
"siapa suruh kamu meninggalkan aku tadi!" Sungut Rania kesal.
"Pulang cepat!"
"Tidak mau."
"Kau jangan membantah terus bisa tidak sih?" Tanya alkana.
"Iya aku pulang." Rania langsung mematikan sambungan teleponnya dan menatap ke arah Sherly dengan wajah lesu.
"Ada apa Rania?" Tanya Sherly.
"AKu harus segera pulang."
"Tadi yang menelfon mu siapa?"
"Oh, itu tetangga! Dia juga satu sekolah dengan kita kok." Jawab Rania.
"Oh ya? Siapa namanya?" Tanya Sherly penasaran.
"Eh haha, namanya ya?" Rania tersenyum bodoh mendengar pertanyaan temannya itu.
"Eh taksi ku sudah sampai, kalau begitu aku duluan ya!"
"Iya hati-hati ya." Sherly melambaikan tangannya pada Rania.
"Siapa ya tetangganya? Apa tampan?" Tanya Sherly sendiri.
"Haish sudahlah." Sherly langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran, dia meletakkan barang belanjaannya di kursi belakang.
Ditampar lain Rania telah sampai di apartemennya, dia merasa ragu untuk masuk namun dia mengetuk pelan dan alkana yang membukakan pintu. Alkana menarik tangan Rania untuk keluar lebih dulu, Rani pun dibuat bingung dengan tingkah alkana. Alkana melirik ke arah pintu dan manik mata Rania mengikuti arah pandangan alkana.
"Rania, bapak dan ibu kamu ada di dalam." Ujar alkana pelan.
"Apa?" Pekik Rania.
"CK, pelankan suaramu! Sudah seperti di hutan saja."
"Serius ibu dan bapak ada di dalam?" Tanya Rania dengan wajah berbinar.
"Kenapa kau senang sekali?"
"Tentu saja aku senang, mereka mau menjemputku untuk kembali ke desa." Ujar Rania.
"Tidak semudah itu panu kudanil!"
"Apa maksudmu?"
"Mama dan papa mengatakan bahwa kita sudah harmonis dan saling mencintai, mereka datang hanya untuk memastikan apa yang di katakan mama dan papa itu benar atau tidak. Jika sampai kita tidak terlihat harmonis, maka mama akan marah besar padaku." Ucap alkana.
"Jadi aku mau kita bekerja sama jika kau masih ingin hidup dengan tenang!" Sambungnya lagi.
"Tidak mau! Itu urusanmu sendiri!"
__ADS_1
"Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuamu? Memangnya kau ingin melihat mereka bersedih terus-menerus? Kau mau jadi anak durhaka?" Ketus alkana.
Yang dikatakan oleh alkana ada benarnya juga, untuk kali ini dia setuju dengan lelaki itu. Rania harus mengesampingkan kebahagiaanya, yang terpenting adalah dia bisa melihat bapak dan ibunya bahagia.
"Untuk kali ini aku setuju denganmu kak!"
"Tapi, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rania bingung.
"Tentu saja kita harus berpura-pura menjadi pasangan yang saling mencintai, kau panggil aku mas seperti saat kau berpura-pura di depan mama." Terang alkana.
"Huh, malas ih!"
"Yang benar saja kau memanggil suamimu kakak."
"Kalau alkana saja bagaimana?"
"Mau jadi istri durhaka kau!" Sentak alkana mulai emosi.
"Ih, emosian banget deh." Ketus Rania sebal.
"Ya sudah iya, mas alkana." Ujar Rania bergidik ngeri.
Alkana menahan tawanya, dan langsung menarik tangan Rania untuk segera memasuki apartemen menemui kedua orang tua Rania. Rania tersenyum haru saat melihat kehadiran orang tuanya kembali setelah sekian lama, Rania langsung memeluk ibu dan bapaknya.
"Kamu makin cantik saja nak, ternyata alkana menjaga kamu dengan baik." Ujar Hary.
"Hehe iya pak, ibu dan bapak gimana kabarnya? Baik-baik saja kan?" Tanya Rania tersenyum haru.
"Al, apa Rania menyusahkan kamu?" Tanya Hary.
"Ih bapak, mana ada Rania seperti itu."
"Tidak kok pak." Jawab Alkana tersenyum canggung. Alkana bingung harus bersikap bagaimana, dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Bapak dan ibu menginap disini?" Tanya Rania.
"Iya, kami menginap disini selama seminggu. Tidak apa-apa kan?"
"S-seminggu?" Tanya Rania meneguk salivanya.
'habislah aku, bagaimana bisa aku dan kak alkana selama seminggu baik-baik saja. Ya ampun kenapa bapak dan ibu lama sekali menginapnya.' batin Rania.
'selama seminggu aku harus bersikap sebagai suami bijaksana? Mampus dah!' batin alkana.
Mereka berdua saling menggerutu didalam hati masing-masing, karena mereka akan melakukan sebuah drama sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai selama seminggu. Seminggu bukanlah waktu yang sebentar bagi mereka, rasanya seperti satu tahun jika mereka melakukan drama seperti itu. Alkana dan Rania Aling pandang.
"Kenapa Rania? Kamu tidak suka ya jika ibu dan bapak tinggal disini?" Tanya ibunya.
"Eh, ya suka dong Bu! Pertanyaan ibu ini ada-ada saja, kalau begitu ibu istirahat lah dulu, Rania mau ke kamar dulu ganti baju." Ujar Rania.
"Iya, sayang."
Alkana membungkukkan badannya sekilas dan langsung mengikuti Rania masuk ke dalam kamar, dia mengunci pintunya dan menarik tubuh Rania hingga mereka duduk di tepi ranjang dan duduk berhadapan.
__ADS_1
"Rania yang benar saja ibu dan bapakmu selama itu menginap disini." Ujar alkana.
"Ya sudah sih kak, nikmati saja. lagi pula drama ini kakak yang menginginkan." Jawab Rania.
Rania langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lali langsung mengintip keluar kembali dan menatap tajam ke arah alkana.
"Awas saja kakak mengintip ya!" Tuduh rania.
"CK, cepat mandi sana." Sentak alkana.
Alkn masih memikirkan bagaimana caranya mereka menjadi pasangan suami istri yang baik, lalu alkana lngsung mengambil ponselnya. Dia mensearching tentang menjadi suami yang baik.
Saat membacanya dia langsung bergidik ngeri, "memeluk istri dari belakang?"
"Menciumnya secara tiba-tiba?"
"Mengucapkan kata-kata manis?"
"Ck, yang ada aku langsung dilempar ke kandang buaya oleh Rania, argh dasar artikel tidak jelas!" Maki alkana.
Alkana melemparkan ponselnya asal, lalu dia berbaring di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya. Karena merasa kelelahan akhirnya dia tertidur pulas, Rania yang baru selesai mandi langsung melirik ke arah alkana yang sedang tertidur, Dia langsung masuk ke walk in closet untuk memakai pakaiannya.
"Rania." Panggil ibunya dari luar kamar.
"Ayo segera turun."
"Iya Bu!" Rania langsung bergegas memakai pakaiannya dan langsung turun ke bawah menemui ibunya.
"Ibu sudah masak ini untuk makan malam kita, alkana mana?"
"Mas alka sedang tidur Bu." Lidah Rania terasa kelu saat memanggil alkana dengan sebutan itu.
"Ya sudah, kalau begitu kita makannya nanti saja tunggu suamimu bangun."
"Eh, tidak usah Bu! Ibu dan bapak makan saja duluan, nanti biar Rania yang menemani mas alkana."
Wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat hubungan pernikahan anaknya semakin baik, "ya sudah kalau begitu."
"Pak, ayo makan dulu."
"Alkana mana, Rania?" Tanya bapaknya.
"Sedang tidur pak, sudah bapak dan ibu makan saja duluan ya, Rania mau lihat mas alka sudah bangun atau belum." Ujar Rania.
Rania langsung berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintunya, dia menatap alkana yang sedang tertidur. Dia membangunkan alkana dengan menggoyangkan tubuh lelaki itu dengan kencang.
"Kak, ayo bangun."
"Ayo kita makan dulu, Rania lapar!" Keluhnya pada alkana.
"Kak!"
"Aaaaaaa." Rania menjerit saat tangannya ikut tertarik selimut yang dipakai alkana, hingga tubuhnya terjatuh ke atas tubuh alkana dan berguling ke bawah. Saat dia hampir terjatuh tangan alkana langsung menarik pinggangnya hingga jarak mereka sangat dekat sekali,kini jarak antara wajah mereka hanya setipis kertas membuat Rania membulatkan matanya.
__ADS_1