Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
11. Kepergian Arga


__ADS_3

Arga berulang kali melihat jam tangannya, setengah jam lagi ia harus segera masuk kedalam pesawat. Pria itu duduk gelisah di kursi rodanya, matanya terus mengedar ke sekeliling mencari sosok Arum.


"mah, Arum tahu kan aku berangkat hari ini?"


Raya mengangguk, jelas sekali. Malam itu ia menelpon Arum memberitahu wanita itu jika Arga akan berangkat siang ini. Bahkan Raya memohon padanya untuk datang, mengantarkan keberangkatan Arga agar pria ini memiliki semangat untuk sembuh.


"sebentar, mamah akan hubungi Arum."


"tidak perlu." Tukas Romzi. "Untuk apa mamah terus mendesak Arum. Arga sudah menyakitinya, jadi biarkan saja Arum memilih jalannya sendiri."


Arga dan Raya pun diam. Apa yang di katakan Romzi memang benar. Selama ini Raya terlalu memaksa Arum demi kebaikan Arga, tanpa dia sadari jika hati wanita itu terluka.


Dengan lemas Arga pun meraih tangan Raya. Tersenyum begitu miris kearahnya.


"aku bisa sendiri. mamah tak perlu ikut keluar negeri."


"tapi..."


"di sana ada Yohan yang akan mengurus segalanya, tak perlu cemas." Romzi berlalu meninggalkan keduanya.


Pria tua itu nampak masih kesal dengan Arga. Rasa kecewa masih besar terhadap anaknya. Romzi tak seperti Raya, yang begitu mudah luluh hanya melihat keadaan Arga saat ini.


Melihat sikap ayahnya, Arga hanya maklum. Dari dulu Romzi memang seperti itu. Jika sudah di kecewakan maka akan sulit untuk mendapatkan kepercayaannya kembali.


Di sisi lain, Arum pun merasakan hal yang sama. Gelisah dan tak bisa duduk tenang di kursinya. Sesekali ia melihat keluar jendela, langit sangat mendung menandakan jika hujan akan segera turun.


Matanya melirik jam yang menempel tepat di dinding sebelah kiri, sudah menunjukkan pukul sembilan tepat. Hatinya semakin tak karuan.


"maafkan aku mas, mamah..." Lirihnya.


Dia ingat jika hari ini Arga akan berangkat tapi rasanya begitu sulit untuk mengantarkan kepergian pria itu. Arum hanya tak ingin hatinya yang sudah mulai ia tata kembali rapuh hanya karena melihat wajah memelas Arga nanti.


Tring...


Ponselnya bergetar beberapa kali dan bunyi pesan masuk pun terdengar.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Arum.

__ADS_1


Gio baru saja mengirim pesan, mengajaknya keluar rumah. Bukan untuk jalan-jalan, pria itu mengajak Arum menemui ibunya yang sedang sakit dan tengah di rawat di rumah sakit.


Jika ia menolak ajakan Gio sama saja dengan memilih tetap bergalau ria di rumah. Tapi jika ia meng-iya kan, takutnya Gio kembali menaruh harapan padanya. Arum merasa serba salah.


Tring...


Tanda pesan masuk kembali terdengar. Arum menghela nafas berat. Gio benar-benar memohon padanya, ibunya ingin bertemu dengan Arum entah apa alasannya. Apa pria itu menceritakan sesuatu tentangnya pada sang ibu atau...


Arum menggelengkan kepalanya, ia tak mau berpikiran buruk. Maka dengan cepat ia membalas pesan itu. Bergegas masuk kedalam kamar, mengganti bajunya lalu segera pergi.


Untuk sesaat ia melupakan soal Arga.


...************...


Raya menangis di pelukan Romzi, rasanya sangat berat melepaskan Arga begitu saja. Keadaannya tak baik-baik saja, ketidak hadiran Arum dan kondisi fisiknya membuat Raya amat cemas terhadapnya.


Takut jika Arga akan hilang akal di sana. Bagaimana jika anaknya itu mencoba mengakhiri hidupnya seperti waktu itu. Waktu pertama tahu jika dirinya lumpuh dan calon mempelai wanita kabur, di tambah Arum yang terus menolak untuk kembali.


"biarkan dia berpikir dewasa, usianya tak muda lagi." Romzi mengelus kepala Raya. "kita pulang."


Pesawat yang di tumpangi Arga sudah lepas landas sejam yang lalu. Pria itu pergi dengan kecewa karena Arum benar-benar tak datang.


Arga takut jika saat dia kembali Arum sudah bersama pria lain. Bagaimana jika nanti Arum benar-benar membuangnya dari kehidupannya. Rasa takut itu terus menjalar membuat Arga berkeringat dingin.


Matanya terbuka lebar-lebar, menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Kepalanya berputar dan perlahan penglihatannya menggelap. Terdengar beberapa langkah kaki dan suara ribut di sekitarnya, tubuhnya terasa melayang detik berikutnya.


"tuan, anda baik-baik saja?" Suara seorang gadis menusuk gendang telinganya.


Dan suara-suara asing lain pun terdengar bersahutan. Arga mendengar semuanya tapi tubuhnya terasa berat untuk di gerakkan bahkan matanya pun sulit terbuka.


Rupanya rasa takut berlebihan yang dia rasakan mengakibatkan ketidaksadaran baginya. Arga tak bisa mengontrol emosi hingga berakhir seperti ini.


Sementara itu, saat ini Arum tengah berada di rumah sakit. Wanita itu tersenyum malu-malu ketika ibu Gio memujinya. Wanita yang nampak sudah keriput di wajahnya itu tak hentinya mengelus punggung tangan Arum.


"kamu sangat cantik, nak. Gio beruntung miliki kamu." Kalimat terakhir yang terlontar dari bibir ibu Gio membuat Arum mengernyit.


Dengan cepat ia melirik Gio yang berada di sampingnya, pria itu tengah mengupas apel.

__ADS_1


"i...itu..." Gio gelagapan. "Ibu, aku mau bicara sebentar dengan Arum."


"iya."


Arum pun mengikuti langkah Gio yang menuju keluar kamar. Dia butuh penjelasan kenapa Ibu Gio mengatakan itu, seolah jika dirinya dan Gio tengah memilliki hubungan.


"aku bisa jelaskan." Ucap Gio.


"sebenarnya apa yang kamu katakan pada ibu mu tentang ku? kenapa beliau bersikeras ingin bertemu dan berkata kamu sangat beruntung..."


Gio sangat merasa bersalah. Seharusnya dia ceritakan lebih awal pada Arum, maka tak akan ada kejadian seperti ini.


"aku...bilang jika kamu pacarku."


"what?" Arum hampir saja berteriak. "kamu gila? kenapa berbohong seperti itu."


"ibu didiagnosis kanker serviks stadium akhir. Aku hanya ingin di sisa hidupnya beliau merasakan kebahagiaan."


"tapi tetap saja Gi. kenapa aku? kamu..."


"maafkan aku. ibu terus memohon pada ku untuk segera menikah. aku tak tahu harus bagaimana, sementara aku sendiri tak memiliki pacar."


"kamu bisa kan mengakui gadis lain, kenapa harus aku?" Arum kesal.


Gio sudah seenaknya. Kenapa tak meminta tolong terlebih dahulu padanya.


"aku mohon Rum." Gio berlutut di hadapan Arum, tak menghiraukan orang-orang yang lewat. Dia hanya ingin membahagiakan ibunya.


"hei...apa yang kamu..."


"ku mohon Arum."


Arum menghentakkan kakinya kesal. Kenapa semua pria itu begitu menyebalkan. Mereka selalu seenaknya sendiri. Bahkan Gio yang dulu terkenal pemalu juga suka mengalah terhadap wanita pun bisa bertingkah seperti ini.


"oke, kamu berdiri. jangan buat malu." Ujar Arum dengan nada kesal.


Gio pun segera bangkit. Ia tersenyum kecil, siasatnya berhasil membuat Arum menyetujui permintaannya. Pria itu pun segera mengajak Arum kembali masuk kedalam untuk menemui ibunya.

__ADS_1


Dengan malas Arum pun mengikuti langkah Gio. Kenapa dia harus terjebak dalam keadaan seperti ini. Tak bisakah ia merasakan ketenangan dalam hidupnya.


...***************...


__ADS_2