
"iish kan, kotor." keluh Rania.
Rania memegang wajahnya dan melihat tangannya yang hitam, lalu langsung mengerucutkan bibirnya dan mendekatkan telinganya ke arah ponsel alkana, namun lelaki itu langsung menjauhkan kepala rania.
"ya sudah deh, terserah mama saja. kalau misalnya dia membuat ulah, jangan salahkan alkana kalau dia alkana gantung di pohon toge." ujar alkana kepada mamanya.
terdengar mamanya tertawa dari seberang telepon, "iya tidak apa-apa mama mah rela rela saja, paling urusan kamu dengan om dan tante kamu."
"siapa sih mas?" tanya Rania kesal karena tidak dibiarkan oleh alkana untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"mama!" teriak Rania kesal.
"eh sayang, kamu apa kabarnya di sana? jaga diri baik-baik ya sayang, mama percaya dan bangga sama kamu."
Rania langsung merebut ponselnya dan memajukan bibirnya ke arah alkana kesal, dan langsung turun dari tangga dengan melompat ke senangan berbicara dengan mama mertuanya. sedangkan alkana panik dan ketakutan jika Rania salah melangkah bisa membuatnya terjatuh.
"sayang awas jatuh, kasihan lantainya!" teriak alkana.
Rania langsung menolehkan kepalanya ke arah alkana dengan raut wajah kesal, lalu berbalik lagi dan tertawa berbicara dengan mama mertuanya.
"Rania juga tidak menyangka loh ma, mama sehat-sehat ya di sana."
"iya sayang, kamu juga jaga diri baik-baik di sana ya. alkana kapan kembalinya?" tanya Elis.
"mungkin besok mah, mas alkana bandel banget tidak bisa dikasih tahu."
"iya sayang, sejak kecil dia bandel terus. sudah mama bilang jangan ganggu anjing itu nanti di kejar, malah terus di ganggu dan akhirnya dia dikejar anjing itu sampai keliling komplek." jelas Silvi.
"serius ma?"
"iya, mama tidak mau menolong biar dia melewati masa sulitnya sendiri." jawab Silvi tertawa.
"kalau Papa mana ma?"
"Papa masih di kantor, mungkin sebentar lagi pulang dengan sepupu alkana juga."
"sepupu? siapa ma?" tanya Rania.
"dia mau sekolah di DarmaYudha juga, dari dulu tidak pernah akur dengan alkana. untung saja dia sudah menikah dengan kamu ya, kalau tidak bisa pecah ini kepala mama kalau melihat mereka bertengkar terus." jelas Silvi.
"perempuan?"
"laki-laki, sayang. namanya Dino, nanti kalau kamu sudah kembali ke Indonesia pasti mama kenalkan, dia seusia dengan kamu." jelas Silvi.
"tante!" teriak seorang lelaki dari seberang telepon.
"eh Rania, Papa sudah pulang. nanti mama telepon lagi ya sayang."
"oke ma, titip salam sama papa ya." Rania mematikan sambungan teleponnya dan langsung duduk di kursi, namun alkana menahannya dan mengangkat tubuh mungil itu agar duduk di pangkuannya.
"mas, Dino itu siapa?" tanya rania dengan menaikkan satu alisnya.
"tidak tahu, tidak kenal dan tidak peduli."
"heh, sepupu kamu."
"dia itu biang kerok, menghadapi Kenan dan Alex saja mas pusing. apalagi ini satu kuman datang lagi, ah mas tidak mau kembali ke Indonesia mas mau di sini saja dengan kamu." ujar alkana mengeluh.
"memangnya dia kenapa?"
"dia itu baru keluar dari rumah sakit jiwa, nanti kamu juga tahu sendiri.' jelas alkana.
__ADS_1
"apa?! serius kamu mas?" tanya Rania dengan berteriak.
alkana langsung menyipitkan matanya dan menutup telinganya karena suara Rania Yang melengking nyaring, "suara kamu seperti petir."
"petir yang membuat kamu bergetar kan." sahut Rania dengan centil.
alkana mengulum senyum dan menyentil dahi Rania sehingga wanita itu meringis dan mengusap keningnya, alkana langsung menciumnya berulang kali membuat Rania mendorong bibir lelaki itu.
"jangan di cium terus, nanti jidat Rania jadi lebar."
drtt.. drtt..
"eh, ponselku mana ya mas? itu bunyi tapi tidak tahu di mana." ujar rania yang telah berdiri dan memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan ponselnya.
"ah itu dia." Rania langsung mengambilnya dan mendekatkan ke telinganya, karena panggilan masuk itu dari bapaknya.
"halo pak." sapa rania.
"kamu sudah sampai nak?"
"sudah pak, bapak sedang di mana?"
"ini sedang duduk-duduk dengan ibu, kamu mau ngomong sama ibu?" tanya Yadi.
Rania tersenyum dan dengan antusias menganggukkan kepalanya berulang kali, namun alkana yang melihatnya langsung menepuk jidatnya.
"katakan sayang, bapak tidak akan tahu kalau kamu hanya menganggukkan kepalamu di sini. bahkan dukun pun tidak akan tahu."
Rania menatap alkana dan menyengir, "iya pak, Rania mau bicara dengan ibu."
"sayang, kamu apa kabarnya?" tanya Nilam.
"Alhamdulillah baik juga."
Rania mengelus dadanya dan menghembuskan nafas lega, karena pikirannya selama ini hanya ketakutan yang tidak beralasan saja.
"ibu dan bapak ingin pergi mengunjungi kamu di sana, apa boleh?"
"jangan bu, Rania hanya bulan saja kok tidak lama. lagi pula mas alkana juga ada di sini, jadi Ibu tidak perlu khawatir ya." ujar rania menolak keinginan kedua orang tuanya.
"ibu kamu ini tidak bisa dikasih tahu, padahal sudah bapak larang." jelas hary.
"iya bu tidak usah ya, nanti kalau Rania sudah kembali ke Indonesia lagi pasti langsung pulang ke tempat bapak dan ibu." jelas rania meyakinkan.
"ya sudah deh, kalau memang itu mau kamu." ujar Nilam dengan suaranya yang getir.
"kalau begitu sudah dulu ya rania, kamu jaga kesehatannya di sana. Jaga dirimu baik-baik ya, nak." ujar nilam.
"baik bu, ibu dan bapak juga jaga kesehatannya ya. rania sayang bapak dan ibu." Rania mematikan sambungan teleponnya dan langsung meletakkan ponsel itu di atas meja lalu menatap ke arah alkana.
"mas, masa ibu dan bapak mau ke sini, ya tidak Rania ijinkan lah."
"kenapa tidak kamu ijinkan?" tanya alkana.
"kalau nanti ibu pengen pecal ulek bagaimana? pengen seblak? pengen bakso? pengen batagor? pengen somay? pengen sate? pengen-" ucapan Rania terpotong karena alkana langsung mengecup bibir wanita itu, dan kembali mengangkatnya untuk duduk di atas pangkuannya.
Rania tersenyum manis ke arah alkana dan menatap bibir seksi lelaki itu, rania langsung Rania mendekatkan wajahnya, dan langsung menahannya. lalu menatap ke arah alkana dan tertawa, karena lelaki itu sudah bersiap-siap untuk diserang oleh dirinya.
"oh, jadi kamu ngerjain mas ya?" alkana langsung menggelitik Rania hingga membuat wanita itu memohon ampun, alkana langsung menggendongnya ala bridal dan membawanya ke kamar.
.
__ADS_1
.
tiga hari telah berlalu, kini alkana telah berada di Indonesia kembali. dia menatap apartemennya yang kosong tanpa ada bayangan istrinya lagi, membuatnya menghela nafas panjang.
"huwaaa, kenapa dua hari lama sekali sih! aku sudah mau kembali lagi ke negara Y." keluh alkana.
lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar lagi untuk membersihkan tubuhnya, karena akan segera pergi ke sekolah. setelah dia selesai mandi ponselnya berdering, membuatnya yang sedang mengeringkan rambut langsung menghampiri meja di tempat ponselnya berada.
"ya, halo ma."
"halo kakak tercinta, sudah kembali kah? di mana kakak ipar?" tanya Dino.
"kau, kenapa menelpon menggunakan ponsel mama?"
"kenapa memangnya? tante saja mengijinkan kok."
"ada apa kau pagi-pagi meneleponku?"
"jemput aku dong, ini kan hari pertamaku sekolah."
"ogah! naik mobil sendiri saja, kan tidak lucu kalau aku di gosipkan membawa simpanse ke sekolah." sahut alkana.
"CK, sialan!" Dino langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
alkana langsung memakai seragamnya, setelah sudah selesai semuanya dia langsung melajukan mobilnya menuju ke sekolah Darma Yudha.
"woi, sahabatku!x teriak Kenan.
Kenan berlari sambil melebarkan tangannya untuk memeluk alkana, akan tetapi lelaki itu langsung menahan kepala Kenan sehingga temannya itu seperti sedang berlari di tempat.
"cih, jauh-jauh kalian! aku masih normal." ketus alkana dingin.
Helena yang melihatnya langsung menyeringai, Alex dan Kenan langsung membulatkan matanya saat melihat penampilan Helena yang tidak seperti biasanya. rambutnya yang dibiarkan tergerai membuat penampilannya menjadi memukau.
"biasa saja mata kau! aku colok baru tahu." ketus helena saat berjalan.
"woi, kau sudah tidak jadi hitam putih lagi? berubah jadi dukun penuh warna, ya?" tanya Alex.
"Ck, berandal sialan!" umpat Helena.
"kakak!" teriak Dino dengan senyum lebarnya.
Helena melirik ke arah sumber suara, begitu juga dengan yang lainnya membuat Helena tidak berkedip dan terus menatap kemana arah Dino melangkah.
"ini siapa lagi sih? tampan sekali, anjir. dua orang saja ribet amat nih sekolah, bagaimana menambah satu lagi." keluh Alex.
Dino langsung merangkul pundak alkana dan tersenyum, "di mana kakak ipar?"
mereka semua yang ada disana langsung membulatkan matanya.
"kakak ipar?" tanya yang lain secara bersamaan.
alkana juga ikut membulatkan matanya, dan langsung mengumpat Dino di dalam hatinya.
.
.
hari ini up 3 eps lagi, soalnya biar pas 50 eps
bantu dukung author yah☺️
__ADS_1