Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
gara-gara kurir


__ADS_3

Helena langsung bangkit dari atas tubuh Kenan, dia melirik ke arah Sherly dengan tajam. Helena langsung mendorong tubuh Sherly.


"apa maksudmu, hah?"


"kau yang apa, kau ke sini hanya akan menjadi mata-mata Sasha kan. awas saja kau!" ketus Sherly.


"jangan sembarangan menuduh ya kau, aku ke sini murni atas keinginan ku sendiri. aku ke sini karena ingin melihat keadaanya, biar bagaimanapun dia seperti ini karena telah menolongku. kau sepertinya sangat senang bermasalah denganku ya."


"halah, aku tidak yakin orang seperti mu punya rasa balas Budi."


Helena germ mendengar ucapan Sherly, dia mengangkat tangannya hendak menampar Sherly, namun tangannya di tahan oleh nenek.


"sudah jangan membuat keributan di sini, biarkan kenan istirahat dengan nyaman." ujar nenek.


"dia duluan yang mulai nek." tunjuk Sherly pada Helena.


Helena menatap Sherly dengan tajam. Rania menjauhkan mereka berdua dengan menarik tangan Sherly agak menjauh dari Helena.


"sudah ya sher, Helena ke sini kan karena dia merasa bersalah sama kak Kenan. toh dia juga tidak menganggu kita, jadi biarkan saja."


"dari pada kalian membuat keributan di sini, lebih baik kalian pergi saja." kesal kenan.


"hei kau, siapa namamu?" tanya Kenan pada Dino.


"aku kak? namaku Dino yang paling tampan di antara temanmu, hehe." sahut dino percaya diri.


"cepat suapi aku!" perintah Kenan dengan ketus.


"biar aku saja kak." ujar Helena menawarkan diri.


"tidak perlu! biar dia saja."


Dino pun menurut, dia mendekat ke arah ranjang rawat kenan. dia mengambil semangkok bubur yang ada di meja samping ranjang kenan, kemudian menyuapkan satu sendok penuh bibir itu ke mulut kenan tanpa di tiup.


"pwa-panwas." lirih kenan dengan berusaha menelan bubur itu.


"hah, panas? masa iya panas?"


Dino langsung menyuapkan bubur itu ke mulutnya sendiri terus-menerus, hingga bubur itu habis.


"tidak panas kok."


kenan melotot melihatnya, dia langsung mengambil bantal yang ada di punggungnya lalu di lemparkannya ke wajah dino.


"sialan kau! itu makananku."


"eh, benarkah? hehe. sudah habis, bagaimana dong?" tanya Dino cengengesan.


"sudahlah aku sudah tidak minat lagi." ketus Kenan kesal.


"sudahlah, lebih baik kalian pergi dari sini. aku sedang ingin sendiri."

__ADS_1


"aku, bagaimana kak?" tanya Helena.


"kau juga pergilah, jika aku butuh sesuatu aku akan menghubungimu. jadi kau harus siap kapanpun."


"nenek lebih baik pulang saja ya, kenan di sini sendiri saja." ujar kenan.


"biarkan nenek tetap di sini menemani kamu ya." pinta nenek.


"baiklah." putus kenan.


satu-persatu orang yang tadi ada di ruang rawat Kenan telah keluar, nenek juga izin keluar untuk membeli makanan, kini tinggallah kenan sendirian di ruangan itu.


"Stefani, kamu di mana? maafkan aku, karena nenek kita jadi tidak bisa bersama lagi. bahkan aku tidak tahu kamu di mana sekarang." lirih kenan.


"ini semua salahku, aku terlalu percaya pada nenek yang mengatakan kalau kau memiliki orang tua baru. tapi ternyata aku salah, aku sangat bodoh, Stefani kau harus bahagia di manapun kau berada. bagaimanapun kondisinya sejak dulu sampai saat ini, kau tetap mengisi hatiku."


...*****...


sesampainya alkana dan Rania di apartemen, alkana langsung berbaring di atas karpet bulu depan tv. dia menjentikkan tangannya meminta agar Rania ikut bergabung bersamanya. Rania pun langsung mendekat dan merebahkan tubuhnya di samping alkana, kepalanya dia sandarkan di dada bidang alkana.


"mas, kasihan sekali kak Kenan ya. wanita itu pasti berarti sekali baginya, bagaimana kalau kita bantu dia mencari wanita itu saja?" usul Rania.


"bagaimana kita bisa membantunya, sedangkan kita saja tidak tahu wajah wanita itu. bahkan kenan selama ini tidak pernah bercerita padaku dan Alex. makanya mas tadi sempat terkejut, ternyata kenan memiliki teman masa kecil." ujar alkana.


"kak Kenan kuat ya menghadapi semuanya sendiri, aku salut sama dia."


"iya, dia memang seperti itu. jika sedang mengahadapi masalah, dia selalu memendamnya sendiri, jika sedang sedih pun dia selalu menutupinya dengan tingkahnya yang konyol itu. maka jika orang yang tidak mengenalnya dengan baik, pasti akan mengira jika dia tidak memiliki masalah hidup. dia tidak ingin merepotkan orang lain."


"orang yang nantinya menjadi istri kak Kenan pasti akan sangat beruntung ya mas, sama seperti aku yang beruntung memiliki suami seperti kamu." ujar Rania dengan tersenyum manis.


"jika kita punya anak nanti, pasti anak kita akan menggemaskan seperti kamu. sayang, ayo kita buat baby." ajak alkana dengan mengedipkan sebelah matanya.


Rania langsung melotot saat mendengarnya, kemudian dia berusaha melepaskan pelukan alkana.


"sayang, kamu mau ke mana?" tanya alkana.


'run Rania run!'


Rania langsung berlari dengan sangat kencang menuju kamarnya, dia membanting pintu kemudian menguncinya.


"menggemaskan sekali dia ini." gemas alkana.


dia berjalan mendekati pintu kamar, kemudian mengeluarkan kunci cadangan dari sebuah laci dengan tersenyum menyeringai.


saat dia masuk ke kamar, lelaki itu melihat jika Rania tengah bersiap untuk mandi. istrinya itu hanya mengenakan handuk saja, alkana mendekat ke arah Rania dengan tersenyum lebar.


Rania yang menyadari kedatangan seseorang pun menolehkan pandangannya, wanita itu melotot ketika melihat alkana sudah berada di dekatnya. dia segera berlari menuju kamar mandi, belum sempat dia menutup pintunya rapat alkana menahan pintu itu. alkana tersenyum menyeringai.


"mas keluar sana, aku mau mandi." usir Rania.


"kita mandi bersama saja biar cepat." usul alkana dengan tersenyum nakal.

__ADS_1


"tidak mau!"


"sayang, ayolah." bujuk alkana.


tidak ingin mendengar jawaban istrinya, alkana langsung menggendong Rania apa bridal style menuju bath up. alkana mulai menciumi wajah Rania, turun ke bibir hingga ke leher.


...****...


setelah selesai, kini Rania berbaring di ranjang. sedangkan alkana sedang mengenakan pakaiannya.


"huh, pegal-pegal semua."


"pegal kenapa sayang?" tanya alkana dengan wajah polosnya.


"kamu makin ke sini makin nakal ya mas, aku tidak mau ya, kalau sampai pergi ke sekolah dengan membawa balon." kesal Rania.


"ya sudah, sekolah di rumah saja." sahut alkana.


"tidak mau, Maas." rengek Rania.


"tidak mau apa sayang?"


alkana mendekat, dia mengecup sekilas bibir Rania, Rania langsung bangkit kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.


"bisa-bisa lepas jantung ku, kalau begini terus. huh, kenapa begini sekali cobaan punya suami tampan?" gerutu rania.


alkana yang berada di belakang Rania, hanya terkekeh kecil mendengarnya.


bel apartemen terdengar berbunyi, alkana langsung melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


"permisi mas, ini pesanannya tolong di terima." ujar kurir itu dengan memberikan makanan pesanan milik Rania. alkana yang melihatnya pun membulatkan matanya.


"sebanyak ini?"


Rania langsung mendekat dengan wajah berbinar, menatap makanan pesanannya sudah sampai.


"ini pesanan saya semua kan, mas?"


"mas?" alkana jadi dongkol sendiri, mendengar Rania memanggil kurir itu dengan panggilan yang mesra menurutnya.


"sudah, cepat kemarikan makanannya. kau sudah bisa pergi sekarang." ketus alkana.


mereka berdua kemudian masuk ke dalam, makanan itu mereka letakkan di atas meja makan.


"kenapa kamu memanggil kurir itu, mas?" tanya alkana dengan wajah cemberut.


"memangnya kenapa? itu kan wajar, tidak mungkin kan kalau kurir itu rania panggil sayang."


"RANIA!." teriak alkana.


Rania tersentak di buatnya, kemudian dia mendekat ke arah suaminya dan mengalungkan tangannya di leher alkana.

__ADS_1


"ada apa, sayang." tanya Rania dengan mengecup sekilas bibir alkana, persis seperti yang di lakukan alkana padanya tadi.


'oke biar aku lihat, apa setelah jurus ini kamu akan tetap marah atau langsung luluh. haha.' Rania menyeringai dalam hatinya.


__ADS_2