Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
sisi lain kenan


__ADS_3

"kak, itu koper siapa?" tanya Rania.


"nah ini koper kau, capek aku." ujar Kenan dengan nafas yang tersenggal-senggal.


" pertandingan, bagaimana?" tanya alkana.


"sudah kau tenang saja, lagi pula tidak ada masalah kok." sahut Alex.


"ya sudah, mana tiketku?"


Alex dan Kenan menyiapkan semuanya dan kini semua telah berada di tangan alkana, Rania langsung menarik tangan alkana dan menatapnya.


"kamu serius mau, ngantar aku?"


"iya, apa kamu kira aku bercanda? tidak jadi LDR dong." ucap alkana dengan tersenyum lagi lebar.


"haiis, dasar si bucin." gumam Kenan.


.


.


akhirnya mereka telah sampai di negara y, Rania menghirup udara yang sangat segar. manik matanya menatap ke arah Sherly.


"Sherly, di sini ada keluarga kamu kan?"


"iya ran, kita ke rumah saudaraku saja ya."


"tidak, kau saja Sherly. nanti Rania biar aku yang belikan apartemen di sini." tolak alkana.


Sherly langsung membulatkan matanya, "sultan mah beda, tapi kamu yakin Rania di apartemen sendiri?"


"iya tidak apa-apa kok, besok kita ketemu di depan gerbang sekolah ya. kamu sudah di jemput juga kan?" tanya Rania.


Sherly menganggukkan kepalanya dan langsung melambaikan tangannya, "kalau begitu aku duluan ya."


"hati-hati ya, Sherly." rania melambaikan tangannya juga.


"kak kenapa langsung ditolak begitu sih, untung saja dia tidak curiga kalau kita akan satu apartemen." ketus Rania kesal.


"ya siapa tahu tantenya sherly punya anak laki-laki seusia kamu, enak saja dia nanti bisa melihat kamu."

__ADS_1


"iiih, kamu itu cemburu pada hal yang tidak pasti. ya sudah ayo kita mau ke mana ini, aku sudah lelah ingin istirahat."


"sebentar lagi mobilnya datang, sabar ya sayang." alkana tersenyum manis dan mengusap puncak kepala Rania.


"nah itu mobilnya, ayo." alkana langsung merebut koper rania dan membawanya juga.


"eh mas, aku bisa bawa sendiri nanti kamu capek."


"sudah ayo." ajak alkana.


alkana berjalan lebih dulu, Rania langsung berlari mengejarnya dan mensejajarkan langkah mereka. Rania melirik ke arah alkana dan tersenyum, kini mereka menuju apartemen yang telah dibeli oleh alkana.


Rania langsung menghubungi kedua orang tuanya untuk memberi kabar kalau dia telah tiba di negara y.


"kenapa tidak diangkat sama bapak ya?" tanya Rania.


"mungkin sudah tidur sayang, di sana pasti sudah tengah malam. jadi nanti saja hubunginya lagi ya." ujar alkana.


Rania pun menganggukan kepalanya, manik matanya menatap ke layar ponsel dengan tatapan sendu. dia menghela nafas kasar lalu menatap manik mata alkana.


"mas, sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Bapak dan Ibu deh." lirih Rania.


"di sembunyikan? mungkin hanya perasaan kamu saja, sayang."


"berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk, dan mungkin itu hanya perasaan kamu saja." ujar alkana.


Rania menganggukkan kepalanya dan bersandar di dada bidang suaminya, pikirannya masih terus memikirkan tentang ibu dan bapaknya. mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka menikmati pemandangan di negara ini.


.


.


"ibu yakin, kita akan menyusul Rania ke negara y?" tanya hary.


Nilam menganggukkan kepalanya yakin, "selagi ibu sudah lumayan sehat pak, takutnya nanti kalau ibu pergi Rania akan terus bersedih karena tidak bisa melihat ibu untuk yang terakhir kalinya."


"ibu tidak boleh berbicara seperti itu, bapak akan melakukan segala cara agar ibu bisa segera sembuh."


"pak, kalaupun tuhan memanggil Ibu lebih cepat, ibu bisa pergi dengan tenang karena Rania sudah bersama orang yang tepat. dia tidak akan terlalu sedih jika nanti Ibu pergi, dan bapak harus janji untuk menjalankan hidup seperti biasanya jangan berlarut-larut dalam kesedihan." lirih nilam.


"sudah ya, ibu jangan berbicara seperti itu lagi. besok pagi kita pergi menyusul Rania, oke." ujar hary tersenyum getir.

__ADS_1


Nilam menganggukkan kepalanya dia menatap ke langit-langit ruangannya itu, saat ini dia sedang berada di rumah sakit. akan tetapi dokter memperbolehkannya pulang karena keadaannya sudah sedikit membaik.


hary keluar dari ruangan itu dan mengusap air matanya, dia duduk di kursi dengan tatapan yang kosong. dadanya terasa sesak saat mendengar perkataan istrinya barusan, dia harus menuruti keinginan Nilam untuk mempercepat Perjodohan itu agar membuat Rania terbiasa.


setelah dia melepaskan putrinya, kini dia harus merelakan istrinya lagi. kehidupannya seketika ingin runtuh, dia masih ingin berharap untuk kehidupan yang lebih baik.


"ya, tuhan jika memang engkau akan mengambil istriku maka ambil aku juga." lirihnya dengan isakan tangis.


ada seseorang lelaki remaja melihat hary menangis, dia langsung menghampirinya dan duduk di samping lelaki paruh baya itu yang langsung dengan cepat mengusap air matanya, dan melirik ke arah pemuda yang usianya seperti putrinya itu.


"pak, tidak apa-apa menangis saja. aku di sini hanya mau menemani, boleh kan?" hary menganggukkan kepalanya.


"nama kamu siapa, nak?"


"saya kenan Pak, ibuku juga dirawat di sini. kalau keluarga bapak siapa yang dirawat?" tanya Kenan.


"istri bapak, dia sudah divonis oleh dokter hidupnya tidak akan lama lagi." jelas hary kembali berlinang air mata.


"bapak yang kuat ya, berdoa saja semoga ada keajaiban untuk istri bapak karena sejatinya umur seseorang hanya Tuhan yang tahu." ujar Kenan mengusap lembut punggung lelaki paruh baya itu.


"ibu kamu sakit apa nak?"


"ibu sudah dirawat di sini sekitar tiga bulan yang lalu karena kecelakaan, dia belum sadar juga Pak." Jelas Kenan tersenyum getir.


"maaf pak, kalau boleh tahu anak bapak mana?" tanya Kenan lagi.


"anak bapak sudah menikah, dan usianya mungkin sama seperti kamu." jelas hary. 'menikah? umurnya sama sepertiku?' tanya Kenan di dalam hatinya.


Kenan menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.


"bapak yang kuat ya, aku bantu doa semoga ibu cepat sembuh."


"terima kasih ya nak Kenan, semoga ibu kamu juga lekas sadar ya. kamu pasti anak yang kuat dan baik, terus berdoalah untuk Ibumu." ujar hary mengusap air mata yang lolos dari manik mata remaja itu.


Kenan mengganggukan kepalanya, "bapak sudah makan? aku mau keluar mencari makan, bapak mau ikut sekalian?"


hary menggelengkan kepalanya, "bapak mau jaga istri bapak di sini."


Kenan mengganggukan kepalanya dan tersenyum manis, "ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu ya pak."


kenan langsung meninggalkan hary dan melangkahkan kakinya menuju keluar, dia mengusap kasar air mata yang lolos dari manik mata indahnya. dia benci terlihat lemah oleh siapapun, dia menghela nafasnya panjang. Kenan berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya, pikirannya masih terbayang kepada lelaki paruh baya yang tadi dia temui tadi.

__ADS_1


"andai saja papa sesayang itu pada mama, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."


Kenan langsung menyalakan motornya untuk keluar dari pekarangan rumah sakit, bahkan untuk sampai disini sangat jauh dari rumahnya. tapi dia tetap harus bolak-balik ke tempat ini selama dua hari sekali, saat dia memundurkan motornya ada seorang yang menghalanginya membuat Kenan menoleh dan membulatkan matanya.


__ADS_2