
Semua terasa seperti mimpi bagi wanita berparas manis itu. Perselingkuhan Arga juga kecelakaan itu. Seperti kisah drama yang telah sengaja di buat untuknya. Arum menghela nafas panjang, mengaduk kopi dengan gerakan malas.
"itu karma namanya Rum. aku puas sekali." Rindu nampak jahat saat ini, tapi ia begitu juga karena kesal pada pria itu.
"lalu aku harus bagaimana?" Arum kembali menghela nafas.
"sudahlah jangan di pikirin. dia kan pengen cerai sama kamu, ya udah sih..."
"Rindu..." Arum menatap wajah Rindu penuh permohonan. Dia butuh nasihat, masukan atau kata-kata lainnya. Bukan malah harus menambah kegundahannya seperti ini.
Saat ini sebulan sudah Arga kembali kerumah orangtuanya.Keadaannya memprihatinkan. Hanya bisa berbaring seharian atau duduk di kursi roda. Raya menerimanya kembali karena bagaimanapun juga Arga adalah putranya. Apalagi kondisinya seperti saat ini.
Arga butuh dorongan dari orang-orang terdekatnya untuk tetap semangat menjalankan hidupnya. Hanya saja satu yang pria itu sesalkan, Arum masih belum bisa menerima kembali kehadirannya.
Lalu soal Madu, selingkuhannya. Wanita itu benar-benar menghilang. Sejak dari rumah sakit waktu itu, ia pergi dan tak ada kabar sampai sekarang. Sepertinya Madu memang benar-benar tak ingin lagi melanjutkan hubungannya dengan Arga karena fisik pria itu.
"oke-oke, begini saja. kamu temui Arga sekarang, lalu kamu rasakan apa yang ada dalam hatimu. jika memang ada debaran atau rasa tak tega itu artinya kamu masih ingin kembali padanya tapi jika hanya perasaan simpatik biasa, ya sudah kamu abaikan pria itu. lagian ya, dia itu jahat banget. waktu sehat, kuat, mapan dan sempurna khianati kamu dan sekarang... setelah tuhan membuatnya seperti itu ingin kembali padamu? Big no Arum, jangan jadi wanita bodoh. kamu itu punya hati, harga diri dan juga kamu harus kejar bahagiamu sendiri."
Plok...Plok...
Sebuah tepuk tangan yang cukup keras dari arah belakang Rindu membuat kedua wanita itu langsung menoleh. Seorang pria berpakaian casual berdiri di sana, tersenyum lebar sembari bertepuk tangan.
Rindu dan Arum saling melemparkan tatapan lalu keduanya menatap sang pria asing dengan pandangan tak percaya.
"Gio?" Pekik Rindu seraya beranjak lalu memeluk pria itu.
Sementara Arum menelan ludahnya dengan susah. Jantungnya bergemuruh dengan hebat. 3 tahun tak bertemu membuatnya gugup, Gio nampak berubah. Penampilan juga wajahnya terlihat lebih sempurna lagi.
"Gila, kamu jadi ganteng dan keren." Rindu menepuk bahunya kuat.
Gio terkekeh. Dari dulu Rindu selalu bersikap kasar, tomboi dan arogan. Tapi, Gio justru merasa nyaman. Karena hanya dengan Rindu dia bisa bersikap akrab, tak canggung seperti pada...
Pandangan Gio tertumpu pada Arum. Keduanya saling menatap. Hingga pada akhirnya Arum lebih membuang pandangannya.
__ADS_1
"kamu makin cantik saja." Ucapnya. "bagaimana hubungan mu dengan Arga atau keadaan rumah tangga kalian?"
"i...itu...baik." Jawab Arum ragu.
Rindu memutar bola matanya. Kenapa Rindu harus berbohong, dengan mengatakan baik. Maka dengan cepat dia mengeser tubuh Gio untuk duduk bersama mereka.
"Begini... Arga..."
"Ah...iya, bagaimana dengan usaha percetakan mu?" Sela Arum cepat, ia tak ingin jika masalah keluarganya di ketahui oleh oranglain, terlebih orang itu adalah Gio.
"bagus, aku memiliki beberapa karyawan dan..." Gio menatap Arum insten.
Di hatinya sampai kapanpun, wanita di hadapannya ini tak akan pernah ia lupakan. Cinta pertama baginya, wanita pertama yang dia inginkan menemani masa-masa tuanya.
"a...apa?" Arum mendadak gugup.
Rindu yang merasa jika sahabatnya butuh ruang pun bergegas beranjak dari duduknya. Mengatakan akan mencari sesuatu untuk mereka makan, cepat-cepat meninggalkan taman depan menggunakan sepeda motornya.
"aku masih berharap bisa hidup bersama dengan mu." Ucap Gio pada akhirnya.
Tapi karena rasa cintanya pada Arga, Arum memilih untuk menolak cinta Gio. Hingga akhirnya Gio pun mundur dan pindah sekolah. Meski begitu, pria itu tak pernah berhenti mengirimkan pesan. Amat perhatian juga selalu peduli terhadapnya. Sampai pada suatu hari Arga membaca semua pesan itu, meminta Gio untuk tidak menggangu hubungan mereka.
Maka selama 3 tahun, Gio tak pernah muncul di hadapan Arum maupun Arga. Hanya terakhir kalinya di hari pernikahan Arum dan Arga, Gio mengabarkan jika dirinya akan membuka usaha percetakan buku dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Obrolan keduanya terhenti ketika Rindu kembali. Wanita itu memberikan keduanya minuman kaleng bersoda.
"jangan terlalu serius. oh...ya Gi. Minggu depan aku akan merayakan hari lahirku. kamu bisa datang bukan?" Ucap Rindu, sengaja mengalihkan pembicaraan untuk menyelamatkan Arum dari kegalauannya.
"wanita dewasa seperti mu peduli dengan hari lahir." Kekeh Gio.
"sepertinya aku harus segera pulang. Gio, aku..."
"ya tak apa. kita bisa ketemu lagi lain waktu." Gio tersenyum kecil.
__ADS_1
Arum mengangguk pelan lalu segera mengajak Rindu untuk pulang. Hatinya tak bisa di ajak bekerjasama, dari tadi terus saja berdetak dengan kencang membuatnya tak nyaman sehingga Arum memilih cepat-cepat untuk pulang.
...**************...
Prang....
Arga melemparkan gelas ke lantai dengan keras. Raya berjengit, hampir saja pecahan kaca itu mengenai kakinya. Romzi yang melihat itu langsung menampar Arga keras.
Plak...
"kurang aj*r, kamu mau melukai ibumu sendiri?" Bentaknya.
Arga berdecih. Menatap Romzi tajam, sejak keluar dari rumah sakit tingkahnya memang banyak berubah. Arga menjadi sangat pemarah.
"untuk apa aku hidup jika harus seperti ini?"
"semua salahmu. Kamu yang berulah maka Tuhan membayarnya. Renungkan saja nasibmu."
"Pah, sudah hentikan." Raya tak tega melihat keadaan anaknya. "Arga, jadi kamu mau minum apa? kopi atau jus?"
Arga membuang pandangannya. Sebenarnya ia tak tega memperlakukan Raya seperti itu. Tapi, setiap kali Raya memperhatikan dirinya entah kenapa ada rasa bersalah dalam hatinya. Maka sebisa mungkin ia akan membuat ibunya menyerah untuk mengurusinya, lebih baik ia hidup tanpa kasih sayang dari pada harus merasakan rasa sesal seumur hidup.
Karena ulahnya sendiri, kebahagiaan menjauh. Ia pikir Madu adalah wanita yang setia, akan menerima kondisinya seperti apapun juga. Tapi nyatanya wanita itu kini menghilang begitu saja.
Arga menyesal telah memilih Madu dan membuang berlian berharga seperti Arum. Karena keegoisannya pula sudah membuat Raya kecewa.
"jangan pedulikan aku." Katanya dengan nada begitu dingin.
Raya menarik nafas dalam-dalam.
"Apa kamu mau bertemu Arum?" Tanyanya. "kamu belum makan dari pagi, jika Arum kemari kamu akan makan kan?"
Arga mengatakan tidak. Ia tak ingin bertemu Arum karena takut tak bisa menahan gejolak hatinya di tambah lagi rasa malunya pada wanita itu. Sempat berpikiran dan berniat buruk padanya, seandainya saja kecelakaan ini tak terjadi maka hari di mana hatinya merasa menyesal tak akan terjadi.
__ADS_1
Melihat Arga yang terdiam membuat Raya mengira jika pria itu memang mengharapkan kehadiran Arum. Maka dengan cepat ia menghubunginya, memintanya untuk datang. Setidaknya membantu dirinya membujuk Arga untuk makan.
...***************...