Penyesalan Suamiku

Penyesalan Suamiku
5. Kegilaan Arga


__ADS_3

Seminggu berlalu, Arum sama sekali tak baik-baik saja. Di khianati dan di tinggalkan oleh seseorang yang sangat di cintai memang begitu menyakitkan. Wanita itu hanya diam melamun setiap hari. Hatinya masih belum bisa menerima semuanya.


Serasa mimpi, jika saat ini dirinya bukan lagi istri Arga. Pria yang selalu membuatnya tersenyum kini telah menorehkan luka hingga airmata mengering.


"apa ini Arum..." Raya tak suka melihat piring yang masih penuh dengan makanan.


Sengaja bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan agar Arum bisa menikmatinya. Tapi nyatanya wanita itu sama sekali tak menyentuhnya.


"Mah, Arum tak lapar." Cicitnya.


Tubuhnya yang kurus semakin kurus saja. Lingkaran hitam di matanya bahkan terlihat sangat parah. Menunjukkan jika Arum tak pernah tidur nyenyak akhir-akhir ini.


Raya menghela nafas berat. Kesedihan Arum membuatnya ikut terluka.


"kamu harus terlihat baik Arum. Jangan seperti ini, Arga tak pantas kamu tangisi."


Arum menatap wajah Raya.


"mas Arga anak mamah, kenapa mamah tak membelanya?" Pertanyaan Arum membuat Raya mendengus.


"haruskah mamah mendukung Arga? anak bodoh itu berbuat salah, apa mamah harus membenarkannya? Mamah seorang wanita jika kamu lupa, hati dan perasaan mamah tak bisa membiarkan ini semua. Kamu yang telah di sakiti jadi mamah harus berada di samping mu."


"mamah..." Arum kembali menangis haru. Raya memang mertua idaman bagi setiap wanita.


"mamah menyayangi Arga karena dia anak mamah tapi mamah tak bisa membenarkan apa yang dia perbuat. Jangan berpikir aneh-aneh lagi, sampai kapanpun mamah tak akan menerima wanita itu. hanya kamu Arum yang mamah mau."


Raya mengatakan itu bukan tanpa alasan. Kata-kata itu keluar dari dalam hatinya.


Sementara itu Arga tengah bersenang-senang dengan Rehaya juga Madu. Ketiganya pergi berwisata ke kebun raya untuk menyenangkan gadis kecil itu.


Persis seperti keluarga kecil bahagia. Rehaya di gendong Arga dengan tangan kanan sementara tangan kiri di apit oleh Madu. Senyum lebar terpancar dari wajah ketiganya.


Arga benar-benar lupa akan Arum. Bahkan dalam hati ia berniat untuk membuat wanita itu menyesal kehilangan dirinya. Salah siapa tak mau menerima Madu sebagai adik madunya, padahal jika Arum menerima keberadaan Madu dan tak memberitahu orangtuanya Arga tak akan menceraikannya.


Tapi, Arum sudah menghancurkan segala rencana juga harapannya maka dengan kesal ia pun melontarkan kata talak.


"Papah, lihat ada gajah." Rehaya sangat antusias melihat berbagai jenis hewan di sana.

__ADS_1


Gadis kecil itu meronta ingin turun, Arga pun segera menurunkannya dari gendongan.


"eh...jangan lari Aya." Teriak Madu cemas melihat anaknya yang langsung berlari kencang kearah kandang gajah.


Arga mencekal tangan Madu.


"biarkan saja, jangan ganggu kesenangannya. Kita cukup awasi dia."


"tapi mas, ini pertama kali loh Aya berada di tempat ramai seperti ini. Takut hilang."


"tak akan. kita awasi dia dengan benar."


Madu pun menurut. Berjalan beriringan dengan Arga sambil terus mengawasi Rehaya yang berlari kesana kemari.


Tepat di depan kandang gajah yang lumayan besar itu mereka berhenti. Madu langsung menghampiri anaknya dan Arga memilih untuk duduk di kursi kayu yang ada di sana. Tersenyum melihat ibu dan anak itu.


"mas, andai saja ya kita punya anak. Pasti seru main ketempat seperti ini."


"jangan bahas itu, mas ajak kamu kesini untuk happy. mengenang waktu kita pacaran dulu."


Arga terhenyak mendengar obrolan pasangan yang melintas di depannya. Pikirannya langsung melayang ke 4 tahun yang lalu. Dimana saat itu dirinya dan Arum masih berstatus kekasih.


"kalau kita nikah nanti kan punya anak, kita kesininya ramai-ramai. pasti seru, ga sabar deh nikah sama kamu." Goda Arga sambil memeluk tubuh Arum dari belakang.


"mas..." Sentakan keras pada lengannya membuat lamunan tentang Arum pun pudar.


Arga melihat Madu yang cemberut sembari menggendong Rehaya, anak kecil itu sepertinya sudah lelah dan mengantuk.


"eh... ada apa?"


Madu mendengus.


"aku panggil berkali-kali diam saja, apa sih yang kamu pikirkan mas? mikirin mantan istri yang mandul itu?" Ketusnya tak suka.


Sedikit terperanjat, Madu tak biasanya berkata kasar seperti ini. Tapi, kenapa sekarang ia berani berkata begitu tentang Arum, mengatai wanita itu.


"jangan marah, sini Aya biar mas gendong. kita pulang saja."

__ADS_1


Tak ingin ada perdebatan akhirnya Arga memutuskan untuk mengajak mereka pulang. Entah kenapa ia merasa jika kedekatannya dengan Madu terasa sedikit hambar, padahal seharusnya mereka lagi mesra-mesranya karena seminggu lagi akan menikah.


Madu pun masuk kedalam mobil, wanita itu tersenyum melihat Arga yang menidurkan anaknya di kursi belakang dengan penuh hati-hati. Hatinya semakin terasa hangat, bahagia sekali karena bisa mencarikan Rehaya pengganti ayah yang begitu baik luar biasa.


Setibanya di rumah, Arga langsung pamit kembali untuk pergi. Dia beralasan ada pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya. Madu tentu saja percaya, karena memang selama ini Arga selalu sibuk bekerja dan gila kerja.


...***************...


Jam 10 tepat, seharusnya Arum sudah tertidur nyenyak. Tapi, wanita itu malah asyik melamun di teras rumah. Kenangan manis tentang Arga dan dirinya di rumah ini lah yang menyebabkan Arum tak bisa melupakan sosok pria itu.


Tiinn....


Suara klakson mobil di depan gerbang cukup keras. Arum bergegas bangkit, berlari kearah pintu pagar untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini.


Melihat kebelakang untuk memastikan jika kedua mertuanya tak bangun untuk keluar.


"mas Arga..." Desisnya tak percaya melihat pria itu keluar dari mobil.


"Rum, buka kuncinya. mas mau bicara." Serunya sembari memegang pagar besi itu, tatapan matanya begitu memohon.


Arum tak bergeming. Rasa cintanya mungkin besar dan sulit untuk di kubur begitu saja tapi jika melihat Arga sedekat ini rasa sakitnya terasa semakin dalam. Dengan cepat Arum beranjak pergi, mencoba untuk abai.


"sudah tak ada hubungan di antara kita." Ujarnya sambil terus berjalan menuju pintu masuk. Berniat untuk masuk kedalam rumah tanpa memberi jalan pada Arga.


"Arum... mas khilaf. ayolah...buka pintu pagar nya?" Pinta Arga memelas.


Arga memang merasa menyesal telah melontarkan kata talak itu. Ia ingin kembali bersama Arum, baginya semua terasa hampa jika tak ada Arum di sisinya.


Madu pun tak lagi semenarik dulu, sikapnya yang selalu pemaksa juga sering marah itu membuat Arga berpikir jika Arum adalah wanita terbaik yang pernah ia miliki.


Meski pernikahannya dengan Madu tetap akan terus berlanjut, Arga pun berharap Arum mau kembali rujuk dengannya. Lagipula perceraian mereka belum resmi menurut hukum. Arum maupun Arga belum melaporkan perihal itu.


"secara hukum kita masih suami istri." Teriak Arga lagi.


Langkah Arum terhenti,berbalik menatap Arga dengan geram.


"ya itu benar. tapi menurut agama kita sudah bukan lagi pasangan sah. Kedekatan kita hanya akan jadi zinah." Arum pun tak kalah lantang bicara.

__ADS_1


Suara keduanya cukup keras sehingga membangunkan Raya dan Romzi yang sedang tertidur pulas. Mereka bergegas keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.


...**************...


__ADS_2