Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
terbongkar


__ADS_3

"Bapak? bapak siapa?" Tanya Rania yang mengikuti langkah kaki alkana.


"bapaknya Rania?" tanya Rania lagi namun alkana belum juga mau menjawabnya.


alkana dan Rania hendak membuka pintu yang kini ada di hadapan mereka, namun tiba-tiba mereka di panggil oleh Dino dengan segera.


"sini Cepat, kalian kenapa di sana.x teriak Dino.


"ayo Kak, kita Ngapain di sini. kak kenan sedang membutuhkan kita." Rania menarik tangan alkana untuk menjauh dari sana, namun lelaki itu masih terus menatap ruangan tersebut.


Rania terus menariknya sampai mereka berada di ruangan yang sama tempat kenan dan yang lainnya berada, kini para suster telah membawa jasad ibunya kenan dan akan di antarkan ke tempat peristirahatan yang terakhir. Kenan berdiri dengan lemas menatap jasad ibunya yang tidak bernyawa lagi dengan Tatapan yang dalam, dia langsung mengusap air matanya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua.


di tempat pemakaman telah ramai orang yang memakai pakaian berwarna hitam, kesedihan dan tangisan itu mengiringi perjalanan mamanya sampai ke tempat peristirahatan terakhir. tubuh Kenan bergetar saat mamanya masuk ke tempat peristirahatan yang terakhir.


"Ma, bahagia di sana ya, dan pastinya Kenan juga akan bahagia di sini. kenan akan membuat Mama bangga dari sana, tidak ada siapapun lagi yang bisa menyakiti Mama termasuk pria jahat tidak berguna itu." lirih kenan.


"ayo naik." ujar alkana.


Kenan mengusap air matanya dengan kasar, dan langsung berdiri. para petugas itu langsung melaksanakan kewajiban mereka untuk mengubur, Kenan membantunya dan tangannya gemetar hebat saat meletakkan tanah di atas tubuh mamanya.


Alex mendekat dan mengambil alih cangkul tersebut, "Biar aku saja yang menggantikannya."


kenan langsung menepisnya dan dia langsung menutup lubang itu dengan tanah, banyak bunga yang bertaburan di atas makam mamanya, tercium aroma wangi dari bunga tersebut.


Kenan menatap ke penjuru arah, dia seakan bisa mencium aroma Mamanya di sekitar sini, matanya saat ini sangat sembab. lalu seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Pak Nando menepuk pelan pundak Kenan, dan saat Kenan menatapnya itu langsung membawanya ke dalam pelukannya.


"walaupun kamu anak yang nakal dan selalu membuat bapak naik darah, tapi melihat kamu menangis seperti ini Bapak tidak tega. kamu yang sabar ya, kamu pasti kuat. Bapak tahu kamu akan menjadi orang yang Hebat nantinya." ujar Pak Nando.


"seberapa yakinnya Bapak terhadap Kenan?x tanya Kenan menatap lelaki itu.


"hanya sekitar 2% saja." pak Nando terus mengusap punggung kenan dengan lembut.


"Baguslah kalau begitu, jangan terlalu yakin nanti bapak kecewa. Saya tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi keyakinan Bapak." ujar Kenan.


namun Pak Nando malah tersenyum getir, dia tahu sekali penderitaan Anak muridnya itu saat ini, dia memeluknya dengan erat dengan melepaskannya.


"kamu boleh libur untuk menenangkan diri sampai kamu benar-benar tenang, dan setelah itu kembali dengan wajah yang baru dan juga semangat yang baru ya." ujar Pak Nando tersenyum.

__ADS_1


Kenan menatapnya dengan Tatapan yang datar, seakan kata semangat sudah tidak berarti lagi untuknya namun dia harus tetap menjalani hidup dengan baik untuk membuat mamanya bangga karena telah melahirkannya ke dunia, walau dia di tinggal sendirian untuk selamanya.


"Terima kasih Pak."


" Ya sudah, kalau begitu Bapak pulang dulu ya. kamu harus kuat dan tegar, banyak-banyaklah berdoa untuk mama kamu."


"pasti pak."


Pak Nando menganggukan kepalanya dan menepuk tiga kali pundak Kenan, lalu meninggalkan tempat itu. Kenan duduk di samping makam mamanya, dia mengusap lembut wajah yang terus senyum manis di dalam bingkai tersebut.


"selalulah tersenyum seperti ini ya Ma." pinta kenan.


"Kak Kenan Ayo kita pulang, hari sudah mulai gelap dan sepertinya akan turun hujan." ajak Sherly.


"kalian Pulanglah lebih dulu, aku masih ingin di sini." jawab Kenan.


"tapi nanti kau sakit kalau tetap di sini." timpal Alex.


"kalian boleh pulang, aku mau sendiri dulu."


mereka semua mengagukan kepalanya setuju, dan langsung berjalan menuju ke arah mobil alkana. mereka akan menunggu hingga Kenan bersedia untuk kembali pulang.


Kenan terus memandangi wajah dan juga nisan tersebut, tangannya memainkan tanah dan tanpa sadar hujan deras turun mengguyur seluruh kota dan juga tubuh Kenan.


"hujannya lebat sekali, aku mau menyusul kenan dulu." ujar Alex.


"stop! kau ke sana tidak akan membuat keadaan lebih baik, dia ingin menumpahkan semua kesedihannya di tempat itu. jangan ganggu dia atau paksa dia, dia akan datang ke sini tidak lama lagi." jelas alkana.


"Aku tidak menyangka sekali kak Kenan punya masalah yang begitu besar, dan hanya di alami nya sendiri tanpa mau melibatkan orang lain." ujar dino dengan memandang ke atas.


"Aku bahkan sempat iri dengan kehidupannya Yang sepertinya tidak ada beban apapun, tapi kenyataannya banyak luka yang dia paksa tutupi." lanjut dino.


"kalian pulang saja lebih dulu, aku mau menebus semua biaya Mamaku." ujar Kenan datar.


"tidak, aku ikut! kalian semua tunggu di sini saja." ujar alkana.


alkana langsung keluar dari dalam mobil mengikuti langkah Kenan, dia juga penasaran dengan mertuanya yang bisa berada di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"sebentar ya." ujar Kenan.


"Iya-iya, aku juga mau ke sana, nanti hubungi saja aku." jawab alkana.


Kenan mengganggukkan kepalanya dan dia langsung berjalan menuju resepsionis, setelah melunasi semua biayanya dia mencari keberadaan alkana.


alkana membuka pintu ruangan tersebut dan langsung masuk ke dalam, "permisi."


"alkana?" ujar hary dan juga Nilam dengan terkejut.


"benar kan! Berarti tadi itu bapak, Kenapa kalian berdua ada di sini? Ibu kenapa? dan ibu sakit apa?" tanya alkana beruntun.


"tidak apa-apa kok Nak, hanya kecapean saja. kamu Kenapa ada di sini?"


"teman alkana ibunya meninggal, jadi alkana ke sini menemaninya." ujar alkana.


"Rania juga ada di sini Kok, mau alkana panggilkan?" tanya alkana.


"tidak usah nak, nanti dia repot lagi. dan ibu mohon ya sama kamu, Jangan katakan pada Rania Kalau kami ada di sini." mohon Nilam pada alkana.


Alkana mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan tingkah mertuanya itu, namun dia berusaha menepis semua pikiran buruknya.


"alkana!"


"alkana!" teriak kenan dari luar.


alkana langsung keluar untuk memberitahukan keberadaannya, "ada apa?"


"Kau dari mana saja? aku cari juga, eh tunggu dulu, ini sepertinya ruangannya tidak asing deh. ini ruangan istrinya pak Hary, kau kenal ya?"


"kenal lah dia kan mertu- eh." alkana menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena hampir saja keceplosan.


'tapi kalaupun memang kami saling mengenal tidak ada masalah juga kan, lagi pula Kenan juga tidak tahu anaknya itu Rania.' batin akan.


Kenan langsung masuk ke ruangan itu begitu saja, membuat alkana membulatkan matanya dan menarik tangan lelaki itu. membuat hary yang melihat Kenan langsung menghampirinya dan ingin menguatkannya, "kamu yang kuat ya nak, umur tidak ada yang tahu. berdoa saja semoga ibu kamu di tempatkan di sisi terbaik-nya."


"kenalkan ini alkana, suaminya anak bapak." ujar hary tanpa mengetahui jika Kenan adalah teman alkana, kini Kenan dan alkana membulatkan matanya dan mereka berdua saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2