
Arum semakin benci dengan Arga. Pria yang selama ini ia percaya telah menyakiti hatinya begitu dalam. Bahkan sama sekali tak peduli dengannya yang kini tengah menangis keras. Arum melempar segala benda yang ada di ruang tamu.
"pergi...pergi..." Teriaknya.
Arga mencoba menghindari setiap benda yang di lemparkan ke arahnya. Pria itu menarik nafas dalam lalu keluar rumah. Ia rasa ini bukan saat yang tepat bicara dengan Arum. Emosinya tak terkendali, jadi Arga akan membiarkan wanita itu sendiri untuk sementara waktu.
"Kamu tega mas. kamu tak punya hati." Teriak Arum pilu, mendengar deru mobil Arga yang kini telah menjauh.
Jika Arga bersikap begitu tega terhadapnya maka Arum pun akan melakukan hal yang sama. Kembali kekamarnya untuk mengambil ponsel. Akan ia beritahu mertua juga orangtuanya, tak peduli jika nanti mereka akan memarahi Arga atau lebih parahnya menghajar pria itu.
Arum tak akan diam saja di sakiti seperti ini. Semua rasa sakit ini harus terbalaskan.
Dan Arga sendiri memilih untuk kembali kerumah orangtua Madu. Pria itu sudah buta hingga tak memperdulikan keadaan Arum yang kacau.
"mas, kamu kembali. aku pikir..."
"aku lelah, Arum marah besar."
"jadi mas Arga kabur?" Madu menatap Arga.
Arga mengangguk. Bibir merah Madu tersenyum lebar, ada rasa senang karena Arga memilih untuk menemuinya ketimbang membujuk atau meminta maaf pada istrinya. Sudah di pastikan, dirinya tak akan kalah.
Dengan lembut Madu mengusap pipi Arga.
"ya sudah, mas masuklah kedalam. ibu dan Rehaya sedang ke pasar. mas belum makan pasti?"
Arga tersenyum kecil. Perhatian Madu membuatnya semakin lupa terhadap Arum. Masuk kedalam lalu segera menyantap nasi goreng buatan Madu.
Sementara itu Arum telah mengadu pada mertuanya. Saat ini mereka sedang berada di rumah, berunding apa yang akan mereka lakukan terhadap Arga.
"sayang, jangan menangis." Raya memeluk menantunya.
Hatinya ikut terluka. Anak yang selalu dia banggakan itu ternyata bersikap begitu kejam. Tak menyangka jika Arga yang selama ini baik bisa melakukan hal memalukan.
"Dimana Arga sekarang?" Tanya Romzi, Bapak mertuanya.
Wajahnya yang garang semakin terlihat menakutkan. Kedua tangannya mengepal menahan emosi.
"Arum tak tahu Pah." Jawab Arum dengan suara serak karena semalaman terus menangis.
"jangan beritahu orangtuamu Arum. mereka bisa sedih nanti. biar Papah urus anak si*LAN itu."
Arum mengangguk. Lagipula hatinya ragu untuk mengadu pada ibu dan ayahnya. Mereka bisa bersedih atas apa yang di alami Arum.
"maafkan ibu ya, mungkin ibu kurang baik mendidik Arga."
Tangis Arum semakin pecah mendapatkan perhatian dari kedua mertuanya.
"kemana anak bodoh itu. nomornya bahkan tak aktif." Romzi semakin kesal di buatnya.
__ADS_1
Arum sebenarnya tahu pasti Arga kembali kerumah Madu. Tapi ia tak akan mengatakan itu pada mertuanya. Arum pun menghubungi Rindu,meminta bantuan sahabatnya untuk mengumpulkan bukti perihal perselingkuhan Arga.
Ia tak akan lagi memaafkan pria itu. Tak ada lagi tempat di hatinya sekarang.
"Arum,mau pisah saja mah." Isaknya.
Raya menarik nafas dalam-dalam. Rasa sayang nya kepada Arum sangatlah besar. Berat rasanya jika harus melepaskan wanita ini. Kebodohan Arga telah menghancurkan segalanya.
"kamu yakin? kalian berpacaran lima tahun di tambah pernikahan ini, apa kamu yakin Arum?"
"hati Arum sakit. lagipula kata orang pria yang berselingkuh itu tak ada obatnya. jika pernah melakukan sekali maka akan terus di ulangnya."
Romzi menarik nafas kasar. Melihat menantu dan istrinya yang menangis membuat hatinya panas. Dengan kesal ia pun pergi keluar, berniat untuk mencari keberadaan Arga.
Akan ia seret pria itu kehadapan dua wanita yang dia sayangi. Beraninya Arga membuat Arum dan Raya menangis.
Ponsel Arga rupanya berada di tangan Madu, sengaja ia matikan agar tak ada satupun yang menggangu mereka. Madu melirik Arga yang tertidur pulas di ranjang, pria itu pasti mengantuk sekali karena malam kurang tidur.
"mas, seandainya saja Arum meminta cerai apa kamu akan mengabulkannya?" Gumam Madu.
Jemari lentiknya mengusap wajah Arga lembut. Ia tak mau kehilangan Arga, menginginkan pria ini seutuhnya. Sikap Arga yang penuh perhatian juga begitu menyayangi Rehaya membuat Madu semakin bersikap egois.
Wanita cantik ini berharap jika Arga dan istrinya bercerai. Dengan begitu kasih sayang Arga tak akan terbagi.
"Madu..." Panggil Retno dari luar kamar.
Madu segera keluar, tersenyum begitu melihat Rehaya yang berada di gendongan Retno.
Retno pun menyerahkan Rehaya. Wanita tua itu begitu senang, seumur-umur baru belanja sebegini banyak nya. Biasanya hanya akan membeli keperluan dapur saja tapi kali ini ia pun membeli beberapa potong baju, sendal juga kerudung.
Tentu saja, karena Arga yang telah memberikan uang padanya.
"lihatlah, ibu beli ini." Pamer nya pada Madu. "calon mantu ibu emang luar biasa."
Madu tersenyum mendengarnya. Lalu ia segera bertanya pada putrinya.
"Rehaya beli apa?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Wajahnya cemberut.
"loh, kok cemberut?"
"Cucu nenek ini pingin belanjanya sama papah Arga katanya." Sahut Retno.
Rehaya pun mengangguk membenarkan perkataan Retno. Madu segera memeluk tubuh mungil itu. Rehaya sudah sangat dekat dengan Arga,bahkan gadis kecil ini mengira jika Arga adalah ayahnya. Madu tak memperdulikan hal itu, karena memang sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Arga.
...*************...
Sudah menjelang malam kembali. Arum duduk termenung menatap keluar jendela. Seharian ini Arga tak pulang, bahkan Romzi pun sudah menyerah untuk mencarinya.
__ADS_1
"Arum, makan dulu ya?" Raya menghampirinya.
Arum menggelengkan kepalanya, nafsu makannya hilang semenjak mengetahui perselingkuhan suaminya. Arum tak berselera makan sama sekali, hanya diam saja yang dia lakukan.
Romzi mengelus punggung Raya.
"biarkan dulu, Arum butuh sendiri." Ujarnya.
Raya kembali kedapur, menaruh kembali piring berisi nasi dan lauk itu. Baru saja akan duduk tiba-tiba terdengar suara deru mobil di luar.
"akhirnya kau pulang juga, bocah si*l." Pekik Romzi, dengan cepat dia berjalan mendekati Arga.
Plak...
Tamparan yang begitu keras ia layangkan. Arga mematung di tempatnya mendapatkan pukulan yang begitu tiba-tiba.
"papah..."
"apa yang kamu lakukan? kemana seharian ini?" Bentaknya. "kamu tak peduli dengan istri mu? mana gadis jal*Ng itu?"
Arga pun langsung melihat ke arah Arum yang kini tengah berdiri di teras bersama Raya. Pria itu mengepalkan tangannya. Menatap Arum dengan penuh kemarahan. Kenapa Arum memberitahu orangtuanya, bukannya tadi pagi dia sudah memohon untuk menyembunyikan segalanya.
Kini Arga tengah di marahi oleh Romzi. Pria itu menunduk dalam-dalam tak berani membantah.
"Arga, apa kurangnya Arum? kenapa kamu..."
"aku hanya menginginkan seorang anak." Selanya cepat.
Romzi dan Raya pun saling pandang lalu melihat Arga dengan pandangan tak percaya.
"kamu khianati istrimu hanya karena itu?" Tanya Raya dengan geram. "kalian bisa mengadopsi anak. kenapa pikiran mu begitu sempit Arga?"
Mendengar semuanya membuat Arya tak tahan lagi. Merasa tak ada satupun yang mengerti dengan keinginannya. Istrinya bahkan sekarang kedua orangtuanya pun tak peduli dengan perasaannya. Kenapa mereka begitu egois, pikirnya.
Padahal ia hanya ingin merasakan bagaimana bahagia menjadi seorang ayah, itu saja. Tapi kenapa mereka tak satupun mengerti akan hal itu. Memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri, pasti akan sangat membahagiakan.
"cukup mah, Arga hanya ingin menjadi pria yang sempurna. memiliki anak dan di panggil ayah. Arum itu mandul, tak bisa memberikan Arga seorang keturunan." Cercanya.
Arum yang ada di samping Raya langsung menatap wajah Arga tak mengerti. Kenapa tega pria ini berkata begitu kasar terhadapnya.
"astaghfirullah...apa yang kamu katakan Arga? kamu begitu egois. Arum pun pasti sedih, kenapa kamu hanya..."
"cukup pah. Arga tetap pada keputusan pertama. Akan menikah lagi tanpa persetujuan kalian dan Arum..." Arga menatap lekat wajah Arum yang kini tengah menangis.
"aku talak kamu sekarang, di haramkan bagiku untuk menyentuh mu."
Deg...
Arum merasa dunianya runtuh. Wanita itu terpaku di tempatnya. Airmata semakin deras mengalir.
__ADS_1
...************...