
Tring...
Arum meletakkan sapu yang di pegangnya lalu bergegas kearah meja makan di mana ponselnya berada. Raya pun sudah memasukan semua pecahan gelas itu ke tempat sampah.
"siapa Rum?" Tanya Raya ikut penasaran.
"Rindu, mah. sebentar ya, Arum angkat telpon nya dulu."
Raya menarik satu kursi lalu duduk sambil memperhatikan Arum yang berdiri di depannya.
"Apa? kamu tak salah lihat Rindu? sekarang kamu di mana?" Arum hampir menjatuhkan ponselnya begitu mendengar kabar yang di berikan Rindu.
Tubuhnya bergetar hebat sehingga kedua lututnya menjadi lemas. Tubuh kurusnya hampir saja terjatuh jika Raya tak sigap menangkapnya.
"Arum, ada apa?"
"mas..Arga mah.." Ujarnya terbata, airmata meleleh begitu saja.
"ada apa dengan Arga?" Rasa tak enak hati yang di rasakan Raya semakin kuat.
Arum pun mengatakan semuanya. Rindu meneleponnya untuk memberikan kabar duka tentang Arga. Wanita itu tak sengaja lewat dan melihat ada sebuah kecelakaan. Karena rasa penasaran ia menghampiri kerumunan.
Meski ada masih ada rasa kesal kepada Arga dan Madu, Rindu tak bisa pura-pura untuk tak melihat. Maka dengan cepat ia menginformasikan bahwa dirinya adalah saudara Arga.
Dengan bantuan polisi dan beberapa pengguna jalan, akhirnya Rindu membawa keempat orang itu kerumah sakit.
Raya menangis di pelukan Arum. Mungkin mulutnya memang terus mengatakan kesal juga kecewa pada Arga, tapi hati kecilnya masih menyayangi anak kesayangannya itu.
Setelah memberitahu Romzi yang sedang bekerja, akhirnya mereka pun bergegas kerumah sakit untuk melihat Arga.
Tak butuh waktu lama, Arum dan Raya pun tiba. Keduanya langsung berlari menuju ruang gawat darurat. Di sana Rindu nampak duduk bersama dengan seorang wanita tua dan satu anak kecil.
"Arum... Tante Raya." Panggilnya.
"di mana Arga?" Tanya Raya cemas. Sementara Arum hanya diam terpaku menatap dua wanita berbeda usia di hadapannya.
Ia tahu, anak kecil itu pasti Rehaya. Seperti yang di katakan Arga, rambutnya ikal, mata bulat dengan alis yang tebal. Dadanya tiba-tiba bergemuruh.
"Arum..." Rindu menyentuh bahunya. "kamu baik-baik saja?"
Arum mengangguk.
Rindu menghela nafas panjang. Di telpon dia sengaja tak memberitahu Arum jika Arga kecelakaan bersama Madu beserta calon anak tirinya.
"mereka siapa?" Raya menatap Retno yang menunduk sambil memeluk tubuh mungil Rehaya.
"mamah, akan Arum jelaskan nanti. sebaiknya kita lihat mas Arga dulu." Arum sengaja melakukannya, ia tak ingin mertuanya mengurungkan niatnya untuk melihat Arga jika tahu bahwa wanita di hadapannya kini adalah calon mertua juga anak tiri dari putranya.
Raya mengangguk tapi matanya terus menatap Retno. Seolah ada sesuatu yang ia curigai dari wanita tua itu.
"Rindu, sebentar lagi Om Romzi tiba. kamu katakan saja kami di dalam." Ucap Raya.
Dengan perasaan cemas Raya dan Arum masuk kedalam ruangan. Di sana banyak sekali pasien, tepat di bilik ke empat langkah keduanya terhenti. Arga tengah di tangani beberapa perawat, kondisinya cukup parah.
Bagian kakinya mengeluarkan banyak darah. Raya yang melihat itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berair, tak kuasa menahan tangis. Hal yang sama pun Arum rasakan.
"permisi, kalian keluarga pasien?" Tanya salah seorang perawat pada Raya.
"i...iya."
"ikut saya, ada yang ingin dokter sampaikan." Ujar perawat itu lalu mengantar Raya dan Arum untuk bertemu dokter yang menangani Arga.
Rupanya Arga mengalami patah tulang juga beberapa luka yang cukup dalam, sehingga harus di lakukan operasi. Raya menangis keras di pelukan Arum mendengar penjelasan sang dokter.
"lakukan saja Dok." Ucap Arum.
"baiklah, kami akan segera melakukan operasi pada pasien dan yah...satu lagi, korban kecelakaan lainnya bagaimana? mereka itu suami istri bukan?"
Deg...
Arum terdiam. Kenapa dokter ini bisa berasumsi seperti itu, apa karena mereka berada di mobil yang sama. Raya melepaskan pelukannya, menatap dokter itu dengan penuh tanya.
"jadi...anak saya tak sendiri di dalam mobil?"
Dokter wanita berhijab itu menggelengkan kepalanya. Lalu menjelaskan pada Raya jika Arga memang tak sendiri. Ada tiga oranglainnya, satu anak kecil dan dua wanita dewasa.
Mendengar penjelasan itu membuat Raya ingat dengan wanita tua dan anak kecil di luar tadi. Lalu ia melirik Arum yang hanya diam saja.
__ADS_1
"kami ingin melihatnya? wanita itu, apa dia mengalami luka yang parah juga?"
"tidak, wanita itu hanya mengalami beberapa memar dan sekarang masih belum sadar karena terlalu shock mengakibatkannya pingsan." Jelas sang dokter.
Dokter itu pun memberitahu di mana keberadaannya. Dengan cepat Raya menyeret Arum untuk segera melihat wanita yang di maksud. Ia yakin, itu pasti selingkuhan anaknya. Ingin melihat seperti apa rupanya, berani sekali menjerat Arga dan menghancurkan pernikahan Arum dengan Arga.
"mamah, mau melihat Madu?" Tanya Arum.
"jadi namanya Madu? ck... nama tak sebagus kelakuannya." Decih Raya.
Keduanya berdiri tepat di bilik nomor 7, dengan perlahan Raya menggeser gorden berwarna hijau. Keningnya mengernyit melihat penampilan wanita yang berbaring di ranjang pesakitan itu.
Persis seperti seorang pengantin yang akan melakukan ijab kabul. Kebaya putih, rambut di sanggul. Hanya saja kebaya putih itu sudah ternoda, ada sedikit bercak merah di sana, yang mungkin adalah darah.
Arum pun mematung di tempatnya melihat penampilan Madu. Pikirannya melayang jauh.
"apa mereka hendak menikah atau..." Arum tak melanjutkan kalimatnya karena Raya menarik tangannya dengan keras, membawanya keluar dari ruangan.
Raya berdiri tepat di depan Retno. Ia butuh penjelasan, kenapa ketiga wanita ini ada bersama Arga ketika kecelakaan.
"siapa kamu?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Retno mendongakkan kepalanya. Menelan ludahnya ketika melihat begitu tajam tatapan yang di berikan Raya. Meski usianya lebih tua tapi tak ia pungkiri jika saat ini nyalinya begitu kecil. Raya terlihat garang dengan wajah yang marah.
"Tan.. bisa aku jelaskan. ini rumah sakit, tak baik..."
"tidak Rindu. Tante butuh penjelasannya sekarang. siapa kamu dan wanita di dalam sana? apa hubungannya dengan Arga?"
Arum yang tak ingin menjadi tontonan langsung mengelus bahu Raya. Tak boleh sampai membuat keributan di tempat seperti ini.
"ada apa ini?" Romzi baru saja tiba.
Arum menghela nafas lega, untung saja Romzi sudah datang. Dengan cepat Arum meminta Romzi untuk segera membawa Raya, ia tak ingin ada pertengkaran di sini.
"Pah, wanita itu..."
"mah, tenang dulu. kita bisa bicara baik-baik." Sela Romzi.
Sementara itu Arum dan Rindu meminta pada Retno untuk segera ikut dengan mereka. Mungkin sudah seharusnya Raya dan Romzi tahu jika ia adalah calon mertua anaknya. Apapun nanti reaksi keduanya, itu bukan urusan bagi Arum. Yang jelas semua permasalahan ini harus benar-benar selesai.
Raya menahan nafasnya ketika Retno mengakui siapa dirinya dan mau kemana mereka ketika kecelakaan itu terjadi.
Dengan emosi tertahan ia memarahi Retno. Bagaimana bisa seorang ibu bersikap begitu kejam, sudah tahu jika Arga memiliki istri kenapa ia tetap mendorong anaknya untuk tetap mendekati Arga.
Tentu semua itu di beberkan oleh Retno sendiri, bahkan dengan tak tahu malunya di mengatakan jika Madu lebih baik dari Arum. Bisa memberikan keturunan juga lebih berpenampilan menarik.
"anakku bisa memberikan anakmu keturunan, kalian bisa merasakan bahagianya menjadi seorang nenek dan kakek." Tukasnya.
Arum yang mendengar itu hanya diam, sesekali melirik Raya. Ingin tahu apakah wanita itu juga akan terpengaruh seperti Arga. Karena selama ini Raya memang mengidamkan seorang cucu begitu juga dengan Romzi.
"kamu lihat saja, mertuamu itu tidak akan termakan omongan wanita tua itu." Bisik Rindu mencoba menguatkan sahabatnya.
Arum hanya takut, jika semuanya akan pergi jauh darinya. Kehilangan Arga begitu menyakitkan apabila harus di tambah lagi ia tak tahu akan bisa bertahan atau menyerah dengan dunianya.
Plak...
Semua mata tertuju pada Raya. Tak mereka sangka bahwa ia akan menampar Retno begitu keras, di hadapan semuanya bahkan ada Rehaya di sana. Gadis kecil itu langsung menangis, mendorong tubuh Raya sekuatnya.
"jangan sakiti nenek."
Romzi langsung menarik tangan Raya lalu menyeretnya pergi. Ia tak ingin istrinya melakukan hal yang lebih buruk lagi.
"nenek..." Rehaya memeluk kaki Retno. "nenek sakit tidak?" Tanyanya polos.
Baginya Raya dan orang-orang yang ada saat ini adalah orang jahat. Dengan cepat ia melemparkan sepatunya pada Arum dan Rindu.
"Tante orang jahat, semuanya jahat."
Retno yang melihat itu hanya diam, tak mencegah ataupun memberikan pengertian pada gadis kecil itu. Baginya sudah bagus Rehaya bersikap seperti itu, membela dirinya.
"ayo kita pergi juga." Ajak Rindu, tak mau jika nanti ia berbuat kasar pada anak kecil karena hilang kesabaran.
...***************...
Sekitar pukul 10 malam, Arga di pindahkan keruangan. Kondisinya masih belum bisa dikatakan baik. Madu pun di tempatkan di kamar yang sama, bedanya wanita itu sudah sadar dan kini tengah duduk di samping ranjang pesakitan Arga. Ia belum mengetahui perihal kaki Arga yang patah.
"mas, bagaimana dengan pernikahannya?" Madu masih saja memikirkan hal itu, melihat kondisi Arga seperti ini bukannya sedih malah merasa kecewa.
__ADS_1
Raya sebenarnya ada di luar kamar, mengintip apa yang tengah di lakukan Madu.
"mah, kita masuk saja ya?" Ajak Arum.
"tidak. mamah disini saja. lagipula untuk apa kamu masuk? Arga itu sudah menyakiti mu. Bahkan dia berniat memamerkan pernikahannya makanya Tuhan..."
"mamah, bagaimana juga Arga putra kita." Dengus Romzi. Tahu jika Raya mengatakan itu hanya karena kesal saja.
Jauh di dalam hatinya, wanita itu merasa cemas juga sedih.
"kalian masuk saja, nanti mamah nyusul." Ujarnya kemudian.
Arum dan Romzi pun hanya bisa diam. Keduanya langsung masuk kedalam.
"bagaimana keadaan Arga?"
Madu terkesiap mendengar suara Romzi. Buru-buru bangkit duduknya.
"Arum...kenapa kesini?" Bukannya menjawab pertanyaan Romzi, wanita itu malah mendelik tak suka pada Arum.
"kenapa memangnya? dia menantuku. apa tak boleh melihat anakku?" Ucap Romzi penuh penekanan membuat Madu langsung menunduk.
Ia tak tahu jika pria ini adalah ayah Arga, calon mertuanya.
"Bu...bukan begitu..."
"sudahlah, aku tak ingin berdebat. kamu bisa pergi sekarang." Usir Romzi.
"apa?" Madu terkejut. "tidak bisa, kami akan menikah. lagipula Arga dan istrinya sudah bercerai."
Romzi hendak bicara tapi Arum segera menghentikannya.
"sudah Pah." Arum tak ingin tensi darah Romzi naik karena tingkah Madu.
"kami hanya ingin melihat kondisi mas Arga. Soal kalian yang akan menikah tak ada urusannya dengan ku." Lanjut Arum lagi. Sudah ia putuskan tak akan terpuruk hanya karena pengkhianatan yang di dapatnya.
Arum menunjukkan betapa ia kuat, Arga bukan lagi prioritas utama baginya.
Madu mengepalkan tangannya. Melihat ekspresi wajah Arum yang datar entah kenapa membuatnya semakin kesal. Kenapa wanita itu tak terlihat sedih atau marah.
"Arum..."
Di tengah perdebatan tiba-tiba Arga terbangun, matany membuka perlahan. Bibirnya yang pucat menyebutkan nama Arum begitu jelas. Membuat semuanya langsung melihat kearahnya.
"mas Arga sudah bangun." Madu langsung menghampiri, mengusap wajah Arga.
Tapi mata sipit pria itu tertuju pada Arum yang berdiri di belakang Madu.
"Arum..." Ucapnya lagi.
Madu langsung mengatupkan bibirnya dan menarik tangannya.
"ada apa dengan kakiku?" Arga tiba-tiba panik begitu akan bangun kedua kakinya sulit di gerakkan.
Dengan sekali sentak ia menarik selimut yang menutupi setengah badannya. Matanya membulat sempurna melihat kedua kakinya terbalut kain putih. Hal yang sama pun terjadi pada Madu. Ia baru tahu jika kaki Arga di perban. Karena sedari tadi tak memeriksanya.
"mas, kaki mu?" Madu mundur beberapa langkah.
Arum menghela nafas berat. Bagaimana pun juga Arga harus tahu apa yang terjadi padanya, dengan berat ia memberitahu pria itu.
"kedua kaki mas Arga mengalami luka yang parah, operasi hanya untuk menyambungkan beberapa otot dan syaraf yang putus." Ucapnya, menghela nafas sebentar lalu melanjutkan kembali. "dokter bilang kecelakaan itu menyebabkan kedua kaki mas Arga lumpuh total."
Pernyataan terakhir itu membuat Arga bagai tersambar petir. Pria itu diam seribu bahasa, hatinya bergemuruh hebat. Madu pun semakin shock mendengarnya, tubuhnya terjatuh ke lantai karena lututnya terasa lemas.
"Ti...tidak mungkin..." Teriak Arga keras.
Nampak sekali pria itu hancur. Meraung di atas ranjang pesakitan.
Raya yang berada di luar kamar itu pun ikut menangis. Ingin berlari masuk kedalam dan memeluk tubuh anaknya. Tapi, ia tak sanggup. Hanya mampu menangis sembari menutup kedua telinganya, tak ingin mendengar jeritan pilu sang anak.
Arum pun tak sanggup menahan airmatanya. Romzi mendekap erat tubuh Arga. Memberikan kekuatan padanya.
"tenanglah." Ujarnya.
Sementara itu Madu beringsut bangun lalu keluar begitu saja. Mendengar kenyataan itu membuatnya tak bisa menerimanya. Madu tak ingin bersama Arga jika keadaan pria itu tak sempurna.
...***************...
__ADS_1