
"Mamah, ada apa?" Arum langsung menerobos masuk kedalam, berlari mencari keberadaan Raya.
Sementara Rindu memilih untuk menunggu di dalam mobil. Sesekali mencoba menghubungi Gio, ingin memberi tahu pria itu jika mereka akan sedikit terlambat.
"Mamah..." Panggil Arum lagi. Langkahnya semakin cepat begitu pendengarannya mendengar jelas suara tangis Raya dari arah kamar utama.
Pintunya terbuka, jadi Arum bisa melihat jelas jika wanita itu tengah di peluk oleh Romzi.
"Ada apa, yah?"
Romzi melepaskan pelukannya lalu memberikan isyarat pada Arum untuk semakin mendekat.
"Tenangkan dulu mamah ya, ayah akan ambil air minum." Titahnya.
Arum segera memeluk Raya.
"Mamah, ada apa?"
Raya memeluk erat tubuh Arum. Tangisnya sedikit mereda.
"Arga... Arga..." Ucapnya dengan suara tersendat-sendat.
Kening Arum mengerut.
"mas Arga? ada apa dengan mas Arga?"
Jujur saja, hati Arum bergemuruh mendengar nama itu. Ada rasa cemas di sana.
"mamah, ada apa? apa terjadi sesuatu dengan mas Arga?" Cemasnya.
Arum menatap Raya lekat meminta penjelasan. Wanita paruh baya itu menghapus sisa airmatanya.
"Arum, mamah mohon kamu hubungi Arga ya? dia begitu terpuruk di sana. Arga butuh kamu. Mamah memohon padamu." Dengan tatapan penuh permohonan Raya meminta.
Tangan Arum ia genggam erat. Tak lama kemudian Romzi kembali, pria itu memberikan segelas air pada Raya. Dengan tak suka ia ikut bicara.
"Jangan memaksakan kehendak mu. Arum berhak menentukan pilihannya." Sela Romzi.
Arum menelan ludahnya. Kini kedua orangtua itu saling bertatapan dengan pandangan tak suka. Romzi menghela nafas panjang, lalu melihat Arum dan berujar amat pelan.
"Arum, jangan pikirkan Arga. dia baik-baik saja."
"Mas, kenapa begitu? Arga sedang tak baik sekarang. Bukankah Yohan bilang jika anak kita sudah hampir sebulan ini tak keluar kamar bahkan makanannya setiap hari tak ia sentuh. Arga hanya diam dan mengurung diri dikamar. apa kamu tega? hatiku sakit dan cemas. Aku ibunya, aku tahu apa yang tengah Arga rasakan saat ini." Sela Raya. Suaranya begitu melengking.
__ADS_1
Arum sedikit terhenyak, baru kali ini mendengar Raya begitu emosional. Bahkan waktu dulu mengetahui Arga telah berkhianat pada Arum, wanita paruh baya tak begitu emosional. Hanya marah biasa dan tak ada kilatan emosi di matanya.
Dengan cepat Raya menyentuh tangan Arum.
"Arum, apa tak ada sedikitpun cinta yang tersisa di hatimu? kamu dan Arga bersama cukup lama. kalian berpacaran dari semenjak SMA. Arum..." Raya terus bicara. "Arga sangat mencintaimu. Dia menjadi kacau sekarang karena jauh dari mu. Dia membutuhkan mu. Apa hubungan kalian selama bertahun-tahun tak berarti? tak ada sedikitpun yang membekas di hatimu?"
Tanpa Arum sadari, matanya kini mengembun. Selama bertahun-tahun menjalin kasih dan akhirnya menuju kejenjang pernikahan membuat semua kenangan manis itu tak bisa ia lupakan. Kenyataan itu memang sulit Arum hapus dari ingatan.
Tapi, pengkhianatan itu seolah duri yang menancap di antara daging. Semua manisnya cinta menjadi hilang dan tergantikan oleh kepahitan. Arum pun sama tak bisanya menghilangkan rasa sakit itu.
"Arum..." Panggil Raya, menggoyang lengannya begitu hanya kebisuan yang dia dapatkan.
Arum tersadar dari lamunannya. Ia menundukkan kepalanya menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Bayangan masa lalu di tambah bayangan di mana Arga yang tengah bersama dengan selingkuhannya seolah meremas jantungnya begitu kuat.
Ia menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan. Bagaimana pun hatinya masih terasa sakit setiap kali mengingat sikap Arga yang telah berkhianat. Semua cinta yang pria itu berikan tertutup begitu saja hanya dengan satu kesalahan.
"Arum, mamah mohon. Sekali saja kamu hubungi Arga." Raya masih berusaha membujuknya.
"Mah, Arum belum siap. hati Arum belum bisa memaafkan mas Arga." Arum berkata dengan suara yang amat pelan nyaris tak terdengar.
Baru kali ini menolak permintaan Raya. Arum hanya belum siap untuk mendengar suara Arga, takut jika nanti pertahanannya runtuh. Dan hatinya yang mulai membaik kembali tertoreh oleh luka. Arum hanya ingin menjaga hatinya tak lebih.
Raya terperangah. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan penolakan. Selama ini Arum selalu menurut padanya. Ia hanya ingin Arga baik-baik saja di sana, mungkin jika Arum menghubunginya setidaknya Arga akan sedikit mendapatkan semangat.
"kamu menolaknya?" Tanya Raya dengan kecewa.
Romzi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar. Ia tahu Arum tak nyaman sekarang, dengan cepat ia memintanya untuk segera pulang.
"Arum, pulanglah. ayah tahu, kamu tak baik sekarang." Ujarnya dengan lembut.
Arum mendongak menatap Romzi. Pria itu menganggukkan kepalanya memberi isyarat jika Arum boleh segera pergi sekarang. Sementara Raya sama sekali tak bersuara, wanita menarik tangannya dari lengan Arum. Jelas sekali jika kecewa terhadap Arum.
Hati Arum jadi tak tenang melihat Raya yang membuang pandangannya. Hendak membuka mulutnya tapi Romzi kembali memberikan isyarat padanya untuk segera pergi. Maka dengan berat hati, Arum pun keluar.
"Arum, kamu lama sekali. apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rindu begitu Arum kembali.
Tapi ada jawaban hanya sebuah isakan yang terdengar. Rindu pun panik, ia segera mengangkat wajah Arum untuk memastikan jika sahabatnya itu memang tengah menangis.
"Arum, kamu kenapa? apa yang sebenarnya terjadi? apa terjadi sesuatu pada Tante Raya?" Panik Rindu.
Arum menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa bicara sekarang, hanya menangis saja. Rindu pun segera menyalakan mesin mobilnya. Ia tahu jika Arum tengah tak baik-baik saja. Maka dengan segera ia melajukan mobilnya.
Niatnya untuk melayat ke rumah Gio pun kembali urung. Rindu merasa jika Arum butuh ketenangan saat ini. Maka ia pun memilih membawanya pulang kerumah.
__ADS_1
...***************...
Gio menaburkan bunga di atas gundukan tanah merah yang beberapa menit lalu menimbun tubuh ibunya. Matanya berkaca-kaca, ia berusaha tahan agar tak kembali menangis.
Kini dirinya benar-benar sendiri sekarang. Tersenyum miris melihat dua makam yang berdampingan. Kedua orangtuanya telah tenang sekarang.
Drrrt...
Gio menghapus airmatanya yang menetes dengan kasar. Berdeham pelan sebelum mengangkat telpon.
"Baiklah, tak apa. terimakasih Rindu." Lirihnya dengan nada kecewa.
Hatinya yang tengah bersedih kini bertambah kala mendapatkan telpon dari Rindu. Wanita itu mengatakan jika ia tak bisa membawa Arum, entah apa alasannya. Tapi Gio merasa jika Arum mungkin masih marah padanya karena telah mengganggunya tadi pagi.
Mungkin lain waktu dia harus meminta maaf padanya. Tapi jujur saja, Gio tak merasa sakit hati dengan sikap Arum. Cintanya begitu besar terhadap wanita itu.
Sementara itu, di tempat lain. Arga tengah melemparkan beberapa barang yang ada di dekatnya. Ia mengamuk begitu saja tanpa Yohan dan Jessie tahu apa penyebabnya.
"Pergi..." Pekiknya keras.
Jessie menangis melihatnya, ia melangkah mendekati begitu Arga tak lagi melemparkan benda apapun.
"Jess, jangan." Yohan menahannya, takut jika putrinya akan terluka oleh ulah Arga.
Jessie tak menghiraukan itu. Ia tetap mendekat lalu dengan satu hentakan ia peluk tubuh itu. Arga terhenyak, tangannya yang hendak mendorong tubuh kecil Jessie pun terambang di udara.
"ku mohon, berhenti bertingkah kekanakan. mas harus bisa bertahan dan sembuh. Bukankah mas ingin kembali pada mantan istri mu? berusahalah untuk sembuh. jangan menyerah." Sebenarnya Jessie mengatakan itu dengan hati yang sakit.
Ia mencintai Arga. Cinta pertama baginya tapi hatinya akan lebih sakit jika melihat Arga yang begitu terpuruk. Tak memiliki semangat hidup sama sekali. Jessie hanya ingin Arga bahagia, itu saja tak lebih.
Yohan pun terkejut dengan apa yang di lakukan Jessie. Wanita itu berhasil menenangkan Arga.
Arga menatap lekat wajah Jessie, nampak sekali ketulusan di sana. Perlahan Arga pun menjadi tenang, ia melepaskan pelukan Jessie.
"Tinggalkan aku sendiri." Pintanya.
Dengan cepat Yohan pun menarik Jessie keluar dari kamar. Ia hanya tak ingin Arga kembali mengamuk jika mereka tak segera menurut.
Arga mengepalkan tangannya. Ia mengamuk bukan tanpa alasan. Kemarahannya memuncak saat seseorang kembali mengirimkan beberapa foto Arum yang tengah bersama pria lain.
Jelas sekali, foto itu baru di ambil dan langsung di kirim kepadanya. Tertera waktu dan tanggal di sana. Ia marah dan kesal melihat bagaimana Arum yang sedang berdiri berdua dengan seorang pria di depan rumahnya. Arga berasumsi keduanya akan pergi bersama karena terlihat sebuah mobil terparkir tak jauh dari keduanya.
Selama beberapa bulan ini ia mengurung diri di dalam kamar, semangatnya untuk bisa berjalan benar-benar lenyap karena terus memikirkan Arum yang kini sudah tak peduli lagi padanya.
__ADS_1
Tapi, ucapan Jessie beberapa saat lalu membuatnya merasa ada kehangatan. Entah apa alasannya, tapi Arga merasa jika apa yang di katakan Jessie benar. Dia harus sembuh dan kembali menemui Arum. Ia harus buktikan sendiri, apa Arum benar sudah melupakannya sekarang.
...***************...