
Setahun sudah Arum berpisah dengan Arga. Semua tentang pria itu telah Arum hapus dari ingatannya. Bahkan saat ini ia mulai membuka hatinya untuk Gio. Kebaikan pria itu selama ini telah mengetuk pintu hatinya.
Bagaimana Gio yang sabar juga gigih mengejarnya tanpa lelah. Menunjukkan betapa tulusnya cinta Gio terhadap Arum.
Bahkan karena keputusannya untuk menerima Gio sebagai kekasih menimbulkan masalah untuknya. Raya tak mau lagi bicara dan mengatakan jika Arum sekarang bebas mau melakukan apapun. Kekecewaannya terlalu besar hingga membutakan matanya.
Raya seolah lupa dengan janjinya yang akan terus berada di samping Arum.
"Tak seharusnya kamu marah pada Arum. bukankah kamu sendiri yang bilang, tak ada mantan menantu. jadi sekarang..."
"Sudahlah. mas tak mengerti dengan apa yang aku rasakan." Sela Raya cepat. Tak mau lagi mendengar nasihat suaminya.
Romzi membuang nafas kasar. Raya amat keras kepala, apapun yang dia katakan tak akan membuat wanita itu luluh.
"Lagipula untuk apa aku harus mendukung Arum sementara dia sendiri telah mengkhianati Arga." Ucapnya lagi.
"Raya, cukup." Romzi tak bisa lagi menahan emosinya. Raya terlalu kekanak-kanakan di usianya yang sudah tua.
"apa? itu benar terjadi. Pantas saja dia tak mau menghubungi Arga selama ini, bahkan waktu Arga pergi pun ia tak mengantarkannya. menjelaskan bahwa Arum..."
"Buang asumsi mu itu. Sebaiknya kamu pikirkan dengan baik, siapa di sini yang telah berkhianat. Lagipula, Arga sudah mengucapkan talak terhadapnya. Arum tak bersalah akan itu, sebagai seorang wanita seharusnya kamu lebih mengerti." Romzi melemparkan tatapan tajam pada Raya. Pria itu pun langsung pergi meninggalkan Raya yang kini terdiam.
Arum menggigit bibirnya, meremas jemarinya yang saling bertautan. Ia datang kemari untuk bersilaturahmi bukan malah menyaksikan pertengkaran kedua mertuanya atau mantan mertua, entahlah.
Langkah Romzj terhenti, tak menyangka sama sekali jika Arum akan mendengar semuanya. Dengan cepat ia memasang wajah ramah, tersenyum pada Arum yang kini berdiri di pintu masuk.
"kamu sudah lama?" Tanya Romzi.
"Baru saja tiba. Ayah mau kemana?" Arum melihat penampilan Romzi yang begitu rapi.
"tentu saja berangkat kerja. kamu mau menemui..."
"aku pulang saja." Ucap Arum cepat. Berlari begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Romzi tahu jika Arum pasti mendengar semuanya. Pertengkarannya dengan Raya di ruang tamu pasti terdengar jelas keluar.
Dengan berat ia melangkahkan kakinya keluar, Romzi berada di posisi yang tak menguntungkan. Raya adalah istrinya bagaimana pun juga, ia tak mungkin menyalahkan wanita itu. Lagipula ia sangat tahu, seberapa besar kasih sayang Raya terhadap Arum selama ini.
Jadi wajar saja jika ia merasa kecewa begitu mendengar jika Arum telah membuka hati untuk pria lain selain putranya. Raya masih belum menerima kenyataan bahwa putranya dan Arum telah lama berpisah. Meski bukan secara hukum, tapi keduanya telah sah bercerai secara agama.
Arum memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan keselamatannya sendiri, yang penting baginya saat ini dia harus segera tiba kerumah.
...**************...
Jessie tersenyum bahagia melihat perkembangan Arga selama ini. Pria ini sudah sedikit lebih baik. Tak lagi mengamuk ataupun memakinya setiap Jessie melakukan kesalahan.
Bahkan sore ini Arga memintanya untuk menemaninya terapi. Memang selama setengah tahun ini Arga telah menjalani terapi di sebuah rumah sakit yang cukup besar.
Entah datang dari semangat itu. Tiba-tiba saja Arga meminta Yohan untuk membantunya agar cepat bisa berjalan kembali.
Dengan susah payah Arga menopang berat badannya. Tangannya mencengkram kedua besi yang ada di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Sementara itu ia dengan berat ia angkat kaki kanannya untuk bisa melangkah.
"Jangan di paksakan, hanya selangkah saja itu sudah memuaskan." Ucap Jessie.
Begitu sulitnya hingga ia berkeringat. Pria itu sempat menyerah awalnya, tapi ketika teringat Arum, ia kembali bersemangat. Arga ingin segera sembuh dan berjalan kembali. Ia tak sabar memberikan kejutan pada Arum.
Selama ini Arga telah membuang kartu ponselnya, karena tak mau lagi mendapatkan pesan teror dan foto-foto mesra Arum dengan pria lain. Ia sengaja membuang pikiran buruknya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Meski sebenarnya ia sendiri penasaran, siapa yang selama ini mengirimkan pesan-pesan itu.
"aku haus." Ujarnya sembari mendudukkan dirinya kembali.
Jessie segera mengambil botol minum lalu memberikannya pada Arga. Setiap hari ia temani pria ini, melayaninya dengan sangat baik. Tak peduli apa Arga akan membalas kebaikannya atau tidak.
Bahkan Jessie selalu mengabaikan nasihat Yohan. Ia tak boleh menyimpan perasaan apapun terhadap Arga jika tak ingin terluka.
"Malam ini mas mau kan makan malam bersama ku?" Tanya Jessie penuh harap.
__ADS_1
Arga menarik nafas panjang, lalu mengangguk pelan. Meski bibirnya tak pernah menunjukkan senyum sedikit pun tapi Jessie tahu jika Arga kini tengah dalam mood yang baik. Terlihat jelas dari pancaran matanya.
Jessie amat bahagia. Ia berpikir jika Arga pasti telah melupakan mantan istrinya. Dengan begitu kesempatannya untuk mendekati pria itu memiliki peluang yang cukup besar. Berharap jika suatu saat nanti Arga bisa melihat betapa besarnya cinta itu.
...*************...
Rindu melemparkan tatapan tak suka pada Gio waktu pria itu mengatakan akan mengundurkan jadwal untuk melamar Arum. Bukan tanpa alasan, tapi Gio merasa jika Arum belum sepenuhnya menerima dirinya.
"Aku hanya tak ingin memaksanya, itu saja."
"Jangan begitu lah, bagaimana jika nanti Arga keburu balik. Kamu tahu kan selama ini aku sudah susah payah memprovokasi pria itu. Mengirimkan..."
"sssttt... jangan keras-keras." Gio membungkam mulut Rindu. Matanya melihat keseluruh ruangan cafe, takut jika nanti ada seseorang yang mereka kenal dan mendengar semuanya.
"iya, aku tahu."Rindu menepis tangan Gio. "Aku hanya ingin melihat Arum bahagia. Dia wanita yang baik, sahabat ku yang paling berharga."
Gio menghembuskan nafas panjang.
"Apa aku pria baik menurutmu?"
"tentu saja, kamu sudah mengejarnya selama di sekolah dulu dan sampai sekarang masih melajang hanya karena tak bisa mencintai wanita lain. aku tahu, kamu begitu mencintai Arum." Ucapnya dengan nada tinggi. Lagi-lagi membuat Gio harus menepuk jidatnya.
Rindu memang sedikit berbeda dengan wanita lain. Tingkahnya tak ada anggun-anggunnya sama sekali.
"kecilkan suaramu. kamu bisa kan bisa dengan lemah lembut, seperti Arum."
"ck...aku bukan Arum. aah...iya, aku akan menemui Arum sekarang. Wanita cantik itu pasti sedang berleha-leha karena ini hari libur."
"aku juga akan mengajaknya keluar. kamu jangan hancurkan rencanaku."
Rindu tersenyum kecil. Dia bisa mengalah demi kebahagiaan Arum.
"oke. aku tak akan menggangu kalian. pergilah, jemput sang putri."
__ADS_1
...************...