Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
17. Rasa bersalah


__ADS_3

Arum menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja setiap bertemu dengan Gio. Ia tak ingin pria itu mengasihaninya dan membuatnya semakin bertekad ingin melindungi dirinya. Arum tak ingin lagi bergantung pada siapapun, ia mampu dan harus bisa meski tanpa seseorang di sampingnya.


Sore ini, Gio memintanya untuk bertemu. Meski sebenarnya Arum ragu tapi tetap menyetujui permintaan itu.


Duduk di cafe dengan gelisah tatkala Gio memandang penuh perhatian. Sikap pria ini selalu membuat Arum tak nyaman, meski berulang kali ia tegaskan jika dirinya tak bisa lagi memberikan hatinya pada pria manapun.


"Rindu sudah mengatakan padaku, waktu itu kamu tak bisa datang karena ada masalah dengan mertuamu." Tutur Gio. "Apa masalah Arga?"


"Itu... sebaiknya kita jangan bahas masalah itu." Arum selalu tak nyaman jika setiap saat ada seseorang yang membahas tentang Arga.


Hatinya selalu merasa resah. Arum tak ingin lagi mendengar tentang Arga. Cukup kemarin dia merasa kacau.


"Bagaimana dengan mu sekarang? maafkan aku. seharusnya waktu kamu minta aku kerumah..." Arum sampai tak bisa berkata dengan lancar, wanita itu merasa bersalah ketika mengingat ibu Gio.


Bahkan untuk terakhi kali pun dia tak bisa bertemu dengannya.


"Jangan di pikirkan. Ibu ku sudah tenang sekarang dan aah...ini." Gio menyerahkan kalung emas berbandul hati kepada Arum.


"apa ini?"


"setiap hari ibu memintaku untuk membawa mu kerumah. Inilah alasannya."


Arum menatap kalung itu dengan perasaan tak menentu. Matanya berembun, ketika wajah tua itu terlintas di benaknya. Waktu bertemu saja, ibu Gio begitu baik dan perhatian terhadapnya.


Meski tak begitu dekat dan hanya bertemu beberapa kali saja waktu di rumah sakit, Arum tahu jika wanita itu sangat baik. Senyumnya nampak tulus juga penuh kasih sayang.


"ini... untuk ku?" Tanya Arum dengan suara bergetar.


Gio mengangguk. Ibunya memang selalu berkata ingin memberikan kalung itu kepada Arum, dengan alasan karena ia menyukai Arum. Merasa jika Arum sangat pantas dengan Gio. Berharap Arum akan menjadi istri Gio.


Tapi sayang, Tuhan berkehendak lain. Ia tak lagi bisa bertahan karena penyakitnya yang terus menggerogoti tubuhnya. Setiap hari kondisinya semakin lemah.

__ADS_1


Akhirnya tangis Arum pecah. Ia menyesali perbuatannya, andai saja waktu itu ia tak menolak ajakan Gio. Mungkin tak akan se- menyesal ini.


"Maafkan aku Arum. ibu terlalu berharap banyak padamu. Tapi... sekarang aku tak akan memaksa mu. aku akan ikuti apa yang kamu katakan, kita dekat seperti dulu. sebagai teman...tak lebih." Ucap Gio dengan senyum tulus di bibirnya.


Pria itu memang tak ingin lagi memaksakan kehendaknya. Mungkin dengan cara ini hati Arum justru akan terbuka untuknya.


"apa aku boleh melihat makam ibu mu?" Tanya Arum, setidaknya dia bisa mengirimkan doa dan menaburkan bunga sebagai tanda penghormatannya.


"tentu saja."


Keduanya pun segera beranjak dari duduknya. Mereka bergegas meninggalkan cafe. Mampir ketoko bunga lalu pergi menuju tempat pemakaman di mana ibu Gio di semayamkan.


Tanpa mereka tahu, seseorang tengah memperhatikan setiap gerak gerik keduanya. Orang itu sengaja memakai masker dan jaket agar tak ketahuan.


"bagus, ini bisa di jadikan bukti kalau Arum memang lebih bahagia sekarang." Ujarnya.


Ia menekan tombol send dengan tak sabaran. Begitu beberapa foto yang dia ambil tadi sudah terkirim, ia segera mematikan data ponselnya dan ikut keluar dari cafe.


Jessie memandangi wajah Arga yang terlelap. Pria itu nampak damai juga tenang setelah seharian tadi mengamuk. Dengan terpaksa Yohan menyuntikkan obat penenang padanya.


"Dad, apa mantan istri nya begitu berharga?" Tanya Jessie.


Yohan menarik nafas dalam-dalam. Ia tak tahu seperti apa istri Arga. Semenjak tinggal di Singapura, Yohan memang tak pernah kembali ke Indonesia. Saat Arga menikah pun dia tak hadir. Hanya beberapa kali melihat fotonya saja yang sengaja di kirim Raya padanya. Selebihnya ia tak tahu seperti apa wanita yang menjadi istri Arga.


"Daddy tak pernah tahu seperti apa istrinya. Tapi, jika melihatnya seperti ini Daddy rasa wanita itu amat berarti baginya."


Jessie menggigit bibirnya. Sedalam itu cinta Arga terhadap istrinya, tentu saja membuat dirinya merasa cemburu. Kenapa bukan dirinya wanita yang Arga cintai, Jessie janji ia tak akan pernah menyakiti Arga.


"Kamu jaga Arga dan ingat jangan bahas tentang istrinya saat dia bangun nanti."


"Uumm..."

__ADS_1


Yohan mengelus kepala Jessie. Sebenarnya agak berat meninggalkan Arga yang kondisinya seperti sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi ia harus segera kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Arum..." Arga membuka matanya. Berucap lirih seraya menyentuh tangan Jessie.


"Mas, ini aku... Jessie."


Arga segera menarik tangannya begitu kesadarannya semua terkumpul. Membuang pandangannya ke arah kanan, menghindari tatapan Jessie.


"mas, kamu baik? apa yang kamu rasakan sekarang?"


"aku baik-baik saja. pergilah." Usirnya tanpa melihat Jessie sama sekali.


Jessie menghela nafas panjang. Dengan cepat beranjak dari duduknya, tak mau berdebat ataupun membuat Arga kembali marah. Jessie buru-buru keluar tanpa berkata sepatah katapun lagi.


Arga melihatnya dengan alis bertaut. Sedikit aneh dengan sikap Jessie. Biasanya wanita itu selalu saja melakukan drama setiap berbicara dengannya. Entah itu merajuk ataupun terus bersikeras berada di sampingnya. Tapi kali ini, tanpa bantahan sedikit pun Jessie langsung pergi begitu saja.


Drrrt....Drrrtt...


Arga tersentak kala ponselnya yang berada di atas nakas bergetar. Dengan susah payah ia mengangkat tubuhnya untuk duduk, kakinya sama sekali tak bisa ia gerakkan. Selama berbulan-bulan tinggal di tempat ini, belum sekali pun Arga melakukan terapi karena setiap kali tumbuh semangat untuk sembuh selalu ada saja hambatan. Entah itu sebuah pesan atau foto yang dikirim seseorang kepadanya.


Pesan yang selalu mengatakan jika Arum lebih bahagia tanpanya di tambah foto yang menunjukkan kemesraan Arum dengan pria lain.


Bahkan penyebab Arga mengamuk siang ini karena orang itu kembali mengirimkan sebuah foto. Di sana tertulis jika Arum tengah di lamar seseorang. Jelas sekali buktinya, Arum menerima sebuah kalung menunjukkan bahwa semuanya memang benar.


Drrrt....Drrrtt..


Lamunannya buyar begitu ponselnya kembali bergetar. Arga segera mengambilnya, hanya memandang layar persegi dengan itu bibir terkatup rapat. Jemarinya terasa kaku, setiap Raya menelponnya Arga sungguh tak tahu harus mengatakan apa. Hanya satu pilihannya, mengabaikan panggilannya.


Arga bukan tak ingin bicara dengan ibunya. Hanya saja ia merasa belum siap. Arga tak ingin mendengar suara tangis Raya. Hatinya akan semakin sakit nanti, rasa sesalnya pun pasti kian membesar. Raya begitu marah terhadapnya, jika saja kecelakaan itu tak terjadi sudah di pastikan Raya pasti masih marah dan tak akan mengkhawatirkannya dirinya seperti ini.


...******************...

__ADS_1


__ADS_2