Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
6. Arum Tak Ingin Kembali


__ADS_3

Arga nekat menaiki pagar, meski kesulitan karena pagar yang begitu tinggi. Pria itu tetap bersikeras untuk menemui Arum.


Brug...


Tubuhnya terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Arum yang melihat itu hendak berlari, ada rasa cemas di hatinya. Tapi langkahnya terasa begitu berat begitu bayangan Arga dan Madu berkelebat di pikirannya. Arum mengurungkan niatnya untuk menolong pria itu.


"ada apa Arum?" Raya langsung berlari mendekati Arum begitu juga dengan Romzi.


Mereka belum sadar jika ada Arga di sana. Sampai akhirnya Arga kembali bersuara setelah berusaha bangun dari jatuhnya, kaki dan tangannya terasa nyeri apalagi di bagian lutut. Tapi ia tak hiraukan itu, dengan terpincang berjalan mendekati ketiganya.


"mamah... Papah..." Lirihnya.


Raya dengan sigap langsung menarik tubuh Arum kebelakang tubuhnya, sikapnya membuat Arga menghentikan langkahnya. Ia tertawa miris, bahkan ibunya saja begitu tak percaya padanya. Apa Raya takut jika dirinya akan melukai Arum.


Romzi menyuruh Raya membawa Arum kedalam.


"mah, bawa Arum."


"tidak Pah. aku ingin bicara dengan Arum." Arga dengan cepat menarik tangan Arum.


"lepaskan." Arum sedikit berjengit. "kita sudah..."


"kumohon..." Melihat mata Arga yang begitu memelas membuat Arum menghela nafas berat.


Ia pun perlahan melepaskan tangan Raya dari pergelangannya.


"mah, Pah, Arum akan bicara dengan mas Arga." Putusnya pada akhirnya.


Romzi dan Raya saling melemparkan tatapan lalu mengangguk.


"Arga jangan coba-coba kamu lukai Arum." Romzi seolah tak percaya pada anaknya sendiri.


Arga mendengus.


"aku anakmu Pah, tapi kenapa aku merasa seperti orang asing bagi kalian?"


Romzi tak menghiraukan perkataan Arga, ia masuk kedalam begitu saja di ikuti Raya. Bagi kedua orangtuanya Arga sudah tak bisa lagi di maafkan, bukan hanya menyakiti Arum tapi pria itu telah mengecewakannya.


Arga menghela nafas panjang. Beginilah akibatnya jika ia berulah, Raya dan Romzi benar-benar telah memperlakukan dirinya seperti orang luar saja. Dengan senyum di paksakan ia menatap Arum.


"Arum, aku mencintaimu. Ku harap kamu mau kembali lupakan soal talak yang aku ucapkan waktu itu."


"jangan ngaco mas, kamu plin-plan seperti ini mana bisa aku percaya lagi padamu." Arum terlihat semakin marah di buatnya.


Kenapa Arga bisa seperti ini, menganggap sepele soal pernikahan. Ternyata benar, pria yang telah tercuci otaknya oleh wanita lain akan menjadi gila dan hilang akal.


"kamu tahukan mas itu cinta sama kamu, bertahun-tahun kita pacaran Arum. mas tak pernah mengecewakan mu, hanya sekali ini saja." Ujarnya. "itu pun karena kamu yang..."


"mandul? mas mau berkata begitu kan? sampai kapan mas mau mengerti? semua kata-kata yang mas lontarkan itu menyakiti perasaan ku." Arum menepis tangan Arga yang hendak menyentuhnya.


"maafkan mas, Arum." Arga tak putus asa, bersujud di kaki Arum dengan airmata yang berlinang. "mas hanya ingin bahagia, apa kamu tak mau berkorban sedikit saja?"


Arum menggigit bibirnya kuat, semua perkataan Arga terdengar begitu egois baginya.

__ADS_1


"sebenarnya apa yang ingin mas katakan? kembali padaku atau meminta persetujuan ku untuk mu dan wanita itu menikah?" Suara Arum bergetar.


"mas ingin kita rujuk lalu kita akan tinggal bersama dengan Madu dan anaknya. aku akan jadi ayah dan kamu akan jadi ibu. Bukannya kamu ingin sekali di panggil ibu?"


Arum tak habis pikir dengan Arga. Kenapa pria ini begitu menyedihkan. Secinta dan sesayang dirinya pada Arga tak mungkin ia bisa menerima semuanya. Hatinya sakit, Arum tak sanggup lagi. Dengan kasar ia mengusir Arga.


"pergi, aku tak mau lagi melihat mu. lupakan soal kita dan hiduplah seperti yang kamu inginkan. pergi..." Teriaknya di akhir.


Brak...


Arum masuk kedalam, membanting pintu depan cukup keras. Keputusannya tapi tergoyahkan, ia tak akan menerima Arga lagi kecuali pria itu meninggalkan Madu.


Arga bergeming, mengepalkan tangannya erat.


"apa susahnya kamu menerima Madu? dia begitu baik." Masih saja, Arga mengatakan hal yang begitu tak masuk akal.


Wanita mana yang akan menerima poligami dalam rumahtangga nya, kecuali mungkin jika stok sabar yang dimilikinya tak pernah ada kata habis. Tapi Arum hanya wanita biasa, kesabarannya dapat di ukur. Membagi cinta bukanlah hal yang bisa ia lakukan.


...*************...


Dua hari kemudian, Arga sudah bersiap. Ia mengenakan jas hitam juga peci nya. Berjalan masuk kedalam mobil yang di mana sudah ada Madu beserta Rehaya juga Retno.


Hari ini Arga dan Madu akan menikah, hanya di bawah tangan saja karena perceraian Arga dan Arum belum selesai. Baru kemarin malam Romzi mengantarkan Arum ke KUA untuk menyerahkan surat permohonan cerai.


Sidang pun akan di lakukan minggu depan.


Madu nampak cantik dengan kebaya putih. Mereka hendak pergi kerumah Arum, tentu saja untuk memberitahu wanita itu jika mereka akan melangsungkan pernikahan.


Arga sengaja melakukannya untuk menyakiti Arum. Ia kesal karena Arum tak mengerti dengan keinginannya, rasa kesal itu menjadi dendam baginya. Ingin menyakiti Arum lebih dalam lagi.


"kenapa? Arum tak akan melakukan itu. aku ingin buktikan padanya jika aku akan lebih bahagia dengan wanita lain."


Retno menepus pundak Madu yang duduk di kursi depan. Wanita tua itu merasakan hal yang tak enak. Madu langsung menengok lalu menautkan alisnya begitu mendapati sang ibu memberikan isyarat padanya dengan gerakan tangan.


"apa?" Tanya Madu tanpa suara.


Retno pun melakukan hal yang sama.


"cegah Arga, ibu merasa tak enak hati. mungkin nanti akan jadi kekacauan di pernikahan kalian. jangan sampai Arga menemui mantan istri nya."


Kening Madu semakin berkerut, ia tak bisa menangkap apa yang hendak di sampaikan Retno. Gerakan bibirnya tak bisa ia baca dengan jelas.


Arga yang merasa ada yang aneh dengan Madu pun langsung meliriknya.


"ada apa? kenapa terus melihat kebelakang? apa Rehaya rewel?"


"ahh...tidak. Rehaya baik kok." Madu langsung kembali duduk dengan benar.


Arga mengangguk sambil terus menyetir. Matanya sedikit gatal jadi ia menguceknya dengan tangan kiri.


"kenapa?" Madu menarik tangan Arga yang mengucek matanya.


"gatal. merah tidak?" Arga memperlihatkan matanya pada Madu.

__ADS_1


Madu menggelengkan kepalanya. Mereka seolah lupa jika saat ini sedang berada di dalam mobil. Arga kembali melihat kedepan tapi sayang, sebuah mobil tangki bensin di depannya sudah amat dekat. Dengan panik Arga menginjak rem, berusaha untuk menghentikan laju mobilnya.


"mas... hentikan." Pekik Madu.


Retno pun ikut panik, ia peluk Rehaya erat dengan mata terpejam.


"bagaimana ini, rem nya tak berfungsi." Arga semakin panik.


Dengan hitungan detik mobil hitam mengkilat itu akhirnya menabrak bagian belakang mobil tangki bensin di depannya. Cukup keras hingga menimbulkan suara yang cukup besar.


Madu menjerit begitu juga Retno. Berbeda dengan Arga yang hanya memelototkan matanya hingga benturan keras itu terjadi.


Braaakkk....


Jalanan jadi ramai. Dua mobil tersungkur begitu saja. Mobil tangki bensin itu menabrak trotoar karena benturan di belakangnya membuat lajunya tak stabil sementara mobil Arga penyok di bagian depan.


Arga meringis kala tubuhnya terasa terhimpit. Perlahan ia buka matanya, melihat Madu yang duduk di sampingnya. Wanita itu tak sadarkan diri, darah segar mengalir di dahinya. Lalu melihat kebagian belakang.


Sedikit menghela nafas lega, Rehaya baik-baik saja begitu juga Retno. Mereka hanya pingsan saja mungkin karena shock.


"Arum..." Tanpa sadar Arga menyebut nama Arum, pandangan matanya menggelap lalu perlahan tubuhnya terasa lemah.


Arga pun pingsan bertepatan dengan mobil polisi datang. Tak lama mereka pun segera di tolong.


Prang...


Raya terkejut kala tiba-tiba saja gelas yang baru di simpannya di atas meja terjatuh kelantai.


"ada apa mah?" Arum yang sedang menyapu pun langsung menghampiri Raya.


"kenapa perasaan mamah mendadak tak enak ya?" Raya berjongkok lalu membersihkan pecahannya.


Arum ikut membantu.


"mungkin karena mamah dan papah akan pulang sekarang, meninggalkan Arum sendirian. jadi mamah merasa tak enak hati." Tutur Arum.


Raya dan Romzi memang akan kembali pulang kerumahnya karena merasa Arum sudah lebih baik. Jadi mereka bisa lega meninggalkannya.


"humm...mungkin ya." Jawab Raya.


Kedua wanita itu pun tertawa bersama, bercanda untuk menghilangkan rasa tak nyaman yang mereka rasakan. Arum pun sebenarnya merasa gelisah sedari tadi hanya saja berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tak ingin Raya khawatir apalagi sampai membuat mertuanya itu urung untuk pulang kembali.


Sudah cukup lama Raya dan Romzi menemaninya. Sebaiknya Arum jangan merepotkan kedua orangtua itu.


"ah...iya, rencananya Arum akan memberitahu ibu dan bapak soal perpisahan ini, Mah."


"kamu serius Arum?"


"eummmmm..."


Raya menghela nafas. Berasumsi mungkin perasaan tak enaknya ini karena rencana Arum yang akan memberitahu orangtuanya. Wanita tua itu menebak pasti akan ada hal yang tak ia inginkan nanti. Apa Arum akan mereka larang untuk bertemu dengannya lagi atau...


"ya, mereka orangtuamu. Kamu tak boleh terus menutupi semuanya." Akhirnya Raya memilih untuk berpikir positif.

__ADS_1


Siapa tahu orangtua Arum tak akan melakukan hal yang ia pikirkan.


...*************...


__ADS_2