Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
ulat


__ADS_3

Rania ikut membulatkan matanya dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, alkana langsung mendorong Kevin dengan kasar hingga dia terjatuh ke lantai, membuat lelaki itu meringis kesakitan.


"ck, sakit alkana sialan!" ucap Kevin.


"ya kau kenapa duduk di pangkuanku, najis!" ketus alkana.


Kevin langsung melirik ke arah Sherly dengan tatapan kesal, Sherly langsung membantu Kevin untuk berdiri namun manik matanya kembali melihat ulat tersebut dan kembali mendorong Kevin hingga lelaki itu jatuh lagi.


"awws, Sherly apa-apaan kau ini!" ketus Kevin kesal.


"bunuh saja aku sekarang, cepat!" teriak Kevin kesal.


"ulat! tolong buangkan ulat itu, nanti dia memakan ketampanan kak Kevin!" teriak Sherly.


"apa?! ulat? di mana?" tanya Kevin panik.


Rania tertawa kecil saat Kevin juga ikut ketakutan, dia langsung berdiri untuk mengambilkan ulat tersebut, namun alkana langsung menahannya dan menggelengkan kepala agar Rania tidak membantunya.


"tidak usah."


"tapi itu mereka ketakutan, kasihan loh kak." ujar Rania.


Alkana langsung menatap kerah baju Kevin dan berniat mengambilkan ulat itu, namun karena Kevin asik bergoyang kesana kemari, Jadi membuat alkana kesulitan hingga dia kesal langsung menoyor kepala Kevin dengan kasar.


"kau diamlah!" ketus alkana kesal.


"aku geli sialan, buang kan cepat!" perintah Kevin.


"ya kau diamlah bodoh, nanti sekalian kau yang aku buang mau kau?" ketus alkana.


Rania menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Sherly hanya mampu menggigit jemarinya saja karena merasa sangat geli dan juga takut sebab waktu dirinya masih kecil berada di bawah pohon dan ada ulat daun menempel di bajunya membuatnya trauma sampai sekarang.


alkana langsung mengambil ulatnya dan memberikannya ke depan wajah Kevin sehingga membuat Kevin terkejut dan terjatuh, manik matanya membulat dan menendang kaki alkana.


"buang alkana!" perintah Kevin.


"kak alkana buang ih, mukanya jelek kayak kak Kenan." teriak Sherly.


kenan yang baru saja datang langsung menganga dan mengambil ulat yang berada di tangan alkana, memperhatikan wajah ulat daun berwarna hijau itu, "iya mirip sedikit."


Kenan langsung membuangnya dan membersihkan tangannya, Alex langsung duduk di sebelah Rania dan ingin menyandarkan kepalanya di bahu Rania, lalu saat kepalanya ingin menyandar di bahu Rania, alkana langsung menahannya dan mendorongnya dengan kuat membuat Alex terjatuh ke bawah.


"mau, aku rusak paru-parumu?" ketus alkana.


"haish, dasar si bucin akut!" sahut Alex.


Kevin menatap mereka semua dengan tatapan aneh, "perkumpulan orang-orang aneh."


dia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua dengan memegangi pinggangnya yang terasa sakit.

__ADS_1


"kak Kevin, tunggu aku!" teriak Sherly.


Sherly langsung mengejar Kevin dan melambaikan tangannya ke arah mereka semua, "kejar sana! kejar sampai ke pasar empang." sungut Alex kesal.


"heh, cemburu ya." ledek Rania.


"pergi sana kalian! mengganggu orang saja." alkana menendang bokong kedua lelaki itu, membuat mereka berdua berdecak kesal dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


jam pelajaran akan dimulai, Rania langsung berdiri dan menatap alkana.


"kak, Rania masuk ke kelas ya? lagi pula sudah mau masuk juga."


"nanti aku rusak belnya, sudah di sini dulu." pinta alkana.


"iiih, gaya banget sih."


"sayang, besok kamu itu sudah pergi. jadi beri aku waktu lebih hari ini."


"kan nanti di rumah ketemu lagi kak, nah sudah bunyi belnya, kan nanti kita ketemu lagi oke. bye-bye sayang." Rania melambaikan tangannya dan langsung berlari menuju kelasnya, dia tidak ingin terlalu lama bersama alkana lagi, karena bisa jadi dia melakukan hal yang tidak diduga saat di sekolah.


alkana menghela nafas kasar dan hendak berjalan menuju kelasnya, lalu Kenan dan Alex kembali menghampirinya. alkana menatap temannya itu, lagi lagi membuatnya kesal.


"ck, kalian lagi, kalian lagi. muak aku!"


alkana langsung melangkahkan kakinya menuju kelas, Kenan dan Alex langsung merangkul pundaknya dan menatap alkana dengan tersenyum manis.


"iya benar, kita sudah terlalu lama menjadi anak baik. ayo lah." ajak Kenan mengompori alkana.


alkana langsung menepis kasar tangan mereka berdua, dan juga tatapannya yang sangat tajam membuat Kenan dan juga Alex meneguk salivanya dengan susah payah, seketika nyali mereka berdua menciut.


"ya sudah, ambil tasku!" perintah alkana tersenyum licik.


.


.


"rania, kita hari ini tidak ada pelajaran. kita disuruh ke ruang guru untuk membahas perjalanan kita besok." ujar Sherly.


"memangnya harus sekarang? aku malas sekali." tolak Rania.


"ck, mana bisa begitu. sudah ayo." Sherly langsung menarik tangan Rania dan kini mereka berjalan bersama menelusuri koridor sekolah menuju ruang guru.


"eh, kau bisa bahasa Inggris tidak?" tanya Sherly.


"hemm, bisa sedikit." jawab rania tersenyum.


Rania menatap ke arah alkana dan kedua temannya yang berjalan menuju keluar gerbang, "eh tunggu dulu, itu mereka mau ke mana?"


Rania melepaskan tangan Sherly dan langsung berlari mengikuti alkana, dia langsung menarik tas milik suaminya itu sehingga alkana menghentikan langkahnya dan menetap ke belakang, saat itu juga manik matanya melebar dan tersenyum bodoh.

__ADS_1


Kenan dan Alex ikut menolehkan kepalanya, Rania langsung menatap mereka bertiga dengan tatapan yang tajam.


"mau ke mana kalian?"


"mau bolos- eh, mau ke mobil ada barang yang ketinggalan dedek Rania." jawab Kenan.


"mau bolos ya? yakin?" tanya Rania dengan menekankan ucapannya.


"ha ha, ya tidaklah. ini mau kembali ke kelas kok, ayo." alkana langsung menarik tas Alex dan juga kenan untuk Kembali menuju kelas.


Rania menggelengkan kepalanya dan melipat kedua tangannya di depan dada memperhatikan mereka bertiga hingga masuk ke dalam kelas tatapan Rania masih belum lepas dari mereka bertiga, sehingga saat Kenan mengintip kembali tatapannya langsung mengarah ke Rania yang menatapnya dengan tajam. kenan tersenyum lebar dan langsung menutup pintu kelas, saat semua sudah beres Rania langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Sherly berada.


"kenapa mereka, ran? mau bolos ya?" tanya Sherly.


"iya mungkin."


"itu biang keroknya pasti si Kenan dan Si Alex, kalau kak alkana mah anak baik-baik." sahut Sherly.


'huh, tidak tahu saja kau kelakuannya kalau di rumah.' batin rania.


kini mereka kembali berjalan menuju ke kantor guru untuk mendapatkan arahan yang baik.


.


.


Di bandara Rania menghubungi Sherly yang belum juga sampai, sedangkan dirinya dan juga alkana telah sampai sedari tadi di tempat ini. Rania mencoba menghubungi Sherly, namun tidak ada jawaban sama sekali. manik matanya melirik ke arah alkana.


"mas, kenapa kamu cemberut seperti itu?" tanya Rania.


"sayang, mas ikut ya." rengek alkana.


"tidak! besok kamu masih ada pertandingan, jadi kamu bisa menyusul kalau pertandingan sudah selesai. oke mas?"


"sayang mas mau tidur dengan siapa, kalau tidak ada kamu?"


"dengan kak Kenan dan kak Alex." jawab Rania santai.


"iih,tidak mau! kamu mau kalau nanti mereka, mas kerjai lagi lebih parah dari yang kemarin." ujar alkana menolak.


alkana langsung memeluk erat tubuh Rania, wanita itu langsung tersenyum manis dan langsung membalas pelukan suaminya. memang berat, tapi ini hanya sementara saja Rania melepaskan pelukannya dan menatap manik mata alkana yang berkaca-kaca.


"nanti kalau sudah sampai akan rania hubungi, oke." bujuk Rania.


"alkana!"


"alkana!" teriak seorang laki-laki dengan nafas yang ngos-ngosan membawa sebuah koper besar.


Rania membulatkan matanya dan menatap koper tersebut, dia lalu melirik ke samping yang ternyata ada di Sherly juga. Sherly menaikkan bahunya karena tahu maksud dari tatapan Rania.

__ADS_1


__ADS_2