Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
Permohonan Arga


__ADS_3

Arum melangkah ragu masuk kedalam rumah mertuanya. Pernikahannya dengan Arga memang belum resmi bercerai secara hukum. Tapi, menurut agama Arum dan Arga sudah tak boleh bersama lagi. Apalagi kata talak itu terucap lantang dari bibir Arga sendiri.


Jantungnya bergemuruh begitu melihat sosok pria yang selama ini telah mengisi hatinya.


"Arum, mamah mohon ya." Raya begitu berharap Arum bisa membujuk Arga untuk makan atau setidaknya mau meminum obat.


"iya Mah." Sebenarnya tadi sempat menolak untuk datang.


Jika saja tak memandang Raya dan Romzi maka Arum akan mengabaikan panggilan itu. Arga telah melukai hatinya, sebaik-baiknya manusia tak akan ada yang sanggup untuk hidup kembali bersama dengan orang yang telah menyakitinya.


Arum menghela nafas panjang. Membawa nampan berisi makanan dan obat. Berjalan mendekati Arga yang duduk membelakanginya. Arga tak tahu jika Arum ada di sini, pria itu terus memandangi halaman belakang yang di penuhi oleh berbagai macam bunga.


"mas!" Panggilnya dengan suara yang cukup keras.


Meski begitu Arga dapat mendengar dengan jelas. Pria itu langsung memutar kursi rodanya, matanya nampak berbinar melihat Arum. Rasa rindunya begitu membuncah, andai saja kedua kakinya bisa bergerak lincah seperti dulu sudah di pastikan dirinya akan langsung berlari dan memeluk wanita itu.


"Arum, kamu datang?"


"hmm...mamah memintaku." Arum merasa malas untuk berbicara dengan Arga.


Entah kenapa hatinya merasa risih melihat wajah dan tatapan itu, bukan karena fisik Arga yang tak sempurna tapi karena apa yang telah pria itu lakukan terhadapnya.


"mamah bilang mas belum makan seharian ini." Ucap Arum lagi.


Arga mengangguk.


Tanpa bicara apapun lagi, Arum langsung duduk di kursi dekat Arga. Ia langsung meletakkan nampan di atas pahanya. Arga hanya melihat semua dengan senang, akhirnya ia akan merasakan kembali di perhatikan oleh Arum. Menikmati suapan demi suapan dengan begitu bahagia.


Tak ada yang terucap dari bibir keduanya, Arum hanya diam. Hatinya berkecamuk, melakukan hal ini pada Arga dengan kondisi hati terluka sungguh sebuah perjuangan keras baginya. Tangannya terasa berat untuk bergerak.


"Arum, cukup." Arga memegang tangan Arum, menahannya agar tak terus menyuapi.


Dengan cepat Arum menarik tangannya membuat Arga mengerutkan keningnya. Hal refleks itu tentu saja membuat Arga sadar jika Arum masih enggan untuk di sentuh olehnya.

__ADS_1


"kamu...masih marah padaku?" Tanya Arga memastikan.


Arum menarik nafasnya lalu membuang pandangannya kearah luar jendela. Berdua dengan Arga saat ini sungguh tak nyaman. Ingin sekali ia cepat pergi.


"Arum, aku mencintaimu. masih mencintaimu sampai sekarang juga, cinta ku tak pernah sekalipun hilang Arum."


Decihan keras keluar dari bibir ranum wanita itu. Baginya apapun yang di katakan Arga sama sekali tak berharga. Pengkhianatan itu sudah menjelaskan segalanya, Arga mencintai dirinya tak tulus. Jika memang benar mencintainya kenapa harus ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka.


"dengan mendua? kamu lupa mas? waktu itu dengan lancarnya mentalak ku demi menikahi janda beranak itu."


Arga diam. Tahu dirinya salah waktu itu. Ia terlalu egois dan gelap mata karena keinginannya untuk memiliki seorang keturunan.


"kita belum resmi bercerai Arum."


Arum menatap Arga. Kali ini wanita itu bangkit dari duduknya. Pembahasan ini membuatnya tak bisa lagi untuk tetap diam.


"secara agama kita sudah bercerai."


"Arum tunggu." Pekik Arga melihat Arum yang melangkah hendak meninggalkannya.


"Madu...sudah meninggalkan ku apa kamu juga akan pergi? apa karena sekarang aku cacat? jadi kalian tak ingin bersama ku? kamu egois Arum, mencintaiku di saat aku sempurna saja."


Seolah memutar balik keadaan, Arga menuduh Arum dengan begitu picik. Pria itu merasa Arum tak ingin lagi bersamanya karena kondisi tubuhnya.


Raya yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka langsung bergegas menghampiri. Ia menggelengkan kepalanya kepada Arum yang hendak membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Arga.


Raya tak ingin Arum mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk anaknya, kondisi Arga sedang tak baik. Jika Arum sampai menyakitinya dengan ucapannya maka tak tahu apa yang akan Arga lakukan. Sang ibu hanya takut jika anaknya nekat menghabisi nyawanya sendiri karena terlalu berputus asa.


Arum pun langsung melanjutkan langkahnya tanpa menjawab perkataan Arga. Dengan cepat ia pergi meninggalkan rumah Raya.


Wanita paruh baya itu pun hanya bisa menghela nafas berat. Tahu apa yang telah ia lakukan salah, tak seharusnya ia membela Arga tapi bagaimana juga Arga adalah putranya. Tak mungkin ia bisa melihatnya menderitanya.


"aaaaaaaaahhhhhhh......." Teriak Arga keras.

__ADS_1


Prang...


Gelas yang ada di dekatnya pun menjadi pelampiasan kekesalannya. Raya hanya bisa menangis melihatnya.


...****************...


Gio terdiam mendengar cerita Rindu. Pria itu tak mengira jika nasib Arum sungguh jelek. Dulu wanita itu paling populer di sekolah, pintar, cantik juga terkenal ramah. Tak sedikit siswa lelaki mendekatinya termasuk dirinya.


Tapi Arga lah pemenangnya dari sekian banyak siswa yang mendekat. Arum memilihnya bahkan sampai lulus pun keduanya tetap bersama hingga suatu hari surat undangan itu pun tersebar.


Gio pikir Arga pasti sangat mencintai Arum, menjaga wanita itu. Tapi mendengar cerita Rindu seperti itu membuat Gio hampir tak percaya.


"Gi, aku mengatakan ini padamu karena aku tahu cinta itu masih bersemayam di dalam sana." Tutur Rindu, ia memang sengaja menceritakan perihal hancurnya rumah tangga Arum dan bagaimana kondisi Arga saat ini.


Karena ia tahu, Gio masih mencintai sahabatnya itu. Ia ingin pria tampan di hadapannya ini mengejar cintanya dan berharap Arum akan mendapatkan kebahagiaannya kembali.


Rindu bukan bermaksud mengumbar keretakan rumah tangga Arum, ia hanya ingin sahabatnya bahagia.


"Arum itu wanita baik tak pantas untuk di sakiti. aku harap kamu bisa membahagiakan dia, buktikan padanya jika kamu lebih baik dari Arga."


Gio tersenyum kecil. Jujur saja, apa yang di katakan Rindu membuatnya terkejut tapi hatinya merasa bahagia. Dengan begitu ia memiliki kesempatan untuk mendekati Arum, meski terkesan jahat. Berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tentu begitu, bukanya mendukung Arga untuk kembali pada Arum justru Gio berharap Arga akan selamanya begitu, duduk di kursi roda tanpa bisa menggapai cintanya.


Cukup selama bertahun-tahun ini dirinya memendam perasaan, setiap hari gelisah memikirkan Arum. Dan sekarang semuanya akan terobati, Gio akan berusaha mendapatkan cinta wanita itu bagaimana pun caranya.


Sementara itu Arum tengah menangis di kamarnya. Keadaan Arga membuatnya terpukul, tubuhnya begitu kurus, wajah yang dulu tampan kini nampak pucat dan tirus. Bahkan pria itu tak memiliki lagi kekuatan untuk menopang berat badannya.


"mas, aku mencintaimu tapi...semuanya terlalu menyakitkan." Isaknya.


Bahkan sampai saat ini Arum belum memberi tahu kedua orangtuanya tentang retaknya rumah tangga mereka. Arum belum siap mengatakan semuanya, apalagi begitu mendengar jika sang ibu sekarang sakit-sakitan. Takut jika kehancuran mahligai pernikahannya akan membuat sang ibu semakin terluka.


Selama ini terus berbohong, belum bisa datang mengunjungi karena Arga yang sibuk bekerja dan tak bisa mengambil cuti. Tapi entah sampai kapan kebohongan ini ia lakukan, hatinya mulai gelisah takut ibu dan ayahnya kemari secara tiba-tiba.


Apa yang akan ia katakan nanti pada mereka. Rasanya Arum tak bisa memikirkan itu semua.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2