
Dani memundurkan langkahnya, dia benar-benar ketakutan.
'bisa habis aku dengan kak alkana, terus sama mama lagi.'
"Jadi gimana? aku tidak mau terlibat dengan Pak nando lagi, Yang benar saja di sekolah maupun di luar sekolah urusannya dengan guru killer itu terus. ogah aku!" Ketus Kenan.
"Woi, makanannya sudah habis itu. argh kau gila ya Dani, aku kasih bintang separuh juga kau." ancam Dino.
"Eh jangan dong, nanti mama aku ngomel." pinta Dani.
"Lah, itu urusan kau! sekarang kau yang pikirkan pesanan Pak Nando." Timpal alkana.
"Sudah, sudah stop. Dani Bilang saja ya kau salah Antar makanan, dan kau bisa ambil lagi ke Resto kau. gampang kan?" usul Rania.
"Mama aku seperti singa, belum bicara saja sudah mau di terkam. Bagaimana kalau aku bilang salah makanan, habis aku. lagi pula mau untuk siapa coba?" tanya Dani kebingungan.
Rania merasa iba dan langsung mengambil makanannya, "Gimana kalau begini saja, makanan ini aku beli saja. jadi tidak ada makanan yang tersisa."
"beneran, ran?" tanya Dani senang.
"ran, ran, mau aku geplak kepala kau!" Ketus Alkana.
"Maaf kak, maksudnya Rania." sahut dani.
Rania membayar pesanan itu dan Dani langsung pergi setelah undur diri, dia tidak ingin lagi berlama-lama di tempat itu karena merasa nyawanya sedang terancam oleh sekumpulan Serigala tampan.
"seram sekali ya mereka, andai aku sekeren kak alkana pun pasti semua tergila-gila sama aku. tapi kenyataannya aku yang gila sekarang, ya sudah syukuri saja setidaknya makanannya habis tinggal antara Kan punya Pak Nando."
Dani mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya, untuk membuat pesanan baru agar lebih cepat. setelah itu dia mengendarai motornya menuju kembali ke Resto.
.
di dalam apartemen, semuanya kesal dengan kelakuan Dani. hingga tidak ada yang berselera makan lagi, Kenan ingin makan namun terbayang wajah pak nando terus.
"gila! Aku mau makan malah teringat terus sama wajah Pak Nando, mana wajahnya jelek Lagi."
"Ini pesanan kita, kalau kalian mau makan saja." Rania meletakkannya di atas meja.
"sayang, sini dulu." perintah alkana.
rania langsung duduk di sebelah alkana dan menatapnya dengan Tatapan yang datar, sedangkan alkana langsung menggenggam erat tangan Rania dan menatap manik mata di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tadi bisa di kejar-kejar sama pria tadi? Jelaskan sama Mas." pinta alkana.
"Iya, aku juga penasaran banget. Kenapa bisa sih, kalian berdua tadi di sana berkelahi dengan pria jelek botak itu." tanya Alex.
"apa?! kakak ipar di hajar pria jelek?" tanya Dino.
"pasti dia insecure tuh sama kau." lanjut Dino.
alkana langsung menatap tajam ke arah Dino, dan lelaki itu pun langsung terdiam seribu bahasa. Rania menatap ke arah mereka semua dengan Tatapan yang sulit di artikan.
" Sasha pelakunya." jawab rania datar.
semuanya langsung membulatkan matanya dan emosi seketika, mereka tidak menyangka jika sasha berani melakukan hal Senekat Itu. yang mereka tahu dulu sasha tidak seburuk saat ini.
"kau yakin, itu ulah Sasha?" tanya Alex.
Rania menganggukkan kepalanya, dia menceritakan semua kronologinya. alkana mengepalkan kedua tangannya, dia benar-benar tidak bisa memberikan toleransi lagi terhadap wanita itu, karena perlakuan Sasha sudah sangat di luar batas.
"Aku harus datangi Sasha sekarang juga!" alkana berdiri dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya menuju keluar.
Rania mencegahnya dan begitupun yang lainnya, Kenan Menghadang di depan alkana dan menatapnya dengan Tatapan yang tajam.
"aku memang tidak melihat, tapi ini sudah keterlaluan! dia harus habis di tanganku!"
"tidak bisa begitu alkana, kau harus Tenangkan dirimu dulu. yang harusnya kau cari adalah para preman tadi, mereka yang nanti bisa jadi bukti kejahatan Sasha. selama kau mencari preman itu, jangan biarkan sasha tahu apa yang akan kita lakukan. aku juga tidak terima perilaku dia, tapi kau harus pikir pakai otak." tegas Kenan.
alkana menepis kasar tangan Kenan dan memeluk Rania, hanya itu satu-satunya cara yang bisa membuat emosinya mereda. Rania membulatkan matanya, namun tangannya membalas pelukan lelaki yang berstatus suaminya itu. semua yang ada di dalam apartemen itu juga merasa kesal dan emosi, namun masih bisa mengendalikan diri mereka masing-masing.
"Benar kata Kak Kenan, kita tidak bisa asal tuduh begitu saja. ya walaupun memang dia pelakunya, tapi kita harus mencari bukti dulu agar dia tidak bisa menghindar lagi. aku tahu kalau sasha melakukan ini karena dia mencintaimu mas" Rania mengusap lembut punggung alkana.
alkana melepaskan pelukan itu, dan kedua tangannya memegang bahu Rania lalu menatapnya dalam.
"Mulai sekarang, kamu harus selalu berada di sampingku. Apapun yang terjadi Kamu harus selalu memberikan kabar padaku, Apa kamu mengerti?"
Rania menganggukkan kepalanya dan tersenyum, namun alkana menggelengkan kepalanya.
"Jangan Paksa untuk selalu tersenyum, Aku tahu kamu pasti takut sekali. Maafkan aku yang terlambat datang tadi."
"yang aku tahu aku punya kamu, tentunya tidak akan ada yang bisa melukai Aku, kan?" tanya Rania tersenyum.
Rania menatap ke arah Kenan dan Alex, "Terima kasih juga karena kalian datang tepat waktu, walau biasanya aku selalu kesal karena kedatangan kalian yang selalu membuat onar, tapi kali ini aku bersyukur dan berharap kalian selalu hadir. Terima kasih banyak ya Kak Kenan dan kak alex."
__ADS_1
"demi kau apa sih yang tidak." sahut Kenan.
"Iya, Awalnya kami mau melindungi alkana saja. tapi karena sekarang alkana sudah punya peliharaan, Jadi kami juga harus melindungi peliharaannya juga kan." Timpal Alex.
Rania tersenyum lebar dan langsung memukul lengan Alex dengan kuat, "baru saja di bilang, Mas lihatlah temanmu itu." Adu Rania kepada alkana.
"kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, aku akan selalu ada untuk kalian kok, tenang saja." ujar Kenan.
"aku juga." Timpal Dino Dan Alex bersamaan.
"Terima kasih ya kak, Dino." jawab Rania.
setelah kepergian mereka, alkana langsung membawa Rania menuju kamar dengan menggendongnya ala bridal, dan meletakkannya di atas ranjang. alkana langsung menyatukan kening mereka.
"jangan pernah membuat mas khawatir lagi ya, jangan pergi sendirian lagi, oke?" ujar alkana.
Rania tersenyum dan menangkup kedua pipi suaminya, menatap dalam manik matanya.
"siap suamiku."
...*****...
Sesampainya di sekolah, Rania melihat Helena yang sedang menelepon seseorang, namun terus menatap ke arah Rania dengan tatapan mengerikan. senyuman yang di tunjukkan oleh Helena membuat Rania langsung mengalihkan pandangannya, dan berjalan menuju ke kelas. semenjak kejadian waktu itu rania menjadi lebih waspada, hingga tanpa dia sadari hampir menabrak tiang, namun keningnya di tahan oleh tangan seseorang. sehingga membuat Rania tersentak dan menetap ke depan.
"hati-hati kalau jalan." ketus Helena.
Wanita itu langsung meninggalkan Rania dan masuk lebih dulu ke dalam kelas, "apa sih maunya wanita itu?" ujar Rania bergumam.
namun Rania langsung mengejar Helena dan menabraknya, hingga sebuah foto terjatuh. rania mengambilnya dan meneliti foto tersebut.
"aku seperti tidak asing dengan foto ini." ujar Rania memperhatikan foto tersebut.
Helena langsung merebutnya, "tidak asing apanya? ini foto masa kecilku."
"yang lelaki itu kakakmu?" tanya Rania penasaran.
Helena tidak menjawabnya dan malah mengacuhkannya, dia berjalan menuju bangkunya kemudian duduk di kursinya. sedangkan rania langsung mendekatinya kembali.
"jawab Helena, itu berarti kau punya saudara kandung kan?" tanya Rania yang penasaran.
"Apa sih kau? urusannya sama ku itu apa, hah? dia itu temanku, hanya sampai sekarang aku tidak tahu dia di mana. puas kau!" Ketus Helena.
__ADS_1