Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
piringnya ikut terkejut


__ADS_3

"Iiish, Mama seperti tidak pernah muda saja deh." keluh alkana dengan suara pelan.


"alkana nanti di rumah juga bisa loh, di sini fokus dulu." ujar mama silvi.


"iya Ma, kalau bisa nanti Rania tidur di rumah Mama saja ya." pinta Rania.


"tidak boleh! apa-apaan kamu ini." sergah alkana.


Rania hanya mengacuhkannya dan kembali menatap ke depan, sasha terus meminta belas kasihan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Pak saya mohon jangan hubungi orang tua saya, Saya janji tidak akan menguranginya lagi." sasha terus memohon lalu menatap ke arah Rania.


"Rania maafkan aku ya, dan please aku mohon bantu aku Untuk meringankan semua ini."


Rania menatap ke arah sasha yang terus memohon, namun wanita itu malah menyingkirkan tangan sasha yang memegang erat tangan kanannya, Silvi juga menarik tangan Rania untuk dia genggam dua-duanya.


"Saya tidak mau hanya dengan kata maaf saja, Pak. anak saya di bully seperti ini Tentu saya tidak akan bisa terima, perlakuan seperti itu tidak bisa terus-terusan di beri toleransi! Mau sampai kapan sekolah yang terkenal dengan Attitude dan nilai akademiknya yang sangat bagus, serta para siswanya yang berprestasi tapi di dalamnya ada orang-orang yang suka melakukan tindak bullying, dan sekolah tidak menghentikannya dengan tegas." tegas Mama Silvi.


"tante please, Maafkan saya. tapi Rania bukan anak tante kan, dan saya tidak mempunyai masalah apapun dengan alkana saya juga telah meminta maaf pada Rania, jadi Tolong maafkan saya ya Tante. Saya janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi." mohon Sasha pada Silvi.


"Siapa bilang Rania bukan anak saya? dia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, dan bukan karena hal itu saja tapi hal lainnya adalah untuk membersihkan nama sekolah ini dari hal yang seperti itu. sudah berapa banyak korban dari tahun ke tahun? apa bapak bisa tahu berapa jumlah bullying di sekolah ini? tentu tidak kan! Saya harap kalian bisa lebih tegas lagi menyikapi hal seperti ini."


"Ma, sudah ya Rania Tidak apa-apa kok." ujar rania ingin menenangkan Ibu mertuanya itu.


ada rasa bahagia dan haru juga dalam hatinya, Bagaimana mertuanya itu membela dan meminta hak untuk dirinya agar tidak di ganggu oleh orang lain lagi dan juga menghempaskan para pelaku bullying. walaupun Rania cukup prihatin dengan yang di alami oleh Sasha, tapi dia lebih tidak ingin jika ini hanya ucapan janji di mulut saja. karena setelah ini akan ada penerus Sasha dan korban bullying selanjutnya, itu membuat Rania lebih setuju pada mertuanya dari pada mengasihani wajah Sasha yang selalu membuatnya kesal.


"Bagaimana Rania kamu setuju sama Mama, kan?" tanya Silvi.


Rania hanya menganggukkan kepalanya, "Rania setuju Ma."


'Kenapa kak Kevin jadi seperti itu, ya? tatapannya juga saat ini aneh sekali, Apa aku pernah melakukan kesalahan sama dia? apa menolak perasaannya waktu itu membuat dia jadi begini?' batin Rania menduga-duga.


setelah satu jam lamanya, akhirnya mereka berkumpul di ruangan BK dan sudah ada orang tua Sasha yang telah menampar keras pipi anaknya itu. bahkan Rania Sampai Menutup mulutnya dengan kedua tangan saat Papa Sasha melakukan itu, bahkan di hadapan banyak orang, terlebih lagi ada para guru dan juga kepala sekolah.


"Kamu itu mau sekolah atau tawuran? kamu itu mempermalukan kami saja, kamu tidak bisa mencontoh saudara kamu yang lainnya, dasar berandal!" Ketus papa Sasha.


"Pak maaf, Jangan perlakukan anak seperti itu. Mari kita bicarakan dengan kepala dingin." pinta Bu Rani.


"Saya sibuk, jadi apa yang harus saya lakukan?" tanya papa sasha tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Mari Duduk dulu pak."


"tidak bisa! saya sibuk, dan harus segera pergi. Saya bukan pengangguran yang hanya bisa mengurusi anak keras kepala seperti Sasha, Jika dia akan di keluarkan maka Keluarkan saja dia maka saya akan mencarikan sekolah baru untuknya." tegas papa terserah.


"Baiklah, karena keputusan kami bersama sudah bulat, sasha akan kami skors selama satu minggu." ujar kepala sekolah.


"tapi Pak, seminggu?" tanya Sasha mengulang perkataan sang kepala sekolah.


"Jika kamu masih melakukan hal seperti itu lagi, maka dengan terpaksa kami akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini." jelas kepala sekolah.


...****************...


Di apartemen


alkana terus memeluk Rania dari belakang yang sedang sibuk memasak untuk makan mereka berdua, sehingga membuat Rania risih dan terus berusaha menepis tangan alkana.


"lepas Ih, kamu ini apa-apaan sih Mas." Ketus Rania.


"aku mau masak, kalau kamu ganggu terus kita tidak akan makan-makan tahu."


"tapi kamu jangan marah lagi dong, sayang. aku kan sedih di cuekin sama kamu, Coba senyum dulu." pinta alkana dengan nada manja.


"Aku tidak marah, sudah sana ya."


Rania menghela nafas panjang dan langsung tersenyum manis ke arah alkana, lelaki itu langsung tersenyum bahagia dan memeluk Rania semakin erat, dia menduselkan kepalanya di ceruk leher Rania. Rania hanya pasrah saja dengan kelakuan suaminya yang tingkahnya melebihi bayi.


"sudah kan? ayo, sudah duduk di sini baik-baik kalau mau makan." Rania mendorong tubuh alkana dan memastikan suaminya itu duduk, lalu dia langsung berbalik badan untuk memasak lagi.


setelah selesai masak, alkana menghentikan Rania untuk menyiapkannya. dia yang ingin menyiapkan sendiri agar Rania tidak kelelahan.


"sini Duduk." alkana menarik kursi dan mendudukkan Rania.


"eh, itu Makanannya bagaimana?"


"biar Mas saja yang menyiapkan."


"awas saja kalau sampai berserakan atau berjatuhan ya, Nanti aku suruh kamu tidur di luar." ancam rania.


"Iya Sayang."

__ADS_1


saat alkana dengan hati-hati membawa mangkuk berisi sayuran dan juga makanan lainnya, tiba-tiba Kenan datang dan mengejutkan mereka berdua.


brakk


makanan yang di bawa alkana berjatuhan ke bawah, hingga tidak ada yang bisa di makan lagi, membuat Kenan menutup mulutnya rapat-rapat. sedangkan Rania hanya menatap datar ke arah alkana tanpa berkata sedikitpun.


"Sayang maafkan mas ya, ini salah Kenan bukan salah Mas."


lalu Rania menatap ke arah kanan, lelaki itu langsung menggelengkan kepalanya dan Melambaikan tangan seakan Bukan dia pelakunya.


"Bukan aku, tidak sengaja. serius yang salah itu alkana, rania."


"Bodo amat!" Ketus Rania.


dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar, Dia sedang benar-benar kesal emosinya seakan ingin meluap begitu saja. Entah kenapa dengan dirinya hari ini ingin selalu marah terus-menerus, tiba-tiba rania menghentikan langkahnya dan memegangi perutnya yang sakit, membuat alkana langsung berlari menuju ke arahnya dan membopong Rania untuk duduk di sofa.


"sayang kamu kenapa? apa Ada yang sakit?" tanya alkana panik.


"Rania, kau tidak apa-apa kan?" tanya Kenan.


"Diam lah kau bodoh, ini semua gara-gara kau." ketus alkana.


"Ya Sorry Al, aku kan hanya ingin mengejutkan kalian berdua. ternyata piringnya malah ikut terkejut juga, ternyata piring bisa juga terkejut ya." sahut Kenan merasa bersalah.


"gara-gara kau tidak makan nih pasti, aku pesankan makanan ya." tawar Kenan.


"Ya sudah yang enak, aku mau yang dari Resto bintang 5." sahut alkana.


"aaaws." ringis Rania lagi.


"aduh sakit sekali."


"sayang, apanya yang sakit?" tanya alkana panik lagi.


"perutku sakit Mas."


Kenan membulatkan matanya, "Apa jangan-jangan kau belendung lagi?"


"belendung apaan?" tanya alkana.

__ADS_1


"Hamidun."


kini Rania dan alkana membulatkan matanya dan saling menatap.


__ADS_2