Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
aneh!


__ADS_3

satu minggu setelah kepergian ibu sudah berlalu, Rania sudah mencoba mengikhlaskan kepergian sang ibu, dia selalu berdoa agar ibunya bahagia di atas sana. tapi walaupun bibir sudah mengatakan ikhlas, tapi hati tentu saja sangat sulit.


Rania kini tengah duduk di tepi kolam renang, dia mengayunkan kakinya di sana. pikirannya melayang tentang kenangan manis dengan sang ibu, dia begitu merindukan masa-masa itu.


tiba-tiba saja dia di kagetkan dengan pelukan seseorang dari belakang, Rania sudah bisa menebak siapa pelakunya hanya dengan mencium aroma sang suami.


"sayang." panggil alkana yang menyandarkan kepalanya di bahu Rania.


Rania menoleh menatap suaminya, dia langsung tersenyum saat melihat wajah menggemaskan suaminya itu.


"sedang apa, hm?" tanya alkana kemudian mengecup pipi Rania dengan lembut.


Rania menggeleng sebagai jawaban, dia sedang malas membuka suara. entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali keanehan yang terjadi dalam dirinya.


"mau jalan-jalan?" tanya alkana.


lagi-lagi Rania hanya menggeleng sebagai jawaban,


"kita ke taman, mau tidak?" bujuk alkana.


"tidak mau mas, aku malas kemana-mana." sahut Rania membuka suara.


alkana menghela napas pelan, dia kembali mengecup pipi istrinya itu, "terus sayangnya mas maunya ke mana, hm? mas hari ini akan siap melayani istri mas yang cantik ini."


"aku kepikiran sama bapak mas." adu Rania.


"kenapa sayang? cerita sama mas." sahut alkana kemudian berpindah duduk di samping Rania, dia membawa Rania untuk bersandar di dada bidangnya.


"kenapa bapak tidak mau ikut pindah ke sini? padahal dulu bapak sudah berjanji akan pindah ke kota, dan bapak pun sudah tidak jadi kepala desa." ujar Rania mengutarakan apa yang menganggu pikirannya.


"sayang, di sana banyak kenangan bapak bersama ibu. jadi nanti kita yang akan sering ke sana untuk menjenguk bapak, ya." sahut alkana.


"Rania rindu ibu mas." lirih Rania sendu.


mendengar itu, alkana menjadi kepikiran juga. tapi dia juga memikirkan kesehatan Rania, akhir-akhir ini istrinya itu sangat sulit untuk makan. mungkin karena merindukan ibunya, pikir alkana.


"sayang, kita masuk yuk kamu belum makan loh." ajak alkana.

__ADS_1


"tidak mau mas." sahut Rania.


"sayang, kamu belum makan loh dari tadi." bujuk alkana.


tanpa mendengar protes jawaban dari sang istri, alkana segera menggendong Rania ala koala. membuat Rania terkejut sekaligus kesal.


"iih, mas Rania tidak mau makan, mas. kenapa maksa terus sih? sekarang turunkan aku cepat." protes Rania dengan tangannya yang di letakkan di bahu alkana.


"mas tidak menyuruh mu protes sayang." cuek alkana.


"pokoknya Rania tidak mau makan." kekeh Rania sembari mulai berdiri dari kursi meja makan.


"kalau sampai kamu berani melangkahkan kaki mu satu langkah saja, mas akan menghukum kamu selama satu minggu." ancam alkana.


Rania langsung terduduk kembali di kursi meja makan dengan bibir mencebik, dia tentu tahu maksud hukuman yang akan alkana berikan.


"sudah, kamu duduk yang tenang di sini. mas akan memasak makanan kesukaan kamu, oke." ujar alkana mengecup kilas bibir Rania.


"memangnya mas bisa masak?" tanya Rania meremehkan.


"kamu meragukan kemampuan suami mu ini? oke akan mas tunjukkan kehebatan mas."


dengan gayanya yang seperti chef handal profesional, alkana memotong bahan-bahan masakan dengan cara yang estetik. jika orang lain yang melihat, pasti akan mengira jika alkana benar-benar ahli dalam memasak.


setelah selesai dengan acara potong memotong, alkana mulai memasaknya. lagi-lagi dia bergaya seperti chef handal, kadang sesekali sampai keluar api dari teflon Temat alkana memasak. Rania bukannya terkesan, malah jadi ngeri sendiri, Rania takut malah akan kebakaran.


dan setelah beberapa saat, alkana sudah selesai memasak. namun alkana tidak menghidangkan makanan itu di meja makan, melainkan alkana hanya membalikkan badannya dengan menyengir kuda, membuat Rania mengernyitkan keningnya.


'ada yang tidak beres nih.' curiga Rania dalam hati.


"mas mana makanannya?" tanya Rania membuka suara.


"hehe, sudah gosong sayang." ujar alkana dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Rania melotot mendengarnya, benar kan ada yang tidak beres. Rania yang penasaran pun berjalan mendekati alkana, dia melongokan kepalanya untuk melihat masakan itu. terlihat, makanan itu sudah dalam kondisi yang mengenaskan karena berubah warna jadi menghitam. Rania langsung tertawa sambil memegangi perutnya, dia sudah menduga jika ini akan terjadi, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan tawanya.


"itu nama makanannya apa mas?" tanya Rania saat sudah bisa meredakan tawanya.

__ADS_1


"sayang, kita gofood saja ya. ini masakannya gosong gara-gara yang jualan bahan."


"hah?" bingung Rania.


"ya ini salah yang jualan bahan makanan, kenapa makanannya bisa gosong pas di masak." elak alkana.


"ck, itu salah kamu mas. masak begitu saja banyak gaya banget, ya gini nih jadinya, gosong mengenaskan." ejek Rania.


"mas tidak pernah salah, sayang."


"huh, sudahlah biar Rania saja yang masak untuk kita makan." timpal Rania.


"serius sayang?"


mata alkana berbinar-binar mendengarnya, karena sudah satu Minggu ini Rania tidak memasak untuk mereka, biasanya mereka gofood saja.


Rania tidak menjawab ucapan alkana, dia hanya langsung mengeksekusi bahan yang akan dia masak. dia memotong semua bahannya, baru setelah itu dia mulai memasak. tercium aroma sedap dari masakan Rania, alkana semakin berbinar di buatnya. dia sangat merindukan masakan sang istri.


beberapa saat kemudian masakan sudah siap di sajikan, Rania menyajikannya di meja makan. alkana yang melihat itu pun, menjadi semakin lapar. mereka berdua memulai acara makan, alkana begitu bersemangat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. berbeda dengan rania, baru satu suapan dirinya langsung merasa mual, dia segera berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. alkana yang melihat itu pun membulatkan matanya, dan segera menyusul istrinya itu.


huek huek!


Rania mendadak lemas seketika, kepalanya pusing, dan perut serasa di aduk-aduk.


"sayang kamu kenapa?" tanya alkana panik, melihat wajah Rania yang pucat.


Rania tidak menjawab, dia hanya memijat pelipisnya karena pusing. dia kembali memuntahkan semua isi perutnya saat rasa mual kembali melanda, alkana membantu dengan memijat tengkuk Rania.


"sayang kamu sakit? kita ke rumah sakit ya." ajak alkana khawatir.


Rania menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata, brugh!


Rania pingsan dan hampir membentur dinding wastafel, untung saja alkana dengan sigap menahan tubuh rania.


"sayang, sayang! sayang bangun, kamu kenapa?" teriak alkana panik kemudian menggendong Rania menuju mobil untuk ke rumah sakit. alkana mendudukkan Rania di kursi depan.


"sayang." panggil alkana lagi, dengan menepuk pelan pipi Rania, nihil tidak ada pergerakan dari sang istri.

__ADS_1


"sialan, ini pasti karena Rania kecapekan memasak tadi. seharusnya aku tidak usah ijinkan dia memasak tadi, hiks sayang."


alkana benar-benar kalut, dia takut jika terjadi sesuatu dengan rania. dia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


__ADS_2