Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
eps 27 Rania pingsan


__ADS_3

Rania menyimak pelajaran yang diberikan pak Alvaro, dia langsung memahaminya dengan sekali penjelasan. Rania juga mendapatkan nilai yang sempurna saat diberikan tugas, sedangkan yang lain rata-rata mendapatkan nilai 90. Sherly yang selalu dituntut orang tuanya untuk mendapatkan nilai yang sempurna pun tampak sedih sat melihat nilainya.


"Sherly, kenapa kau sedih?" Tanya Dani.


"Nilaiku tidak sempurna!"


"Memangnya dapat nilai berapa?" Tanya Dani mendekat.


"Weh gila kau ya! Nilai segitu kau bilang tidak sempurna, nih lihat aku hanya dapat enam puluh." Dani menunjukkan nilainya uang hanya mendapat enam puluh.


"Ah sana kau! Kau tidak akan pernah mengerti!" Usir Sherly sebal.


"Aneh banget!" Teriak Dani.


"Dani, memangnya kau dapat nilai berapa?" Tanya rehan.


"60, kalau kau?" Tanya Dani balik.


"30, hahaha." Rehan langsung tertawa terbahak-bahak seperti tidak ada beban sama sekali.


"Terancam akan di out dari kelas ini kau!" Ujar Dani mengejek.


"Tidak apa-apa, yang penting ayang Rania dan Sherly akur-akur aja GK masalah. Kalau lihat bini akur kan bikin hati adem." Celoteh rehan.


"Heh, kau itu cocoknya dengan Helena." Timpal Dani.


"Males, Nanti yang ada aku dibawa ke Sasha terus! Dijambak-jambak terus nanti yang ada botak kepalaku!" Sahut rehan.


Helena yang mendengar jika dirinya tengah dibicarakan, langsung melempar pena yang dan di tangannya kearah jidat rehan. membuat lelaki itu mengaduh kesakitan dan pura-pura pingsan, "huh, dasar lebay!" Ledek Helena.


"Sherly, kamu kenapa?" Tanya Rania.


"Tidak apa-apa."


"Memangnya kenapa dengan nilaimu? Bukannya nilai segitu sudah bagus ya?"


"Ran, kamu tidak mengerti tentang keluargaku!"


"Ya sudah, kalau begitu lain kali kita harus berusaha agar sama-sama mendapat nilai bagus ya." Ujar Rania dengan tersenyum.


Sherly tersenyum dan menganggukkan kepalanya, karena sudah jam istirahat mereka semua langsung melangkahkan kaki menuju kantin untuk makan.


"Rania, aku mau ke perpustakaan saja deh, aku sedang tidak lapar." Ujar sherly.


"Aku juga tidak lapar sih, ya sudah ayo kita ke perpustakaan."


Mereka berdua langsung melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan sekolah, sesampainya di sana ternyata ada Alex yang tengah menatapnya. Rania pun kembali teringat akan kejadian tadi, Rania menyesal pergi ke perpustakaan dia ingin berbalik badan dan kembali ke kelas, namun langkahnya terhenti saat Alex memanggilnya.


"Rania." Panggil Alex.


"Eeh, i-iya kak."


"Kau tadi mencari anting kan? Tapi di sana tidak ada apa-apa, mungkin antingmu jatuh di tempat lain." Ujar Alex.


"O-oh tidak ada ya kak? Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa, terima kasih ya kak karena sudah membantu Rania mencarinya tadi."


"Ada apa Rania?" Tanya Sherly.


"Anting aku jatuh tadi, kak Alex bantu cari tapi tidak ketemu. Jadi ya sudah tidak apa-apa, tidak perlu di cari lagi." Ujar Rania tersenyum.


Alkana yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum tipis, "pintar juga kau memanfaatkan temanku untuk keluar dengan selamat dari sana."


"Pantas aku acungi jempol aktingmu." Gumam alkana.


"Akting? Siapa, kau mau akting? Kau ingin jadi artis? Kan apa aku bilang, kau itu cocok jadi artis terus main film yang perang-perang itu, nanti kau naik naga terbang." Celoteh Kenan panjang lebar.


"Kebanyakan nonton sinetron, jadi begini nih." Timpal alkana.


"Eh, kan benar wajahmu itu cocok jadi artis, nanti aku yang akan menjadi managermu!" Ujar Kenan.


"Kau bisa diam tidak!" Ketus alkana.


"Tidak bisa, aku kelebihan pita suara."


"CK, dasar sialan!" Ingin sekali alkana memukul kepala Kenan, namun Kenan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Alex, apa yang kau cari? Anting?" Tanya alkana mendekat ke arah Alex.


"Iya, tadi Rania kehilangan antingnya di parkiran." Jawab Alex.


"Di sebelah mana?"


"Di dekat mobilmu!" Jawab Alex.


'CK, apa sih maksud kak alkana ini, dia pasti mau mengerjaiku!' batin Rania.


"Ooh jadi yang warna hitam itu mobil kak alkana, tadi aku lewat eh anting aku jatuh tapi tidak apa-apa kalau tidak ketemu, tidak usah dicari lagi." Ujar Rania cengengesan, Rania langsung menarik tangan Sherly agar langsung masuk ke perpustakaan.


"Begitu ya?" Tanya alkana mengangguk-angguk.


"Kak alkana kenapa tampan sekali sih, aku pengen lebih lama disini memandang kakak. Tapi sekarang sedang tidak mood, jadi nanti saja ya kak byebye kak alkana." Sherly melambaikan tangannya dengan memanyunkan bibirnya karena merasa sedih.


Lalu mereka langsung mencari buku yang akan dibaca, Rania hanya melirik kearah luar dan ternyata alkana sudah tidak terlihat lagi. Namun saat dirinya membalikkan badan dia langsung mematung karena alkana berada di belakangnya.


"Kak alkana apa sih, nanti ada yang lihat! Sudah sana jauh-jauh!" Usir Rania.


"Aku adukan kau pada alex kalau kau sedang membohonginya, mau kau?" Ancam alkana.


"Coba saja!"


"Oh, baiklah." Alkana langsung meninggalkan Rania dan akan menemui Alex untuk memberi tahu yang sebenarnya.


"Heh, jangan dong kak!" Sungut Rania kesal.


"Kalau begitu ayo ikut aku!" Alkana menarik tangan Rania dan mereka langsung berjalan keluar perpustakaan.


Manik mata Rania bergerak memperhatikan keadaan sekitar, dia bersyukur tidak ada yang melihatnya. Dia langsung menepis tangan alkana yang menggandengnya karena alkana mencengkram lengannya dengan kuat.


"Ayo ikut dulu!" Ujar alkana.


"Woi, ada apa ini kenapa suasananya terasa berbeda." Ujar Kenan.


Saat mengetahui jika Kenan ada di dekat mereka, Rania langsung mencari cara agar bisa kabur, dia langsung berdiri di belakang Kenan, "kak Kenan, tolong Rania! Kak alkana mau jahati Rania!"


"Benarkah?" Tanya Kenan.


"Alkana, kau apakan calon ibu dari anak-anakku ini?" Tanya kenan.

__ADS_1


"Hah, apa? Apa kau bilang? Mau aku tebas kepalamu?" Tanya alkana mendekat dan mengapit kepala Kenan di ketiaknya.


"Aaaa, alkana lepaskan!"


"Dedek Rania tunggu disitu yah, tenang saja jangan takut ada babang Kenan di sini." Lanjutnya.


"Aww, alkana sakit!" Teriak kenan.


"Eh, tidak tidak! Tidak sakit kok Rania, tunggu ya ini hanya pemanasan saja." Beo Kenan.


Alkana semakin kuat mengapit Kenan dan menjewer telinga Kenan sehingga sang empunya menjerit, "alkana.. hentikan! Hentikan!"


Rania hanya tertawa kecil dan langsung berlari meninggalkan mereka dan juga Sherly yang masih di perpustakaan. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan alkana saat di sekolah, karena sudah pasti lelaki itu akan selalu membuatnya susah.


Rania berjalan santai menuju kelasnya, namun saat sampai di depan kelas Rania bertemu dengan Dani dan Rehan yang Baru sampai di kelas juga. Rania tersenyum ke arah mereka dan langsung masuk ke kelas, Dani langsung mengejar Rania karena merasa ada yang harus dia tanyakan pada gadis itu.


"Rania, kau ada hubungan spesial ya dengan kak alkana?"


Rania membulatkan matanya mendengar pertanyaan Dani, apakah Dani telah mengetahui sesuatu? Rania berdehem untuk menghilangkan rasa paniknya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Rania.


"Karena kau satu-satunya cewek yang berani duduk di kursi mereka dan membuat pengumuman tentang makan bersama kak alkana yang hanya membayar lima juta." Jelas Dani.


"Ah, iya benar aku juga ingin tahu! Memangnya kau tidak takut bermasalah dengan kak alkana? Dani saja kalau bertemu kak alkana bisa ngompol di celana haha." Timpal rehan dengan meledek Dani.


"CK, sialan kau!" Dani menggeplak kepala Rehan.


"Eh, hehe." Rania tertawa bodoh untuk menutupi rasa paniknya.


"Kalau untuk masalah kak alkana itu, aku hanya tidak suka saja ada orang yang sok berkuasa. Padahalkan itu fasilitas sekolah, jadi bukan hak pribadi dong." Lanjut rania dengan lancar walaupun hatinya sangat panik.


"Masa sih? Sasha saja yang kabarnya dekat dengan kak alkana tidak berani melakukan hal itu."


"Ya itu kan Sasha, bukan Rania!" Ketus Rania.


"Ya sudah, semoga kau baik-baik saja ya! Kalau ada apa-apa hubungi ayang Dani saja!" Ujarnya.


"Menghubungi kau untuk menyaksikan kau kencing di celana?" Tanya Rehan.


"Ya tidak lah, aku akan membawamu juga!" Ujar Dani.


"Dasar! dosanya Abdul."


"Lah kok Abdul?"


"Iya besar, jadi berat kalau berhadapan dengan kak alkana, berat seperti badanmu! Sudahlah aku mau tidur." Rehan langsung menuju ke kursinya dan menelungkup kan kepalanya dan tertidur, sedangkan Dani hanya cengengesan saja saat dihadapan Rania lalu setelah itu berjalan keluar kelas.


Rania mengambil ponselnya dan ingin berfoto Selvi, dia tersenyum manis ke arah kamera dan memotretnya. Namun dia tidak puas dengan hasil jepretannya itu, dia mengulangnya lagi hingga menghasilkan banyak foto dalam sekejap.


Setelahnya dia langsung memilih foto yang terbaik untuk dia upload ke sosial medianya, dia menggeser kekanan dan kekiri untuk melihat hasil jepretannya.


"Mana sih, kenapa tidak ada yang bagus?" Keluhnya.


"Ah, yang ini lumayan langsung upload saja deh." Dia meng-upload fotonya kesosial media miliknya.


Dia terkejut saat melihat followernya yang dari 250-an kini menjadi 10k lebih membuatnya melotot tidak percaya, dia melihat followers barunya ternyata kebanyakan adalah anak DarmaYudha.


"Kenapa mereka memfollowku?"


"Kenapa aku jadi risih begini mau upload foto, upload atau tidak ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Namun ponselnya berbunyi terus menerus membuatnya langsung melihat notifikasi itu,ternyata sudah banyak yang menyukai dan berkomentar difotonya. Tidak sedikit dari mereka yang memuji Rania dengan sebutan queen darmayudha selanjutnya.


"Hei, queen darmayudha? Setahuku itu adalah Sasha, argh kalian jangan aneh-aneh ya, yang ada nanti aku dibawa lagi oleh mereka lalu dieksekusi. Hiii." Gumam rania bergidik ngeri.


Sherly Baru saja datang dan langsung memegang lututnya dengan nafas yang ngos-ngosan, sherly langsung menghampiri Rania dan duduk disebelah temannya itu, setelah dia tenang Sherly langsung menatap kearah Rania dengan tatapan khawatir.


"Rania kak Kevin dan Kak alkana berkelahi di lapangan, Ayo ikut aku." dia langsung menarik kembali tangan Rania dan mereka berlari menuju lapangan basket.


Rania melirik kearah lapangan yang sangat ramai saat ini, mereka ingin memisahkan nya namun tidak ada yang berani maju lebih dulu. terlihat saat ini wajah Kevin dan alkana terluka di sudut bibir, hingga memperlihatkan darah segar.


Rania menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat alkana berkelahi seperti itu, dia meneguk salivanya dengan susah payah.


"Sherly, kenapa mereka bisa berkelahi?" Tanya Rania panik.


"Aku tidak tahu, intinya sewaktu kak alkana akan berkumpul dengan temannya kak Kevin datang. Entah apa yang mereka bicarakan, dan berakhir seperti ini." Jelas Sherly.


"kak alkana apa sih yang kamu lakukan? apa tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik? Kalau sampai pak Nando tahu bagaimana? Aku harus apa?" Gumam Rania.


Rania langsung menerobos semua orang yang ada di hadapannya dan langsung ke lapangan, mendekat ke arah alkana dan Kevin yang sedang berkelahi, seluruh pasang mata menatap ke arahnya.


"Eh, itu siapa? mau cari mati?" Teriak salah seorang siswi.


"Dia anak baru kelas sebelas unggulan, mau apa dia kesana? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"


"Rania, kau mau apa?" Teriak Sherly.


Sherly berlari ingin menyusul Rania, namun ditahan oleh Helena. Dia menatap seseorang yang menahan tangannya, dia berusaha melepaskan genggaman tangan Helena.


"Lepas! Kau apa-apaan sih!" Ketus Sherly kesal.


"Kau mau mengantar nyawamu juga kesana? Biarkan saja dia, biar tahu rasa dan tidak perlu ikut campur urusan orang! Dia kira keren dengan menerobos masuk ke lapangan dan menghentikan mereka? Memang dia pikir dia siapa??" Ujar Helena sinis.


"Kau kenapa sih? Rania ada salah apa denganmu, sampai kau begitu tidak menyukainya?"


"Aku sangat tidak menyukainya! Jadi kau disini saja, biarkan dia merasakan akibatnya!" Perintah Helena.


"Tidak! Lepaskan, kau tidak berhak mengaturku, kau itu hanya babunya Sasha!." Dia terus berusaha memberontak lalu Sherly mendorong tubuh Helena hingga gadis itu terhuyung ke belakang.


Helena tidak mendengarkan ucapan Sherly dia tetap tidak melepaskan cengkeramannya.


Rania semakin mendekatkan langkahnya dan memegang tangan alkana, dan Kevin yang melihat ada kesempatan langsung melepaskan pukulannya namun Rania langsung berdiri di depan alkana, hingga pukulan keras itu mengenai wajahnya.


Kevin terdiam dan menatap tangannya yang telah memukul Rania, gadis itu langsung pingsan dengan darah mengalir dari sudut bibirnya, alkana langsung memeluk tubuh istrinya karena merasa terkejut.


"Rania, apa yang kau lakukan!" Alkana panik.


"Shitt, Kevin urusan kita belum selesai!" Ancam alkana.


"Rania maafkan aku! Aku tidak sengaja, sasaranku bukan kau!" Ujar Kevin menyesal.


"Rania." Panggil alkana lagi.


Alkana langsung menggendong tubuh Rania dan menatap tajam semua orang di depannya, "minggir!"


Semua orang langsung memberi jalan untuk alkana, Sherly yang melihat Rania tidak sadarkan diri langsung menggigit tangan Helena hingga wanita itu melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Ah, Shitt! Sialan kau Sherly!" Umpat Helena.


Sherly langsung berlari mengikuti alkana menuju UKS. pak nando datang dengan membawa kayu di tangannya, beliau menerobos gerombolan siswa itu dan melihat Kevin tengah mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Kevin, kamu berkelahi lagi dengan alkana? Kamu ketua OSIS macam apa hah? Keruangan saya sekarang juga!" Teriak pak nando.


Pak nando langsung meninggalkan lapangan dan begitupun dengan Kevin yang mengikutinya dari belakang, Kevin melirik ke belakang melihat Rania yang dibopong masuk ke UKS, Dia sangat merasa bersalah dan juga menyesal.


Kevin langsung memasuki ruangan BK.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Pak Nando dengan emosi.


"tidak ada Pak, saya minta maaf." ujar Kevin menundukkan kepalanya.


"Kevin, ada masalah apa kamu sebenarnya dengan alkana? Kenapa kalian sulit sekali untuk akur damai dan Sentosa?"


"kalau kita hidup dengan damai dan Sentosa pasti Sejahtera hidup ini! Apa kamu tidak ingin hidup sejahtera?" tanya Pak Nando.


"ingin Pak."


"Ya sudah, maka jangan membuat keributan lagi, sekarang dimana alkana?"


"UKS."


"apa? dia sampai dibawa ke UKS?"tanya Pak Nando terkejut.


"Bukan dia Pak, tapi Rania anak kelas sebelas unggulan, dia ingin memisahkan kami tapi terkena pukulan ku."


"Kevin, hukuman kamu Bapak beratkan! Kamu tunggu di sini saya mau mengecek ke UKS dulu." Pak Nando langsung berjalan menuju UKS dengan terburu-buru.


di uks alkana menggenggam erat jemari Rania, raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya itu. Kini dia menatap lekat kearah wajah wanita yang terbaring lemas itu, dia mengusap darah yang mengalir dari sudut bibir Rania.


"apa dia akan sadar?"tanya alkana.


"dia mengalami syok dan pukulan yang keras, Kemungkinan dia akan sadar sekitar 1 jam lagi."


"apa? Satu jam lagi? Yang benar saja, kenapa tidak becus jadi dokter? Saya mau Rania bangun sekarang!" Sungut Alkana emosi.


dokter itu sudah biasa menghadapi emosi alkana yang berlebihan, namun mereka sebenarnya cukup dekat Karena dokter tersebut umurnya masih muda dan juga Sebelumnya dia adalah dokter khusus keluarga alkana. Namun karena sekolah mereka sedang membutuhkan seorang dokter, jadi dia ditugaskan oleh Hendra disekolah.


"sabar alkana, dia baik-baik saja." ujar dokter tersebut.


"Sejak kapan dia bisa baik pada wanita dan khawatir begitu, apa mereka memiliki hubungan khusus?" gumam dokter itu.


alkana langsung berdecak kesal dan membawa tangan Rania dan diletakkan di keningnya tanpa sadar air matanya menetes begitu saja, sehingga membuatnya langsung mengusapnya dan mengalihkan tatapannya.


pintu UKS terbuka memperlihatkan Pak Nando, beliau langsung menghampiri mereka semua. "alkana, apa Rania baik-baik saja?"


"Tidak Pak?"


" Apa yang terjadi padanya?"


"aku yang salah karena memukul wajahnya!" jawab alkana.


"mana yang benar? kamu atau Kevin? tadi Kevin mengatakan dia yang memukul Rania, kenapa kalian berdua ingin sekali memukul Rania?" tanya Pak Nando membuat alkana melengos dan beralih menatap Rania.


"Rania, Kau kenapa nekat sekali sih? aku tidak sempat melarangmu! Kau malah sudah sampai di tengah lapangan " ujar Sherly.


"Bukankah Rania tadi sudah pergi ke kelas? Kenapa bisa dia ada di lapangan itu juga?" Tanya alkana.


"tadi aku yang memberi tahu dia kalau kalian berdua sedang berkelahi, dan kami langsung pergi ke lapangan sampai di sana dia langsung memisahkan kalian." jelas Sherly.


alkana langsung menatap kembali kearah Rania, dia merasa bersalah. "Kenapa kau memisahkan kami? Kenapa kau melindungiku?"


"Aku tidak mau punya hutang budi dengan mu, bangun Rania, aku tidak punya alasan untuk mengatakan ke orang tuamu nantinya."


"Maafkan Aku!" lirih alkana menatap ke Rania.


bel waktu istirahat telah berakhir berbunyi, lalu alkana menatap Sherly. "kau masuk saja biar aku yang menjaga Rania." Sherly menganggukkan kepalanya, dia tanpa sengaja melihat alkana menggenggam tangan Rania dan juga wajah lelaki itu terlihat sangat khawatir namun dia langsung menundukkan kepalanya ke arah Pak Nando dan langsung meninggalkan UKS.


"alkana kamu jaga Rania di sini Setelah dia sadar datang ke ruangan saya." perintah Pak Nando.


"Baik Pak!"


satu jam telah berlalu alkana masih setia menunggu Rania Hingga dia tertidur, Rania membuka matanya dan memegang kepalanya yang terasa sakit dan langsung melirik kearah alkana yang sedang tertidur dan menggenggam tangannya erat.


Rania mengusap luka alkana menggunakan tangan kanannya, alkana terbangun dan melihat Rania sudah sadar, langsung tersenyum dan memeluknya. Rania tersenyum dan membalas pelukan lelaki itu.


setelah alkana melepas pelukannya, dia langsung menatap manik mata Rania secara bergantian.


"Kenapa kau lakukan itu?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kalian berkelahi seperti itu?" tanya Rania kembali.


"kau tidak perlu tahu masalahnya, yang jelas Jangan pernah melakukan hal itu lagi!" perintah alkana.


"kalau kakak ingin aku tidak melakukan hal itu lagi, maka hentikan tingkah kakak yang suka berkelahi itu!"


"Rania aku berkelahi karena ada sebabnya dan aku tidak bisa menjelaskannya padamu!"


"Kalau begitu Jangan lakukan lagi, kalau kakak melakukannya lagi maka aku juga akan bersikap seperti tadi!"


"Rania kau keras kepala sekali sih, aku tidak perlu kau lindungi!" tegas alkana.


"tapi aku merasa perlu melakukan itu dan semua itu ada di tangan Kakak."


Rania langsung bangkit dan turun dari ranjang pasien, lalu meninggalkan ruangan tersebut.


"bandel sekali sih! Kenapa istriku keras kepala?" Gerutu alkana, dokter tersebut yang masih berada di ruangan, namun dirinya tidak terlihat karena terhalang oleh sebuah lemari langsung membulatkan matanya. "Apa benar yang dikatakan oleh alkana barusan?"


"aku tidak salah dengar kan? alkana mengatakan jika Rania adalah istrinya, apa mereka sedang bermain drama suami istri?" tanyanya pada diri sendiri, dia langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap lurus ke depan lalu dia melihat alkana berada dihadapannya dengan Tatapan yang datar dan seakan ingin menelannya hidup-hidup.


di tempat lain, Rania telah memasuki kelas, "Bu Maaf, saya terlambat." Ucapnya.


"apa kamu sudah lebih baik Rania? apa tidak seharusnya kamu istirahat saja di uks?"


"tidak Bu saya sudah lebih baik kok!" jawabnya. "kamu yakin?"


"yakin Bu!"


" Ya sudah, kalau begitu Kamu duduk biar kita mulai kembali pelajaran hari ini." perintah Bu Rani"


"Terima kasih bu."


Rania langsung melangkahkan kakinya dan duduk disebelah Sherly yang terus menatapnya dengan Tatapan yang sulit diartikan, dan ia melirik ke arah sherly.


"Kamu, kenapa menatapku seperti itu?"

__ADS_1


"Aku heran, kenapa tadi aku sepertinya merasa kalau kau dan ke alkana itu."


__ADS_2