya seperti anaknya sendiri. Tapi janji itu harus pupus di tengah jalan karena tingkah Arga.
"Jadi...mas Arga pergi lagi?" Tanyanya.
"jangan kamu pikirkan dia. ada kami di sini, mulai sekarang kamu putri kami Arum." Romzi yakin dengan keputusannya.
Baginya membuang Arga bukanlah hal sulit. Apalagi tergantikan oleh Arum.
Arum menangis pilu. Bagaimana juga cintanya pada Arga sangat besar. Bertahun-tahun berpacaran di tambah hidup seatap selama setengah tahun membuat Arum tak bisa melupakan kenangan manis di antara mereka. Bagaimana manisnya Arga memperlakukan dirinya, perhatiannya juga belaian lembutnya sangat melekat di benaknya.
"Tuhan tak adil padaku." Isaknya.
"jangan bicara seperti ini Arum. Tuhan tahu yang terbaik bagi umatnya." Raya tak mau menantunya menjadi seorang yang dosa hanya karena merasa ketidakadilan ini.
Di dunia ini masih banyak wanita yang bernasib sama dengannya. Raya harap Arum bisa bangkit tanpa harus merasakan luka yang begitu dalam.
...***************...
Arga memijat pelipisnya. Pikirannya benar-benar kalut. Karena emosi dia melontarkan kata itu, kata yang tak seharusnya dia ucapkan. Janjinya untuk terus berada di samping Arum, mau suka ataupun duka telah dia hancurkan sendiri.
Kenapa lidahnya begitu lihai mengatakan kata yang begitu pahit. Arga menyesalinya.
"maafkan mas..." Lirihnya.
Saat ini Arga tengah berada di sebuah cafe. Mencoba untuk menenangkan diri. Ia sengaja tak kembali ke rumah Madu, karena wanita itu bisa terus mendesak untuk segera menikah apalagi jika tahu kalau dirinya telah mentalak Arum.
Niatnya untuk menikahi wanita berwajah cantik itu menjadi sedikit ragu, hatinya terus memikirkan Arum. Apalagi melihat wanita itu pingsan di hadapannya seperti tadi. Arga tak bisa melupakan itu, wajahnya yang terkejut juga tubuh nya yang ambruk begitu saja membuat darahnya terasa berhenti mengalir.
__ADS_1
Tring...
Arga tersadar dari lamunannya. Pesan masuk dari Madu membuatnya mau tak mau beranjak dari duduknya. Wanita itu mengatakan jika Rehaya terus menangis mencarinya.
Tentang Rehaya tentu saja Arga tak bisa menolak. Gadis kecil itu telah mencuri hatinya, Arga menyayanginya layaknya putri sendiri.
Ia pun bergegas untuk pulang menemui Rehaya. Berusaha meyakinkan hatinya kalau apa yang telah terjadi adalah kebaikan baginya.
Kebahagiaan telah menantinya. Mungkin saja setelah berpisah dengan Arum dan menikahi Madu, hidupnya akan jauh lebih baik lagi. Ya, itulah yang Arga yakin kan pada dirinya sendiri untuk mengusir kegelisahan hatinya.
Madu terus membujuk Rehaya agar tak menangis.
"Papah sebentar lagi pulang. Aya jangan nangis ya?"
"Aya mau Papah. Bobo sama papah." Pekiknya sambil melemparkan semua boneka yang ada di atas kasur.
Retno dan Madu sudah kewalahan menghadapinya. Rehaya memang manja, cengeng juga keras kepala. Semua itu karena ia selalu mendapatkan apa yang di inginkannya, menjadikan dirinya menjadi seperti ini.
Gadis kecil itu merasa jika dengan menangis keras dan bersikap nakal maka orangtuanya akan menuruti segalanya untuk membujuknya.
Sekitar setengah jam, akhirnya Arga pun tiba. Pria itu bergegas masuk begitu mendengar tangisan Rehaya yang keras, berjalan cepat masuk kedalam kamar.
"sayang..." Panggilnya.
Rehaya langsung melompat masuk kedalam pelukannya. Gadis kecil itu begitu manja padanya.
Retno dan Madu pun menghela nafas lega. Akhirnya tangis Rehaya berhenti.
"mas, aku buatkan kopi ya." Tawar Madu yang langsung keluar di ikuti Retno.
"Madu, kamu pokoknya harus bisa kuasai Arga. Lihat, putri mu sudah membantumu. Jangan biarkan Arga kembali pada istrinya." Retno kembali mencoba menjejali anaknya sendiri dengan niat tak baik.
Madu terdiam, apa mungkin dia bisa melakukan itu. Sementara dirinya tahu jika Arga sangat mencintai istrinya. Pernikahan yang di rencanakan pun hanya untuk sebuah keturunan saja, Arga tak benar-benar mencintainya. Hanya Rehaya dan rahimnya yang pria itu inginkan.
Wanita itu berpikir keras. Apa ia harus melakukan hal kotor atau cara-cara lainnya untuk menjerat Arga. Seperti apa yang di katakan Retno, buat Arga menceraikan istrinya. Hasut pria itu agar membenci istrinya.
"Bu, aku antarkan kopi ini dulu." Madu pun segera kembali kekamar begitu kopi yang di buatnya selesai.
Retno mengangguk, wanita tua itu duduk di depan TV lalu menyalakannya.
__ADS_1
...**************...