Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
Gio atau Arga


__ADS_3

Arum semakin bimbang dengan hatinya. Di sisi lain ia masih sah secara hukum sebagai istri Arga tapi hati kecilnya sudah tak ingin lagi memilliki hubungan dengan pria itu.


Bahkan Raya dan Romzi pun menyerahkan segalanya pada Arum. Apapun keputusannya tak akan membuat mereka marah.


"Mas Arga, tetap tak akan makan jika aku tak datang." Keluh Arum, ada rasa kesal di sana.


Arga setiap hari selalu saja berbuat ulah. Mogok makan dan tentu saja Raya akan meminta bantuan Arum untuk membujuknya. Ini sudah hari ke empat Arum mendatangi rumah mertuanya. Dengan terpaksa karena tak ingin membuat Raya kecewa atau sedih.


"ck...pria itu benar-benar." Kesal Rindu.


Kali ini Rindu ikut menemaninya, untuk mengantisipasi agar Arga tak lagi membahas perihal hubungan mereka. Arum sudah sangat malas mendengar permohonan Arga untuk kembali ke sisinya.


Rindu mengikuti Arum memasuki gerbang rumah Raya. Keduanya di sambut baik oleh Raya. Wanita tua itu bahkan memeluk Arum dan meminta maaf padanya karena selalu merepotkannya.


"maaf kan mamah ya Rum. Arga tak mau makan, mamah tak ingin dia jatuh sakit."


"iya mah."


"ah...Rindu, kamu ikut?"


"iya Tante."


Rindu melihat sekeliling rumah Raya, ada rasa takjub. Rumah minimalis ini begitu enak dan juga nyaman di tempati, ia pun segera mengikuti Arum yang memasuki kamar Arga.


Pria itu tengah duduk di ranjangnya sambil memainkan ponsel. Detik kemudian tersenyum begitu melihat Arum, meletakkan ponselnya begitu saja.


"kamu datang lagi? aku tahu, kamu masih peduli padaku Arum. cintamu belum seutuhnya hilang." Dengan penuh percaya diri Arga mengatakan itu.


Arum malas meladeninya, buru-buru menyuapi pria itu agar makanannya cepat habis. Dengan begitu ia bisa cepat pulang. Sementara Rindu hanya mendengus keras, melihat betapa tak tahu malunya Arga. Setelah apa yang dia lakukan terhadap Arum, pria itu sama sekali tak terlihat bersalah.


"aku akan ke luar negeri." Lirih Arga kemudian setelah menghabiskan makan dan minumnya.


Arum melihat pria itu sejenak lalu kembali meletakan piring keatas nampan. Baginya itu bukan urusan lagi untuknya. Mau pergi kemanapun Arum tak peduli.


"oh...ya, kamu mau tinggal di sana selamanya?" Beda hal nya dengan Rindu, wanita itu langsung mendekati Arga.


Arga berdecih pelan. Melihat betapa antusiasnya Rindu membuat Arga kesal.


"kamu berharap aku pergi dari hidup Arum?" Tanyanya dengan nada kesal.

__ADS_1


Rindu manggut-manggut.


"tentu saja." Jawabnya dengan enteng.


Arga mencoba mengabaikan Rindu, berdebat dengannya hanya akan membuat kesal saja. Ia pun kembali melihat Arum yang kini tengah bersiap keluar dari kamar.


"Arum tunggu aku ya? aku akan menjalani pengobatan di luar negeri untuk bisa berjalan kembali. kamu mau bukan atau...ikut saja dengan ku?"


Arum menghentikan langkahnya.


"Arga jangan terlalu berharap. hatiku sulit untuk sembuh. bukankah kamu tahu, jika aku sudah kecewa akan sulit rasanya untuk memaafkan." Kata Arum tanpa menoleh sedikitpun.


Arga meremas selimutnya. Hatinya sakit mendengar itu. Arum memang tipe wanita yang sulit untuk di taklukkan, bahkan wanita itu begitu setia jika sudah mencintai satu pria. Tapi jika hatinya sudah di kecewakan jangan harap cinta itu bisa kembali di dapatkan.


Rasa sesal itu selalu saja menggerogoti hatinya. Arga selalu berharap waktu bisa di ulang kembali, maka ia akan memperlakukan Arum dengan lebih baik lagi. Tak akan mengecewakan wanita itu.


"humm... penyesalan itu selalu datang terlambat bukan?" Ejek Rindu. "kamu nikmati saja." Tawa mengejek itu membuat Arga marah.


"pergi kamu sebelum aku melemparkan benda ini." Usirnya pada Rindu, tangannya sudah memegang gelas.


"ck... menyebalkan." Dengus Rindu lalu pergi.


Tak begitu lama suara pecahan kaca pun terdengar. Rindu sempat menghentikan langkahnya lalu melihat kearah kamar Arga dengan tatapan tak percaya. Tak menyangka tempramen pria itu sungguh buruk.


...**************...


Siangnya, Arum dan Rindu pun pergi jalan-jalan untuk menghilangkan rasa penat. Percakapannya dengan Raya tadi membuat Arum jadi sedikit terbebani. Wanita itu memohon pada Arum untuk terus berada di samping Arga sampai pria itu kembali pulih.


Padahal dulu Raya selalu mengatakan tak akan memaksa Arum tapi sekarang nyatanya wanita itu meminta Arum kembali pada Arga.


"mertua mu itu plin-plan sekali."


"aku tahu, mamah begitu karena tak ingin melihat mas Arga terpuruk. tak salah jika seorang ibu menginginkan hal terbaik bagi anaknya." Ucap Arum. "hanya saja... permintaan itu sangatlah sulit untuk aku penuhi."


Rindu merangkul pundak Arum.


"dengarkan aku, kamu itu harus bisa membahagiakan diri sendiri jangan hanya memikirkan orang lain."


"kamu benar...tapi..." Arum menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Baginya menolak permintaan Raya sama saja melukai perasaan wanita itu. Sungguh, tak tahu harus berbuat apa. Arum tak ingin melukai perasaan Raya tapi dirinya pun tak sanggup jika harus kembali pada Arga.


Kebaikan Raya dan kasih sayang yang wanita itu berikan membuat Arum jadi serba salah. Takut jika membuat kecewa apalagi menolak permintaannya.


Di saat keduanya sedang diam, memikirkan apa yang harus di lakukan. Gio datang, pria itu duduk tepat di samping Arum. Sampai saat ini Arum belum tahu jika Gio telah mengetahui segalanya, karena memang pria itu yang pura-pura tak tahu. Gio hanya tak ingin membuat Arum malu, kegagalannya dalam berumah tangga pasti membuat wanita itu jadi sedikit kurang percaya diri.


"hei...kalian memikirkan aku? bengong saja kerjanya."


"ihh...apaan sih Geer dasar." Cebik Rindu.


Arum terkekeh. Selalu terhibur jika melihat kedua temannya itu. Mereka memang tak pernah akur. Rindu si usil dan Gio yang baperan.


"mau makan?" Tawar Gio pada Arum. "Mmm...bolehkan aku ngajak kamu makan tanpa seizin Arga?"


Pertanyaan Gio membuat mata besar Rindu hampir terlempar dari tempatnya. Wanita itu takut jika Gio salah bicara nanti. Melirik Arum hati-hati, melihat reaksinya seperti apa.


"kenapa harus meminta izin pada mas Arga." Ucap Arum, raut wajahnya tenang dan senyum tersungging di bibirnya yang tipis.


Rindu menghela nafas panjang. Melotot ke arah Gio, memperingati pria itu untuk tidak menyinggung soal Arga.


"dan...Soal aku dan mas Arga..." Arum menelan ludahnya. Sepertinya dia harus memberitahu Gio tentang masalahnya, agar pria itu tak lagi bertanya perihal nya.


"kenapa?" Tanya Gio pura-pura tak tahu.


Rindu menepuk pundak Arum.


"katakan saja Arum. kita teman bukan? Gio harus tahulah iya Gi?" Kerlingan nakal di lemparnya pada Gio.


Gio mencebik lalu kembali fokus pada Arum yang mulai menceritakan segalanya. Arum bukan sengaja memberitahu Gio agar pria itu mengejarnya tapi dia merasa jika Gio tahu perihal hubungannya dengan Arga saat ini setidaknya pria itu tak akan bertanya lagi sedang apa Arga, kenapa tak pernah terlihat keluar bersama atau pertanyaan lainnya.


Setelahnya hening yang tersisa. Gio maupun Rindu terdiam begitu pula dengan Arum.


"ekhem..." Gio berdeham untuk kembali mencairkan suasana. "jadi... bagaimana? kita makan?"


Arum mengangguk.


"bagus, aku harap apa yang sudah Arga lakukan tak membuatmu trauma." Tutur Gio lagi.


Arum hanya tersenyum saja. Jujur saja, ada rasa takut di hatinya.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2