Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
belajar basket


__ADS_3

"Tapi kenapa kau selalu membawa foto itu ke manapun? dan juga, aku sering sekali melihat kau menatap foto itu." tanya Rania.


Helena menghembuskan nafasnya kasar, "Aku tidak suka kehidupanku di usik! mau apapun yang aku lakukan, tidak ada hubungannya dengan kau. jadi aku minta lebih baik kau diam saja dan menjauh dari hidupku, karena aku bisa saja menghancurkan kau."


"Iya aku tahu bukan urusanku, tapi kenapa kau masuk ke sekolah, Bukannya kau sedang di skors ya?" tanya Rania.


"bukannya kau yang minta aku di hukum lain?"


"tapi kau tidak setuju, kan?" tanya Rania.


Helena tidak menjawab dan hanya menghembuskan nafasnya kasar, membuat Rania mengerutkan keningnya.


"apa sih mau anak itu."


Rania langsung duduk di kursinya juga, sesekali dia melirik ke arah Helena, "eh Helena, terima kasih ya tadi sudah menolong aku."


Helena tidak menjawab dan hanya menatap lurus ke depan, lalu sherly memperlihatkan sebuah kertas yang di brosur untuk, masuk ke salah satu Universitas terkenal di luar negeri. Rania membulatkan matanya dan menatap ke arah Sherly.


"kau akan masuk di situ? keren banget."


"Bukan aku! tapi papaku yang mau, aku di paksa nilaiku sempurna tanpa cacat sedikitpun, agar lolos masuk ke Universitas itu. aku tertekan Rania." ujar Sherly dengan getir.


"mereka selalu saja memaksakan aku harus sempurna, harus menjadi seperti yang mereka inginkan. Bukankah Setiap anak berhak menentukan kehidupan mereka sendiri seperti apa, aku hidup seperti di kendalikan oleh remote."


Rania menghela nafasnya dan menatap ke arah Sherly dengan tatapan dalam, "aku akan selalu ada untukmu, aku mendukung kau untuk apapun yang ingin kau lakukan. ya walaupun aku tidak tahu menjadi kau itu seperti apa, tapi aku yakin kamu pasti bisa melewati semuanya."


"oh iya, jadi hubungan kamu dan kak kevin Bagaimana?" tanya Rania.


"Baik kok, dia semakin baik sama aku. Bahkan dia sudah bertemu dengan mama dan Papaku juga." Jawab Sherly.


"wah, lalu kau kenapa diam-diam saja, Hah? hal Bahagia seperti ini kau tidak mau bagi-bagi?" protes Rania.


"iya aku mau cerita sama kamu, tapi dua hari ini kak Kevin itu menghilang begitu saja. Tahu tidak sih, masa tadi ketemu di parkiran dia malah cuekin aku begitu saja. kesal sih, tapi sayang kalau wajahnya di tonjok."

__ADS_1


"Ya sudah, lebih baik kamu temui saja dianya langsung." usul Rania.


"Nah bisa juga idemu, ran. Oke kalau gitu aku mau menemui dia deh pas jam istirahat."


"Oke, good girl." Rania menepuk bahu Sherly pelan dan langsung menatap lurus ke depan.


pelajaran hari ini telah berlangsung, Rania dan Sherly beserta siswa lainnya telah fokus dan menatap lurus ke depan. di kelas unggulan tidak terlihat ada yang tidur di kelas saat jam pelajaran Bu Rani, entah karena gurunya yang membuat mood booster atau memang murni mereka menyukai pelajarannya. guru cantik itu sedang menjelaskan materi hari ini dengan semangat, membuat semuanya juga ikut bersemangat.


Bel istirahat telah berbunyi, Rania dan Sherly langsung berjalan menuju ke kelas alkana. sebenarnya Rania ingin membantu Sherly untuk bertemu dengan Kevin, namun dia memanfaatkan juga untuk bertemu dengan suaminya. Entah kenapa hari ini dia sangat merasa merindukan alkana.


namun langkah mereka terhenti saat mendengar Kenan dan Helena sedang bertengkar, Mereka melihat jika lelakinya begitu emosional dan selalu membuat jenaka. akan tetapi wanitanya terlihat begitu dingin dan acuh tak acuh.


"tunggu! sedang apa mereka itu?" Rania menghentikan langkahnya dan melihat Kenan dan Helena.


"Woi ambilkan itu, sialan!" teriak Kenan.


"ogah." jawab Helena santai.


"ambil tidak? kau yang menendang bola itu sampai jauh ke sana, kalau misalnya kau juga aku buang, mau kau?!" ancam kenan.


"ck, ambil tidak!" kenan mencekal lengan Helena dengan kuat, membuat Helena menatapnya dengan tajam dan menggigitnya.


kenan lalu melepaskannya, "woi dukun Hitam Putih sialan, Awas ya kau. sakit tanganku, aargh ternyata kau juga vampir ya."


"Pantas aja tidak ada yang mau sama kau." teriak kenan lagi.


Helena tidak terpancing emosi kenan, dia malah terus berjalan meninggalkan Kenan lalu dia mengangkat tangannya dan menunjukkan jari tengahnya, membuat Kenan Mendesah kesal.


kenan langsung berjalan mengambil bola basket yang sebelumnya Dia menyuruh Helena mengambilkannya, akan tetapi helena malah membuangnya semakin jauh, sehingga membuat lelaki itu terus-menerus mengumpat dan menggerutu.


"Ngapain sih ngurusin mereka. ayo, Kak Kevin lebih penting dari si Kenan yang konyol Itu." ajak Sherly.


Rania menganggukkan kepalanya dan mereka langsung menuju kelas 12 unggulan, namun Sesampainya di sana Kevin tidak dapat di temukan. hanya ada alkana yang sedang mengerjakan sesuatu, membuat Rania melangkahkan kakinya masuk ke dalam mendekat. akan tetapi Sherly menahan langkah Rania dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"kamu kan mau membantuku mencari kak Kevin, jangan bilang kau memanfaatkan aku agar bisa bucin dengan alkana." ujar Sherly.


Rania menyengir kuda dan langsung melepaskan tangan Sherly perlahan, "Semoga kamu ketemu sama kak Kevin ya, kayaknya dia ada deh di lapangan basket atau bisa saja Tanya saja sama Kak kenan."


Rania langsung mendekat ke arah alkana dan duduk di sebelahnya, membuat alkana membulatkan matanya lalu tersenyum manis. dia memeluk Rania, namun Rania langsung mendorongnya dengan kesal.


"nanti ada yang melihat." Ketus Rania.


"kelas ini kosong, sayang."


"sok tahu! kamu lihat itu." Rania menunjuk ke arah Alex yang sering tertidur di pojok belakang.


"dia kan tidur, dia itu kalau tidur Walaupun ada gempa atau badai apapun tidak akan bangun." jawab alkana.


"Kenapa tidak ikut main basket dengan yang lain?"


"sedang fokus mengerjakan pekerjaan ini, karena nanti setelah ini aku mau pergi. kamu nanti aku antar ke rumah mama saja ya, biar ada yang menjaga kamu." pinta alkana.


"Memangnya kamu mau ke mana?"


"nanti aku jelaskan ya, Ya sudah Yuk kita keluar saja." alkana menggenggam Tangan Rania dan langsung menuju keluar kelas.


terlihat Sherly dan Kevin sedang duduk berdua tidak jauh dari mereka, membuat rania tersenyum lebar.


"ternyata siasat kau lancar juga ya Sherly."


"apa?" tanya alkana yang tidak terlalu mendengar suara Rania.


"tidak ada kok, ayo kita ke sana." Rania menarik tangan alkana ke lapangan basket.


"kak ajari Rania main basket Ya." pinta Rania.


alkana menganggukkan kepalanya, dia melemparkan bola ke arah Rania dan menyuruhnya untuk melemparnya ke ring basket. Namun karena terlalu kuat bola itu terkena kepala Kevin yang sedang berbincang dengan Sherly, membuat Rania membulatkan matanya.

__ADS_1


"kena Kak Kevin, Bagaimana ini?" tanya Rania panik.


Kevin bangkit dan membawa bola itu menuju ke lapangan, di ikuti oleh Sherly di belakangnya dengan raut wajah kesal, Kevin menatap lurus dan berdiri tepat di hadapan alkana.


__ADS_2