
Arum sudah bersiap dengan motor matic nya. Setiap pagi ia selalu menggunakan motor untuk menuju ketempat mengajarnya demi menghindari kemacetan. Rambutnya yang panjang ia ikat dengan rapi.
Baru saja menyalakan mesin motornya tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan pintu pagar rumahnya.
Arum menghela nafas gusar. Kenapa paginya harus di awali dengan mood yang buruk. Dengan malas ia turun kembali dari motor lalu segera menghampiri pria yang baru saja keluar dari mobilnya.
"sudah aku katakan Gi, jangan..."
"Arum, ku mohon ya!" Seru Gio memelas. "aku hanya ingin dekat denganmu, beri aku kesempatan sekali saja."
Gio dulu sangat pengertian, ketika di minta untuk tidak mendekat maka pria itu akan menurut tanpa banyak pertanyaan. Saat Arum bilang tak ingin di ganggu, maka Gio akan memberikan waktu untuk sendiri pada Arum.
Tapi sekarang, Gio nyatanya sama saja dengan pria-pria lainnya. Selalu memaksa dan tak mendengar kata penolakan.
"kita bisa dekat tapi tidak dengan hubungan yang lain." Tutur Arum, menegaskan jika dirinya tak bisa menjadi seseorang yang penting baginya.
Hati Arum terlalu menyimpan banyak luka untuk saat ini. Di khianati satu kali dalam percintaannya membuat Arum sampai sekarang tak bisa melupakan itu semua.
Gio meraih tangan Arum dengan paksa.
"Ya aku tahu. kita pendekatan dulu saja, aku akan menunggumu sampai kapanpun."
Dengan cepat Arum menarik tangannya. Kesal dan ingin marah rasanya. Gio terlalu memaksakan kehendaknya.
"sekarang kamu pergilah, aku juga akan segera berangkat."
"aku antar ya?"
Lagi-lagi Arum hanya bisa menahan emosinya. Dengan cepat ia berbalik dan segera menaiki sepeda motornya.
"Aku berangkat sendiri. terimakasih atas tawarannya." Lalu segera melesat pergi meninggalkan Gio.
Arum terlalu lelah meladeni Gio. Dia hanya ingin ketenangan dalam hidupnya. Jauh dari gangguan Gio dan pria lainnya.
Kenangannya bersama Arga saja belum semuanya terlupakan. Sekeras apapun berusaha tetap saja setiap ada sesuatu yang berhubungan dengan pria itu membuat Arum mau tak mau merindukannya.
Gio dengan kecewa masuk kedalam mobilnya. Padahal pagi ini sudah berusaha bangun pagi-pagi sekali demi menemui Arum. Tapi hanya penolakan yang dia dapatkan.
Drrrtt...
Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar. Gio langsung menjawab telpon tanpa melihat siapa yang tengah menghubunginya.
"Apa?" Ujarnya terkejut, kakinya menginjak pedal rem dengan cepat.
Ponselnya terjatuh begitu saja. Tubuh Gio mendadak tegang, tangannya bergetar.
" Ibu..." Lirihnya.
"halo... halo... kamu masih di sana?" Orang di sebrang telpon masih berusaha untuk berbicara.
Tapi Gio nampaknya tak peduli. Ia segera menyalakan kembali mesin mobilnya dan bergegas menuju rumah sakit di mana ibunya di rawat.
Seminggu yang lalu ibunya kembali di rawat karena keadaannya yang drop. Wanita itu kritis selama beberapa hari. Semenjak keinginannya untuk bertemu kembali dengan Arum tak kunjung juga terpenuhi.
__ADS_1
Gio memang sering mengajak Arum untuk datang kerumahnya, tapi Arum selalu menolak dengan alasan sibuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ketika Gio mengatakan jika ibunya lah yang memintanya untuk datang.
"Di mana ibu saya?" Tanya Gio dengan nafas memburu. Ia cengkram erat lengan perawat yang baru saja keluar dari ruangan ibunya.
"di dalam Pak." Jawab sang perawat sedikit meringis.
Gio langsung masuk kedalam. Tubuhnya kaku dan pandangannya mengabur karena air mata yang mulai berlomba untuk keluar. Tubuh kaku sang ibu di atas ranjang pesakitan membuatnya tak berdaya.
Semua alat medis sudah di lepas dari tubuh kurus itu. Wajahnya pucat dan tubuhnya amat dingin.
"Ibu, buka matamu." Tak peduli dengan para perawat dan dokter yang ada di sana, Gio menangis meraung sembari memeluk tubuh ibunya.
Ada sesal di hatinya. Jika saja ia pagi ini menemui ibunya terlebih dahulu mungkin ia akan melihat senyum manisnya untuk terakhir kali. Gio memang tak menginap di rumah sakit karena ibunya yang memaksanya untuk tetap pulang.
Gio tak bisa mengabaikan permintaan sang ibu, ia pulang dan beristirahat di rumah. Mengemas beberapa baju ganti untuk sang ibu yang akan ia bawa siang harinya. Hatinya cukup tenang meninggalkan ibunya di rumah sakit, karena Gio telah meminta ART nya untuk menemaninya selama Gio berada di rumah.
...***************...
Arum untuk sejenak melupakan kekesalannya terhadap Gio. Ia tersenyum bahagia kala melihat anak-anak TK yang kini mulai berkerumun mengelilinginya.
Mereka begitu lucu juga menggemaskan. Di sini lah Arum bisa melupakan segala bebannya.
"Ibu, mau es?" Teriak salah seorang anak lelaki bertubuh gempal.
Arum menggelengkan kepalanya. Ia lalu mengusap pipi chubby nya dengan gemas.
"sayang ini masih pagi, tak baik makan es di pagi hari. sini, biar ibu simpan ya?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, menyembunyikan es loli di belakang tubuhnya.
Guru-guru yang lain pun mulai berdatangan. Mereka memulia sesi belajar. Dari bernyanyi, membaca hingga belajar menghitung.
Di luar gedung sekolah nampak Rindu yang tengah berdiri, menyender pada mobil.
"Aku di sekolah. Arum baru saja mulai mengajar."
Rupanya dia tengah menerima telpon. Maniknya bergerak gelisah kala mendengar kabar buruk dari seseorang yang baru saja menghubunginya.
"Kamu tunggulah sebentar, aku akan bawa Arum."
Rindu terus memperhatikan sekolah yang bangunannya tak begitu besar itu. Hanya ada tiga ruangan saja, yang terdiri dari dua kelas dan satu ruang guru.
Begitu melihat anak-anak berhamburan keluar, ia cepat-cepat memasuki area sekolah. Jam pulang telah tiba, itu artinya Arum pun sudah selesai mengajar.
"Arum..."
Arum yang baru keluar dari kelas langsung berbalik.
"Rindu, ada apa?"
"ada kabar duka."
Arum mengernyit heran.
__ADS_1
"Kabar duka?" Ulangnya.
Rindu mengangguk sambil menarik Arum keluar dari area sekolah.
"tunggu sebentar." Arum menghentikan langkahnya, ia berlari menuju penjaga sekolah.
"Pak, saya titip motornya ya."
"Iya Bu. siap."
Setelah menitipkan kendaraan miliknya, Arum bergegas menghampiri Rindu.
"kabar duka apa? apa saudara mu mendapatkan musibah?" Tanya Arum begitu masuk kedalam mobil.
Rindu menggelengkan kepalanya. Rautnya nampak murung.
"ibu Gio telah meninggal."
Deg...
Arum tertegun. Bibirnya terkatup rapat. Entah kenapa tiba-tiba saja merasakan perasaan bersalah. Tangannya meremas rok hingga menimbulkan kusut. Arum ingat, Gio selalu bilang jika ibunya ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali.
Tapi Arum abaikan itu. Dia hanya berpikir jika semua hanya alasan Gio saja, menggunakan nama ibunya untuk membuat dirinya datang kerumah.
"Arum, are you okay?" Khawatir Rindu.
"ya. bagaimana dengan Gio?"
"Entahlah, dia menghubungi ku tadi. Suaranya terdengar serak dan ku rasa dia tak baik-baik saja."
Arum mengangguk, tentu saja Gio akan sangat buruk sekarang. Siapa yang akan baik-baik saja ketika di tinggalkan oleh orang tercinta.
Drrrtt....
Arum merogoh tasnya. Raya menghubunginya. Dengan cepat ia pun mengangguk panggilan itu.
"mam..."
"Arga... Arum." Seru Raya dari sebrang sana dengan suara yang begitu panik.
Arum jadi tak tenang.
"ada apa mamah? apa yang terjadi?"
Tak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis saja dan suara Romzi yang berusaha menenangkannya.
Arum segera mematikan panggilannya.
"Rindu, antar aku kerumah mamah ya?"
"loh...kita kan mau kerumah Gio?"
"nanti saja, aku khawatir terjadi apa-apa dengan mamah. dia menelpon sambil menangis, ku mohon."
__ADS_1
Rindu menghela nafas berat. Bagaimana pun ia tak bisa menolak permintaan Arum. Ia segera memutar arah laju mobilnya.
...***************...